NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3:Pulau Warisan

Pulau Warisan bukan hanya tentang Menara Giok yang menjulang. Di bawah fondasi menara itu, terkubur sebuah labirin gua yang dikenal sebagai Gua Asal Mula.

Ling Xinyue, dengan Lian Yue yang terbang rendah di sisinya sebagai sumber cahaya, melangkah memasuki mulut gua yang diselimuti lumut kristal bercahaya biru.

​Udara di dalam gua ini sangat berbeda dan dingin, namun terasa padat oleh energi spiritual yang murni.

Xinyue bisa merasakan setiap embusan napasnya meninggalkan uap perak di udara. Di dinding gua, ia melihat guratan-guratan pedang yang sangat dalam, seolah-olah seseorang pernah menggunakannya untuk melatih teknik yang sanggup membelah gunung.

​"Guratan ini..."

Xinyue menyentuh salah satu bekas tebasan di dinding batu. Seketika, sebuah resonansi tajam menghantam kesadarannya.

Ia melihat bayangan seorang wanita Lin XingYu ratusan ribu tahun lalu yang sedang berlatih di tempat yang sama saat ia masih menjadi praktisi di Alam Bawah.

​Xinyue menyadari bahwa gua ini adalah tempat Lin XingYu pertama kali menempa dirinya sebelum menjadi penguasa Alam Dewa. Setiap sudut gua menyimpan sisa-sisa kemarahan, ambisi, dan tekad sang Dewi Primordial.

Xinyue menjelajahi lebih dalam, melewati sungai bawah tanah yang airnya mengalirkan energi spiritual cair, hingga ia tiba di sebuah altar batu yang dikelilingi oleh tujuh pilar kristal.

Di pusat altar Gua Asal Mula, Ling Xinyue tidak hanya menemukan esensi memori, tetapi juga dua buah gulungan giok yang melayang dalam segel Spiritual biru.

Saat jemarinya menyentuh permukaan giok yang dingin, kesadarannya ditarik masuk ke dalam ruang hampa di mana siluet Lin XingYu sedang mendemonstrasikan dua teknik fundamental yang pernah membawanya merajai Alam Bawah.

​Teknik pertama adalah Teknik Bayangan Tujuh Pedang.

​Xinyue memperhatikan dengan seksama bagaimana siluet itu membelah dirinya menjadi dua, lalu tiga, hingga menjadi tujuh entitas yang identik.

Ini bukan sekadar ilusi, Xinyue mempelajari bahwa teknik ini bekerja dengan memanifestasikan Energi Spiritual yang telah dimurnikan menjadi replika fisik yang padat.

​"Setiap bayangan memiliki tujuh puluh persen kekuatan tubuh asliku?"Gumam Xinyue.

Matanya bergetar melihat kompleksitas jalur meridian yang diperlukan.

​Untuk membentuk satu bayangan 'Tingkat 1', Xinyue harus mampu membagi aliran Spiritual di titik Dantian secara vertikal tanpa memutuskan sirkulasi utamanya.

Jika ia gagal, energi tersebut akan meledak dan menghancurkan fondasi kultivasinya. Setiap tingkatan teknik ini mengharuskan praktisinya menguasai satu bayangan tambahan.

Di Tingkat 7, seorang praktisi akan menjadi pasukan satu orang yang sanggup melakukan pembantaian massal.

Teknik kedua jauh lebih berbahaya dan selaras dengan raga Ice Heart Body miliknya: Teknik Pembeku Spiritual.

​Jika Bayangan Tujuh Pedang adalah tentang ofensif, maka Pembeku Spiritual adalah tentang kendali mutlak atas hukum dingin di sekitarnya.

Xinyue mencoba mempraktikkan segel tangan pertama. Seketika, suhu di dalam gua turun drastis hingga dinding batu mulai meretak karena tekanan Spiritual yang membeku.

​Prinsip dasar teknik ini adalah menyusupkan Energi Spiritual es milik Xinyue ke dalam aliran energi lawan

Begitu energi lawan bersentuhan dengan aura Xinyue, getaran energi tersebut akan melambat secara paksa, menciptakan efek stagnasi yang membuat serangan lawan tampak seperti berhenti di tengah udara.

"Gunakan hatimu sebagai poros dunia yang beku, Xinyue," suara Lin XingYu bergema."Dengan tubuh Ice Heart-mu, teknik ini bukan sekadar memperlambat. Jika kau cukup kuat, kau bisa membekukan kesadaran lawan bahkan sebelum mereka sempat berpikir untuk menyerang."

​Xinyue memulai rutinitas yang brutal, sebuah jalan kultivasi yang penuh darah seperti yang digambarkan dalam kitab-kitab kuno.

Ia membagi harinya menjadi tiga bagian: enam jam untuk pemurnian darah, enam jam untuk memahami Bayangan Tujuh Pedang, dan dua belas jam untuk menstabilkan aura Spiritual di bawah tekanan air terjun energi.

Pada minggu kedua, saat ia mencoba mencapai Blood Purification Tingkat 5, ia mulai mengintegrasikan Teknik Bayangan.

Di tengah meditasi, tubuhnya bergetar, dan sebuah siluet transparan dari Energi Spiritual mulai merambat keluar dari punggungnya.

​"Keluar!" teriak Xinyue.

​Sebuah bayangan identik berdiri di hadapannya. Meskipun hanya bertahan selama sepuluh menit, Xinyue merasakan koneksi mental yang luar biasa.

Ia bisa merasakan aliran Spiritual melalui mata bayangan itu. Ini adalah pencapaian Tingkat 1 dari Teknik Bayangan Tujuh Pedang.

Setelah berhasil menguasai tingkatan pertama, Xinyue mencoba menjelajahi lebih jauh lagi. Dan mulai memasuki labirin Gua Asal Mula.

​Setelah melewati labirin Gua Asal Mula yang dingin, Xinyue tiba di sebuah lembah tersembunyi di balik dinding gua yang runtuh.

Tempat itu adalah Lembah Napas Dewa. Di sini, cahaya matahari menembus celah langit-langit gua, menyinari hamparan flora yang tidak mungkin ditemukan di daratan utama Alam Bawah.

​Mata Xinyue membelalak. Di hadapannya, tumbuh ribuan tanaman obat yang memancarkan aroma Spiritual yang menenangkan jiwa.

Di antara semak-semak bercahaya itu, ia melihat tiga tangkai bunga yang kelopaknya transparan seperti kristal Bunga Teratai Jiwa Sembilan Kelopak.

​"Ini..." Xinyue mendekat dengan hati-hati.

"Dalam memori yang kuterima, bunga ini adalah salah satu dari sedikit tanaman yang mampu menjahit kembali jiwa yang retak."

​Tanpa membuang waktu, Xinyue memetik bunga tersebut dan menggunakan Energi Spiritual miliknya untuk mengekstrak sari pati murni dari kelopaknya.

Ia tidak meminumnya, melainkan meneteskan sari tersebut ke arah Kalung Giok yang melingkar di lehernya.

Begitu cairan itu menyentuh giok, sebuah denyutan cahaya ungu menyebar, melahap energi tersebut dengan rakus.

Beberapa saat kemudian, ruang di sekitar Xinyue bergetar. Sebuah proyeksi samar muncul dari kalung giok sosok wanita agung dengan jubah putih yang melambai meski tak ada angin.

Lin XingYu telah terbangun dari tidur panjangnya, auranya kini terasa lebih stabil dan padat berkat bantuan tanaman obat tersebut.

​"Kau telah melakukan pekerjaan yang baik, Xinyue,"

Suara Lin XingYu bergema, bukan lagi sebagai bisikan lemah, melainkan suara yang penuh wibawa.

"Raga ini... aku bisa merasakan pemurnian yang kau lakukan. Tapi caramu mengalirkan Energi Spiritual masih terlalu kasar."

​Lin XingYu melayang di depan Xinyue, matanya yang tajam menatap langsung ke dalam meridian gadis itu.

"Duduklah. Aku akan membimbingmu secara langsung. Darahmu sudah murni, tapi kau belum memahami cara 'mengunci' kekuatan tersebut agar tidak terbuang sia-sia."

​Malam ketiga puluh di Pulau Warisan ditutup dengan keheningan yang mencekam.

Ling Xinyue duduk bersila di tengah altar, napasnya teratur namun setiap embusannya membawa partikel es yang berkilau.

Di bawah bimbingan ketat Lin XingYu yang telah pulih sebagian jiwanya, Xinyue tidak lagi mengejar kecepatan, melainkan kepadatan.

​"Cukup, Xinyue. Berhenti di sini," suara Lin XingYu bergema dari kalung giok, menghentikan aliran Energi Spiritual yang hendak diserap Xinyue.

"Jika kau memaksakan diri ke tingkat tujuh malam ini, pembuluh darahmu akan retak. Raga dewi ini butuh waktu untuk mengasimilasi esensi emas yang baru saja kau bangkitkan."

​Xinyue membuka matanya perlahan. Pupil peraknya meredup, kembali menjadi warna biru yang dalam.

Ia merasakan ledakan kekuatan di dalam dirinya, namun ia juga merasakan beratnya beban yang ditanggung oleh meridiannya.

​"Hanya... Tingkat 6?" gumam Xinyue, sedikit terengah.

"Jangan meremehkan Tingkat 6 milikmu," balas Lin XingYu dingin.

"Berkat pemurnian menggunakan Bunga Teratai Jiwa dan bimbinganku, Energi Spiritual di dalam darahmu sepuluh kali lebih padat daripada praktisi Tingkat 9 biasa di Alam Bawah ini. Kau belum mencapai puncak ranah pertama, tapi fondasimu sudah sekeras berlian."

​Xinyue mengepalkan tangannya. Ia merasakan sensasi Teknik Pembeku Spiritual yang mengalir alami dalam darahnya.

Meskipun ia belum mencapai puncak Blood Purification, integrasi antara teknik dan fisiknya sudah berada pada level yang mengerikan.

​"Kau benar, Senior. Jika aku naik terlalu cepat tanpa pemahaman yang matang, aku hanya akan menjadi wadah besar yang rapuh,"

Xinyue berdiri, jubah birunya berkibar pelan.

​Lian Yue, yang selama sebulan ini ikut menyerap sisa-sisa energi dari taman obat, kini tampak lebih gagah dengan bulu-bulu yang memancarkan aura dingin yang stabil.

Ia hinggap di bahu Xinyue, siap untuk menempuh perjalanan panjang yang sesungguhnya.

Dengan pencapaian Blood Purification Tingkat 6, Teknik Bayangan Tingkat 1, dan pemahaman dasar Pembeku Spiritual, Xinyue merasa dirinya telah lahir kembali secara utuh.

Ia berjalan meninggalkan gua warisan, melewati lembah obat yang kini telah ia ambil sari-sarinya untuk persediaan perjalanan.

​Di dermaga kecil Pulau Warisan, Xinyue menatap ke arah utara.

Di sana, daratan utama Alam Bawah yang luas wilayah yang penuh dengan intrik sekte, perebutan sumber daya, dan hukum rimba menantinya.

"Satu bulan untuk fondasi, dan sisa hidupku untuk penaklukan," bisik Xinyue.

​Ia mengaktifkan teknik penyamaran Tirai Kabut Rembulan, menekan auranya hingga ia tampak seperti gadis biasa yang baru saja memulai jalan kultivasi.

Perahu kayunya mulai bergerak membelah kabut abadi, meninggalkan Pulau Warisan yang akan segera menghilang dari pandangan dunia.

​Kabut di Pulau Warisan mulai bergulung, menelan dermaga kayu yang sudah mulai lapuk.

Ling Xinyue berdiri di sana, menatap perahu kecilnya dengan tatapan yang jauh lebih tajam dibanding sebulan yang lalu.

Ia menarik napas panjang, membiarkan energi Spiritual yang dingin mengalir ke tangannya. Ia merapal mantra dalam hati, memicu Teknik Tirai Kabut Rembulan.

​Seketika, lapisan energi transparan seperti kelambu perak menyelimuti tubuhnya. Auranya yang tadinya memancar kuat sebagai praktisi Tingkat 6, perlahan meredup, tersembunyi di balik kabut Spiritual yang ia ciptakan sendiri.

Wajahnya yang cantik jelita pun tampak sedikit buram, seolah tertutup oleh bayangan rembulan yang tipis.

​Namun, sebelum ia sempat melangkah ke perahu, cahaya ungu dari kalung giok di lehernya berpendar hebat.

Proyeksi jiwa Lin XingYu muncul di hadapannya. Sang Dewi Primordial itu melayang, mengitari tubuh Xinyue dengan mata yang menyipit penuh selidik.

Ia mengulurkan tangan transparannya, menyentuh lapisan kabut yang menyelimuti raga Xinyue.

"Teknik ini..." Lin XingYu bergumam, suaranya mengandung nada keheranan yang jarang ia tunjukkan.

"Darimana kamu mendapat teknik ini, Xinyue? Ini bukan bagian dari teknik dasar yang kutinggalkan di Menara Giok. Struktur energinya... sangat unik, seolah berasal dari sisa-sisa peradaban yang jauh lebih tua dari era kutinggalkan tempat ini."

​Xinyue sedikit tertegun. Ia menjelaskan bahwa ia menemukannya saat masi berasa di pulau sebelumnya pada bulan lalu.

Lin XingYu terdiam sejenak, mengamati bagaimana kabut tersebut tidak hanya menutupi aura, tapi juga mencoba membiaskan cahaya di sekitar tubuh penggunanya.

​"Penampilan ini memang cukup mengubah citramu di mata orang awam,"

lanjut Lin XingYu sambil menatap mata Xinyue dengan intensitas seorang penguasa.

"Tapi kau harus tahu satu hal tentang Alam Bawah. Keindahan rupa seorang wanita tanpa kekuatan yang cukup untuk melindunginya adalah kutukan. Di daratan utama, kau akan bertemu dengan sekte-sekte yang haus akan 'tungku manusia'. Kecantikanmu akan menarik perhatian mata-mata cabul dan tetua sekte iblis bahkan sebelum kau sempat bicara."

Xinyue mengerutkan kening. Ia baru menyadari betapa berbahayanya menjadi wanita cantik di dunia yang hanya mengenal hukum rimba.

​"Aku sarankan agar kau menyamar menjadi pria saja," ucap Lin XingYu datar, namun tegas.

"Seorang pemuda biasa akan jauh lebih mudah membaur di keramaian tanpa mengundang kecurigaan yang tidak perlu."

Xinyue mengangguk setuju. Ia menyerahkan gulungan Teknik Tirai Kabut Rembulan kepada proyeksi jiwa Lin XingYu.

Sang Dewi Primordial itu mengambilnya, dan dengan satu sentuhan jari transparannya, ia mulai memodifikasi aliran Spiritual dalam teknik tersebut.

Ia menambahkan beberapa hukum transformasi yang hanya diketahui oleh mereka yang telah menyentuh batas Alam Dewa.

​"Berikan padaku kendali meridian luarmu sebentar," perintah Lin XingYu.

Xinyue membiarkan energi dari kalung giok merambat masuk ke wajah dan struktur tulangnya. Rasa dingin yang luar biasa menusuk setiap saraf di wajahnya.

Ia merasakan rahangnya sedikit melebar, alisnya menjadi lebih tegas, dan tinggi badannya sedikit menyusut agar tampak seperti pemuda yang belum sepenuhnya dewasa.

​Kabut rembulan itu kini tidak lagi sekadar menutupi, melainkan merubah. Kulit putih pualam Xinyue berubah menjadi sedikit kecokelatan, seolah sering terpapar matahari.

Rambut ungunya yang panjang dan indah kini tampak lebih pendek dengan warna hitam dan diikat sembarangan dengan kain kasar. Matanya yang jernih tetap indah, namun kini memiliki kilatan yang lebih liar dan waspada.

​"Mulai detik ini, namamu adalah Chen Lin,"

Lin XingYu berkata sambil memandang hasil karyanya.

"Seorang pemuda desa biasa yang sedang merantau untuk mencari peruntungan di daratan utama. Jangan pernah gunakan nama aslimu, jangan pernah tunjukkan rupa aslimu kecuali jika kau sudah siap untuk membantai semua orang yang melihatnya."

​Xinyue atau sekarang Chen Lin menatap bayangannya di permukaan air laut yang tenang. Ia tidak lagi melihat seorang dewi yang anggun.

Di sana terpantul seorang pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, namun memiliki aura yang sangat stabil.

​Lian Yue, yang tadinya terbiasa dengan aroma wangi Xinyue, sempat kebingungan dan terbang berputar-putar di sekitar "Chen Lin" sebelum akhirnya mengenali koneksi jiwa mereka.

Ia mengeluarkan suara kecil, lalu hinggap di bahu pemuda tersebut.

​"Ingat, Chen Lin,"

Lin XingYu kembali masuk ke dalam kalung giok, namun suaranya tetap bergema di kepala Xinyue.

"Dunia di depanmu tidak akan memberi ampun pada kelemahan. Kau memiliki teknik Pembeku Spiritual dan Bayangan Tujuh Pedang. Jika ada yang menghalangimu, jangan ragu untuk menyerang terlebih dahulu. Di jalan kultivasi ini, kebaikan hati seringkali menjadi jalan menuju kuburan."

​Chen Lin mengangguk dengan tatapan dingin. Ia melompat ke perahu kecilnya, memegang dayung dengan tangan yang kini tampak lebih kasar. Perahu itu mulai meluncur, membelah kabut tebal yang menyelimuti Pulau Warisan.

Seiring perahu itu bergerak menjauh, daratan Pulau Warisan perlahan menghilang, kembali menjadi legenda yang tersembunyi.

Chen Lin menatap ke arah utara, di mana Pelabuhan Awan berada. Di sana, ia akan memulai hidup barunya.

Ia bukan lagi gadis lemah yang terbangun di pantai, ia adalah praktisi Blood Purification Tingkat 6 yang membawa warisan seorang dewi di dadanya.

​"Terima kasih, Senior. Mulai sekarang, Ling Xinyue sudah mati untuk sementara waktu. Hanya ada Chen Lin," bisiknya pada angin laut.

​Perahu itu terus melaju, meninggalkan riak kecil di permukaan laut yang gelap.

Di bawah langit yang mulai menggelap, seorang pemuda desa bernama Chen Lin memulai perjalanannya menuju puncak dunia, membawa rahasia yang sanggup mengguncang seluruh Alam Bawah.

​Perahu kayu kecil itu meluncur sunyi di atas permukaan laut yang sewarna tinta.

Di belakangnya, Pulau Warisan telah sepenuhnya tertutup oleh kabut tebal yang bersifat menolak indra spiritual bagi siapa pun yang mencoba mencarinya.

Chen Lin duduk di buritan, tangannya yang kini tampak sedikit kasar memegang kemudi kayu dengan santai.

​Lian Yue, sang Merak Bulan Es, kini telah menyusutkan ukurannya menjadi seukuran burung perkutut biasa dan hinggap di bahu Chen Lin.

Aura dinginnya ditekan habis-habisan hingga ia tampak tak lebih dari seekor burung peliharaan eksotis milik seorang pemuda desa.

Di dalam kalung giok yang tersembunyi di balik baju kain kasarnya, Lin XingYu tetap diam, namun Chen Lin bisa merasakan kehadiran tajam sang Dewi yang sedang memantau sekeliling dengan indra jiwanya yang luar biasa.

Setelah beberapa jam perjalanan, garis pantai daratan utama mulai terlihat. Bau garam laut yang murni perlahan berganti dengan aroma yang jauh lebih kompleks, bau asap pembakaran kayu, aroma rempah rempah dari pasar jauh, dan yang paling mencolok bau dari ribuan manusia.

​Dermaga Pelabuhan Awan adalah sebuah monster arsitektur yang terbuat dari kayu hitam yang tahan air laut.

Ribuan kapal dari berbagai ukuran tertambat di sana, mulai dari perahu nelayan kecil hingga kapal dagang raksasa milik sekte-sekte menengah yang memiliki layar berwarna-warni.

​Chen Lin mengarahkan perahunya menuju area pendaratan warga sipil. Saat perahu itu menyentuh kayu dermaga dengan benturan pelan, ia merasakan getaran aneh di telapak kakinya.

Ini bukan sekadar dermaga kayu; tempat ini dialiri oleh formasi Spiritual tingkat rendah untuk mencegah kerusakan akibat serangan monster laut.

​Ia melompat keluar dari perahu, mengikatkan tali tambatnya pada tiang kayu yang sudah menghitam. Saat kakinya menyentuh permukaan dermaga yang kokoh, Chen Lin memejamkan matanya sejenak.

​𝘉𝘶𝘮.

​Denyutan dari jantungnya yang telah dimurnikan hingga Tingkat 6 beresonansi dengan tanah daratan utama.

Ia bisa merasakan aliran Spiritual di tempat ini jauh lebih tipis dan kotor dibandingkan dengan Pulau Warisan, namun di sini pulalah tantangan sesungguhnya berada dan langkah pertamanya dimulai.

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!