Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketut Candra
Ketut tiba di depan gubuk Wayan Ratri. Samar-samar ia mendengar suara dentingan gamelan gombang yang di tabuh dengan alunan yang membuat bulu kuduk meremang.
kakinya melangkah masuk ke dalam teras gubuk tua. Ia mendorong pintu yang bahannya hampir melapuk, tetapi tak mau juga di renovasi, bahkan pihak pemerintah menawarkan rumah bantuan, tetapi di tolaknya.
Ketut Candra sedari kecil selalu memperhatikan sang dadong yang di rasanya memiliki ke anehan sikap dan prilaku.
Kreeewk!
Pintu terbuka sedikit. Alunan gamelan gambang mendadak terhenti, dan tidak ada siapapun ia temui, semua terasa sepi.
Terlihat lampu minyak yang terbuat dari kaleng bekas susu masih tampal menyala, menghasilkan cahaya remang-remang, dan bahkan listrik saja Wayan Ratri tak ingin mengalirkannya, karena hidupnya menyukai kegelapan.
"D-dadong?" panggilnya, tetapi tak ada sahutan. Mendadak ia merasakan bulu kuduknya meremang, dan mengendus aroma anyir yang sangat memualkan. Ia tidak tahu saat ini wanita tua itu dimana.
Tetapi entah mengapa hatinya selalu berisik, ingin mencaritahu tentang isi rumah sang dadong.
Kreeeek!
Ketut Candra membuka pintu lebih lebar, dan ia melangkah dengan perlahan.
Sendalnya terasa lengket, sebab lantai tanah itu basah dan terbawa air pasang dari laut.
Aroma anyir dan bercampur busuk semakin sangat kuat, dan membuatnya terpaksa menutup hidungnya.
Lampu minyak dari kaleng bekas itu bergoyang tertiup angin. Bayangannya menari di dinding anyaman bambu yang lapuk, seolah membentuk wajah-wajah yang samar.
"Dadong..." panggilnya lagi, dan kali ini suaranya serak, seperti tercekat di tenggorokan.
Akan tetapi, gubuk tua itu terasa sepi, tetapi tidak benar kosong.
Di pojok ruangan, terdapat bale-bale yang terbuat dari bambu, dan dengan ukuran yang cukup rendah.
Diatasnya terdapat tikar pandan yang cukup lusuh, dan sebuah bokor, beserta dengan sesajen yang berisi rambut panjang dan berwarna hitam, potongan kuku, potongan kasa yang masih berdarah, serta tanah setra (kuburan) yang juga basah.
Di depan sesajen, terdapat rajahan dari gambar I Gede Ratu Mas Mecaling. Sosok yang memiliki wajah mengerikan.
Sedangkan di bawah wadah sesajen, terdapat selembar foto, dan membuat Ketut Candra merasa penasaran untuk mengambilnya.
Saat tangannya menyentuh ujung foto, tiba-tiba saja...
Kreeeek!
Terdengar suara pintu dapur di buka.
"Ha!" Ketut Candra tersentak kaget, dan membuatnya merasa penasaran, lalu menghentikan niatnya untuk melihat foto tersebut.
Ia berlari menuju dapur, dan melihat apa yang terjadi di sana.
Saat berada diambang pintu dapur, ia tak menemukan apapun, hanya sesuatu yang berkelebat cukup cepat, dan saat bersamaan, satu sosok mengerikan melayang dari pintu depan, dan melesat masuk ke dalam kamar.
Sosok berwajah seram dengan organ tubuh yang melayang, menyatu dengan tubuh Wayan Ratri, dan suara lolongan anjing terdengar bersahutan.
Ketut Chandra bergidik ngeri, lalu menutup pintu dapur.
"Ketut, kamu cari dadong?" suara serak dan juga berat mengagetkannya
"Hah! Dadong ngagetin saja!" omelnya lalu menatap sosok wanita tua di hadapannya, yang mana wajahnya terlihat lebih segar dari sejak seminggu yang lalu.
"Dong, Bibi Cempaka meninggal, dan keluarga meminta dadong segera ke sana," ucapnya, sembari memindai penampilan Wayang Ratri yang lebih segar.
"Kamu pulang saja duu, nanti Dadong akan menyusul," ucapnya dengan suara serak.
"Ketut akan membonceng dadong, ayo berangkat sekarang," Ketut Candra berjalan melintasi Wayan Ratri.
Dan saat ia berada tepat di pintu kamar Wayan Ratri, ia menghentikan langkahnya, dan melihat sesuatu seperti yang ia kenal tergeletak di atas lantai.
Langkahnya dengan perlahan menuju ke dalam kamar yang juga terbuat dari tanah basah.
Ia membungkuk, lalu memungut sebuah tusuk konde pusung tagel yang terbuat dari tulang, dan terdapat ukiran kembang kamboja yang masih ia ingat, seba itu hadiah ulang tahun yang ia belikan untuk Wayan Bintari—ibunya.
"Mengapa tusuk konde ibu ada di sini?" gumannya dengan tangan bergetar. Sebab ia mengendus aroma busuk menyengat dari benda tersebut.
"Ketut, kamu sedang apa?" Wayan Ratri merampas tusuk konde itu dari tangan Ketut Candra.
"Itu milik ibu, kenapa ada pada dadong?" cecar Ketut Candra.
"Kita ke rumah bibimu, bukankah mereka sudah menunggu?" Watan Ratri mengalihkan pembicaraan, membuat Ketut Candra terpaksa harus mengalah, meski ia masih merasa janggal.
****
Dwi mengusap darah yang mengalir dari hidungnya. Ia tiba-tiba merasa ingin makan ayam panggang, di saat waktu sudah larut malam.
"Bli, aku lapar," ia mengguncang tubuh Kadek, tetapi pria iru tampak sangat pulas.
Akhirnya ia keluar menuju dapur, dan menemukan ayam di dalam lemari es, dan tanpa menunggu lama, langsung memanggangnya dengan bumbu jimbaran.
Baru beberapa menit, ia sudah mengangkatnya, dan memakannya dengan daging masih setengah matang, dan darah masih menempel di daging bagian tulang.
Ia tampak lahap, dan saat nyoman Sari yang ingin buang air kecil melihatnya, terbengong melihat apa yang di lakukan oleh puterinya.
"Dwi, kamu kenapa? Itu daging masih mentah kenapa di makan?" tanya Nyoman Sari dengan bingung.
Dwi tersenyum datar, dan ia tampak menikmatinya. "Enak, Bu... Mau?" ia menawarkan, dan mengangkat sebagain ayam sudah tersisa di bagian pahanya saja.
Nyoman Sari menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia bingung harus mengatakan apa, tetapi melarang Dwi yang baru saja sembuh dari sakitnya, membuat ia merasa serba salah.
"Apa kamu ngidam?" tanya Nyoman Sari, berusaha menebak.
Dwi menghentikan makannya, dan tiba-tiba teringat akan sebuah testpack yang di simpannya di laci nakas.
"Mungkin kali ya, Bu. Nanti Dwi coba, bisa jadi lagi ngidam, makanya pengen banget makan daging setengah mateng," jawabnya , dan menghabiskan sisa daging ayam tersebut.
Nyoman Sari menarik nafasnya yang terasa berat, dan melangkah menuju toilet.
Sedangkan Dwi kembali ke kamar dan mengambil testpack untuk melihat hasilnya.
Ditempat lain, Ketut Candra mengendari motornya dengan membawa dadongnya. Motor itu terasa cukup berat, seolah ia sedang membawa beban yang sangat berat.
Ia melirik Wayan Ratri yang ada di boncengan belakang, dan ingin memastikan apakah yang ia bonceng benar dadongnya dan ia tahu, jika wanita sepuh itu memiliki bobot hanya empat puluh kilo saja, karena tubuhnya yang terlalu kurus.
Akan tetapi, ia melihat sesuatu yang sangat mengerikan, dimana lidah panjang terjulur sampai ke pinggang berwana merah dan wajah seram, serta dua taring yang mencuat.
"Hah!" Ketut Candra langsung melakukan pengereman mendadak, dan tubuhnya berkeringat dingin.
Ia merasakan dadanya cukup sesak, dan keringat dingin sebesar bulir jagung mengalir dari pori-porinya.
Ketut Candra menoleh dengan perlahan, untuk memastikan apakah yang ia lihat itu makhluk mengerikan atau memang hanya halusinasi saja.
Sssst!
Ia menoleh cepat, dan yang ia lihat saat ini adalah Wayan Ratri yang menatap lurus ke depan dengan tatapan dingin.
"Ada apa, Cu?" tanyanya dengan suara yang berat. Tetapi membuat Ketut Candra kembali bergidik.
Pemuda itu tak menjawab, lalu melilih kembali mengendarai motornya.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh