NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23. PERTANYAAN YANG MENGGUNCANG IMAN-2.

Alvaro menggantung kalimatnya, wajahnya merah padam sampai ke telinga.

"Belum apa, Mas? Belum usaha ya? Ya makanya Ayini nanya, Mas mau nggak? Kalau mau, ayo!" goda Ayini sambil menaik-turunkan alisnya, benar-benar nakal.

"Astagfirullah! Astagfirullah alazim!" Alvaro langsung berdiri dari kursinya, mundur beberapa langkah hingga menabrak rak buku.

Ia menutup wajahnya dengan satu tangan. "Ayini, berhenti! Jangan bilang yang bukan-bukan!"

"Lho, kan bener Gus? Masa nikah nggak mau punya anak? Mas takut ya?" Ayini mulai tertawa melihat ekspresi suaminya yang sangat panik.

"Bukan takut! Tapi... tapi tidak sekarang! Kamu harus belajar dulu, lulukan sekolahmu, perbaiki adabmu!" Alvaro bicara dengan cepat, mencoba menutupi kegugupannya yang luar biasa.

"Saya... saya mau ke masjid! Saya mau iktikaf!"

"Eh, Mas! Ini udah jam sebelas malem! Masa iktikaf lagi?" teriak Ayini.

Alvaro tidak peduli. Ia mengambil sajadah dan pecinya dengan gerakan yang sangat terburu-buru, bahkan ia hampir saja salah memakai sandal di depan pintu kamar.

Wajahnya benar-benar seperti udang rebus.

"Ayini, tidur! Jangan pikirkan yang aneh-aneh!" perintah Alvaro tegas namun suaranya masih bergetar.

Brak!

Pintu kamar tertutup dengan cepat. Alvaro melarikan diri ke masjid dengan perasaan campur aduk antara syok, malu, dan debar jantung yang tidak kunjung tenang.

Di dalam hatinya, ia terus-menerus beristighfar, mencoba menghalau bayangan yang baru saja dilemparkan oleh istrinya yang sangat ajaib itu.

Di dalam kamar, Ayini kembali berguling-guling di kasur sambil tertawa terbahak-bahak.

"Ya Allah, Gus Alvaro beneran polos banget! Cuma ditanya bayi aja langsung kabur kayak liat hantu!"

Namun, di balik tawanya, Ayini tersenyum manis. Ia tahu, meskipun suaminya kaku dan sering melarikan diri, reaksi "panik" Alvaro adalah bukti bahwa suaminya itu benar-benar menjaga kesucian dan sangat menghormatinya.

"Tunggu aja, Mas Kulkas. Suatu saat nanti, Mas nggak bakal bisa kabur lagi," bisik Ayini pelan sebelum ia terlelap dalam mimpi indah di bawah langit Barito Utara yang sunyi.

Pagi di Ndalem biasanya diawali dengan ketenangan. Aroma kopi luwak kesukaan Abi Vero dan nasi kuning khas Banjar buatan Umi Ayisah menyerbak di udara.

Gus Alvaro duduk di kursinya dengan wajah yang tampak lebih pucat dari biasanya.

Matanya sedikit berkantung, tanda bahwa iktikaf dadakannya semalam di masjid tidak benar-benar membuatnya bisa tidur tenang setelah pertanyaan "bom atom" dari Ayini.

Ayini datang dengan ceria, mengenakan gamis berwarna hijau toska yang membuatnya terlihat segar.

Ia duduk di sebelah Alvaro, menyenggol lengan suaminya dengan bahu untuk pertama kali nya.

"Pagi, Mas Bayi... eh, Mas Alvaro," bisik Ayini pelan agar tidak terdengar Abi.

Alvaro hanya berdehem pelan, tangannya sedikit bergetar saat mengambil sendok. Ia berusaha keras menjaga wibawa di depan ayahnya.

Kevin, yang juga tinggal di Ndalem selama masa bimbingan khusus, duduk di seberang mereka.

Ia memperhatikan wajah pucat kakak sepupunya. "Gus, lu kenapa? Kayak habis dikejar setan penunggu sungai Barito," celetuk Kevin sambil menyuap nasi kuningnya.

"Jangan bicara saat makan, Kevin. Tidak sopan," sahut Alvaro datar, mencoba kembali ke mode "jalan tol"-nya.

Suasana kembali tenang selama beberapa menit. Abi Vero sedang menyesap kopinya sambil membaca jadwal kegiatan pondok, sementara Umi Ayisah sibuk menambahkan lauk ke piring semua orang.

Namun, ketenangan itu hanyalah badai yang sedang bersiap. Ayini, dengan sifat nakal dan rasa ingin tahunya yang tak terbendung, menatap Umi Ayisah dengan mata berbinar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!