NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Tidak ada deru mesin sedan mewah Kaizar yang biasanya terparkir angkuh di depan gerbang. Sebagai gantinya, Zivara Arthea sudah berdiri di depan rumah keluarga Ravindra, menggenggam kunci mobilnya sendiri dengan mantap. Setelah mendengar kabar dari Bi Sumi mengenai cedera bahu Kaizar yang didapat saat menyelamatkannya di gudang kampus, ada rasa tanggung jawab yang menghimpit dada Zivara.

Zivara melangkah masuk saat Bunda Dila menyambutnya dengan senyum lega. Tak lama, Kaizar muncul dengan kemeja yang tersampir sedikit longgar untuk menyembunyikan perban di bahu kanannya.

"Biar aku yang menyetir hari ini, Kak," ucap Zivara tanpa basa-basi saat mereka bertemu di teras. "Bahu Kakak masih dalam masa pemulihan. Tidak mungkin Kakak memaksakan diri membawa mobil dengan kondisi seperti itu".

Kaizar tertegun sejenak. Tatapannya yang biasanya dingin dan dominan kini melunak, memancarkan binar kesenangan yang sulit disembunyikan. Mendapatkan perhatian dari Zivara—sosok yang di kehidupan sebelumnya selalu ia abaikan—terasa seperti oase di tengah padang pasir penyesalannya.

"Kamu yakin?" tanya Kaizar meyakinkan, suaranya sedikit rendah.

"Sangat yakin. Anggap saja ini cara untuk mengurangi rasa bersalahku karena Kakak terluka gara-gara aku," jawab Zivara sambil berjalan menuju kursi pengemudi.

Mereka pun berangkat membelah jalanan Bandung yang mulai padat. Di dalam kabin mobil yang kedap, keheningan sempat merayap sebelum Kaizar akhirnya memecah suasana.

"Selama aku tidak masuk kampus kemarin... apa Luna mendatangimu lagi? Dia mengganggumu?" tanya Kaizar sambil melirik Zivara dari samping.

Zivara mempererat genggamannya pada lingkar kemudi. Bayangan wajah Luna yang penuh kebencian dan ancaman-ancaman tajam yang dilontarkan wanita itu di selasar kampus kemarin melintas begitu saja di benaknya. Luna tidak pernah berhenti mencari masalah; wanita itu seolah terobsesi untuk menyingkirkan Zivara dari sisi Kaizar.

"Tidak. Dia tidak menggangguku sama sekali," dusta Zivara dengan nada suara yang sangat tenang.

Zivara yang sekarang, perempuan yang telah melewati pahitnya kehidupan hingga usia tiga puluh tahun sebelum kembali ke masa lalu, tahu betul bahwa mengadu hanya akan membuat drama ini semakin berlarut-pelit. Ia lebih memilih menghadapi Luna dengan caranya yang dewasa dan mematikan, daripada harus berlindung di balik punggung Kaizar lagi.

Kaizar menghela napas panjang, tampak tidak sepenuhnya percaya namun memilih untuk tidak mendesak. "Aku minta maaf, Vara. Maaf karena Luna masih saja mengusik hidupmu. Aku yang membawanya masuk ke lingkaran ini, dan aku yang seharusnya menyelesaikannya".

Zivara hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia tidak menjawab "tidak apa-apa" atau memberikan kata-kata penenang. Baginya, permintaan maaf Kaizar adalah hal yang seharusnya dilakukan, tetapi itu tidak serta-merta menghapus luka dari masa depan yang masih membekas di ingatannya. Ia membiarkan Kaizar tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan, membiarkan pria itu merasakan betapa dinginnya jarak yang ia bangun sekarang.

**

Di sudut gedung fakultas yang jarang terjamah langkah kaki mahasiswa, sebuah ruangan kosong menjadi saksi bisu persekutuan yang kotor. Udara di dalam sana terasa pengap, kontras dengan suasana Bandung yang sejuk di luar sana. Cahaya matahari hanya mampu menyelinap tipis melalui celah gorden yang tertutup rapat, memberikan kesan remang yang mencekam.

Luna duduk dengan angkuh di pangkuan Adrian, membiarkan jemarinya menelusuri kerah kemeja pria itu dengan gerakan yang manipulatif. Tidak ada lagi sisa-sisa citra gadis lembut yang biasa ia tunjukkan di depan Kaizar. Di sini, di depan Adrian, ia melepaskan topengnya.

"Aku sudah tidak sabar lagi, Adrian," bisik Luna, suaranya mengandung racun yang dalam. "Zivara harus hancur. Bukan hanya sekadar dijauhi, tapi aku ingin dia merasa tidak punya tempat lagi untuk berpijak di kampus ini, bahkan di dunia ini."

Adrian tampak tenang, tangannya melingkar di pinggang Luna dengan kepemilikan yang dingin. Ia menatap Luna dengan sorot mata yang sulit dibaca. Pria ini tahu betul betapa berbahayanya ambisi perempuan di pangkuannya, tetapi ada sesuatu dari kegilaan itu yang justru membuatnya tertarik.

"Kamu sungguh begitu mencintai Kaizar?" tanya Adrian pelan, seolah sedang menguji kedalaman obsesi Luna.

Luna tertawa sinis, sebuah tawa kering yang menggema di ruangan sunyi itu. "Cinta? Ini lebih dari sekadar perasaan picisan, Adrian. Kaizar adalah milikku. Dia adalah orang yang selalu ada di sampingku saat kamu memutuskan untuk pergi tanpa kabar waktu itu. Apa salah jika aku menuntut hakku kembali?"

Ia mencengkeram bahu Adrian, matanya berkilat penuh dendam. "Dulu, setiap saat dia hanya melihat ke arahku. Sekarang, karena kehadiran Zivara, Kaizar menjauh. Dia berubah menjadi orang asing yang bahkan berani membentakku demi membela gadis lugu itu. Aku hanya ingin menempatkan Kaizar kembali pada posisi semula. Dan untuk itu, Zivara harus disingkirkan dari jalanku."

Adrian hanya tersenyum tipis, sebuah senyum misterius yang menyimpan rencananya sendiri. Ia tahu bahwa Zivara bukanlah lawan yang mudah, terutama setelah melihat ketenangan gadis itu akhir-akhir ini. Akan tetapi, bagi Adrian, menghancurkan martabat seorang anak diplomat seperti Zivara adalah tantangan yang terlalu manis untuk dilewatkan.

"Kalau itu maumu, maka akan kita buat permainan ini menjadi lebih menarik," ujar Adrian sambil menarik Luna lebih dekat. "Tapi ingat, Luna... begitu Zivara hancur, jangan pernah berharap Kaizar akan kembali padamu dengan mudah. Pria yang sudah mencicipi penyesalan biasanya akan menjadi monster yang lebih menakutkan."

Luna tidak peduli. Baginya, kehancuran Zivara adalah satu-satunya tujuan hidupnya saat ini.

**

Langkah kaki Zivara dan Kaizar menggema di sepanjang lorong kampus yang masih tergolong sepi pagi itu. Zivara berjalan dengan ketenangan yang baru ia temukan, sementara di sampingnya, Kaizar melangkah dengan sedikit kaku karena beban di bahu kanannya.

Jarak di antara mereka tidak lebar, tetapi ada sebuah ketegangan yang elegan—sebuah kesepakatan tak tertulis untuk saling menjaga ruang. Saat mereka hampir mencapai persimpangan menuju fakultas masing-masing, sebuah suara melengking yang sangat dikenal memecah keheningan.

"Kai! Ya ampun, apa yang terjadi dengan bahumu?"

Luna muncul dari balik pilar, berlari kecil mendekati mereka dengan raut wajah yang dibuat sekhawatir mungkin. Matanya tertuju pada perban yang sedikit menyembul dari balik kemeja Kaizar. Tanpa ragu, Luna mengulurkan tangan hendak menyentuh lengan Kaizar.

"Kenapa bisa cedera seperti ini? Siapa yang melakukannya padamu, Kai?" tanya Luna dengan nada manja yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati Kaizar di kehidupan sebelumnya.

Kaizar secara refleks menarik diri, menghindari sentuhan Luna. Sorot matanya yang biasanya hangat saat menatap cinta pertamanya itu, kini berubah menjadi dingin dan penuh selidik. Di benak Kaizar, setiap kata perhatian yang keluar dari mulut Luna terasa seperti nada yang sumbang. Ia mulai meragukan ketulusan wanita yang selama ini ia puja, terutama setelah mengingat semua kejadian ganjil belakangan ini.

"Bukan urusanmu, Luna," jawab Kaizar singkat, suaranya sedingin es yang membeku di puncak gunung.

Zivara yang berdiri di samping mereka hanya bisa menarik napas dalam. Ia tidak ingin terjebak dalam drama melelahkan ini lagi. Baginya, melihat Luna dan Kaizar berdebat hanya akan membuka luka lama yang sedang coba ia sembuhkan.

"Aku pergi duluan, Kak," pamit Zivara pelan. Ia mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan area tersebut.

Akan tetapi, sebelum Zivara sempat menjauh, sebuah tangan besar yang hangat melingkar di pergelangan tangannya. Kaizar menahan Zivara dengan genggaman yang lembut namun tidak bisa dibantah. Zivara tersentak, menoleh menatap Kaizar yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara penyesalan dan keinginan kuat untuk tidak melepaskan.

"Tunggu, Vara. Aku akan mengantarmu sampai depan kelas," ucap Kaizar dengan suara yang cukup keras agar bisa didengar oleh Luna.

Luna mematung di tempatnya. Wajahnya yang tadi penuh kepura-puraan kini memucat, berganti menjadi ekspresi tidak percaya sekaligus amarah yang tertahan. Melihat Kaizar lebih memilih menahan Zivara daripada menanggapi perhatiannya adalah tamparan keras bagi harga diri Luna.

"Tapi Kai, bahumu sedang sakit! Biarkan dia pergi sendiri, dia kan punya kaki!" seru Luna, suaranya mulai bergetar karena emosi.

Kaizar tidak menoleh sedikit pun pada Luna. Ia justru memperbaiki posisi berdiri Zivara agar lebih dekat dengannya, menunjukkan secara terang-terangan bahwa prioritasnya telah bergeser.

"Bahuku memang sakit, Luna. Tapi membiarkan Zivara berjalan sendirian sementara banyak orang berniat buruk di sekitarnya... itu jauh lebih menyakitkan bagiku."

Pernyataan itu membuat suasana di lorong kampus mendadak menjadi sangat menyesakkan. Zivara bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan, sementara Luna berdiri dengan kepalan tangan yang bergetar hebat.

***

1
falea sezi
lanjut entah masih g rela aja balik ke kaisar karena dia di masa lalu jahat oon 😒
Crazy_Girls: setuju 😭
total 1 replies
falea sezi
🤣 orang kaya woy kasih lah anak gadis muda bodyguard bayangan😒 miskin kali. ya kau bapak nyewa orang buat jaga anak gadis kau tak bisa😕
falea sezi
pantes di benci laki. laknat semoga g balik ya thor😒
Sri Murtini
bermainlah yang sportif
Sri Murtini
bersiaplah luna ini pertunjukan blm dimulai baru pemanasan
🤣🤣🤣
Soraya
alurnya bikin bingung🤔
Soraya
mampir thor
Sri Murtini
takdir mempertemukan zivara dg kaisar
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!