Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Topeng dan Pengkhianatan Berdarah
Keputusan Lorenzo untuk kembali ke Italia demi membersihkan sisa-sisa dewan klan yang korup bukanlah rencana yang bisa ditunda lagi. Namun, sang Capo dei Capi tidak bodoh. Ia tahu bahwa bergerak di tanah kelahirannya sendiri saat ini sama saja dengan berjalan ke dalam sarang serigala yang kelaparan. Faksi bayangan Prancis yang dipimpin oleh sosok misterius berkode Le Coq—yang beberapa waktu lalu mencoba mencuri pecahan Kristal Vatikan di Sunda Kelapa—telah melebarkan jaringannya hingga ke lingkaran terdalam sekutu De Luca di Roma.
Umpan telah dipasang. Sebuah undangan resmi berlapis emas murni tiba di ruko Palmerah melalui kurir diplomatik khusus. Undangan itu ditujukan untuk seluruh petinggi klan De Luca, menghadiri sebuah perhelatan eksklusif: Il Ballo Mascherato di San Marco—Pesta Topeng San Marco yang diadakan di sebuah kastil tua di pinggiran kota Venesia. Di sinilah, di balik topeng-topeng porselen yang megah dan gaun-gaun sutra yang menjuntai, sebuah pengkhianatan berdarah sedang dirancang untuk mengakhiri garis keturunan De Luca seumur hidup.
"Ini jebakan yang sangat klise, Lorenzo," kata Dante sambil menyesuaikan dasi kupu-kupu hitamnya di depan cermin besar di dalam kabin jet pribadi yang membawa mereka melintasi benua. "Analisis lalu lintas data dari pelayan kastil menunjukkan adanya lonjakan pesanan katering dan... pembersihan ruang bawah tanah secara tidak wajar dua hari lalu. Ada indikasi mereka menyiapkan tempat untuk eksekusi massal."
Lorenzo berdiri tegak, membiarkan Bianca membantu merapikan kerah jas tuksedo hitamnya yang dijahit khusus di Milan. Di atas jas mewah itu, Lorenzo mengenakan topeng porselen hitam berbentuk elang yang menutupi setengah wajahnya. Auranya malam ini begitu pekat dan dingin, kembali ke mode penguasa Roma yang seutuhnya.
"Aku tahu ini jebakan, Dante," jawab Lorenzo datar. "Tapi ini adalah satu-satunya cara untuk mengumpulkan seluruh tikus dewan klan di satu ruangan dan membasmi mereka sekaligus. Valerio, bagaimana dengan tim lapangan?"
Valerio masuk dari kabin belakang. Ia tampak sangat gagah mengenakan tuksedo militer dengan topeng perak berbentuk serigala. "Reno sudah menyusup ke dalam kastil sejak delapan jam lalu bersama tim logistik katering. Keahlian parkour jalanannya sangat berguna untuk memasang kamera mikro di jalur ventilasi udara. Kopral Gatito sengaja ditinggal di ruko Palmerah di bawah penjagaan Ibu Sukeni, demi memastikan tidak ada gangguan domestik."
Bianca sendiri tampil luar biasa malam itu. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang elegan, dipadukan dengan topeng porselen putih berhiaskan ukiran daun emas khas Venesia. Meskipun penampilannya tampak seperti seorang putri bangsawan Eropa, di balik lipatan kain sutra gaunnya, Valerio telah memasang sabuk taktis tersembunyi yang menampung tiga buah pisau lempar keramik dan sebuah Beretta Nano kaliber 9mm.
"Mas Lorenzo," bisik Bianca, tangannya yang mungil sedikit gemetar saat merapikan jas Lorenzo. "Ini beneran bakal ada pertumpahan darah ya? Saya agak mules nih, rasanya pengen balik ke Palmerah terus beli seblak ceker aja daripada ikut pesta elit tapi isinya penjahat semua."
Lorenzo menangkap tangan Bianca, meremas jemari gadis itu dengan kelembutan yang sangat kontras dengan situasi taktis mereka. "Tetaplah di dekatku atau Dante, Bianca. Malam ini, kau bukan lagi sekadar manajer lokal dari Jakarta. Kau adalah bagian dari jantung klan De Luca. Dan aku bersumpah, tidak akan ada satu peluru pun yang bisa menyentuhmu selama aku masih bernapas."
Kastil di Venesia itu tampak begitu megah di bawah siraman lampu hias kristal raksasa yang menggantung di langit-langit aula utama. Ratusan tamu undangan, semuanya mengenakan gaun mewah, jas tuksedo, dan berbagai bentuk topeng porselen yang misterius, bergerak perlahan mengikuti irama musik simfoni klasik yang dibawakan oleh orkestra langsung.
Namun, di balik keindahan visual tersebut, ketegangan taktis terasa begitu pekat bagi mereka yang terlatih. Melalui mikrofon nirkabel yang tersembunyi di balik topeng mereka, Dante terus memberikan laporan berkala.
"Lorenzo, perhatikan pria dengan topeng singa emas di sudut kanan dekat pilar ketiga. Itu adalah Kardinal Pierre, perwakilan dari faksi bayangan Prancis. Dan di lantai atas balkon, ada empat tanda termal penembak runduk yang menyamar sebagai kru lampu hias."
"Valerio, ambil posisi di bawah balkon timur. Bersiaplah untuk memutus aliran listrik utama saat aku memberikan tanda," perintah Lorenzo dalam hati melalui koneksi nirkabel.
Lorenzo kemudian berbalik menghadapi Bianca. Ia mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan membungkuk yang sangat hormat khas bangsawan Italia lama. "Bolehkah aku mendapatkan dansa ini, Signorina?"
Bianca menelan ludah, menatap takjub ke arah Lorenzo di balik topeng elang hitamnya. "A-anu, Mas... saya cuma bisa goyang poco-poco sama senam jumat pagi di komplek, nggak bisa dansa begini."
"Ikuti saja langkah kakiku, Bianca. Percayalah padaku," ucap Lorenzo lembut.
Lorenzo menarik pinggang Bianca mendekat, menempelkan dada mereka hingga Bianca bisa merasakan detak jantung Lorenzo yang begitu tenang dan stabil di tengah kepungan musuh. Mereka mulai bergerak berputar di tengah aula, membelah kerumunan tamu. Gerakan Lorenzo begitu presisi dan elegan, membimbing langkah kaki Bianca dengan sangat sempurna hingga gadis itu merasa seolah-olah dirinya sedang melayang di atas lantai marmer.
Saat mereka berputar mendekati bagian tengah aula, musik simfoni mendadak berhenti dengan nada minor yang menghentak sumbang.
Para tamu undangan mendadak mundur ke tepi ruangan, menyisakan Lorenzo dan Bianca berdiri berdua di tengah altar lingkaran marmer. Dari arah tangga besar, seorang pria dengan topeng burung merak berlapis perak melangkah turun, dikelilingi oleh belasan pria berjas hitam yang memegang senjata laras pendek berperedam suara.
"Selamat datang kembali di Italia, Lorenzo De Luca," ucap pria bertopeng merak itu dengan suara parau yang sangat familiar di telinga Lorenzo. Itu adalah Don Fabrizio, anggota dewan klan paling senior yang selama ini dianggap Lorenzo sebagai sekutu paling setianya di Roma.
Lorenzo tidak melepaskan dekapannya dari pinggang Bianca. Tatapan matanya di balik topeng elang tetap sedingin es. "Fabrizio. Aku tidak menyangka kau akan menurunkan martabatmu untuk menjadi anjing peliharaan faksi Prancis."
Don Fabrizio tertawa sinis, suaranya menggema di aula yang kini sepi mencekam. "Dunia sudah berubah, Lorenzo! Kau melarikan diri ke Asia, bersembunyi di sebuah gang sempit di Jakarta, dan mengelola sebuah tim permainan anak-anak yang konyol! Kau telah membuang kehormatan klan De Luca demi seorang gadis asing! Dewan klan telah memutuskan bahwa kau tidak lagi layak memimpin kami. Malam ini, kepemimpinanmu berakhir di Venesia."
Kardinal Pierre yang mengenakan topeng singa emas melangkah maju dari kerumunan. "Serahkan sisa pecahan Kristal Vatikan yang kau bawa dari Jakarta, Lorenzo. Jika kau menyerahkannya sekarang, kami akan membiarkan gadis kecilmu ini mati dengan cara yang tidak menyakitkan."
Bianca yang mendengar hal itu mendadak merasa rasa takutnya menguap, digantikan oleh kekesalan yang luar biasa. Sifat keras kepala khas Palmerah-nya bangkit. "Heh, Bule Singa Ompong! Enak aja lu ngomong ya! Kita jauh-jauh dari Jakarta ke sini naik pesawat jet pantatnya sampai pegel, bukan buat dengerin lu ngancem bunuh-bunuhan! Lagian itu kristal udah kita amankan resmi, nggak bakal kita kasih ke komplotan penipu kayak kalian!"
Don Fabrizio mendengus marah. "Lancang sekali mulutmu, Gadis Sialan! Habisi mereka semua!"
"Dante, sekarang!" teriak Lorenzo.
BZZZZTTTT!
Dalam sekejap mata, Dante yang berada di ruang kontrol siber darurat kastil berhasil meledakkan trafo listrik utama melalui skrip peretasan lokal. Seluruh lampu kristal di aula utama langsung padam, melemparkan kastil megah itu ke dalam kegelapan yang pekat. Suara jeritan histeris dari para tamu undangan sipil langsung pecah memenuhi ruangan.
Di saat yang sama, Valerio beraksi. Menggunakan kacamata night-vision taktis yang tersembunyi di balik topeng serigalanya, ia melepaskan empat tembakan beruntun ke arah langit-langit balkon menggunakan senapan runduk berperedam suara.
Phut! Phut! Phut! Phut!
Empat penembak runduk musuh langsung jatuh berdebam dari atas balkon lantai dua seperti karung beras, sebelum mereka sempat melepaskan satu tembakan pun ke arah Lorenzo.
Di tengah kegelapan aula, Lorenzo bergerak dengan kecepatan dan presisi yang mengerikan. Ia menarik Bianca ke balik pilar beton pelindung, lalu mencabut Glock 19 dari balik jas tuksedonya. Tembakan kilatnya langsung merobohkan tiga pengawal Don Fabrizio yang mencoba mendekat.
Bang! Bang! Bang!
"Bianca! Gunakan pisaumu!" perintah Lorenzo saat melihat seorang penyerang mencoba menusuk mereka dari arah samping.
Memanfaatkan sisa memori taktis Lorenzo yang masih menempel tipis di sistem saraf motoriknya, Bianca menghindar ke bawah dengan gerakan merayap yang sangat gesit. Ia mencabut salah satu pisau lempar keramik dari balik paha gaunnya, lalu melemparkannya dengan akurasi yang mengejutkan tepat ke arah urat nadi lengan penyerang tersebut hingga senjatanya terjatuh ke lantai.
"Aduh, maaf ya Mas! Reflek anak Palmerah!" teriak Bianca sambil segera mengambil posisi tiarap di belakang Lorenzo.
Reno tiba-tiba muncul dari balik tirai panggung, melompat menggunakan teknik parkour ekstrem dari atas lampu dinding, lalu menghantam wajah salah satu agen Prancis dengan tendangan dua kaki yang telak hingga pria itu pingsan seketika. "Aman, Mbak Bianca! Jalur evakuasi lewat dapur sudah saya bersihkan!"
Don Fabrizio yang menyadari bahwa rencananya gagal total mencoba melarikan diri menuju pintu keluar rahasia di balik Altar. Namun, Lorenzo tidak memberikan celah sedikit pun bagi seorang pengkhianat. Dengan satu gerakan cepat, Lorenzo mengejar Fabrizio, mencengkeram jubah peraknya, lalu membanting tubuh pria tua itu ke atas lantai marmer hingga topeng merak peraknya pecah berkeping-keping.
Lorenzo menodongkan laras Glock 19 yang masih panas tepat di antara kedua mata Fabrizio yang kini dipenuhi oleh ketakutan yang mutlak.
"Kau melupakan satu hukum dasar klan De Luca, Fabrizio," bisik Lorenzo, suaranya terdengar seperti malaikat pencabut nyawa di dalam kegelapan. "Kami tidak pernah meninggalkan wilayah kami karena kami lemah. Kami hanya memperluas wilayah kekuasaan kami hingga ke tempat yang tidak bisa kau jangkau. Dan pengkhianatan... selalu dibayar dengan darah sejenis."
Bang!
Satu tembakan eksekusi yang bersih mengakhiri hidup sang pengkhianat senior dewan klan. Kardinal Pierre dan sisa-sisa agen Prancis yang ketakutan melihat pembantaian taktis tersebut segera memilih untuk menyerah, menjatuhkan senjata mereka ke atas lantai marmer yang kini mulai digenangi oleh noda darah segar.
Lampu darurat kastil perlahan menyala, memancarkan cahaya merah redup yang dramatis di atas reruntuhan pesta topeng yang kini telah berubah menjadi ladang pembantaian dewan klan yang korup.
Valerio dan Reno bergerak cepat mengamankan para tahanan faksi Prancis, sementara Dante berjalan masuk ke dalam aula sambil membawa laptopnya dengan ekspresi tenang seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas kuliah reguler.
"Seluruh rekening finansial Don Fabrizio dan dewan klan yang berkhianat telah resmi dialihkan ke dalam dana abadi tim Aegis Esports di Jakarta," lapor Dante dengan senyum puas. "Kita baru saja mendapatkan suntikan dana sebesar lima puluh juta euro untuk membangun stadion esports termewah di Asia Tenggara, Lorenzo."
Lorenzo memasukkan kembali senjatanya ke dalam sabuk jasnya, lalu melepaskan topeng elang hitamnya yang telah terciprat sedikit noda darah musuh. Ia berbalik menatap Bianca yang kini sedang duduk lemas di atas anak tangga marmer sambil memandangi gaun merah marunnya yang mulai kotor terkena debu mesiu.
Lorenzo berjalan mendekati Bianca, berlutut di depannya tanpa memedulikan statusnya sebagai seorang Capo tertinggi yang baru saja menyapu bersih musuh-musuhnya. Ia mengambil saputangan sutra dari kantong jasnya, lalu dengan sangat lembut mengusap noda jelaga hitam yang menempel di pipi mulus Bianca.
"Kau baik-baik saja, Bianca?" tanya Lorenzo, suaranya kini kembali dipenuhi oleh kehangatan yang mendalam, kehilangan seluruh kekejaman militernya yang tadi.
Bianca mendongak, menatap mata elang Lorenzo yang kini memancarkan rasa lega yang tulus. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis meskipun tubuhnya masih sedikit lemas karena sisa adrenalin pertarungan.
"Saya nggak apa-apa, Mas Lorenzo," jawab Bianca pelan. "Cuma ya itu... gaun bagus-bagus begini jadi bau minyak senapan sama bau darah. Besok-besok kalau ada pesta lagi, mending kita bikin syukuran khitanan massal aja di Palmerah, Mas. Lebih aman, kenyang, terus nggak usah pakai acara tembak-tembakan segala."
Lorenzo terkekeh pelan—sebuah tawa lepas yang sangat jarang terdengar dari mulut sang penguasa De Luca. Ia berdiri, lalu menarik Bianca ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya di hadapan sisa-sisa kehancuran masa lalu mereka di Eropa.
Pesta Topeng di Venesia malam itu berakhir dengan pengkhianatan berdarah yang berhasil ditumpas habis hingga ke akar-akarnya. Dengan hancurnya dewan klan yang korup dan diamankannya sisa-sisa jaringan Prancis, klan De Luca resmi menutup lembaran hitam masa lalu mereka di Italia. Di bawah siraman fajar pagi yang mulai menyembul di balik jendela kastil Venesia, Lorenzo tahu pasti bahwa masa depannya kini bukan lagi berada di atas tahta marmer Roma yang penuh dengan belati pengkhianatan, melainkan berada di sebuah ruko berlantai tiga di kawasan Palmerah—sebuah tempat di mana cinta yang tulus, tawa yang jujur, dan sebuah keluarga baru yang seutuhnya kini telah menanti kepulangannya dengan setia.