Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Akses Eksklusif
Steven mengirim email pukul enam pagi. Tiga kata: "Jam sembilan, Aditya Tower, jangan terlambat."
Shanaya menatap layar ponselnya. Tidak ada salam pembuka. Tidak ada basa-basi profesional. Hanya sebuah perintah mutlak dari penguasa meja redaksi terbesar di negara ini.
Pukul sembilan tepat, sepatu hak tinggi Shanaya mengetuk lantai marmer lobi Aditya Tower. Gedung pencakar langit ini dingin, presisi, dan berlapis baja. Persis seperti pemiliknya. Resepsionis di meja depan bahkan tidak repot-repot menanyakan identitasnya. Mereka langsung membukakan akses lift VIP khusus petinggi. Steven sudah memuluskan jalannya.
Pintu lift terbuka di lantai lima puluh. Ruangan eksekutif itu berdinding kaca penuh, menampilkan lanskap sibuk Jakarta di bawah sana.
Steven duduk di balik meja kerja kayu hitam pekat. Kemejanya putih bersih, lengannya digulung rapi hingga siku. Pria itu sibuk membaca dokumen tanpa mengangkat wajah saat Shanaya melangkah masuk.
"Tepat waktu." Suara bariton Steven memecah keheningan ruangan. Pria itu menutup map di depannya. "Duduk."
Shanaya menarik kursi berlapis kulit di seberang meja. Ia menyilangkan kaki, meletakkan tasnya di pangkuan. "Aku nggak punya banyak waktu hari ini, Steven. Ada rapat direksi jam sebelas."
Steven menatapnya lurus. Mata kelam itu memindai wajah Shanaya, mencari celah, mengukur tingkat keputusasaannya. Tapi Shanaya membalas tatapan itu dengan ketenangan absolut.
Pria itu mendorong sebuah map abu-abu melintasi meja.
"Kesuma Fashion Week." Steven menyandarkan punggungnya ke kursi. "Acara tahunan keluargamu bulan depan. Kanal Satu menawarkan hak siar eksklusif. Kami akan liput dari persiapan, belakang panggung, sampai malam puncak."
Shanaya tidak langsung menyentuh map itu. Otaknya bekerja cepat. Kesuma Fashion Week selalu diliput media, tapi Kanal Satu tidak pernah mau turun tangan langsung untuk acara gaya hidup. Stasiun televisi ini hanya menyiarkan berita politik dan ekonomi keras.
Tawaran ini bukan bisnis biasa. Ini adalah jebakan.
"Kenapa Kanal Satu mendadak tertarik sama kain dan gaun?" Shanaya memiringkan kepalanya sedikit. "Kamu biasanya cuma peduli sama berita korupsi dan skandal pejabat."
"Karena keluargamu sedang jadi sirkus paling menarik di negara ini." Nada bicara Steven sedingin es. "Skandal plagiat adik sepupumu. Saham yang anjlok. Pertunanganmu yang buru-buru diumumkan di koran pagi ini untuk menutupi keretakan internal. Publik suka melihat orang kaya menderita. Dan saya menjual apa yang publik suka."
Satu pukulan telak. Pria ini tidak punya belas kasihan.
Di kehidupan lalu, kata-kata tajam Steven selalu berhasil membuat Shanaya menunduk malu dan menangis dalam diam. Tapi Shanaya yang duduk di kursi ini sekarang adalah produk dari rasa sakit yang jauh melampaui rasa malu.
Shanaya tertawa pelan. Tawa yang mengalun mematikan di ruangan kedap suara itu.
Ia mengulurkan tangan, membuka map abu-abu tersebut. Matanya menyapu cepat angka-angka pembagian keuntungan iklan dan hak kontrol editorial.
"Tujuh puluh persen kendali narasi di pihakmu?" Shanaya melempar map itu kembali ke arah Steven. Kertas-kertas di dalamnya sedikit berantakan. "Kamu mau pakai acaraku buat bikin acara realitas murahan tentang kejatuhan Kesuma Group?"
"Saya mau jaminan rating." Steven tidak berkedip. "Kalau kamu gagal menyelamatkan koleksi musim gugur ini, mediamu akan hancur. Tapi saya tetap dapat untung dari liputan kehancuranmu. Bisnis yang logis."
"Logika yang cacat." Shanaya mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua sikunya bertumpu di atas meja. Aroma maskulin dari parfum Steven tercium tajam, tapi Shanaya menolak terintimidasi.
"Aku nggak butuh belas kasihanmu, Steven. Aku mau lima puluh persen kendali narasi. Semua hasil liputan belakang panggung harus lewat persetujuanku sebelum tayang. Dan kamu bakal kasih aku jam tayang utama selama empat minggu berturut-turut untuk bangun profil baru Kesuma Mode."
Alis Steven menukik tajam. "Kamu menuntut hak veto editorial di stasiun televisi saya?"
"Aku menawarkan akses eksklusif yang nggak bisa dibeli pakai uang." Shanaya menatap mata pria itu tanpa ragu sedikit pun. "Kamu mau drama? Aku kasih drama. Aku bakal biarkan kameramu merekam konflik internal direksi. Aku bakal biarkan jurnalis investigasimu mengorek borok vendor-vendor kotor yang coba menyusup ke produksiku."
Tangan Steven berhenti mengetuk lengan kursi. Ruangan itu mendadak hening. Udara di antara mereka menegang, dipenuhi listrik yang kasat mata.
Steven sedang mengamatinya. Menguliti setiap lapis pertahanan Shanaya. Pria itu mencari tanda-tanda kebohongan, gertakan kosong, atau sisa-sisa keputusasaan seorang gadis delapan belas tahun. Tapi yang ia temukan hanyalah dinding beton yang dingin dan kalkulasi brutal.
"Kamu mau memakan keluargamu sendiri hidup-hidup di depan kamera?" Suara Steven turun satu oktaf. Ada nada bahaya di sana, tapi juga ketertarikan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Tergantung siapa yang mulai menggigit duluan." Shanaya menjawab santai. "Media kamu jadi senjatanya. Pisau lipat yang bakal memotong daging busuk di perusahaanku. Kamu dapat rating tertinggi sepanjang sejarah Kanal Satu. Aku dapat panggung untuk bersih-bersih."
Steven diam cukup lama. Pria itu bangkit dari kursinya. Ia berjalan memutari meja kerja, lalu berhenti tepat di samping kursi Shanaya. Ia bersandar di ujung meja, menatap Shanaya dari atas. Posisi dominan yang sengaja ia ambil untuk menekan mental lawan bicaranya.
"Alvian Restu." Steven menyebut nama itu lambat-lambat. "Calon suamimu itu sangat ambisius. Dia mendatangi saya kemarin siang, menawarkan proposal peliputan yang sama persis, tapi dengan syarat wajahnya dijadikan pahlawan yang menyelamatkan acara. Dia berani bayar mahal buat slot tayangnya."
Rahang Shanaya mengeras otomatis. Alvian benar-benar bergerak cepat. Pria itu mencoba menutup semua pintu sebelum Shanaya bisa membukanya.
"Terus kenapa kamu malah panggil aku ke sini?" Shanaya mendongak menantang tatapan Steven.
"Karena wajah calon suamimu menjemukan." Steven menjawab datar. "Dia predator rendahan yang merasa dirinya raja. Saya tidak suka berbisnis dengan orang bodoh."
Shanaya tersenyum miring. "Berarti kamu sadar berbisnis denganku jauh lebih menguntungkan."
"Saya sadar kamu jauh lebih berbahaya dari dia." Steven menunduk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka. "Kamu menyerahkan aib keluargamu ke tangan saya secara sukarela. Orang waras tidak melakukan itu."
"Orang waras mati duluan di dunia ini, Steven."
Tatapan mereka terkunci. Tidak ada yang mau mundur. Keduanya adalah predator yang sedang mengukur taring masing-masing. Ada ketegangan profesional yang sangat kental, tapi di balik itu, mengalir arus listrik yang membuat napas Shanaya terasa sedikit berat. Pria ini terlalu tajam, terlalu peka.
"Kesepakatan soal investasi platform digital tahun depan masih berlaku?" tanya Steven tiba-tiba, memecah keheningan.
"Kesuma Group siap kucurkan dana asalkan koleksi musim gugur ini sukses." Shanaya kembali menyandarkan punggungnya, membebaskan diri dari gravitasi mematikan pria itu. "Kontrak media hari ini cuma pemanasan buat kerja sama raksasa kita tahun depan."
Steven menatapnya beberapa detik lagi. Ia memutar tubuhnya, kembali ke balik meja. Pria itu menekan tombol interkom.
"Rina, cetak ulang kontrak Kesuma Fashion Week. Ubah klausul kontrol editorial menjadi lima puluh-lima puluh. Bawa ke ruangan saya sekarang."
Dada Shanaya melepaskan beban berat yang sedari tadi menekan paru-parunya. Kemenangan pertama melawan Alvian di arena bisnis.
Tidak sampai lima menit, seorang asisten masuk membawa map baru. Seorang fotografer internal perusahaan ikut masuk di belakangnya.
"Prosedur standar." Steven menunjuk fotografer itu dengan dagunya. "Kami butuh dokumentasi untuk rilis pers bisnis siang ini."
Shanaya tidak protes. Ia mengeluarkan pena dari tasnya.
Keduanya menandatangani berkas tersebut. Steven lalu berdiri, mengulurkan tangan kanannya. Shanaya menyambut uluran tangan itu. Jari-jari Steven besar, hangat, dan kasar. Berbeda dengan kulit pria sosialita yang biasanya terlalu dirawat.
Kamera berkedip merekam jabat tangan mereka. Dua wajah dingin tanpa ekspresi berlebihan. Dua kekuatan besar yang sepakat untuk saling memanfaatkan.