NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 30

Kendaran type mercy yang dikendarai pasangan muda itu berhenti di kawasan bangunan cukup elit, berpagar besi yang menjulang, dekat dengan perkebunan teh.

Erlan turun lebih dulu, pintu mobil dibukakan oleh sang security yang bertugas menjaga keamanan sebuah rumah berlantai dua.

“Terima kasih, Pak,” ucap Erlan seraya menatap lembut, sudah hampir dua tahun tak bersua dengan sosok yang masih setia bekerja dengannya.

“Sama-sama, Tuan. Mengapa tak mengabari dulu kalau mau mampir?” tanya pria paruh baya memakai seragam lengkap serba hitam.

“Ada urusan mendesak, saya datang bersama istri.” Pemuda yang kini berstatus sebagai suami berbicara seolah pamer.

“Bila butuh sesuatu tolong panggil saya saja, Tuan. Saya siaga 24 jam walau pergantian shift jaga sekalipun.” Setelah menyerahkan kunci, sang satpam kembali untuk melanjutkan tugas, memantau kamera pengawas di sebuah pos dekat gerbang.

Sosok bertubuh tinggi itu lalu memutari kap mobil, berhenti di sisi pintu penumpang, membuka pintu dan mempersilahkan sang istri keluar.

“Tempat apa ini?” Alyra memindai sekitar, keningnya mengerut memandang bangunan terbilang megah berdiri kokoh di hadapannya. “Kamu menyewa vila? Kenapa nggak hotel saja, aku tau hotel yang cukup nyaman di sekitar sini.”

“Turunlah. Ini rumahku,” ujar Erlan, menarik sedikit lengan istrinya supaya bergeser, lalu ia menutup pintu mobil.

“Rumahmu?” Wanita masih berwajah sembab menatap tak percaya.

“Kujelaskan nanti, ayo masuk, kita keringkan tubuh dahulu.” Erlan memimpin jalan, masuk ke hunian berlantai dua.

Alyra berjalan pelan seraya menatap sekeliling. “Dia punya rumah di pedesaan ini? Apa ini rumah pelarian? Atau … rumah istri simpanannya?” gumamnya, pikirannya mulai berspekulasi liar.

“Dia punya gundik?” Isi kepala Alyra tak mau diam, terus berisik dengan berbagai dugaan tak masuk akal.

Langkah kakinya terangkat ragu ketika tiba di depan pintu, tubuhnya sedikit mencondong, celingak-celinguk, menelisik seisi rumah yang terlihat tenang dari luar.

‘Apa ada orang lain di dalam?’ batinnya penuh tanya.

Setelah meletakkan ponsel di atas meja, Erlan menoleh sekilas, menatap heran langkah ragu sang istri. “Masuklah, nggak ada siapa-siapa di rumah ini. Cuma kita berdua, dan satu satpam jaga berada di luar.”

Alyra menoleh ke belakang, menatap lampu temaram di halaman, kemudian sosok pria berusia hampir lima puluh tahunan, melempar senyum hangat dari sebuah pos di dekat gerbang.

Wanita hamil itu membalas dengan senyum kecil.

“Lo takut kalau gue bakal macam-macam?” Satu alisnya terangkat, nada bicaranya kembali ketus, tak selembut beberapa saat lalu. Erlan bisa menangkap sorot gelisah dan keraguan yang berkelebat di mata istrinya.

“Jangan salah paham. Gue bawa Lo ke sini cuma buat ngindarin kejaran wartawan. Memastikan Lo nggak melakukan sesuatu yang nantinya bakal nyeret nama gue dan perusahaan.”

Setelah mengucapkan itu, ia berbalik dan melangkah menuju tangga ke lantai dua.

Meninggalkan sosok wanita yang berdiri dan hanya menatap sebal.

“Dia kenapa? Ngomongnya kayak sebel gitu, emangnya aku salah apa?” ia tatap nyalang bahu lebar suaminya.

Kemudian melangkah masuk, melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumahan tipis berbentuk hiu.

Ia menatap lekat sepasang kaki mengenakan sandal berkarakter lucu, sudut bibir terangkat menerbitkan senyum miring.

“Apa ini? Seleranya … sama sekali nggak cocok dengan kepribadiannya,” gumamnya nyaris tak terdengar.

Setelah beberapa menit Alyra menunggu, duduk di sofa berwarna gelap di ruang tamu. Erlan keluar dari kamar yang berada di lantai dua, menuruni undakan tangga dengan wajah yang masih disetel datar, tangan membawa sebuah handuk dan pakaian ganti.

“Ini, gantilah baju.” Ia menyodorkan satu kaos longgar dan celana training panjang kepada istrinya, sementara dirinya sendiri sudah mengenakan setelan piyama polos.

“Celana training? Emangnya mau olah raga?” protesnya lalu meraih pakaian di tangan suaminya.

“Nggak ada baju kecil di sini, cuma itu yang ada. Udah pakai aja, daripada basah-basahan, kalau meriang siapa juga yang repot?” jawabnya ketus. “Lo bisa pakai kamar di lantai satu. Tenang aja, kamar itu selalu bersih, nggak pernah ada yang make.” Ia menunjuk menggunakan dagu, pada pintu ruangan berwarna coklat gelap.

Alyra menatap sedikit kesal, lalu kembali menunduk. “Kayaknya tadi udah mulai manis nada bicaranya, sekarang balik ketus lagi,” gerutunya, ia melangkah menuju kamar tamu yang berada di lantai satu.

Erlan memilih tak merespon protes sang istri.

“Cuma ada mie instan di sini, nggak apa-apa buat makan malam ini?”

Sebelum Alyra masuk ke kamar, Erlan bertanya dengan suara cukup keras, pria itu masih berdiri seraya memperhatikan langkah istrinya.

Alyra menoleh, melirik sinis. “Apa aja, yang penting bisa dimakan.”

“Oke,” sahut Erlan lalu ia berjalan menuju ruang dapur.

“Dasar rubah picik, cepat sekali sikapnya berubah-ubah!” geramnya, lalu menutup pintu cukup keras.

.

.

.

Sementara di tempat lain, masih di malam yang sama.

Brak!

“Di mana bos brengsekmu itu?!”

Ervin mendobrak pintu apartemen hunian Andi, menerobos masuk usai sang pemilik tak mengizinkan dirinya untuk memeriksa di dalam.

Amarahnya menggebu-gebu setelah menunggu sampai dini hari sang adik beserta istrinya tak kunjung kembali ke rumah.

“Saya sudah katakan. Tuan Erlan tidak ada di hunian saya,” jawab Andi tegas, berusaha menghadang sosok yang sama sekali tak menghiraukan ucapannya.

“Tutup mulutmu, bodoh! Orang melarat dilarang banyak omong!” hardiknya pada sosok ayah tunggal, Andi hanya tinggal berdua bersama putri semata wayangnya. "Aku harus memeriksanya sendiri!"

"Pak Ervin—" Andi mencengkram lengan putra sulung Dirham Pradana.

Namun sosok berperangai bengis itu segera menghempasnya dengan kuat, membuat Andi terpental hingga menghantam dinding.

"Akhh ...."

“Kau pikir aku tak tahu, semua hal yang kau laporkan pada ayahku adalah kebohongan. Kau pasti sekongkol ‘kan dengan Erlan untuk mengelabui keluargaku!” lanjutnya dengan intonasi semakin tinggi. Ia menuding tanpa bukti mendasar, hanya spekulasi yang ia yakini sendiri.

Ervin kembali menerobos, membuka satu per satu ruangan di hunian asisten adiknya. “Erlan! Keluar Lo, Brengsekk! Beraninya Lo bawa kabur dan sembunyiin ibu dari anak gue!”

Lalu tiba di satu kamar paling ujung. Ervin menatap tajam pintu berwarna abu-abu, gigi bergemeretak menahan kesal. Membayangkan sosok mantan kekasih yang tengah mengandung benihnya kini berduaan di satu ruangan dengan adik laki-lakinya.

Brak!

Ia membuka pintu dengan keras.

Tak menemukan Erlan ataupun Alyra, pria tak berperasaan itu hanya mendapati sosok gadis kecil yang duduk seraya memeluk lutut, wajahnya sebab bersimbah air mata.

Netra kecilnya menatap mengiba, kala melihat sosok ayah berdiri di belakang pria berwajah menakutkan, Jenny langsung berlari.

“Papa!”

Andi mendorong pria yang mengamuk tanpa alasan jelas, segera memeluk putri kecilnya yang menangis sampai bibir bergetar.

“Papa, siapa paman ini? Jenny takut, wajahnya seram seperti dracula!” Gadis yang baru saja menginjak usia enam tahun itu histeris dalam dekapan sang ayah.

“Tenang, Jenny sayang. Papa akan segera mengusir paman dracula ini,” bujuk Andi, menepuk lembut bahu si kecil berusaha menenangkan sang putri.

Kini ayah tunggal itu menatap berani pada putra sulung Dirham Pradana. “Anda sudah keterlaluan, Pak Ervin. Menerobos masuk dan membuat putri saya ketakutan. Bila tak segera pergi, saya akan lapor polisi.”

“Aish, sialan!” Pria bengis itu mendengus, lalu melangkah keluar dari hunian duda beranak satu.

"Erlan ... Lo bakal hancur di tangan gue." tekadnya dengan langkah mantap.

.

.

.

Keesokan harinya.

Aroma kopi dan roti panggang menyeruak ke udara, menyergap indera perempuan hamil yang masih menggeliat di atas kasurnya.

Alyra perlahan membuka mata, mengatur napas, sorot matanya tampak redup.

Benaknya masih dipenuhi oleh kata-kata hujatan publik di media sosial, tak mau enyah, kritikan menohok itu masih melekat di ingatan.

“Ayo bangun, Alyra … hidup masih terus berjalan. Kamu harus makan.”

Ia akhirnya bangkit kemudian keluar dari kamar.

“Kamu mau pergi?” Matanya membulat penuh tanya. Masih pagi sekali, namun ia melihat sang suami sudah berpakaian rapi. Duduk di balik meja makan, seporsi susu dan roti panggang sudah tersedia di atas meja.

Sementara di hadapan Erlan, hanya ada segelas seduhan kopi.

“Sudah bangun?” Erlan mengalihkan pandangan dari ponsel, menatap lembut istrinya. “Ayo makan, sarapan sudah siap.”

‘Ada apa dengannya? Bicaranya kembali lembut.’ Alyra memicingkan mata.

“Kamu mau pergi?” ia bertanya sekali lagi.

Akhirnya Erlan menarik napas panjang. “Alyra … aku harus kembali ke kota, proyekku mengalami masalah.”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!