"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut Sempit Tangga Darurat
Deru napas kami memburu, bersahutan dengan gema langkah kaki yang berdentum keras di dinding beton tangga darurat. Hawa dingin dari luar gedung menyusup melalui celah ventilasi, namun punggungku sudah basah oleh keringat dingin. Di atasku, suara teriakan dua pengawal Adrian Mahendra terdengar semakin dekat. Mereka bergerak cepat, memanfaatkan postur tubuh mereka yang besar untuk melompati anak tangga dua sekaligus.
"Cepat, Kirana! Sedikit lagi!" bisik Zaidan setengah tertahan. Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat, menarikku menuruni undakan tangga yang melingkar curam.
Hijab instanku sempat tersangkut di railing besi, membuat langkahku oleng. Aku hampir saja terjatuh jika Zaidan tidak sigap menahan pinggangku. "Zai, mereka terlalu cepat!" seruku panik, melirik ke atas celah tangga di mana bayangan hitam dua pria itu sudah melongok ke bawah.
"Hoi! Berhenti kalian!" teriak salah satu pengawal dari lantai atas. Suara langkah mereka terdengar seperti monster yang siap menerkam mangsanya dalam kegelapan.
Kami tiba di bordes lantai satu. Zaidan mencoba mendorong pintu darurat yang menuju ke arah koridor luar, namun pintu besi tebal itu ternyata terkunci dari luar dengan rantai pengaman karena renovasi fasilitas rumah sakit.
"Sial, dikunci!" desis Zaidan. Ia menghantam pintu itu dengan pundaknya, namun benda padat itu sama sekali tidak bergeming.
Langkah kaki di atas kami berhenti. Dua pria berjaket kulit itu kini sudah berdiri di bordes tepat di atas kami, menatap kami dengan senyuman miring yang penuh kemenangan. Lorong tangga darurat ini buntu. Kami terjebak di sudut sempit tanpa ada jalan keluar.
"Mau lari ke mana lagi, Nona Larasati? Atau... Kirana?" pria yang berbadan lebih besar melangkah turun perlahan, mengeluarkan sebuah pisau lipat taktis dari saku jaketnya. Bilah besi itu berdenting pelan saat terbuka, memantulkan cahaya lampu darurat yang remang-remang. "Tuan Besar Adrian hanya ingin memastikan Anda tidak menulis cerita yang aneh-aneh lagi di internet. Ikut kami baik-baik, atau kami harus membawa Anda dalam kondisi tidak bernyawa?"
Aku mundur selangkah hingga punggungku membentur pintu besi yang terkunci. Jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari dada. Namun, di tengah kepanikan itu, aku melihat jemari Zaidan bergerak perlahan ke belakang pinggangnya, menyentuh sesuatu yang disembunyikan di balik jaketnya.
"Kirana, tutup matamu," bisik Zaidan dengan nada suara yang mendadak sangat tenang. Terlalu tenang untuk situasi hidup dan mati seperti ini.
"Tapi, Zai—"
"Tutup matamu sekarang!" perintahnya lebih tegas.
Aku segera memejamkan mataku rapat-rapat dan menundukkan kepala. Detik berikutnya, suara letupan kecil yang aneh terdengar, diikuti oleh kilatan cahaya yang sangat terang bahkan menembus kelopak mataku yang tertutup.
BLAAAM!
Itu bukan suara tembakan senjata api, melainkan bom kejut (flashbang) mini rakitan yang sengaja disiapkan Zaidan untuk situasi darurat. Suara pekikan kesakitan langsung memenuhi lorong tangga. Two pengawal itu mengerang histeris sambil memegangi mata mereka yang mendadak buta sementara akibat intensitas cahaya yang luar biasa tinggi dalam ruangan sempit.
"Argh! Mataku! Sialan, apa ini?!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Zaidan melesat maju. Dalam kegelapan dan kekacauan itu, aku hanya bisa mendengar suara hantaman fisik yang tumpul—pukulan, tendangan, dan bunyi tubuh besar yang terhempas keras ke dinding beton. Zaidan bergerak seperti bayangan yang efisien. Ia tidak berniat membunuh, hanya melumpuhkan dengan target titik-titik vital.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, suasana kembali hening. Dua pengawal itu sudah terkapar di lantai tangga, mengerang kesakitan dengan tubuh yang lemas.
Zaidan kembali ke sampingku, napasnya sedikit memburu namun penampilannya tetap rapi. Ia mengambil sebuah kunci akses universal dari saku salah satu pengawal yang pingsan, lalu menempelkannya ke panel pintu besi di belakangku.
Klik. Pintu darurat terbuka.
"Ayo," ajak Zaidan, kembali menggandeng tanganku keluar menuju udara malam yang basah oleh sisa hujan.
Kami berhasil kembali ke dalam mobil sedan hitam tanpa memicu kecurigaan pengunjung rumah sakit lainnya yang masih bingung karena alarm kebakaran baru saja dimatikan. Zaidan segera menghidupkan mesin mobil dan mengemudikannya keluar dari area rumah sakit dengan kecepatan normal agar tidak menarik perhatian polisi yang mulai berdatangan.
Suasana di dalam mobil hening untuk beberapa saat. Aku menyandarkan kepalaku ke kaca jendela yang dingin, menatap rintik air yang mengalir. Rasa takut yang sempat memuncak tadi perlahan surut, menyisakan ruang hampa yang dipenuhi oleh kelelahan mental yang luar biasa.
"Kau tidak apa-apa, Kirana?" tanya Zaidan lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan raya yang lengang.
"Aku tidak apa-apa, Zai. Hanya... berpikir," jawabku lirih. Aku menoleh menatap profil samping wajahnya. "Kau belajar bela diri di mana? Gerakanmu tadi... tidak seperti orang IT biasa."
Zaidan tersenyum tipis, ada sedikit nada getir dalam tawa kecilnya. "Sebelum aku menjadi spesialis siber di tim bentukan Pak Surya, aku adalah bagian dari unit taktis lapangan. Jadi, mengurus dua orang preman seperti tadi masih ada di dalam buku panduanku." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Maafkan aku karena membuatmu harus mengalami hal berbahaya seperti ini lagi."
Aku menggelengkan kepala. "Jangan minta maaf. Justru aku yang harus berterima kasih. Jika bukan karena kau, aku mungkin sudah menyusul orang tuaku malam ini."
Aku merogoh ponsel terenkripsi milikku dari saku jaket. Layarnya menyala, menampilkan draf novel digital yang terus berjalan. Aku tertegun melihat jumlah pembaca dan komentar yang terus melonjak tajam dalam hitungan jam setelah bab spionase kemarin malam dirilis.
Mereka benar-benar kecanduan dengan ketegangan cerita ini. Namun, bagiku, setiap baris kalimat ini bukan lagi sekadar pelarian dari kenyataan pahit sebagai korban pengkhianatan Dimas dan Maya. Ini adalah caraku menyusun strategi nyata.
Aku mulai mengetik dengan perlahan, membiarkan alur cerita berjalan dengan tempo yang lebih tenang namun penuh dengan intrik yang mendalam untuk bab selanjutnya:
“Setelah badai fisik mereda di lorong yang sunyi, sang wanita menyadari bahwa senjata paling mematikan bukanlah pisau atau peluru... melainkan kebenaran yang ditulis dengan tinta hitam di atas kertas putih. Ketika sang penguasa mengira dia bisa membungkam suara dengan kekerasan, dia lupa bahwa kata-kata memiliki sayapnya sendiri untuk terbang melompati dinding istananya.”
"Zai," panggilku sambil terus menatap layar ponsel. "Pak Surya bilang Kejaksaan Agung akan mengeluarkan perintah cekal dan penggeledahan untuk Mahendra Group besok pagi, kan?"
"Benar. Jam sembilan pagi, tim penyidik akan mendatangi kantor pusat mereka," jawab Zaidan.
"Kalau begitu, kita harus memastikan Adrian Mahendra tidak punya celah untuk memanipulasi opini publik sebelum jam sembilan," seulas senyuman dingin kembali muncul di wajahku. "Besok jam tujuh pagi, tepat sebelum pasar saham dibuka kembali, aku akan merilis bab spesial di akun NovelToon-ku. Sebuah bab fiksi yang menceritakan secara detail skandal korupsi, aliran dana gelap, hingga kronologi 'kecelakaan' fiktif yang persis sama dengan kasus Ayahku."
Zaidan melirikku dengan alis yang bertaut, lalu perlahan senyumannya melebar seiring dia memahami maksud taktikku. "Kau ingin menggunakan para pembacamu sebagai tameng publik?"
"Lebih dari sekadar tameng. Netizen dan pembaca online adalah hakim paling kejam di era digital ini, Zai. Begitu cerita itu viral dan orang-orang mulai mencocokkan nama-nama inisial di novelku dengan realita Mahendra Group yang sedang digeledah polisi... Adrian tidak akan bisa menyuap media mana pun untuk membersihkan namanya. Reputasinya akan hancur total bahkan sebelum dia menginjakkan kaki di pengadilan."
Mobil kami berbelok memasuki area parkir bawah tanah apartemen aman. Malam ini mungkin penuh dengan darah dan keringat, namun besok pagi... dunia akan menyaksikan bagaimana sebuah kekaisaran runtuh bukan oleh senjata, melainkan oleh rangkaian kata dari seorang istri yang terbuang.