Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Pagi itu suasana kantor berjalan seperti biasanya.
Para direktur divisi telah berkumpul di ruang rapat utama.
Berbagai laporan keuangan, perkembangan proyek, hingga rencana kerja sama baru sedang dibahas.
Di ujung meja.
Dave duduk dengan posisi yang biasa.
Tegak.
Tenang.
Dingin.
Setidaknya itulah yang terlihat dari luar.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Seorang manajer sedang menjelaskan grafik perkembangan proyek.
"Tingkat penyelesaian konstruksi saat ini telah mencapai tujuh puluh dua persen, Tuan..."
Dave menatap layar presentasi.
Tetapi tidak benar-benar melihatnya.
Pikirannya justru kembali pada percakapan pagi tadi.
"Lusa saya ingin pulang sebentar."
"Kemudian untuk tahap kedua..."
Suara manajer itu kembali terdengar.
Namun di telinga Dave terdengar samar.
"Saya rindu anak saya, Tuan."
Dave mengembuskan napas pelan.
Jarinya mengetuk meja tanpa sadar.
"Dan ada sedikit kepentingan lain."
Kepentingan lain.
Kalimat itu terus terngiang.
Entah kenapa.
Ia merasa tidak nyaman.
Sangat tidak nyaman.
Di sisi lain meja.
Marcel yang sedang mencatat jalannya rapat mulai menyadari sesuatu.
Dari tadi.
Dave hampir tidak memberikan komentar.
Tidak mengajukan pertanyaan.
Tidak menyela laporan.
Padahal biasanya...
Sekecil apa pun kesalahan angka.
Pasti langsung ditangkap oleh pria itu.
Marcel melirik Dave sekilas.
"Kenapa dengan Tuan..?" Batin Marcel.
Sementara itu.
Salah satu direktur selesai menjelaskan laporannya.
"Demikian laporan dari saya, Tuan."
Ruangan mendadak hening.
Semua menunggu tanggapan Dave.
Namun beberapa detik berlalu.
Dave tidak menjawab.
"Tuan Dave..?"
Panggilan itu membuat Dave tersadar.
"Hm..?" Jawab Dave.
Direktur tersebut terlihat bingung.
"Laporan saya bagaimana, Tuan?"
Dave terdiam sesaat.
Karena jujur saja.
Ia bahkan tidak mendengar setengah dari laporan tadi.
Beberapa orang mulai saling berpandangan.
Ini pertama kalinya mereka melihat Dave kehilangan fokus dalam rapat.
Dave menatap berkas di depannya.
Lalu menghela napas pendek.
"Marcel."
Marcel langsung mengangkat kepala.
"Ya, Tuan."
"Kamu lanjutkan rapat ini."
Seisi ruangan langsung terdiam.
Marcel bahkan sempat mengira dirinya salah dengar.
"Maaf, Tuan..?" Marcel mengharap pengulangan kata kepada Dave.
"Kamu yang pimpin."
Kini bukan hanya Marcel.
Para direktur lain juga saling bertukar pandang.
Karena selama bertahun-tahun.
Dave hampir tidak pernah meninggalkan rapat penting di tengah jalan.
Bahkan saat sedang demam pun.
Ia tetap menyelesaikan pekerjaannya.
"Tuan..."
Marcel tampak ragu.
Namun Dave sudah berdiri.
"Kamu bisa menangani ini."
"Tapi..."
"Lanjutkan..!" Perintah Dave
Nada suaranya tegas.
Tidak memberi ruang untuk dibantah.
Akhirnya Marcel mengangguk.
"Baik, Tuan."
Dave mengambil map miliknya.
Lalu berjalan keluar meninggalkan ruang rapat.
Pintu tertutup perlahan.
Menyisakan keheningan beberapa detik.
Semua orang saling berpandangan.
Sampai akhirnya Marcel berdehem.
"Baik."
Ia membuka dokumen di depannya.
"Kita lanjutkan..!"
Suara Marcel yang tenang perlahan mengembalikan fokus seluruh peserta rapat.
Dan seperti biasa.
Ia mampu mengambil alih keadaan dengan baik.
Meski demikian.
Dalam hati Marcel.
Ada pertanyaan yang terus mengganggu.
"Ada apa dengan Tuan..?"
Marcel mengenal Dave hampir tujuh tahun.
Dan selama itu.
Ia belum pernah melihat pria tersebut seperti hari ini.
Tidak fokus.
Melamun.
Bahkan meninggalkan rapat.
"Apa Tuan sedang sakit..?"
Marcel sempat berpikir demikian.
Namun pagi tadi kondisi Dave terlihat baik-baik "saja.
Tidak pucat.
Tidak demam.
Tidak ada tanda-tanda kelelahan berlebihan."
"Lalu apa..?
Masalah bisnis..?"
Marcel kembali memimpin rapat.
Tetapi sebagian pikirannya tetap memikirkan sang atasan.
Sementara itu.
Di lantai paling atas.
Dave telah kembali ke ruang kerjanya.
Pintu ruangan tertutup rapat.
Pria itu berdiri di depan jendela besar yang menghadap kota.
Tangannya berada di saku celana.
Tatapannya jauh ke luar.
Namun lagi-lagi.
Pikirannya bukan pada gedung-gedung tinggi yang ada di hadapannya.
"Lusa saya ingin pulang sebentar."
Dave mengusap wajahnya pelan.
Merasa kesal pada dirinya sendiri.
Kenapa ia terus memikirkan hal itu?
Hella hanya meminta izin pulang.
Hal yang sangat wajar.
Ia punya anak.
Punya kehidupan sendiri.
Punya keluarga sendiri.
Tetapi entah kenapa.
Untuk pertama kalinya sejak Hella datang ke rumahnya.
Dave membayangkan rumah itu tanpa kehadiran wanita tersebut.
Tidak ada suara langkah kecil di pagi hari.
Tidak ada susu hangat di meja makan.
Tidak ada seseorang yang mondar-mandir membersihkan rumah.
Dan bayangan itu...
Ternyata jauh lebih mengganggunya daripada yang ingin ia akui.
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁