Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentukan Syaratmu
“Pernikahan ini bukan hanya tentang kamu dan Ryan, Lyra. Ini juga melibatkan bisnis kedua keluarga jadi nggak bisa dibatalkan gitu aja.”
“Sudah satu minggu Ryan menghilang seperti ditelan bumi, lalu kalian mau aku menikah sama patung gitu?”
Mata Lyra bengkak, wajahnya sembab, air matanya seakan sudah mengering karena terus menangisi calon suami yang tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Hati masih perih, pikiran masih keruh tapi kedua keluarga justru hanya memikirkan keuntungan dan kerugian seakan pernikahannya hanya sebuah transaksi.
“Menikah saja sama Ares,” usul sang ayah dengan ekspresi datar yang membuat Lyra menganga.
Bagaimana bisa mereka ingin mengganti pengantin pria begitu saja seperti mengganti sandal yang hilang?
“Benar, menikah saja dengan Ares, meskipun dia bukan darah dagingku tapi sudah kuanggap anak kandung,” kata Tuan Tama dengan enteng yang membuat Lyra tersenyum getir, apalagi saat melihat mama dan calon mama mertuanya mengangguk dengan senyum lebar.
“Bagaimana bisa kalian mengganti pengantin pria seperti mengganti sandal? Bahkan kalian nggak mencoba terlebih dahulu apakah sandal itu pas dikaki atau enggak.” Lyra protes tak terima apalagi pengganti yang mereka usulkan adalah Ares-anak angkat keluarga Jatmika, pria arogan, dingin dan terkenal menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
“Selain itu, Ares sudah punya kekasih, semua orang tahu itu jadi dia nggak mungkin mau menikahiku.”
Lyra tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahnya, ia lebih rela menerima cibiran karena ditinggal calon suami dari pada harus menikah dengan calon kakak ipar yang sudah memiliki kekasih.
“Ares sudah menikmati kekayaan dan kekuasaan keluarga Jatmika padahal dia nggak memiliki darah keluarga Jatmika, jadi sudah seharusnya dia berkontribusi untuk keluarga ini. Apa pun caranya, akan kubuat dia setuju untuk menikah denganmu.”
Lyra tersenyum pahit karena tahu ia dan Ares sama-sama tidak berdaya di depan Keputusan keluarga, apalagi posisi Ares sebagai anak angkat. Secara logika, pria itu pasti dipaksa menikah dengan alasan balas budi pada keluarga yang membesarkannya.
*******
"Ares belum pulang?"
Lyra mengganti sepatu hak tinggi dengan sandal jepit lalu melangkah masuk ke dalam rumah megah yang menjadi tempat tinggal barunya sejak dua minggu yang lalu. Rumah bak istana tapi sepi dan dingin, bahkan seperti tak berpenghuni.
"Belum, Nyonya. Apa Anda memerlukan sesuatu?"
Lyra menghela napas berat mendengar jawaban Bi Mia yang selalu sama setiap kali ia menanyakan keberadaan suaminya itu.
"Biasanya berapa lama dia dinas?"
Bi Mia tampak berpikir sejenak lalu dengan ragu menjawab, "Tidak tentu, Nyonya."
Lyra mendesah kecewa lalu menjatuhkan diri ke sofa.
Pengantin baru pada umumnya akan pergi berbulan madu di bulan pertama pernikahan, bermesraan tanpa tahu tempat dan waktu, menempel satu sama lain seperti magnet sedangkan Lyra ... huh, jangankan bermesraan, mengobrol satu atau dua kalimat saja tidak sempat karena suaminya pergi dinas tepat di malam pernikahan kami.
Tidak, pria itu bukan pergi dinas melainkan melarikan diri. Lyra bisa mengerti, keluarga Jatmika memaksanya menikah sedangkan ia sudah memiliki seorang kekasih yang sangat dicintai.
Lyra bangkit dari sofa dengan kesal lalu ke kamar sambil mengentakkan kaki. "Apa dia pikir cuma dia yang merasa terkekang dengan pernikahan ini? Aku juga, sialan_akh, meja sialan!"
Wanita itu meringis sambil memeriksa kakinya yang baru saja menendang meja untuk melampiaskan rasa kesal. Ujung kukunya patah dan berdarah tapi rasa sakit itu bukan apa-apa bagi Lyra setelah semua rasa sakit uang ia rasakan.
“Sialan, kenapa kamu melakukan ini, Ryan?”
Dua tahun bersama menjalin kasih, semuanya selalu baik-baik saja tapi entah apa yang terjadi dua minggu yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Kedua keluarga sudah melakukan segala cara untuk menemukannya tapi tidak membuahkan hasil.
Lyra bertanya-tanya, apakah Ryan merasa tidak siap menikah sehingga melarikan diri ataukah terjadi sesuatu padanya? Bahkan sekarang Lyra tidak tahu apakah harus marah atau mencemaskannya yang masih tidak ada kabar.
Seharusnya pernikahan dibatalkan karena mempelai pria sudah hilang entah ke mana, tetapi kedua keluarga telah menjalin hubungan bisnis di atas hubungan cinta kami lalu mengganti calon suaminya dengan Ares.
Jadi, sebenarnya yang paling menderita di sini adalah aku, pikir Lyra.
Calon suami hilang lalu dipaksa menikah dengan calon kakak ipar. Tak sampai disitu, di malam pernikahan suami justru hilang entah ke mana dan tak pernah menunjukkan batang hidungnya hingga detik ini.
Kakak beradik itu sepertinya dilahirkan untuk menyakiti dan menghinanya.
Jika mengikuti drama pendek yang sedang populer, hidup Lyra pasti akan menderita karena membuat seorang pria kehilangan cinta sejatinya.
“Setidaknya di drama pendek akan ada akhir yang bahagia, sementara akhir dari kisahku … hanya Tuhan yang tahu.”
********
“Mau sarapan apa pagi ini, Nyonya?” tanya Bi Mia yang hanya Lyra jawab dengan gelengan malas. “Nyonya tidak bekerja?”
“Minggu kali, Bi.” Lyra mengambil majalah di meja lalu merebahkan tubuhnya di soda dengan posisi yang jauh dari kata anggun.
Kaki Lyra yang jenjang dan putih menjuntai di sandaran sofa sehingga menyingkap gaun tidurnya, memperlihatkan pahanya yang putih. Bantal kecil terselip sembarang di bawah pinggangnya. Ah, jangan lupakan juga rambut panjangnya yang tergerai berantakan.
“Oh ya, makasih sudah mengobati luka dijariku, Bi,” kata Lyra dengan senyum tulus.
“Mengobati luka?” Bi Mia mengulang dengan bingung. Lyra mengangkat kaki kanannya yang menendang meja hingga membuat ibu jari kakinya terluka. Tadi malam mia terlalu mengantuk dan langsung tidur tanpa mengobati lukanya. Tapi saat bangun di pagi hari, lukanya sudah diobati dan dibalut dengan rapi.
Lyra tidak ingat kapan ART rumahnya itu masuk ke kamarnya dan membalut lukanya, tetapi dia tahu pasti Bi Mia yang melakukannya karena yang tinggal bersamanya hanya Bi Mia.
“Oh ya, hari ini nggak usah masak, Bi. Nanti aku pesan dari luar aja.”
“Apa Tuan Ares juga mau memesan makanan dari luar?”
“Mana aku tahu.” Lyra menjawab dengan ketus sambil membolak-balik majalah. “Manusianya aja mungkin lagi berburu beruang di kutub utara, mungkin juga lagi makan sate beruang di sana.”
“Saya tanya sama Tuan, Nyonya,” ringis Bi Mia yang membuat Lyra mengerut bingung. Perlahan ia menurunkan majalan yang dibacanya sehingga terlihat sosok taka sing yang berdiri tegak di sisi sofa.
“A-Ares?”
Lyra langsung duduk tegak sambil menarik turun gaun tidurnya, jantungnya berdegup sangat cepat seakan ingin melompat dari tempatnya. Ia menahan napas apalagi saat matanya bertemu dengan mata tajam Ares yang seakan ingin menusuk tepat di jantungnya.
Sekarang ekspresi pria itu seperti singa yang siap menerkam buruannya.
“Siapkan sarapan seperti biasanya.” Ares memberi perintah tegas, dengan suaranya yang berat dan dalam.
Bi Mia langsung mematuhi perintah itu sementara Lyra hanya bisa duduk cemas sambil meremas gaun tidurnya yang tipis.
“Ka-kapan kamu pulang?” Lyra mencoba basa-basi, apalagi ada banyak hal yang perlu ia bicarakan dengan suaminya itu.
“Tadi malam.” Ares menjawab dingin lalu duduk di sofa yang lain. Pria itu hanya memakai celana piyama katun dan kaus hitam polos. Rambutnya tak lagi tertata rapi dan menutupi dahinya. Pria itu meletakkan laptop di pangkuannya, jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard.
“Seperti orang lain.” Lyra menggumam dalam hati. Semenjak mengenal Ares, ia tidak pernah melihat penampilan pria itu yang biasa saja.
Ares selalu dalam penampilan formal, memakai jas mahal, menampilkan sosok pria dewasa yang berkharisma dan berwibawa. Tentu saja, ia adalah CEO dari agensi Lily Crown yang menaungi banyak model terkenal.
“Ak_” Lyra meringis saat menyadari bercak merah di leher sang suami.
Sebagai wanita dewasa, Lyra tahu apa bercak merah tersebut.
“Ada yang mau aku bicarakan.” Lyra memberanikan diri berbicara, ia memainkan jari jemarinya guna melampiaskan perasaannya yang bergejolak. “Aku nggak masalah sama hubunganmu dengan Liana, kalian saling mencintai dan aku mengerti, jadi_” Lyra menelan ludah, tangannya gemetar saat Ares tiba-tiba menghunuskan tatapan tajam.
“Apa aku salah bicara?” Lyra bertanya-tanya dalam hati. “Tapi pasti ini yang dia mau ‘kan?”
Saat ini pernikahannya dengan Ares hanya diketahui oleh keluarga dan kerabat terdekat, Lyra merasa seharusnya tidak masalah jika Ares masih menjalin hubungan dengan kekasihnya tapi mungkin pria itu tidak berpikir demikian.
Ares adalah anak angkat keluarga Jatmika, mungkin pria itu merasa harus membayar hutang budi pada keluarga Jatmika dengan menjadi pengganti Ryan, menjadi suami Lyra. Tapi peran itu harus dibayar dengan luka dan air mata sepasang kekasih yang saling mencintai.
“Aku seperti sosok antagonis dalam drama,” pikirnya.
“Pernikahan ini hanya bisnis, tentukan syaratmu.” Lyra meminta dengan percaya diri dan berani. Ia akan memenuhi apa yang Ares inginkan sebagai kompensasi. Ia juga sudah menunggu selama dua minggu untuk membicarakan masalah ini dengan Ares.
Ares berseringai licik, sorot matanya seperti anjing lapar yang baru menemukan seonggok daging, membuat Lyra merinding, bahkan menyesal karena menantang pria itu. “Tubuhmu_”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira