VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)
Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.
Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.
Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
File 25 : Analisa Kasus Kematian
Beberapa hari kemudian di kediaman keluarga Hunter
"BRENGSEK!" Umpat Ken sambil meninju dinding tembok disampingnya dengan keras. Beberapa polisi yang datang bersamanya tersentak kaget hingga sontak menoleh padanya.
"Apa yang kau lakukan Ken, jangan merusak TKP!" Tegur David tak senang. Dia kebetulan berdiri tak jauh darinya.
"Kalian juga, kenapa malah bengong? Jangan bermalas-malasan! Ayo lanjutkan tugas kalian!" Perintahnya kemudian pada anak buahnya.
"Ada apa denganmu? Kau sepertinya butuh liburan!" Komentar David lagi pada Ken yang masih terdiam di tengah ruangan.
"Tidak, Pak! Aku tidak perlu liburan! Aku ingin menyelesaikan kasus ini!" Tegas Ken meyakinkan sebelum tatapannya menerawang jauh seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tumben kau begitu serius?! Santai saja lah, Ken! Dugaanku sementara ini hanya kasus perampokan disertai pembunuhan, cukup kita cek rekaman CCTV pasti pelakunya bisa kita temukan..."
"Kalau hanya perampokan dan pembunuhan biasa, lalu kenapa korban ditemukan dalam keadaan seperti itu?!" Ken kembali mengingatkan David akan kondisi jasad saat pertama kali ditemukan.
"Hmm... soal itu kita lihat saja nanti hasil di laboratorium, apakah ada unsur kekerasan seksual atau tidak." Jawab David dengan santai.
Dugaan sementara David mungkin terdengar masuk akal, tapi di mata Ken pria ini terkesan terlalu santai menganggap enteng kasus ini. Insting Ken sendiri mengatakan ada kejanggalan dari kasus ini. Terlebih mengingat identitas korban yang jelas berhubungan dengan pemuda misterius yang dikenalnya.
Benar saja seminggu setelah penyelidikan intensif dan berdasarkan hasil lab forensik, bukti yang mereka temukan justru malah membingungkan pihak Kepolisian. Firasat Ken yang mengatakan bahwa kasus ini bukanlah kasus sederhana jadi semakin kuat.
...----------------...
Di markas Kepolisian, tepatnya kantor pribadi Ken
"Jadi korban ini adalah Ayah dari Kak Ice?" Gumam Billie saat membaca tumpukan berkas yang tebal di tangannya.
"Iya, kenapa kau masih menanyakan hal itu? Sebenarnya dari tadi kau mendengar penjelasan ku tidak?" Gerutu Ken sembari menjitak kepala Billie saking kesalnya.
"OUCHH! Berhentilah memukul kepalaku! Bukankah kau sedang membutuhkan bantuanku, huh? Kalau aku nanti jadi bodoh seperti mu bagaimana?" Protes Billie sambil mengusap bagian kepalanya yang sakit.
"Iya-iya maaf!"
Ken menghela nafasnya lelah sembari kembali duduk bersandar di kursinya. Dia memang sengaja mengundang Billie ke kantornya ini untuk bertukar pikiran. Ken akui meskipun terdengar cerewet dan kekanakkan, gadis ini seringkali lebih jeli dan memiliki cara berpikir yang unik dibanding rekannya di kepolisian saat mengungkap sebuah kasus.
"Huff! Menyebalkan!" Gerutu Billie sambil memanyunkan bibirnya. Baru beberapa hari dia pulang dari asrama dan kembali ke aktivitas normalnya, sekarang dia harus berkutat lagi dengan kasus baru. Meskipun suasana hatinya masih kesal, dia kembali menatap berkas tebal di tangannya dan membaca setiap lembar halamannya dengan ekspresi serius. Tidak ada yang menarik perhatiannya selain mengungkap kasus yang rumit.
Edward Hunter, 47 tahun. Dia adalah seorang produser dan sutradara kawakan yang sudah memproduksi berbagai film terkenal di negara ini. Lewat filmnya dia juga telah mengorbitkan banyak aktor dan aktris ternama. Sama seperti para selebritis, kehidupan pribadinya juga tak lepas dari skandal. Setelah sepuluh tahun pernikahan dengan istri pertamanya kandas, dia menjadi duda dan memenangkan hak asuh atas putra semata wayangnya Ezra Hunter, di waktu yang sama dia juga memiliki seorang anak laki-laki bernama Devian, yang merupakan putra dari kekasih wanitanya.
Sungguh kebetulan yang aneh, 3 bulan setelah Devian melakukan percobaan bunuh diri di sekolahnya, kini Edward Hunter juga ditemukan meninggal di kediamannya. Ada beberapa poin penting dari kasus kematiannya yang terkesan janggal:
Korban ditemukan pertama kali oleh saksi pertama yaitu seorang pembantu rumah tangga yang mengaku baru pulang dari jatah liburan selama tiga hari.
Hasil temuan di TKP korban ditemukan dalam keadaan duduk di sofa, menonton TV dalam kondisi setengah telanjang dan bagian kepala berlubang karena tembakan senjata api.
Dari pintu gerbang hingga pintu depan rumah tidak ada tanda-tanda pembobolan, dan dari barang dan benda berharga di rumah korban juga tidak ada tanda perampokan. Bahkan lantai ruangan terlihat bersih tanpa jejak seperti sengaja dibersihkan dulu.
Hasil lab forensik menyatakan korban sudah meninggal 48 jam sejak ditemukan, dan tidak ditemukan sidik jari lain di pistol selain milik korban.
Tidak ada unsur kekerasan seksual pada tubuh korban, ****** yang ditemukan di celana cocok dengan DNA korban dan tidak ditemukan DNA lainnya.
Tidak ada rekaman CCTV di hari dimana korban meninggal seolah koneksinya sengaja diputus dari sumbernya atau memang sengaja diambil.
"Ini memang benar-benar mencurigakan, Kak Ken! Semuanya seperti yang sudah dipersiapkan dengan matang!" Komentar Billie sesaat setelah membaca arsipnya.
"Benarkan apa kataku? Bodohnya hanya karena dikejar deadline, David malah mau mengakhiri kasus ini lagi-lagi sebagai kasus bunuh diri. Menurutnya, motif korban adalah karena depresi akibat kesedihan mendalam dari tragedi yang terjadi pada anak adopsinya Devian dan juga anak kandungnya Ezra yang pembangkang. AARGH!!! Bagaimana ini Billie?! Aku yakin kasus ini bukan sekedar kasus bunuh diri!"
Ken berujar dengan nada putus asa. Saking frustrasinya dia mengusak rambutnya sendiri hingga acak-acakkan. Dia mendaratkan kedua sikunya di meja sambil menopang dagu. Menatap secangkir kopi di mejanya tampak sudah dingin tak tersentuh.
"Dan kau tahu yang lebih mencurigakan lagi? Sejak kematiannya itu, baik Devian ataupun Ice menghilang tak tahu kabarnya. Devian meninggalkan rumah sakit sedangkan Ice tak kembali lagi ke asrama sekolahnya..." Lanjutnya lagi sembari menyeruput kopi dinginnya.
"Hmm... Apa mungkin ini kutukan Devian?" Gumam Billie mencoba menerka-nerka.
"Yaah! Kau jangan bicara sembarangan, Billie! Di saat seperti ini jangan bicara soal takhyul!" Bentak Ken yang segera disanggah Billie.
"Maksudku bukan kutukan seperti mistis, Kak! Tapi entah kenapa aku merasa semua kasus ini ada kaitannya dengan kasus awal Devian!"
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Satu alis Ken terangkat, dia mulai tertarik dengan apa yang diucapkan Billie.
"Hmm... coba Kakak cek di kalender!" Ucap Billie sembari bangkit berdiri melihat kalender yang terpasang di dinding.
"Jika kita runut kejadiannya dari kasus yang pertama , percobaan bunuh diri Devian terjadi 3 setengah bulan lalu, diikuti murid bernama Luke, Noah lalu seorang guru bernama Milamia dan terakhir Edward Hunter. Jika dilihat dari tanggalnya semua berselang tepat 3 minggu. Kebetulan bukan? Anehnya dari semua percobaan bunuh diri itu korban yang berhasil selamat adalah Devian." Tutur Billie sambil menandai tanggal di kalender dengan spidol merah sebelum berbalik menghadap Ken.
"Menurut laporan dari pihak rumah sakit, Devian hanya koma selama satu minggu. Tapi pihak medis mengaku tidak menceritakan keterangan penting itu pada Polisi karena permintaan pihak keluarga yaitu Ayah Devian, Edward Hunter. Mereka juga bilang Ed Hunter sempat menyewa kamar rumah sakit untuk keperluan syuting film dokumenter. Aku sendiri tidak tahu apa alasannya, apa dia melindungi privasi anak lelakinya itu atau sengaja mengeksploitasinya untuk meraih simpati masyarakat?... Kakak tahu sendiri semenjak kasus itu nama Devian melejit di sosial media. Namanya sempat menjadi trending topik di twitter bahkan pencarian namanya di situs seperti Google sempat mengalahkan idola boygroup ternama. Sebagai seorang yang berstatus masih trainee di agensi entertainment, tentunya popularitas adalah langkah awal untuk mendukung karirnya... Dan sebagai seorang produser aku yakin Tuan Hunter sangat mengerti tentang hal itu..." Lanjut Billie panjang bebar.
"Bukankah upaya bunuh diri Devian dipicu oleh perlakuan Godfrey? Begitu pula dengan kematian Luke, Noah dan Bu Guru Mila. Mereka semua adalah korban bully di sekolah yang didalangi oleh Godfrey dan kasus itu sudah selesai dengan ditangkapnya Godfrey!" Ken menyela pembicaraan
"Jikapun itu benar, lalu kenapa setelah Devian siuman Tuan Hunter tidak bicara pada Polisi? Atau setidaknya melakukan sesuatu untuk menghalangi perbuatan Godfrey terhadap 3 korban lainnya?"
"Hmm... mungkin saja karena Tuan Hunter berteman baik dengan Ayah Godfrey... dia tak ingin anak dari rekan bisnisnya terjerat skandal... Ingatlah! Pemuda itu sangat brengsek! Kau sendiri juga kan hampir diperkosa olehnya?!" Ken kembali berargumen dan mengingatkan Billie pada malam naasnya
"Hhh...iya juga sih?" Billie menunduk lesu.
"Makanya jangan gampang membela seseorang hanya karena dia tampan! Dasar Bodoh!" Ledek Ken setengah bercanda.
"Siapa yang coba membela?! Aku hanya mencoba memaparkan dari sudut pandang yang lain! Aku merasa setiap kasus kematian ini saling berkaitan satu sama lain! Mungkin ada rahasia yang sengaja disembunyikan dan belum terungkap!" Bantah Billie, tatapannya kembali menerawang jauh mencoba mengingat kembali pengalamannya saat masih bersekolah di asrama itu.
Ken sebenarnya mengerti dengan maksud Billie. Dia sendiri merasa adanya kasus dan bukti baru ini membuat teori hasil investigasinya beberapa waktu lalu jadi kacau.
"Tapi tunggu dulu..." Ken menggaruk dagunya dengan mata memicing, pertanda sedang berpikir keras.
"Ah! APA MUNGKIN?!" Dia terperanjat dari tempat duduknya dengan mata terbelalak seolah teringat sesuatu. Detik selanjutnya dua berbalik menuju loker di ruangannya dan mengorek-ngorek sesuatu disana.
"Kak Ken! Kau sedang mencari apa?" Tanya Billie sebelum dia memekik kaget.
"KYAAA!?! BENDA APA ITU?!" Pekik Billie saat melihat sebuah dildo hitam menggelinding di lantai.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau tahu ini mirip apa kan? Hehe..." Cengir Ken yang dengan jahilnya malah memainkan alat bantu **** di tangannya layaknya pedang mainan. Wajah Billie sontak memerah, dia tidaklah begitu polos dan bodoh untuk sampai tidak mengenali bentuk benda itu. Dia tentunya pernah mempelajarinya di pelajaran Biologi khusus bab reproduksi.
"Benda ini kutemukan di Apartemen bu guru Mila bersama foto-foto dan beberapa flashdisk di dalam kotak ini..." Ken meletakkan sebuah kotak besi hitam di mejanya yang berantakan.
"Kau jangan lihat foto-foto yang ini! Kau kan belum cukup umur!" Cegah Ken sambil merebut sehelai foto dari tangan Billie.
"Kenapa sih, Kak? Beberapa bulan lagi juga umurku 18 tahun!"
"Apa kau yakin sanggup melihatnya, huh? Nanti kalau kau tergoda bagaimana, hmm?"
"DASAR OTAK MESUM! Kakak bisa fokus tidak sih sama kerjaan! Aku datang kesini untuk membantumu menyelesaikan kasus bukan untuk bercanda!" Bentak Billie yang sudah hilang kesabaran dengan tingkah genit Ken yang tak bisa serius.
"Hehe... Iya iya maaf! Baiklah demi kepentingan penyidikan, anggap ini sebagai bagian dari **** edukasi. Tapi kalau kau nanti trauma setelah melihatnya jangan salahkan aku!"
TBC
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh