Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??
Benarkah itu??
Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??
Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.
Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??
Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.
Penasaran dengan perjuangannya??
Langsung baca aja yak...
Jangan lupa like, vote, rate ya...
Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26
Segerombolan mobil menghalangi jalan sebuah mobil hitam dan silver. Semua orang yang ada didalam mobil-mobil itu keluar dengan membawa senjata mereka. Mereka mengepung sambil menodongkan senjata kearah mobil hitam.
Sebuah mobil merah masuk kedalam segerombolan mobil tersebut, Shany keluar dari mobilnya kemudian mendekat kearah mobil hitam.
"Keluar kau Gaby!!" Teriaknya sambil menendang body mobil hitam.
"Hey, apa kau dengar?" Lanjutnya dengan nada kesal.
"Kalian, buka paksa pintu mobil ini!!" Ucap Shany memberi perintah pada orang suruhannya.
"Baik nona!!" Jawabnya, kemudian mereka memecahkan jendela mobil secara paksa.
Terlihat ada seorang pria tua renta yang sedang duduk ketakutan dikursi kemudi. Sementara, pengawal Gaby yang berada dibelakang mobil silver melajukan mobilnya menerobos kumpulan orang suruhan Gaby.
"Ahahaha... tidak semudah itu nona kecil," ucap para pengawal Gaby.
Shany sadar bahwa mobil pengawal Gaby berhasil kabur dari kepungan mereka. Dengan sigap tanpa menunggu perintah, orang suruhan Shany mengejar mobil tersebut.
"Jangan kabur kau!!" Teriak Shany dengan kesal.
Shany masuk kedalam mobilnya lalu membantu orang suruhannya untuk mengejar mobil pengawal Gaby.
"Si*l, kenapa mereka harus kabur. Dan kenapa mobil didepannya itu bukan Gaby?" Ucap Shany kesal sambil mengendarai mobil.
"Ayo sini, ikuti kami!!" Ucap pengawal Gaby yang mengemudikan mobil.
Segerombolan mobil mengejar mobil silver milik pengawal Gaby. Sampailah mereka disebuah hutan yang entah dimana itu, mobil pengawal Gaby bersembunyi dibalik sebuah pohon besar yang dikelilingi semak-semak. Dengan cepat mereka mengubah warna mobilnya, lalu dalam keadaan aman mobil pengawal Gaby keluar dari hutan.
Tinggalah mobil suruhan Shany yang berjumlah 10 buah itu dihutan rindang. Tampak Shany yang bergidik ketakutan saat memasuki hutan, ia bahkan tidak tahu ada dimana. Pikirannya hanya tertuju pada Gaby, sehingga ia tidak fokus pada jalanan.
Sedangkan Gaby telah sampai dirumahnya dengan selamat, Anny menyambut kedatangan Gaby. Ia juga sempat heran mengapa warna mobil Gaby berubah seketika, namun Gaby dengan cepat menjelaskannya.
"Syukurlah, nona baik-baik saja." Ucap Anny dengan nafas lega.
"Tentu saja," jawab Gaby senang sambil memeluk Anny.
Anny tersenyum dan membalas pelukan Gaby, kemudian ia teringat dengan sepucuk surat mencurigakan yang terus berdatangan kekediaman Gaby.
"Nona, tadi siang ada sebuah surat lagi yang datang." Ucap Anny sambil berjalan masuk kedalam rumah bersama Gaby.
"Benarkah? Dimana surat itu?" Tanya Gaby penasaran.
"Surat itu, meski aku belum tau siapa pengirimnya. Tapi, isi dari surat itu sangat berharga!" Batin Gaby setelah terdiam cukup lama.
Kangjian datang kerumah Gaby dengan senyum penuh keceriaan. Lantas, ia berteriak memanggil-manggil nama Gaby.
"Nona, nona Gaby!!" Teriaknya dari luar rumah.
"Sekertaris Kang? Ada apa, mengapa anda sampai berlari-lari seperti itu?" Tanya Gaby yang melihat Kangjian berlari kearahnya.
"Ahahaha... tidak ada, hanya saja saya terlalu senang," jawab Kangjian setelah sampai dimeja makan.
"Tapi tidak sampai seperti itu juga kan?" Ucap Gaby sambil membuka surat yang ia dapat.
"Nona, tuan Ardiaz meminta anda untuk bersiap malam ini. Beliau akan membawa anda makan malam diluar," sahut Kangjian dengan senyum ceria.
"Ah, tuan Ardiaz?" Batin Gaby sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Baiklah, aku akan bersiap." Jawab Gaby membalas senyuman Kangjian.
"Aku belum mengucapkan terima kasih pada tuan Ardiaz mengenai kalung ibu," batin Gaby sembari meminum secangkir teh hangat yang dibuat oleh Anny.
"Nona, ini cemilan sorenya." Ucap Anny dengan meletakkan nampan berisikan sepotong kue coklat kesukaan Gaby.
"Wah, kelihatannya enak!!" Ucap Gaby dengan mata berbinar-binar melihat kue coklat yang begitu menggodanya.
"Pastinya enak nona," sahut Anny tersenyum hangat.
"Sayang sekali, Shany harus terjebak disebuah hutan rindang itu." Batin Gaby setelah menyuapkan kue itu kedalam mulutnya.
"Si*l, sepertinya kita dijebak oleh gadis itu!!" Ucap Shany kesal.
Shany tak dapat pulang karena tidak tahu arah jalan pulang, selain itu hari menjelang malam. Seharusnya ia sudah pulang dan makan malam juga memakan cemilan sore seperti Gaby.
"Aduh, kita harus bagaimana?" Tanya Qilla dengan panik.
"Aku takut terjadi hal buruk," lanjutnya.
"Tenang saja, kita pasti akan pulang." Jawab Shany yakin.
"Awas kau Gaby, setelah kejadian ini aku tidak akan pernah melepaskanmu!!" Batin Shany sambil menggertakkan giginya.
Malam pun tiba...
Ardiaz menunggu kedatangan Gaby, ia berdiri sudah cukup lama hanya untuk menunggu Gaby bersiap. Gaby turun dari tangga dengan mengenakan gaun cantik. Ardiaz terpana melihat kecantikan Gaby yang tiada tara, Ardiaz menelan ludah saat Gaby mendekat kearahnya
[Gaunnya seperti itu ya]
"Gaby cantik sekali," pujinya dalam hati.
"Semalat malam tuan," sapa Gaby dengan ramah.
"Anny, kenapa dia memaksaku memakai gaun ini. Ini bahkan terlalu mewah," batin Gaby yang mengingat kalau Anny-lah yang memaksa ia untuk memakai gaun itu.
"Malam juga, mari," Ardiaz mengulurkan lengannya dan Gaby menerima uluran tangan Ardiaz. Mereka berjalan bersama keluar dari rumah, Ardiaz membukakan pintu mobil untuk Gaby.
"Pasangan yang romantis," ucap Anny dan Kangjian bersamaan.
Kemudian mereka saling menatap, setelahnya tertawa dengan puas.
Tak lama setelah berkendaran, akhirnya mereka sampai disebuah restoran berbintang lima. Ardiaz dan Gaby masuk bersamaan dengan sambil bergandengan tangan. Meja pesanan Ardiaz berada diatas gedung, sebuah pemandangan yang sangat indah dan romantis.
Cahaya rembulan ditambah dengan cahaya dari berbagai lampu mencerahkan malam kala itu, hembusan angin malam yang begitu menyejukkan bintang-bintang dan lampu-lampu yang berada disetiap rumah menghiasi pemandangan.
"Wah, pemandangan yang bagus." Gaby terkagum melihat pemandangan yang sangat indah itu.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Ardiaz mendekati Gaby yang sedang menikmati pemandangan indah dari atas gedung.
"Benar tuan, diatas sini terlihat sangat indah." Jawab Gaby dengan sambil menatap lembut kedua bola mata Ardiaz.
Mereka saling menatap satu sama lain, dengan refleks Ardiaz memegang pipi Gaby dengan sebelah tanganya. Ia mendekatkan wajahnya kewajah Gaby, semakin dekat dan semakin dekat.
DUG...
DUG...
DUG...
Jantung Gaby berdetak sangat hebat, perasaan nyaman dan aneh berkecamuk dihatinya. Sentuhan lembut dipipinya semakin menambah getar jantungnya, tatapan lembut Ardiaz membuat wajahnya memerah. Apalagi jika Ardiaz terus mendekatkan wajahnya kewajah Gaby, berbagai pertanyaan mengelilingi kepala Gaby.
"Permisi tuan, ini hi..." seorang pelayan datang sambil membawa nampan.
Seketika pelayan tersebut terkejut sekaligus takut karena sudah mengganggu kebersamaan Gaby dan Ardiaz.
Menyadari ada seorang pelayan yang datang membawa makanan untuk mereka, dengan sigap Ardiaz menjauhkan diri dari Gaby.
Kecanggungan menyelimuti ketiga orang yang ada diatas gedung.
"Ma-maaf tuan," ucap pelayan tersebut.
"Tidak apa-apa, letakkan saja hidangan itu diatas meja." Jawab Ardiaz sambil memasukkan lengannya kedalam saku celananya.
Pelayan tersebut mengangguk kemudian meletakkan hidangan tersebut diatas meja.