WARNING!!
Ini Novel Dewasa, so bocil-bocil jangan baca, ntar malah heboh dikolom komentar, ini novel khusus 21+
Sebuah rasa cinta pada seseorang terkadang terlambat untuk disadari. Sekalipun menyadarinya sejak dini, namun kadang hati enggan menunjukan rasa tersebut. Hingga akhirnya menjadi sebuah perasaan yang terpenjara oleh kepura-puraan.
Ini adalah sebuah kisah seorang gadis muda mantan narapidana yang jatuh cinta pada sahabat kecilnya, hingga dia mengagalkan acara lamaran lelaki pujaannya, serta memaksa lelaki tersebut menikahinya. Maka, pernikahan tanpa hitam diatas putih pun terjadi, tapi pernikahan yang dijalaninya penuh intrik dimana dia dibenci oleh keluarga lelakinya.
Disamping kehidupan rumah tangganya yang tidak harmonis, dia harus bergelut mencari tahu penyebab kematian orang-orang terdekatnya.
Mampukah dia mencari kebenaran dibalik kematian orang-orang terdekat dan menumbuhkan cinta dalam pernikahannya?
#Cinta segitiga #Pembunuhan #Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs.Kang Chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sapuan lembut
Hening, tanpa suara. Hanya denting garpu yang menusuk apel terdengar. Aldi menghela nafasnya. Dia bangkit duduk disamping Khalisa lalu memegang bahu Khalisa membuatnya agar menatap ake arahnya.
" Sudahi sekarang! Tidak akan ada yang berubah dengan hati manusia. Sekali dia tidak suka maka tidak akan ada ruang untukmu!" Kata Aldi mengalir dari mulutnya seolah-olah itu keluar murni dari lubuk hatinya.
Khalisa semakin tertunduk, setetes demi setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Aldi memalingkan wajahnya membuang nafas melihat Khalisa mulai menanggis. Dia pun bangkit dari samping Khalisa sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya. Sesekali matanya melirik ke arah Khalisa yang masuk sesegukan.
Merelakan yang tidak dapat kamu miliki memang sangat sulit. Tapi bukankah seharusnya kamu tidak perlu memaksakan semuanya Khal! Batin Aldi sambil menatap dingin pada Khalisa.
Perlahan tangan Khalisa mengusap pipinya yang basah oleh air mata, kini matanya beralih ke arah cincin emas yang melingkar dijari manisnya. Cincin yang dipasangkan oleh Rendy tanpa sedikit pun senyuman, tidak ada aura kebahagian yang terpancar disana. Dia pun mencoba meraba hatinya yang terasa sakit mengenang semuanya. Semua yang dikatakan oleh Aldi memang benar.
Tidak ada gunanya baginya terus mempertahankan pernikahan cinta sepihak.
" Kakak benar!" Suara serak Khalisa memecah kebisuannya.
Aldi mengendipkan matanya dengan lembut, dia mulai mendekat ke arah Khalisa. Dia menatap Khalisa yang memegang cincin emas ditangannya. Dalam hatinya dia bersorak melihat Khalisa melepaskan cincin yang mengikat janji pernikahan itu.
" Keputusanmu sangat baik Khalisa untuk dirimu! Kamu akan menemukan seseorang yang mencintaimu! Aku yakin!" Kini ujar Aldi dengan sumringah.
******
Sepulang kerja Rendy langsung menjenguk ke rumah sakit, dia terlebih dahulu menengok Kaila yang sudah nampak baikan saat ini, tapi kondisinya masih lemas. Setelah puas bercengkrama dengan Kaila sampai Kaila tertidur. Rendy baru memutuskan pergi ke kamarnya Khalisa. Pikirnya Khalisa masih dirawat dirumah sakit, dia berjalan perlahan menuju ruangan Khalisa. Namun, kaget bukan main saat melihat ruangan sepi dan kosong itu, Rendy terkejut bukan main. Dia langsung berlari menemui resepsionis yang berjaga.
"Pasien dikamar Marwah kemana?" Tanya Rendy.
" Oh pasien atas nama Khalisa?" Tanya balik resepsionis.
"Iya benar!" Jawab Rendy cepat tidak sabaran.
" Tadi siang sudah pulang pak!"Kata petugas disana.
" Oh begitu!" Jawab Rendy langsung terdiam.
Tanpa pikir panjang, Rendy langsung berjalan menuju parkiran, saat ini yang memenuhi pikirannya hanyalah Khalisa. Dia merasakan cemas dengan keadaan Khalisa. Bahkan saat ini Rendy melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas batas normal.
Saat sudah sampai, Rendy langsung mencari keberadaan Khalisa, sontak ibunya dan Laila terkejut dengan sikap Rendy yang tidak biasanya.
"Mah, Khalisa ada dimana?"Tanya Rendy.
" Kamu dateng-dateng kok nanyain dia! ada apa sih?" Jawab Tante Ratna.
" Iya kaka ini aneh, buat apa nanyain dia!" Ketus Laila.
" Udah La, dimana kakak ipar kamu?" Kata Rendy.
" Huh! Noh dikamar kakak!" Ketus Laila.
Rendy pun bergegas menuju kamarnya. Dengan terburu-buru dia membuka pintu, nampaklah Khalisa tengah merapihkan pakaiannya disana, Rendy perlahan menutup pintu kamarnya lalu mendekati Khalisa. Dia mengatur nafasnya, disana Khalisa langsung menyimpan pakaian Rendy dilemari.
" Kenapa tidak bilang padaku kalau kamu sudah pulang?" Kata Rendy menahan kekesalannya.
" Maaf aku pikir kamu sedang sibuk kerja!" Kata Khalisa sambil menutup pintu lemari.
Kini Rendy pun mengacak rambutnya lalu melonggarkan dasi dilehernya. Khalisa hanya menatap sebentar wajah Rendy lalu berjalan mendekatinya.
"Ren!"Panggil Khalisa pelan.
"Hmm" Kata Rendy.
" Ayo kita pisah" Kata Khalisa lolos tanpa rem sedikit pun.
Sejurus Rendy langsung membelalakan matanya, menatap tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh Khalisa.
" Kenapa minta pisah?"
" Kita tidak cocok!"
"Alasan lain?"
"Kita menikah tapi seperti orang asing, kamu bahkan takut padaku, tidak pernah menyentuhku, kadang aku pikir kamu impoten eh.." Khalisa terhenti bicara dia keceplosan berbicara.
Raut wajah Rendy langsung berubah semerah kepiting rebus, dia menatap tajam pada Khalisa yang mulai gelagapan karena salah bicara. Khalisa nyengir sambil menyentuh tangan Rendy untuk menenangkan emosinya.
"E.. E maksudku bukan begi---emmmmpp!!" Ucapan Khalisa terpotong oleh serang tiba-tiba Rendy.
Rendy tiba-tiba meraih tengkuknya dan mendaratkan sebuah sapuan sedikit kasar pada bibirnya. Khalisa membelalakan matanya, Rendy terus menekannya hingga membuat keduanya terjatuh ke atas kasur, namun pangutan Rendy tidak terlepas, dia semakin memperdalam sentuhan bibirnya. Rendy terus mengeksplor seluruh sisi bibir Khalisa yang membuatnya terasa mabuk kepayang. Dia tidak memperdulikan Khalisa yang terus menepuk-nepuk pundaknya. Sampai akhirnya dia memberikan gigitan kecil dibibir bawah Khalisa.
Wajah Khalisa terlihat memerah sambil dia terus mengatur nafasnya, terasa indah pemandangan itu dimata Rendy, dia merasa lepas kontrol saat ini terhadap Khalisa. Bahkan saat ini bibir Khalisa sudah bengkak karena ulahnya.
Kini Rendy menopang tubuhnya dengan satu tangan, sambil terus menatap wajah Khalisa dengan intensnya. Dia tidak tahu apa yang kini terasa berdesir dihatinya. Perlahan tangan Rendy melepaskan peniti dikrudung Khalisa. Hingga terbuka dan terlihatlah rambut hitam lebat itu. Inilah pertama kalinya melihat Khalisa tanpa krudung, sangat menawan. Rendy tidak berhenti menatap Khalisa. Hingga suara serak Khalisa menyadarkannya.
"Ren, apa yang kita lakukan?" Tanya Khalisa.
" Bukan apa-apa!" Jawab Rendy.
"Ren, a-ku.. akh!"
Tangan Khalisa yang hendak mendorong tubuhnya dia gengam dan menguncinya di atas kepala Khalisa. Tanpa aba-aba, Rendy kembali mentautkan bibirnya, namun kini sedikit lebih lembut. Hingga membuat Khalisa terbuai dengan sentuhan yang membuat hatinya terasa tersengat listrik.
Jantung kedua insan itu berdegup kencang, Khalisa memberikan akses bagi Rendy untuk mengeksplor lebih jauh bibirnya. Hingga tanpa disadari cengkraman tangan Rendy tidak sekuat diawal, sehingga tangan itu justru beralih mengalung dileher Rendy. Bahkan kini Khalisa ikut membalas pangutan itu.
Keduanya melupakan ego yang selama ini terpatri kuat, mereka sudah terbuai oleh kenikmatan yang sedang direngutnya. Pasangan itu saling membasahi bibir pasangannya. Sesekali Rendy berhenti untuk membiarkan Khalisa bernafas sebentar, lalu kemudian melanjutkan mentautkan kembali bibirnya.
Rasanya tidak ada puasnya bagi Rendy meregguh nikmatnya bibir merah semanis cherry, ini pengalaman pertamanya tapi terasa begitu nikmat dan membuatnya kecanduan. Dia ingin meminta yang lebih daripada sekedar bercumbu.
Rendy tidak peduli dengan bibir Khalisa yang sudah bengkak karenanya, dia terus menikmatinya sampai terasa Khalisa akan kehabisan nafas dia menghentikannya. Pemandangan yang terindah adalah melihat wajah Khalisa yang sedang mengisi rongga paru-parunya.
Leher putih Khalisa sangat mengoda imannya, di tengah Khalisa sedang menarik nafas, dia memilih menempelkan bibirnya dileher jenjang itu, ratusan volt sengatan cinta terasa menyengat Khalisa. Rendy beberapa kali mengecup leher itu. Lalu dia kembali memanggut bibir lembut itu. Pertautan diatas peraduan itu masih berlanjut.
#Bersambung
ayo Vinnn
keluarkan jurus maut merebut hati Khaila...
klo perlu langsung lamar... masih perawan loh.. tanpa status janda pula..