NovelToon NovelToon
When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Misteri / Supernatural / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Aya-DNA

Harapan itu terkabul, Red kini menjalani kehidupan normal di dunia baru yang penuh akan teknologi. Namun, kenangan tentang masa lalu masih lekat teringat. Penyesalan masih erat menyelimuti dan tubuhnya masih kekal abadi, bahkan dunia ini dihantui oleh sosok adidaya perusak manusia.

Apakah ini disebut kehidupan normal? Tentu tidak, hidupnya penuh lika-liku. Hingga kalimat kecil membuka matanya, membuat ia bangkit dan mengiris sosok "King".

Bagaimana bisa makhluk paling terpuruk yang menolak takdir, mencapai kebahagiaan sebagai manusia seutuhnya? Seberapa hebat ia nanti, hingga mengalahkan "King" yang ditakuti selama ratusan tahun?

⚠️ Fantasy - Slice of Life, terdapat Drama & Psychological. Sudut pandang MC dengan Mental Illness. Alur lambat.
_____________________________________________
🍎 Bab bonus akan diposting di:
https://trakteer.id/applelikecaramel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aya-DNA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

␑| Dalam Mimpi VI

"REDstar."

Aku terkejut.

Suara dan aksennya itu mirip Rei, tetapi---

"Terima kasih sudah menemaniku."

Aku melonggarkan dekapan ... Rei, dia terlihat jauh lebih dewasa persis yang aku lihat di dalam kamar bersama sang vikaris.

Rambut biru laut panjang tergerai dengan kedua mata serupa kristal topas. Namun, tatapannya kosong, bahkan aku ragu dia benar-benar melihatku atau tidak.

Tangan gemetarnya mencoba menyentuh wajahku, aku biarkan.

Bahkan tak peduli dia masih bersandar di kedua tangaku.

Sebab wajah minim ekspresinya tampak begitu lemas, memancing suatu gejolak di dalam dadaku; membuatku tak tega.

"Padahal baru bertemu, tapi kamu sudah menolongku---ahaha, tidak ... seharusnya, maaf sudah menyeretmu," lirihnya.

"Saya sungguh ingin menolong. Kamu terjebak---"

"Sstt, aku sudah ingat."

Cepat dia memotong ucapanku, bahkan susah payah meletakkan telunjuk kanannya ke depan bibirku.

Kini kedua matanya terpejam. Bibir tipisnya pun mengulas senyum.

"Jadi, aku dalam pengaruh iblis dan menyeret penduduk kota ini ke mimpi burukku? Bahkan desaku sendiri ...."

Mendengar itu, aku hanya terdiam.

Tidak tahu kapan mereka tiba di Rhodes, tetapi rumor tentang orang terjebak dalam mimpi buruk baru-baru ini terdengar.

Mendadak terasa bajuku sedikit ditarik, memancing mata kembali menatap Rei. Ekspresinya ....

"Terima kasih sudah menyadarkanku. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku masih terjebak dalam mimpi dan melihat ingatan menyakitkan yang sebenarnya tidak terjadi." Dan genggaman tangannya di bajuku semakin dia eratkan.

"Saya bisa keluar masuk dari mimpi karena---ah, anak ... iblis."

Pandanganku berakhir sedih setelah mengucapkan kalimat yang menyesakkan itu, tetapi ada benarnya bukan?

Namun, Rei justru tertawa kecil.

"Percayalah, apa pun yang kamu pikirkan itu tidak benar. Ada cahaya di dalam dadamu. Sekarang aku akan menyelesaikannya, ini karena kesalahanku maka aku akan bertanggung jawab."

"Tapi Mei---ia sudah menjadi vikaris dan terus berdoa untukmu. Ia menunggumu!" seruku, bahkan genggaman tangan di bajunya semakin aku eratkan.

"Iblis itu ada dalam diriku. Kalau aku terbangun berarti melepasnya dan kalau masih tertidur, orang-orang di kota ini terus terjebak di dalam mimpi. Kesempatan baguskan? Karena iblis itu ada di dalam diriku, cukup aku saja yang menjadi segel."

"T-tapi efeknya, jiwamu tak akan kuat!"

"Ini keputusanku, untuk kalian semua dan Mei ... berbahagialah. Lihat dunia luar yang luas untukku."

"Tunggu, tapi---REI!!"

...'Tolong, terus ... hidup!'...

Sontak cahaya putih yang menyilaukan menyebar ke sekitar.

Refleks aku memeluk si gadis, tetapi kini rasanya seperti memeluk kehampaan. Tubuhnya pecah menjadi bulir-bulir cahaya; memaksaku memejamkan mata erat-erat.

Mendadak dirasakan pula seperti tenggelam ke dalam air yang rasa dinginnya langsung merambat ke tubuhku, membuatku kembali membuka mata.

Dan ternyata, aku telah tiba pada tempat yang asing.

Aku berusaha berdiri dan melihat sekitar.

Kabut; kelabu; mendung, bahkan petir merambat dari tiap-tiap gumpalan awan tepat di atasku. Tempat ini tampak begitu kelam.

Aku mulai berjalan.

Langkahku begitu menggema.

Sampai kulihat sebuah pintu putih besar jauh di depan sana.

Keadaan di balik pintu sungguh berbeda.

Terlihat hamparan hijau mendominasi; burung-burung terbang melintasi; mentari menghangatkan dalam afeksi, dan yang terpenting ....

Dia, yang kudirindukan, ada di sana.

Seketika aku mengerti berjalan.

Ini pasti mimpi.

Mimpi.

Suatu bentuk kebohongan yang tak terhitung rupanya.

Namun, aku lebih memilih tidak peduli akan hal tersebut dan kembali mendekatinya.

Aku berakhir dipenuhi dengan perasaan sinisme, tidak menghiraukan sekitar lagi dan lebih peduli pada rasa ingin kembali; mengobati rasa kesepian, dengan kehadiran ....

Dirinya, yang ini.

Dia. Engkau. Yang kucintai.

Jika engkau melihatku; jika engkau menyadari keberadaanku; ketahuilah sepanjang waktu aku berdoa, tetapi apakah sampai kepadamu? Karena harapan itu hanyalah sebuah tanda keputusasaanku.

Karena tidak mungkin dia akan kembali kepadaku lagi.

Tetap saja, walau ini hanya ilusi; meski ini hanya mimpi, aku tak bisa berdalih bahwa menginginkan ....

Menginginkan engkau, yang kini berdiri tepat di depanku.

"Aku tahu itu salahku, ketika kamu lepas kendali aku justru meninggalkanmu. Membuat akhir yang buruk; membuatmu merasa sengsara. Itu salahku."

Tak mau dengar. Tak mau dengar. Tak mau dengar!

Aku menggeleng dan menutup erat kedua telinga. Juga dirasakan kekuatanku seperti terangkat perlahan-lahan, membuat tubuhku terjatuh; berlutut di atas dinginnya tanah.

Engkau menanamkan cinta, itu meluap dari dalam hatiku dan menjadi ekstasi yang sudah aku hancurkan.

Rusak, dengan tanganku sendiri.

Aku, olehku; karenaku.

Bukan kamu.

"Bukan salahmu, tapi aku. Maka ketika mendapatkan kesempatan itu, aku berharap untukmu. Aku ingin menebus dosaku."

Kenapa?

Kenapa tidak kembali ke masa itu lagi saja?

Aku ingin mengucapkan itu semua, tetapi tak mampu.

Tercekik; sesak, hanya ada suara lengkingan keluar ketika mulutku terbuka.

Air mataku mengalir sekarang dan mungkin untuk selamanya.

Aku kembali kalah oleh perasaan sendiri.

"Jika kita kembali, kamu akan jatuh ke tangan iblis itu dan kita akan mengulangi hal yang sama."

Lengannya mulai merangkulku dan di saat itu pula pertahananku hancur.

Aroma begonia kembali menjamah hidungku, meluapkan perasaan di dalam dada yang terus memaksa keluar; rasa yang penuh akan kenangan; satu titik kehangatan ketika hidup tak mengenal apa arti kebaikan, beratus tahun lamanya, hanya dia cahayaku.

Tapi kini, tak bisa lagi ....

Jadi, kumohon, sekarang, bawa diriku untuk bersamamu.

Aku tak punya pilihan 'kan?

"Percayalah, di luar sana, kamu akan menemukan cahaya. Teruslah hidup; teruslah melangkah, dan ingatlah, aku mencintaimu ... lebih dari yang kamu bayangkan."

1
John Singgih
pesan sang malaikat agung
John Singgih
kayaknya bakal ada pertarungan nih
John Singgih
masa-masa indah dimasa lalu yang tinggal kenangan
John Singgih
yang penting Khan dapat misi
John Singgih
pesan terakhir
John Singgih
ternyata begini ceritanya
John Singgih
berhasil, tapi belum seluruhnya...
John Singgih
kembali ke alam mimpi
John Singgih
situasinya tambah buruk
John Singgih
masuk ke alam mimpi untuk mengubah keadaan
John Singgih
ilusi atau gambaran dari sesuatu dimasa lalu ?
John Singgih
baru datang udah dapat masalah
John Singgih
menangis karena diperlakukan dengan baik
John Singgih
MC memang penyendiri
John Singgih
kenangan buruk yang datang lagi
John Singgih
kalah juga dia akhirnya
John Singgih
obatnya berhasil tapi misi belum usai
John Singgih
ternyata dia butuh pertolongan segera
John Singgih
selalu terkenang akan dia yang entah kabarnya seperti apa dan dimana ?
John Singgih
pingsan karena kebanyakan mikir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!