NovelToon NovelToon
UNWANTED KALILA

UNWANTED KALILA

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Penyesalan Keluarga / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kalila Adiwangsa dianggap sebagai pembawa sial. Kelahirannya merenggut nyawa sang ibu, membuat ayahnya yang dingin dan ketiga kakak laki-lakinya Arkan, Rian, dan Reno menjadikannya orang asing di rumah sendiri.
Demi mencari perhatian, Kalila memakai topeng "badai": menjadi pemberontak dan perundung yang ditakuti di kampus. Namun, kerapuhannya hancur total saat Satya, pria yang ia cintai, menolaknya dengan hinaan pedih.
Di titik terendah hidupnya, sebuah vonis mati datang: kanker stadium akhir sedang menggerogoti tubuhnya.
Kini, Kalila harus memilih: terus mengemis cinta pada keluarga yang membencinya, atau pergi dalam diam menuju pelukan ibu yang tak pernah ia temui. Saat detak jantung terakhir mulai menghitung mundur, akankah penyesalan mereka datang sebelum segalanya terlambat?
"Lahir untuk dibenci, hidup untuk terlupakan, dan pergi untuk disesali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simfoni Fajar di Negeri Selatan (TAMAT)

Musim dingin di Sydney selalu memiliki cara sendiri untuk menandai waktu. Udara pagi berembus dari arah dermaga teluk, membawa kesegaran yang menggigit kulit pada suhu sebelas derajat Celsius. Di balik jendela kaca besar unit apartemen lantai dua belas di kawasan Darling Harbour, pemandangan pelabuhan bertransformasi perlahan. Semburat warna abu-abu keperakan di langit timur mulai terkikis oleh garis fajar berwarna kuning keemasan yang jernih, memantul di atas permukaan air laut yang tenang, di mana satu dua kapal feri komuter mulai membelah buih-buih ombak kecil.

Kalila berdiri diam di depan jendela kaca tersebut, kedua tangannya mendekap erat sebuah cangkir keramik berisi cokelat panas yang masih mengepulkan uap tipis. Ia mengenakan sweater rajut longgar berwarna abu-abu muda, dipadukan dengan celana kain hangat dan kaos kaki wol tebal pemberian Reno sebelum ia berangkat dari Jakarta. Rambut pendek *pixie cut*-nya yang kini sudah tumbuh menyentuh batas tengkuk tampak sedikit berantakan khas orang bangun tidur, namun sepasang matanya menatap bentangan kota di hadapannya dengan binar kedamaian yang mutlak.

*Breathe in. Breathe out.*

Kalila melakukan rutinitas pernapasannya secara refleks. Tidak ada bunyi siulan kecil yang mengganggu di dadanya. Tidak ada rasa kaku di area tulang rusuk kiri tempat bekas sayatan operasi pembersihan jaringan dulu berada. Udara musim dingin Australia yang bersih dan minim polusi terasa seperti obat alami yang meresap ke dalam alveolusnya, memberikan pasokan energi yang membuat seluruh tubuhnya terasa sangat ringan.

Sebuah kecupan lembut mendadak mendarat di bahu kirinya, disusul oleh sepasang lengan yang melingkar posesif di perutnya. Satya merapatkan tubuhnya, mengenakan hoodie hitam tebal yang aromanya sangat akrab di indra penciuman Kalila. Pemuda itu menyandarkan dagunya di ceruk leher Kalila, ikut menatap fajar yang perlahan menyiram Sydney Harbour Bridge di kejauhan.

"Terlalu dingin untuk berdiri di depan kaca sepagi ini, Lila," bisik Satya, suaranya parau khas orang bangun tidur namun terdengar sangat dalam dan penuh kehangatan.

Kalila tersenyum, meletakkan cangkir cokelatnya di atas meja konsol di samping jendela, lalu memutar tubuhnya di dalam dekapan Satya hingga mereka kini saling berhadapan. Ia menyandarkan kedua tangan kecilnya di dada bidang Satya, merasakan detak jantung pemuda itu yang berirama konstan di balik kain hoodie-nya.

"Aku hanya tidak ingin melewatkan fajar pertama di bulan keempat kita di sini, Sat," jawab Kalila lembut. "Setiap kali melihat matahari terbit di kota ini, aku selalu merasa seperti sedang membaca halaman baru dari sebuah buku yang sangat indah. Dan bagian terbaiknya adalah... aku tidak perlu takut halaman itu akan robek lagi."

Satya menatap wajah Kalila dengan tatapan yang sarat akan kekaguman yang murni. Rona merah di pipi gadis itu bukan lagi karena demam akibat badai sitokin, melainkan rona kesehatan yang sempurna karena sirkulasi darah yang berjalan dengan sangat baik di bawah udara dingin.

"Buku kita baru saja dimulai, Lila. Dan kita punya banyak sekali halaman kosong yang siap kita isi dengan tinta emas," ujar Satya, mengulurkan tangan kanannya untuk merapikan beberapa helai rambut Kalila yang berantakan, membiarkan jemarinya bergesekan lembut dengan kulit pipi gadis itu. Di jari manis Kalila, cincin berkelopak lili itu berkilau indah, memantulkan cahaya fajar yang mulai masuk ke dalam ruangan.

Pukul sembilan pagi, ruangan apartemen mereka mulai dipenuhi oleh aroma panggangan roti dan seduhan kopi hitam yang pekat. Satya duduk di meja makan kayu minimalis yang menghadap ke arah balkon, dikelilingi oleh tumpukan cetakan jurnal ilmiah, beberapa buku tebal tentang antropologi budaya pesisir, dan sebuah laptop yang menampilkan draf akhir dari tesis magisternya yang akan segera disidangkan bulan depan.

Meskipun statusnya kini adalah tunangan dari putri tunggal dinasti Adiwangsa, Satya tidak pernah kehilangan jati dirinya sebagai seorang peneliti yang tekun. Selama empat bulan di Sydney, ia telah berhasil menyelesaikan draf pertama tesisnya mengenai adaptasi sosial komunitas nelayan migran, sebuah pencapaian yang membuat profesor pembimbingnya di University of Sydney memberikan apresiasi yang luar biasa.

Kalila berjalan mendekati meja makan sambil membawa sepiring pancake pisang yang baru saja ia buat sendiri, menggunakan resep digital yang dikirimkan oleh Reno minggu lalu melalui pesan singkat.

"Tuan Peneliti, waktunya istahat sejenak," ucap Kalila, meletakkan piring pancake tersebut tepat di atas tumpukan draf jurnal Satya yang sudah selesai dibaca. "Kak Reno bilang, kalau aku tidak memastikan kamu memakan karbohidrat yang cukup selama minggu-minggu penulisan tesis, dia akan terbang ke Sydney hanya untuk mengambil alih dapur apartemen ini."

Satya tertawa renyah, menutup laptopnya setengah dan mendongak menatap Kalila. "Wah, ancaman dari Kak Reno terdengar sangat mengerikan ya. Tapi melihat hasil pancake buatanmu yang bentuknya sudah bulat sempurna begini, sepertinya bakat memasak keluarga Adiwangsa memang sudah menurunkan energinya padamu, Lila."

Kalila mengambil tempat duduk di depan Satya, menuangkan sirup mapel di atas pancake mereka. "Tenu saja. Aku harus membuktikan pada Papa kalau aku di sini tidak hanya menjadi mahasiswi yang belajar sosiologi, tapi juga belajar menjadi seorang pendamping yang bisa diandalkan untukmu."

Percakapan di meja makan pagi itu mengalir dengan ritme yang sangat santai namun sarat akan kematangan. Kalila menceritakan perkuliahan daringnya yang berjalan sangat lancar. Berkat bantuan sistem hibrida yang dirancang oleh Arkan dan Rian bersama pihak fakultas di Jakarta, Kalila berhasil mempertahankan indeks prestasinya di angka yang sangat memuaskan tanpa harus memaksakan kondisi fisiknya untuk menghadiri kelas malam yang melelahkan.

Di tengah pembicaraan, ponsel milik Kalila yang tergeletak di atas meja bergetar pendek, menampilkan panggilan video masuk dengan nama pemanggil: **Papa**.

Kalila langsung menggeser tombol hijau, memperlihatkan layar yang menampilkan wajah Baskara Adiwangsa yang sedang duduk di ruang kerja utamanya di Jakarta, didampingi oleh Arkan yang mengenakan setelan jas formal lengkap.

"Halo, Lila! Halo, Satya! Bagaimana kabar anak-anak Papa di Sydney?" sapa Baskara dengan suara yang lantang dan penuh dengan binar kebahagiaan seorang ayah. Tidak ada lagi sisa-sisa guratan ketegangan bisnis di wajah tua itu setiap kali ia menatap putrinya.

"Halo, Pa! Halo, Kak Ar!" jawab Kalila riang, mengarahkan kamera ponselnya agar bisa menangkap wajahnya dan Satya sekaligus. "Kabar kami sangat baik di sini. Udara musim dingin sedang bagus-bagusnya, dan tebak apa, Pa? Aku baru saja membuat pancake pisang sendiri untuk sarapan Satya!"

Baskara terkekeh lebar, menoleh ke arah Arkan yang juga ikut tersenyum tipis di sampingnya. "Luar biasa. Putri Papa yang dulu bahkan tidak tahu cara menghidupkan kompor listrik, sekarang sudah bisa menyiapkan sarapan untuk calon suaminya. Satya, bagaimana rasanya? Aman untuk pencernaanmu, kan?"

Satya ikut tersenyum, membungkuk sedikit ke arah kamera. "Sangat enak, Pa. Setelan rasanya pas sekali, tidak terlalu manis. Sepertinya draf resep dari Kak Reno bekerja dengan sangat baik."

Arkan membetulkan letak kacamatanya, menatap Satya dengan pandangan mata yang profesional namun hangat. "Satya, aku baru saja menerima laporan dari kantor perwakilan kita di Sydney. Surat izin riset lapanganmu untuk wilayah pesisir bagian utara sudah keluar dari otoritas lokal setempat. Tim logistik kami juga sudah memastikan bahwa kendaraan SUV yang dimodifikasi untuk kebutuhan lapangamu akan diantarkan ke apartemenmu besok sore."

"Terima kasih banyak, Kak Arkan," jawab Satya dengan rasa hormat yang mendalam. "Bantuan logistik ini benar-benar memotong waktu birokrasi saya hingga beberapa minggu. Saya akan memastikan data yang diambil dari lapangan nanti memiliki validitas yang tinggi demi menjaga nama baik rekomendasi dari keluarga."

"Kami tahu kamu tidak akan pernah mengecewakan kami, Satya," timpal Baskara tulus. Pria tua itu kemudian menatap Kalila dengan kelembutan yang dalam. "Lila, ingat pesan Papa. Minggu depan adalah jadwal pemeriksaan kesehatan berkala triwulananmu di rumah sakit universitas setempat. Dokumen rujukan dari tim dokter Munich sudah dikirimkan oleh Rian ke sana. Pastikan kamu datang tepat waktu bersama Satya, ya?"

"Pasti, Pa. Satya sudah mencatat jadwalnya di kalender meja kerja. Papa jangan khawatir, aku merasa tubuhku berada dalam kondisi terbaiknya saat ini," jawab Kalila menenangkan ayahnya.

Setelah bertukar beberapa kalimat kerinduan dan salam dari Reno dan Rian yang sedang berada di luar kota untuk urusan proyek baru, panggilan video itu diakhiri dengan senyuman hangat dari kedua belah pihak. Kalila menurunkan ponselnya, mengembuskan napas panjang yang dipenuhi oleh kelegaan yang amat sangat. Dukungan yang konstan dari keluarganya di Jakarta terasa seperti jembatan emosional yang membuat jarak ribuan kilometer di antara mereka seolah menguap begitu saja.

Sore harinya, pukul empat, langit Sydney kembali menampilkan pertunjukan visualnya yang magis. Udara dingin yang bertiup kencang tidak menyurutkan niat Satya dan Kalila untuk keluar menikmati sisa hari. Mereka memutuskan untuk mengunjungi area The Rocks, sebuah kawasan bersejarah yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan tua berbatu pasir dengan arsitektur kolonial yang indah, terletak tepat di bawah bayang-bayang struktur megah Sydney Harbour Bridge.

Mereka berjalan kaki menyusuri lorong-lorong kecil yang dipenuhi oleh galeri seni lokal, toko buku tua, dan aroma harum dari kedai-kedai cokelat hangat. Kalila melingkarkan lengan kirinya di lengan kanan Satya yang dibalut mantel abu-abu tebal, membiarkan tubuh mereka saling merapat untuk membagi kehangatan di tengah embusan angin musim dingin yang memotong lorong bangunan.

Langkah mereka berhenti di depan sebuah galeri sketsa kecil yang terletak di sudut lorong bersejarah tersebut. Di dalam jendela kaca galeri, beberapa lukisan arang dan sketsa cat air bertema pelabuhan dipajang dengan rapi. Salah satu sketsa menampilkan gambar siluet sebuah kapal layar tua yang sedang menerjang ombak besar di bawah semburat langit jingga keunguan.

Kalila menatap sketsa tersebut dengan pandangan mata yang terpaku selama beberapa saat. Pikirannya mendadak melayang kembali pada masa-masa kelam di Munich, di mana ia pernah mengurung diri di dalam ruang isolasi yang steril, menatap dinding putih yang dingin sambil meratapi nasibnya yang ia kira akan berakhir tragis di negeri asing.

*Dulu aku adalah kapal layar yang hampir karam itu,* pikir Kalila dalam hati. *Tersesat di tengah badai tanpa tahu di mana dermaga untuk bersandar.*

Satya yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Kalila perlahan menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya, menangkup kedua pipi Kalila dengan sepasang tangan yang terbungkus sarung tangan kulit yang hangat, membuat gadis itu mendongak menatap langsung ke dalam sepasang mata cokelatnya yang selalu memancarkan ketenangan laboratorium yang presisi.

"Lila," panggil Satya lembut, suaranya mengalahkan desau angin musim dingin di sekitar mereka. "Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Kalila tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini tidak lagi menyimpan sisa-sisa kepedihan, melainkan sebuah penerimaan yang tulus atas takdir hidupnya. Ia memegang pergelangan tangan Satya, merasakan kehangatan yang merembes masuk ke dalam kulit wajahnya.

"Aku hanya sedang berpikir... betapa ajaibnya cara Tuhan bekerja, Sat," bisik Kalila, matanya berkaca-kaca oleh luapan rasa syukur yang membuncah. "Satu tahun lalu, aku berada di Eropa, sendirian, dipenuhi oleh racun kemoterapi dan ketakutan akan maut yang mencekam. Dan sore ini... aku berdiri di sini, di benua yang berbeda, di bawah langit musim dingin yang indah, bersama pria yang tidak pernah melepaskan genggaman tangannya bahkan saat aku berada di titik paling hancur sebagai seorang manusia."

Kalila menarik tangan kanan Satya, menaruh telapak tangan pemuda itu tepat di atas dada kirinya, di mana detak jantungnya berdegup dengan ritme yang sangat kuat, stabil, dan penuh dengan gairah kehidupan.

"Dengar ini, Satya," lanjut Kalila, suaranya bergetar halus oleh keharuan. "Detak jantung ini... setiap denyutnya saat ini adalah bukti nyata dari perjuangan kita. Ini adalah hasil dari doa-doamu yang menembus langit malam, hasil dari ketekunanmu membawakanku musik-musik tua di ruang isolasi, dan hasil dari keberanianmu untuk mencintai seorang gadis rapuh sepertiku. Terima kasih karena telah menghidupkan kembali melodi di dalam jiwaku yang sempat mati."

Satya merasakan dadanya berdesir hebat. Kata-kata dari Kalila terasa seperti sebuah pengakuan tertinggi yang melunasi seluruh keletihan, air mata, dan perjuangan panjang yang telah mereka lewati bersama di tiga benua yang berbeda. Ia maju satu langkah, memotong jarak di antara mereka hingga tidak ada lagi ruang kosong yang tersisa.

"Lila... sejak malam pertama aku melihatmu di kelas sosiologi, aku tidak pernah melihat seorang gadis yang rapuh," ujar Satya dengan draf suara yang sangat dalam dan kokoh, mengunci pandangan mata Kalila dengan ketulusan yang mutlak. "Aku melihat sebuah jiwa yang memiliki resonansi keindahan yang sangat kuat, namun tertutup oleh dinding egomu yang tinggi. Dan tugasku malam itu, di Munich, dan sepanjang sisa hidupku nanti... bukanlah untuk menyembuhkanmu, melainkan hanya untuk menemanimu meruntuhkan dinding itu agar dunia bisa melihat betapa indahnya kilau jiwamu yang sesungguhnya."

Satya perlahan menurunkan wajahnya, dan di bawah saksikan struktur kokoh Sydney Harbour Bridge yang legendaris, di tengah lorong tua berbatu pasir yang menjadi saksi sejarah peradaban kota pelabuhan tersebut, bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan yang sangat lembut, hangat, dan lama. Kecupan itu bukan lagi sebuah janji awal pertunangan, melainkan sebuah segel komitmen abadi yang mengunci seluruh draf masa depan mereka ke dalam sebuah harmoni kehidupan yang tak akan pernah bisa dipisahkan oleh apa pun lagi.

Matahari sore akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala barat Sydney, digantikan oleh pendar lampu-lampu kota yang mulai menyala serentak, menciptakan refleksi cahaya keemasan yang menakjubkan di atas permukaan air laut pelabuhan.

Satya dan Kalila berjalan kembali menuju apartemen mereka dengan jemari yang saling bertautan erat di dalam saku mantel. Langkah kaki mereka terdengar berirama dan selaras di atas trotoar jalan setapak. Simfoni kehidupan mereka telah melewati seluruh babak badai yang mengerikan, menyelesaikan gerakan melodi minor yang penuh dengan penderitaan, dan kini mencapai titik kesimpulan yang paling indah.

Jembatan emas yang mereka bangun di atas reruntuhan masa lalu kini telah berdiri dengan sangat kokoh, menghubungkan Jakarta, Munich, dan Sydney dalam satu garis lurus bernama cinta sejati. Dua bulan dari sekarang, mereka akan kembali ke Jakarta untuk melangsungkan pernikahan resmi di bawah restu penuh keluarga besar.

Namun bagi Kalila Adiwangsa, malam ini di bawah langit negeri selatan yang dipenuhi oleh gugusan bintang salib selatan (*Southern Cross*) yang bersinar cerah, ia tahu bahwa kisah mereka sudah selesai ditulis dengan akhir yang sempurna. Ia tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan lagi, karena lentera hidupnya telah menyatu dengan jiwa seorang pria bernama Satya si asisten laboratorium sederhana yang berhasil meretas takdir dan membawanya pulang ke rumah cinta yang abadi.

TAMAT

1
aku
bawang 😭😭😭
RieNda EvZie
ceritanya bagus lho... good job, terus berkarya ya outhor...
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
susah komentnya
Hana Nisa Nisa
seduh bener😭😭😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
sedihhh
Hana Nisa Nisa
nyimak kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!