-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suara gemuruh guntur bersahut-sahutan di langit hulu Jawa Barat, menggetarkan kaca-kaca patri besar di ruang kerja lantai dua vila Dirgantara. Di luar, perkebunan teh yang menghijau telah sepenuhnya tenggelam dalam lautan kabut putih yang tebal. Hujan deras yang menghantam atap sirap menciptakan simfoni alam yang bising, kontras dengan ketegangan yang mendidih di dalam ruangan. Udara pegunungan yang menusuk tulang terasa menguap, digantikan atmosfer panas yang dipicu oleh perdebatan dari balik layar monitor besar di dinding.
Arlan Dirgantara duduk tegak di balik meja jati besarnya. Guratan lelah di wajah tegas itu tidak mampu menyembunyikan kilat amarah yang tertahan di sepasang matanya. Kemeja hitam yang ia kenakan sengaja digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang menegang saat ia menumpukan jemarinya di atas meja.
Di layar monitor di depannya, belasan kotak digital menampilkan wajah-wajah cemas dewan direksi dan para pemegang saham utama Dirgantara Group. Rapat darurat daring yang melekat sejak dua jam lalu telah mencapai titik didihnya.
"Kita tidak bisa bertaruh dengan sentimen pasar, Arlan!" Suara Pramono, salah satu dewan komisaris senior yang vokal, terdengar menggelegar dari pelantang suara, memecah kesunyian ruangan.
"Saham Dirgantara Group di sektor properti dan agro-bisnis anjlok empat persen sejak pembukaan pasar pagi tadi. Rumor yang dilempar Mahendra ke media massa sangat terstruktur. Mereka menuduhmu menyembunyikan mantan narapidana kelas kakap untuk memanipulasi pajak proyek resort hulu ini!"
Arlan menarik napas perlahan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit dengan gestur yang teramat tenang—ketenangan yang justru terasa mengintimidasi bagi siapa saja yang mengenalnya. "Itu hanya spekulasi murah yang digerakkan oleh Mahendra menggunakan Stella sebagai pionnya. Semua dokumen hukum pembebasan lahan di desa ini bersih. Kalian sudah melihat grafik audit yang saya paparkan semenit lalu."
"Publik tidak peduli dengan grafik audit, Arlan!" potong komisaris lainnya dengan nada frustrasi. "Yang publik lihat adalah CEO mereka memelihara seorang wanita dengan rekam jejak kriminal dari Surabaya sebagai asisten pribadinya. Ini masalah reputasi moral! Dewan komisaris sepakat, hanya ada satu jalan keluar cepat untuk mengembalikan kepercayaan pasar sebelum besok pagi."
Arlan menyipitkan matanya, auranya mendadak berubah menjadi sedingin es di puncak gunung.
"Katakan."
"Pecat wanita bernama Gita Ivara itu sekarang juga. Serahkan dia ke perwakilan hukum di Jakarta untuk diklarifikasi secara publik, atau dewan komisaris terpaksa mengambil opsi kedua: menonaktifkanmu dari jabatan CEO demi menyelamatkan stabilitas perusahaan."
Sebuah ultimatum yang telanjang. Pilihan yang sengaja dirancang oleh Mahendra untuk menyudutkan Arlan ke ujung tebing. Sebagai pria yang pernah hancur karena pernikahan pertamanya dengan Stella—wanita yang memuja harta dan kekuasaan di atas segalanya—Arlan selalu menganggap bisnis dan kekuasaan adalah benteng terkuatnya. Jiwa skeptisnya selalu menolak melibatkan emosi dalam keputusan korporat.
Hari ini, di tengah kepungan kabut Jawa Barat, benteng itu bergetar hebat. Ada penolakan yang teramat liar dan posesif di dalam dadanya saat mendengar nama "Gita" disebut sebagai tumbal. Pria itu menyadari, ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu, sesuatu yang membuat insting protektifnya bangkit hingga ke tingkat yang ekstrem.
Di sudut ruangan yang agak temaram, berdiri diam di dekat rak buku-buku tua, Bianca mendengarkan setiap kalimat yang terlontar dari pelantang suara. Dia mengenakan seragam pelayannya yang bersahaja, rambut panjangnya digulung rapi, menampilkan leher jenjangnya yang anggun. Wajahnya tampak sangat tenang, dewasa, dan tegar. Tidak ada setetes pun air mata ketakutan di matanya. Sepuluh tahun di dalam ruang sunyi penjara Surabaya telah menempa mentalnya menjadi baja yang tak mudah retak.
Mendengar dirinya menjadi alasan posisi Arlan terancam, ada rasa bersalah yang merayap halus di relung hatinya. Pria dingin ini mempertaruhkan segalanya tanpa tahu siapa dia sebenarnya. Arlan sedang melindungi "Gita Ivara", seorang pelayan miskin yang tak punya siapa-siapa, tanpa menyadari bahwa wanita di sudut ruangan ini adalah Bianca Adytama—putri mahkota dari dinasti properti yang hancur, yang memiliki kecerdasan dan kekuatan taktis yang sanggup membalikkan papan catur bisnis ini dalam semalam.
Sisi mandiri dan berkelas Bianca bergejolak. Dia menolak menjadi beban yang melemahkan Arlan. Dengan langkah yang teratur dan halus, Bianca melangkah mendekati meja kerja Arlan, berniat mengambil dokumen tambahan sekaligus memberi isyarat bahwa dia bersedia mundur demi keselamatan pria itu.
Arlan menangkap pergerakan Bianca dari sudut matanya. Tanpa diduga oleh siapa pun, bahkan oleh Bianca sendiri, tangan kekar Arlan bergerak cepat. Dia mencengkeram pergelangan tangan Bianca dengan erat di bawah meja—sebuah genggaman yang hangat, posesif, dan seolah mengunci wanita itu agar tidak melangkah satu senti pun menjauh darinya. Genggaman itu adalah pesan tanpa suara yang tegas: Kamu tetap di sini, di sampingku.
Arlan kembali menatap lurus ke arah kamera monitor, menghadapi belasan pasang mata yang menuntut jawaban.
"Saya tidak akan memecat Gita Ivara," ujar Arlan, suaranya bariton, rendah, namun bergetar dengan otoritas mutlak yang tak terbantahkan.
Layar monitor mendadak riuh oleh protes para direksi. "Arlan! Kamu gila?! Kamu mempertaruhkan posisi CEO-mu demi seorang pelayan?!"
"Gita Ivara adalah tanggung jawab saya secara personal dan profesional," tekad Arlan, suaranya memotong semua kebisingan digital tersebut. "Jika Dirgantara Group berpikir bahwa tunduk pada gertakan media murah milik Mahendra adalah sebuah strategi, maka kalian salah besar. Silakan siapkan rapat darurat untuk mencopot jabatan saya besok pagi. Tapi ingat satu hal, seluruh investor asing di proyek resort hulu ini mengikat kontrak atas nama reputasi pribadi saya, bukan atas nama ketakutan dewan komisaris."
Tanpa menunggu respons lanjutan, Arlan menggerakkan tangan kirinya, menekan tombol putus pada papan ketik. Layar besar di dinding seketika menggelap, menyisakan kesunyian yang teramat pekat di dalam ruang kerja, ditemani suara rintik hujan yang semakin menderu di luar jendela.
Arlan melepaskan cengkeramannya pada tangan Bianca perlahan, lalu memijat pelipisnya yang berdenyut kaku. Ketegangan romantis yang elegan sekaligus menyesakkan dada merayap di antara mereka berdua.
"Tuan Arlan," Bianca membuka suara, intonasi bicaranya begitu tenang dan dewasa, mengikis habis kesan seorang bawahan yang rapuh. "Keputusan Anda barusan sama sekali tidak memiliki dasar kalkulasi bisnis yang rasional. Anda mengorbankan apa yang Anda bangun belasan tahun demi ego melindungi seorang pelayan."
Arlan bangkit dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi besar melangkah memutari meja, menghentikan gerakannya tepat di depan Bianca. Jarak mereka begitu dekat, hingga Bianca bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang maskulin bercampur sisa kehangatan kopi hitam dari tubuh Arlan. Pria itu menunduk, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata jernih Bianca dengan kilat posesif yang pekat.
"Aku tidak sedang membicarakan bisnis, Gita," bisik Arlan, suaranya serak dan berat. Kedua tangannya terangkat, mencengkeram lembut kedua bahu Bianca, menguncinya di bawah tatapan yang mengintimidasi sekaligus protektif.
"Sejak awal kamu datang ke vilaku, aku tahu ada yang berbeda darimu. Cara bicaramu, ketegaranmu saat dihina Stella, dan caramu menyusun dokumen tadi... kamu bukan pelayan biasa. Aku tidak tahu apa yang kamu sembunyikan di masa lalumu di Surabaya, tapi aku tidak akan membiarkan bajingan seperti Mahendra menyeretmu keluar dari sini hanya untuk menjatuhkanku."
Bianca merasakan dadanya berdesir hebat. Di balik sikap dingin dan skeptis Arlan terhadap cinta, pria ini memiliki cara proteksi yang begitu absolut. Perasaan hangat yang asing mulai menyusup ke hati Bianca, membuatnya merasa dihargai sebagai seorang wanita, bukan sebagai komoditas bisnis seperti yang biasa ia alami di masa lalu keluarganya.
Namun, Bianca tahu badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dia harus bergerak secara mandiri sebelum Mahendra menyadari bahwa umpan hukumnya telah siap dilepaskan dari Surabaya melalui Pak Haryo.
"Saya menghargai perlindungan Anda, Tuan," Bianca berujar lirih, memberikan transisi organik pada emosinya dengan menurunkan pandangannya sejenak, sebelum kembali menatap Arlan dengan ketegasan seorang Adytama. "Tapi biarkan saya menyiapkan keperluan Anda untuk malam ini. Anda butuh istirahat sebelum besok menghadapi dewan direksi secara fisik."
Arlan menatapnya beberapa detik lagi, mencoba mencari celah rahasia di balik mata jernih itu, sebelum akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan berat hati.
"Kembalilah ke kamarmu. Jangan keluar ke area perkebunan tanpa pengawal."
Malam merayap semakin larut di wilayah hulu Jawa Barat. Badai pegunungan benar-benar pecah, membawa angin kencang yang membuat dahan-dahan pohon pinus di sekitar vila berderak keras.
Bianca berdiri di dalam kamar mewahnya di sayap barat, menatap keluar jendela yang basah. Kamar ini terlalu megah untuk seorang Gita, sisa-sisa keputusan sepihak Arlan yang memindahkannya dari paviliun pelayan masih menyisakan kecanggangan di antara staf villa yang lain.
Dia mengeluarkan ponsel rahasianya dari balik saku. Jari-jarinya dengan cepat mengetik pesan kode enkripsi untuk Pak Haryo di Surabaya.
"Pak Haryo, dewan komisaris Dirgantara Group sudah terpengaruh oleh Mahendra. Arlan mempertahankan posisi saya dengan mempertaruhkan jabatannya. Aktifkan jalur hukum kedua sekarang juga. Rilis dokumen kepemilikan tanah ulayat milik keluarga Adytama yang berbatasan dengan resort hulu ke otoritas Jawa Barat. Kita harus memotong pergerakan saham Mahendra sebelum besok pagi."
Pesan terkirim. Bianca menghela napas panjang, meraba lehernya yang terasa dingin. Dia tahu, begitu dokumen Adytama dirilis, nama aslinya akan mencuat ke permukaan.
***
mkn maen rahasia arlan makin posesif
untuk doni harus secepatnya menemukan kejanggalan tentang gita dan bianca adytama
makin percaya aja deh