Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *26
Namun pada akhirnya, Sinta membatalkan niatnya untuk mematikan lampu kamar tersebut. "Hm ... gak usah lagi deh kayaknya. Gak papa. Terang-terang juga baik," gumam Sinta sesaat kemudian.
Ucapan itu masih bisa Wana dengan dengan jelas. Saat telinganya disentuh oleh kata-kata barusan, perasaan lega langsung menyusup ke dalam hati.
"Gak usah? Kenapa?"
"Gak papa. Mungkin terang cukup baik," ucap Sinta pelan.
Entah koneksi batin antara keduanya atau karena apa. Yang jelas, tiba-tiba saja Sinta merasa tidak ingin mematikan lampu malam ini. Padahal biasanya, gadis itu selalu tidur dalam kondisi ruangan yang tidak tetang.
...
Malam berat itu akhirnya berlalu juga. Malam pertama untuk dua anak manusia yang sama sekali tidak melakukan malam pernikahan layaknya pasangan pengantin pada umumnya.
Maklum, pernikahan mereka memang bukan atas dasar saling cinta, bukan? Jadi, jika tidak ada hubungan romantis di malam pertama ini, itu juga mungkin hal yang wajar.
Walau memang, hubungan romantis di malam pertama bisa terjadi meski tanpa cinta. Tapi itu tidak akan terjadi dengan Wana. Dia yang selalu menganggap Sinta adalah dewi bulan yang sangat dia sayangi, mana mungkin akan merusak hubungan mereka dengan napsu.
Pria itu tentu akan berusaha membangun hubungan yang baik dengan si pujaan hati secara perlahan. Walau Wana yakin, itu tidak akan pernah menjadi mudah. Karena kendala pada fisik yang tidak sempurna. Membuat Sinta jatuh cinta padanya mungkin adalah sesuatu yang sangat mustahil.
Entah sejak kapan mereka terlelap tadi malam. Tau-tau saja saat mereka membuka mata, hari sudah pagi. Bahkan, sudah mau menjelang siang. Keduanya bangun terlambat gara-gara capek akibat resepsi kemarin. Di tambah pula dengan tidur telah akibat banyak hal yang harus mereka lalui.
"Jam berapa sekarang?" Reflek Sinta bertanya tanpa benar-benar sadar dengan pertanyaan yang ia lontarkan itu untuk siapa.
Namun, yang mendengar malah langsung menjawab dengan cepat. "Jam setengah sembilan."
Sontak, Sinta langsung ditarik untuk bangun dengan cepat. Saat suara jawaban itu menyentuh telinga Sinta, wanita itu baru sadar sepenuhnya, kalau saat ini, dia tidak sedang ada di kamar rumahnya. Melainkan, di kamar hotel bersama pria yang sudah bergelar suami yang sah di mata agama, juga mata negara.
"Kak ... kak Wana. Pagi .... " Sinta menyapa dengan canggung.
Wana yang sudah duduk tegak di sofa langsung mengangguk. "Hm. Pagi. Tapi sepertinya, sudah hampir menjelang siang, Sinta."
"Ha .... " Sinta nyengir tak enak dengan penuh paksaan. "Iya ... seperti aku terlambat bangun."
"Yah ... bukan cuma kamu. Tapi aku juga. Aku juga terlambat bangunnya."
"Kamu ... juga telat bangun?"
Rahwana mengangguk singkat. Namun, sepertinya, perhatian Wana tidak sepenuhnya terfokus pada Sinta. Karena saat ini, di depan matanya Wana, pria itu sedang sibuk dengan gawai yang ada di tangannya. Gawai itu sedang menyala. Yang artinya, Wana sedang menggunakan benda tersebut sekarang.
"Mm .... " Saat Sinta ingin bicara, tiba-tiba saja, perutnya yang duluan menyampaikan apa yang ingin bibir sampaikan. Perut Sinta berbunyi keroncongan. Yang mengatakan dengan sangat jelas, kalau saat ini, dia sedang kelaparan.
Anehnya, Wana yang sibuk dengan gawai langsung memalingkan pandangan ke arah Sinta. Wanita itu langsung mengukir senyum tak enak karena malu.
"Kamu lapar?" Tanya Wana dengan tatapan serius.
Sinta mengangguk pelan. Sejujurnya, dia sedikit tidak percaya akan apa yang sedang ia alami. Rahwana yang sedang sibuk dengan ponsel, ternyata masih bisa mendengarkan bunyi perut keroncongan yang terdengar sangat pelan.
"Tunggu sebentar. Danu sedang dalam perjalanan untuk mengantar makanan. Mm ... karena makanan hotel, sudah habis aku makan tadi. Jadi, untukmu, aku pesan makana restoran."
"Masih kuat 'kan?" Wana bertanya lagi.
Sinta mengangguk pelan. "Iya ... cukup kuat. Tidak akan tumbang hanya karena kelaparan."
"Jangan sampai tumbang. Karena aku akan merasa sangat bersalah jika hal itu sampai terjadi."
"Kenapa?" Sinta bertanya sambil menatap lekat wajah Wana yang ada jauh dari dirinya.
Namun, pertanyaan itu belum sempat Wana jawab, bunyi ketukan di pintu langsung mengalihkan perhatian mereka berdua. Terdengar pula suara Danu menyusul setelah ketukan itu terdengar.
"Tuan muda. Ini saya. Makanannya sudah tiba."
Wana langsung bangun dari duduknya. Lalu, beranjak menuju pintu. Tidak ada banyak kata yang terucap, hanya menerima makanan, lalu kembali dengan makanan di tangan.
"Sinta. Nih," ucap Wana sambil meletakkan makanan di atas meja kecil yang ada di kamar tersebut.
"Ah, iy-- iya. Makasih, kak Wana. Aku mau ke kamar mandu dulu."
"Hm."
Di sisi lain, setelah mematikan ponsel selama lebih dari dua puluh empat jam, Rama baru berniat untuk menghidupkan ponsel itu sekarang. Pria itu beranjak keluar kamar hanya untuk menghidupkan ponselnya agar tidak menganggu Risa.
"Kak Rama mau ke mana?" Risa bertanya dengan wajah penasaran.
"Ke kamar mandi. Kamu istirahat di sini ya. Besok, kita sudah bisa pulang. Jadi, dengarkan apa yang dokter katakan dengan baik."
"Hm. Jangan lama," ucap gadis itu dengan nada manja.
"Iya. Aku gak akan lama. Jangan cemas."
Rama pun benar-benar meninggalkan ruang rawat itu sekarang. Setelah pintu ruang rawat itu ia tutup dari luar, Rama barulah mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Ada berapa banyak panggilan yang masuk ya kira-kira," gumam Rama bertanya pada dirinya sendiri.
Namun, ketika ponsel itu sudah menyala. Tidak ada panggilan yang datang dari kedua orang tuanya. Juga dari Sinta, tidak ada satupun yang terlihat. Yang ada hanya panggilan dari Dorin. Juga chat dari Dorin.
Rama sedikit kecewa akan hal tersebut. "Tidak ada? Apakah mereka benar-benar tidak-- "
Ucapan itu tertahan saat melihat foto yang Dorin kirimkan semalam. Awalnya, wajah Rama masih santai. Namun, saat foto terbuka, matanya langsung membulat seketika.
Jantung Rama seakan berhenti berdetak saat matanya melihat foto itu. Sungguh, darahnya mengalir dengan sangat cepat. Mulut Rama terbuka sedikit lebar. Tubuhnya bergetar hebat.
"Ini .... Tidak. Dorin benar-benar nekat bercanda dengan ku seperti ini."
Rama masih tidak percaya akan apa yang matanya lihat. "Dorin bercanda keterlaluan," katanya lagi.
Dengan tangan yang gemetaran, Rama mencoba untuk menghubungi Dorin. Sayangnya, belum sempat panggilan itu dijawab, obrolan dekan dari rumah sakit tersebut langsung menyambar hati Rama bak petir di siang bolong saja.
"Kamu juga menghadiri pesta pernikahan keluarga Hermawan kemarin?" Dekan itu bertanya pada dokter muda yang ada di sampingnya.
"Iya, pak. Saya pergi. Keluarga Hermawan adalah rekan bisnis keluarga kami. Papa saya tidak bisa hadir, karena itu, sayalah yang harus mewakili papa saya."
"Hm ... saya juga datang. Jujur saja, saya agak terkejut dengan mempelai yang dinikahkan dengan putri keluarga Wijaya itu. Saya kira, putri keluarga Wijaya akan menikahi tuan muda kedua. Rupa-rupanya, yang menikah dengan putri keluarga Wijaya ini ternyata tuan muda pertama."