Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Aku melangkah keluar dari dalam mobil bersama Jalal dan Jayan, yang langsung berpindah ke dalam gendongan nyaman suamiku begitu kakinya menapak di tanah.
"Bapak nyasar ke mana saja?" ucap Rudi dengan nada suara yang terdengar kesal sekaligus gemas karena terlalu lama menunggu.
"Maaf, Rud. Tadi saya agak bablas kelewat lorong. Maklum sajalah, saya kan pendatang di daerah sini," sahut suamiku dengan nada santai tanpa beban.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat interaksi santai antara atasan dan bawahan yang merangkap sahabat ini. Rudi pun lantas mengajak kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak, menuju sebuah lahan kosong yang letaknya berada di dekat area persawahan luas.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di hamparan sawah yang membentang hijau, sudah banyak petani setempat yang datang untuk membajak sawah mereka, dan sebagian lagi ada yang sedang sibuk menanam padi. Begitu kami sampai di batas lahan, seorang pria paruh baya tampak berjalan tergesa menghampiri kami. Dari logat bicaranya saat mendekat, sepertinya laki-laki tua itu adalah transmigran asal Jawa.
"Selamat pagi, Pak Rudi..." sapa orang itu dengan ramah.
"Pagi kembali, Pak Herman. Oh iya, Pak, ini atasan saya, namanya Bapak Jalal As-Siddiq. Beliau yang akan membangun beberapa rumah penangkaran walet di daerah sini, di tempat yang sudah saya cek dan survei kemarin, ya. Rencananya untuk ukuran sepuluh kali sepuluh meter per rumah, dengan tinggi sekitar sembilan sampai sepuluh meter," ucap Rudi menjelaskan panjang lebar.
Selagi para pria itu sibuk berdiskusi serius mengenai bisnis dan ukuran bangunan, aku memilih untuk melipir menjauh sejenak menuju ke arah pancuran air mengalir di pinggir sawah. Kupandangi hamparan hijau di depanku, lalu menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan embun pagi yang belum sepenuhnya menguap.
"Sejuknya..." ucapku lirih dengan perasaan tenang.
Mataku kemudian menangkap pergerakan beberapa ibu-ibu desa yang berjalan beriringan sembari membawa baskom besar berisi tumpukan pakaian di atas kepala mereka. Sepertinya mereka hendak mencuci di aliran sungai kecil tak jauh dari sini. 'Hah... rajin sekali ya pagi-pagi begini,' batinku berkata kagum.
"Sayang, lagi apa di sini?"
Suara berat Jalal tiba-tiba terdengar mendekat. Aku menoleh dan mendapati Jayan rupanya sudah turun dari gendongannya; bocah kecil itu kini beralih ke samping Rudi, yang jemari kecilnya sedang digenggam erat oleh asisten suamiku itu agar tidak bermain di lumpur sawah.
"Pak, rasanya tinggal di tempat seperti ini enak dan tenang ya? Sejuk, adem, udaranya juga masih sangat segar," ucapku sembari melangkah mendekatinya.
Kini kami berdiri berhadapan di bawah naungan pohon rindang di tepi sawah. Aku mendongak, menatap postur tubuhnya yang begitu tegap. "Pak, kok Bapak bisa tinggi banget sih...?" tanyaku heran, mendadak menyadari perbedaan tinggi badan kami yang cukup mencolok.
Jalal seketika tertawa lucu mendengar pertanyaan randomku. "Dan kenapa kamu bisa pendek banget?" tanyanya balik meledek.
Aku langsung mengerucutkan bibirku kesal. "Ini faktor keturunan, Pak! Bapak sama Mamaku memang badannya kecil dan pendek," jawabku membela diri.
"Yah, sama. Orang tua saya juga begitu," jawabnya lagi dengan senyuman jahil yang sudah kembali ke mode usilnya yang menyebalkan.
"Ih, Bapak ini... saya tanya serius juga!" ucapku pura-pura ngambek, memalingkan muka.
Pria matang itu tertawa renyah, lalu kedua tangan besarnya bergerak meraih pundakku lembut. "Oke, oke, maaf ya... Saya jawab serius. Saya bisa tinggi begini karena almarhum Ayah saya itu orang Timur yang punya postur badan tinggi besar. Sedangkan Ibu saya, keturunan Arab dengan Jawa. Makanya perpaduan genetik itu bikin badan saya bisa sebesar ini," jawabnya menjelaskan asal-usulnya.
Jalal menjeda kalimatnya sejenak. Sorot matanya mendadak berubah menjadi teramat lembut dan hangat saat menatap lurus ke dalam netraku. "Tapi, apa pun itu, saya justru senang sekali bisa mendapatkan istri yang mungil dan menggemaskan seperti kamu, Yas. Di dekatmu, saya merasa sangat dihargai dan benar-benar dibutuhkan sebagai seorang laki-laki."
Mendengar penuturannya, dadaku mendadak berdesir aneh. Rasa penasaran yang selama ini terpendam tiba-tiba menyeruak begitu saja ke permukaan. "Lalu... kalau sama Ibu Laila dulu, kok bisa, Pak?" tanyaku dengan suara mencicit bingung, sedikit ragu membahas masa lalunya.
Jalal mengembuskan napas pelan, pandangannya menerawang lurus ke depan. "Saya sama Laila itu dulu dijodohkan oleh keluarga. Memang, saya akui saya pernah jatuh cinta dan suka sama dia karena sifatnya yang sangat percaya diri. Cantik, itu sudah pasti. Tapi tipe cantiknya Laila itu sudah terlalu sering saya jumpai, cantiknya tidak unik dan terasa sangat familier bagi saya. Lama-kelamaan setelah menikah, saya justru merasa dia itu lebih ke sosok wonder woman."
Jalal menurunkan nada suaranya, terdengar sedikit hampa. "Apa-apa dia bisa lakukan sendiri tanpa bantuan saya. Karena kemandiriannya yang berlebihan itu, saya sebagai suaminya malah jadi merasa tidak ada gunanya lagi di rumah."
Pria itu kemudian kembali memfokuskan tatapannya padaku, menggenggam erat telapak tanganku lalu membawanya ke depan dada bidangnya. "Beda sekali kalau dengan kamu, Yas. Kamu itu kecil, kelihatan rapuh, dan seolah gampang patah kalau disentuh dengan kasar. Makanya, setiap kali berada di dekatmu, saya selalu merasa seperti seorang penyelamat yang harus menjagamu dengan seluruh jiwa raga saya," katanya dengan nada suara yang teramat dalam dan penuh penekanan.
Hatiku seketika terasa nano-nano dibuatnya. Ada rasa haru, bahagia, sekaligus rasa tersanjung yang membuncah hebat di dalam dada.
"Ah, Bapak... Bapak manis banget sih kalau bicara," kataku dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru. "Sudah ah, jangan bahas masa lalu lagi. Cukup bahas kehidupan kita yang sekarang dan masa depan saja... Okey?" lanjutku sembari langsung menghambur memeluk tubuh besarnya dengan sangat erat.
Jalal tersenyum bahagia. Dia membalas pelukanku tidak kalah erat, menenggelamkan wajahnya di puncak kepalaku sebelum akhirnya berbisik dengan suara rendah yang menggetarkan sanubari, "Saya sangat mencintaimu, Yas. Tetaplah berada di sisi saya ya! Jangan pernah tinggalkan saya lagi."