Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
## Konspirasi di Balik Tembok **Dakrossa**
Ada yang aneh dengan pak tua satu ini.
**Latisha** menyipit curiga ketika **Dexter** tersenyum dan memberinya izin untuk menemui ketiga wanita di lantai lima. Padahal sebelumnya, meski **Latisha** merengek tipis-tipis, **Dexter** tidak kunjung mengizinkannya. Akan tetapi, kepala sipir itu mengatakan bahwa ia tidak perlu mengkhawatirkan lantai sepuluh karena peraturan lama akan diterapkan kembali.
"Lagi pula memang seharusnya kamu berada di lantai lima, jadi tidak apa jika kamu mau menginap dua atau tiga malam bersama mereka, semacam melepas kerinduan karena sudah lama tidak bertemu," kata **Dexter** akhirnya.
"Kalau begitu, apakah aku akan tetap kembali ke lantai sepuluh nantinya?"
**Dexter** diam sejenak. Tidak ada anggukan atau sebagainya, ia malah mengatakan hal lain seolah menghindari pertanyaan tersebut. "**Akta** akan mengantarmu ke lantai lima."
**Akta** yang sudah berdiri di ambang pintu telah bersiap. **Latisha** pun tidak mencurigai apa-apa dan segera pergi dari sana. Sementara itu, **Dexter** segera meninggalkan ruang kerjanya menuju lantai sebelas.
Lantai itu dirancang secara khusus oleh para penyihir agung kekaisaran **Eldrath**. Hanya ada dua *Warden* yang berjaga di lantai itu dan mereka semua ahli dalam tugasnya. Seorang wanita dan pria lanjut usia yang berada di lantai tersebut segera menyambut kehadiran **Dexter**. Mereka berada di tengah lantai sebelas yang dikelilingi belasan lorong menuju lokasi para makhluk magis yang dikurung secara khusus.
Berbeda dengan lantai-lantai sebelumnya, lantai ini didominasi oleh sihir. Salah satunya cahaya remang biru keabuan yang tampak berkobar pada suluh-suluh yang tersemat pada pojok dinding tiap lorong. Lantai yang penuh ilusi.
Mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di lantai sebelas akan merasakan tekanan luar biasa. Bukan hanya dari sistem dan keamanan sihir yang tertanam di sana, melainkan juga gelombang energi dari makhluk magis. Padahal makhluk-makhluk itu tersegel di balik pintu tahanan, tapi energi mereka masih menguar bebas.
"Di mana yang baru?"
"Kami menaruhnya di ruang nomor sembilan. Cukup sulit memindahkannya ke ruangan itu," jawab **Bhaskara**—wanita berusia 60 tahun, seorang *Warden*.
"**Prayan** adalah makhluk cerdas dan licik. Pemasangan sihir ilusi tingkat tinggi bahkan tak mampu mengecohnya. Para penyihir membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga," imbuh **Langit**—pria berusia 64 tahun, seorang *Warden*.
**Dexter** tidak bisa berkomentar banyak. Masih ada makhluk magis terkuat selain **Prayan** di lantai ini, tapi kenapa rubah ini sulit ditangani? Itu karena **Prayan** adalah makhluk yang pandai; ia juga punya beragam kemampuan, salah satunya membuat ilusi. Maka dari itu, para penyihir kesulitan.
"Apa Anda datang untuk melihatnya? Saya akan mengantar Anda," kata **Langit**.
**Dexter** menggeleng. "Bukan itu."
**Bhaskara** dan **Langit** mengerutkan dahi dan saling pandang, sementara **Dexter** merundukkan tubuh besarnya di antara dua orang tua lanjut usia tersebut. Entah apa yang ia bicarakan karena saat itu pula raut wajah **Bhaskara** dan **Langit** berubah agak skeptis.
"Apakah kalian bisa membantunya?" tanya **Dexter** setelah kembali menegapkan tubuh.
"Jika itu keinginan Anda, kami tentu akan membantunya. Hanya saja, apa dia sanggup? Menjadi *Warden* sama saja mendekatkan diri kepada kematian. Makhluk-makhluk itu sangat agresif; mereka membenci manusia," jelas **Bhaskara**.
"Kita hanya perlu mencobanya dan jika dia gagal, pada akhirnya hanya kematian juga yang menunggunya di luar," jawab **Dexter**.
**Bhaskara** menatap **Langit**, seolah berunding melalui tatapan sampai akhirnya keduanya mengangguk sambil menatap **Dexter**. "Kalau begitu, bawa saja dia kemari."
*Ya ampun!*
**Latisha** hanya mampu tersenyum di bawah usapan brutal tiga wanita yang sudah dianggap sebagai kakak dan bibinya. Ruang tahanan mereka menjadi paling berisik sejak kemarin. Banyak pengalaman yang **Latisha** ceritakan pada ketiganya.
Betapa bangga mereka pada pencapaian **Latisha**, dan sekarang setelah melepas kerinduan, **Nurcelia** memeriksa kembali tubuh **Latisha** secara menyeluruh kemudian terkejut mendapati energi pada inti *core* bocah itu melimpah ruah. Pada titik ini, energi tersebut bisa diubah menjadi sesuatu yang sangat luar biasa dan membuat pemiliknya tidak terkalahkan. Selain itu, fisik **Latisha** pun menjadi lebih kuat; otot-ototnya terasa padat.
*Bagaimana bisa dia sekuat ini hanya dalam waktu tiga tahun? Sungguh tidak masuk akal,* **Nurcelia** membatin, sementara **Latisha** tersenyum tipis melihat reaksi alkemis tersebut setelah menjauhkan tangan dari tubuhnya.
"Aku tidak beristirahat. Bahkan tidur pun aku mencoba melakukan sesuatu," kata **Latisha** tiba-tiba.
**Nurcelia** terkesiap lalu tertawa pelan. "Apa terlalu terbaca dari raut wajahku?"
**Latisha** mengangguk dan terkekeh, "Ya."
"Oh ya." **Latisha** membenarkan posisi duduk bersilanya menjadi lebih tegap kemudian menatap ketiganya serius.
"Ada apa?" tanya mereka bersamaan.
"Bolehkah aku tahu kenapa sebenarnya kalian bisa berakhir di sini?"
Ketiganya saling pandang. Haruskah mereka ceritakan? Jujur saja, setiap kali mengingatnya, dada mereka bergemuruh karena emosi.
"Aku tidak akan memaksa. Aku hanya penasaran karena menurutku kalian bukanlah orang yang akan melakukan kejahatan untuk kesenangan, karena memiliki kemampuan melakukannya."
**Nurcelia** mengembuskan napas dan cerita dimulai dari mulutnya. Sebagai seorang Alkemis yang bekerja di istana kerajaan **Endria**, banyak penemuan yang telah ia buat, salah satunya adalah ramuan-ramuan mutakhir. Produk yang paling sering digunakan adalah ramuan penenang monster. **Nurcelia** membuatnya dalam tingkatan-tingkatan berbeda dan tidak ada seorang pun mampu menirunya.
Kemudian, suatu hari kepala keluarga bangsawan terdekat raja **Endria** datang, membicarakan sesuatu, dan mulai hari itu, **Nurcelia** harus membuat lebih banyak pasokan ramuan penenang monster. Namun, ia tidak menduga bahwa ramuan tersebut justru digunakan pada manusia. Keluarga bangsawan itu memiliki alkemis gila lainnya yang melakukan eksperimen terhadap manusia dan monster. **Nurcelia** melaporkannya, tapi raja **Endria** tidak mengkritisi tindakan keluarga bangsawan tersebut.
Alhasil, dengan kemampuannya, **Nurcelia** menciptakan peledak yang berhasil meratakan kediaman keluarga tersebut.
Selanjutnya, **Rimona** mengatakan bahwa banyak anak yang berpotensi jadi penyihir gelap didiskriminasi, diperdagangkan, kemudian diperbudak. Maka dari itu, ia mendirikan sebuah organisasi khusus penyihir gelap, tapi itu malah dianggap sebagai sebuah pemberontakan.
Terakhir, **Agniya**. Sebagai seorang *Warden*, ia dituduh membakar sebuah desa kecil menggunakan naga muda yang berhasil dijinakkan. Padahal kenyataannya, warga desa membunuh saudara naga muda tersebut dan mengulitinya karena dari ujung kepala hingga ekor naga memiliki nilai jual fantastis apabila dibawa ke perkotaan.
Dari sekian cerita itu, **Latisha** malah agak terpaku pada cerita **Nurcelia**. Kerajaan **Endria** merupakan yang terkuat setelah kerajaan **Tyraven**. Ia tidak menduga ada cerita mengerikan di balik itu, tapi mengapa **Endria** melakukannya? Bukankah negeri mereka sudah makmur dan tidak ada lagi peperangan di tanah ini? Kenapa mencoba membentuk pasukan manusia setengah monster?
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya **Nurcelia**.
"Apanya?" tanya **Latisha**.
"Apa ada tanda-tanda kamu akan terbebas?"
**Latisha** diam sejenak sementara tiga wanita masih berpikir jika ada orang-orang di luar sana berusaha membebaskan **Latisha**, mengingat gadis itu adalah anak pertama penguasa **Tyraven**.
"Ada sedikit harapan. Aku hanya perlu menunggu," jawab **Latisha**.
**Latisha** mengatakan itu bukan tanpa sebab. Saat **Bhaskara** datang membawa **Prayan**, pria itu mengatakan akan membantu sebisa mungkin sampai **Latisha** terbebas karena ternyata orang-orang kepercayaan **Agor** pun sedang berusaha mencari tahu pelaku dari pembunuhan berencana tersebut.