Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥
Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:
"Zaman dan Era telah berubah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 — Terakhir, Wu Qingfeng
Langit malam di Kerajaan Yan begitu gelap, tanpa bulan, tanpa bintang. Salju turun sejak senja dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Angin dingin menderu seperti lolongan serigala kelaparan, menusuk hingga ke tulang.
Di tengah badai salju itu, berdiri gerbang sebuah sekte kecil—Lingxu Dongtian.
Bukan tempat yang megah. Bukan tanah suci yang disegani. Hanya salah satu dari enam sekte kecil di Kerajaan Yan, tempat para kultivator kelas bawah belajar dan bertahan hidup.
Seorang tetua tua keluar dari gerbang, jubah abu-abunya berkibar lemah diterjang angin. Ia adalah Wu Qingfeng. Dalam perjalanan pulang dari mencari ramuan di pegunungan, ia hampir saja melewatkan keranjang bambu yang nyaris terkubur salju di samping tangga batu.
Wu Qingfeng berjongkok, menyapu salju dengan tangannya yang keriput.
Di dalam keranjang itu, terbaring seorang bayi.
Bayi laki-laki, sangat kecil, kulitnya membiru karena dingin. Bibirnya pucat, napasnya lemah, nyaris tidak terdeteksi. Namun ia masih hidup.
Wu Qingfeng mengangkat bayi itu dengan hati-hati. Kain kasarnya basah, dingin seperti es. Namun saat telapak tangannya menyentuh dada kecil itu, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Tubuh ini... menghisap?
Bukan sekadar dingin. Bukan sekadar energi spiritual. Tapi segala sesuatu. Seperti pusaran kecil yang diam-diam menelan apa pun yang menyentuhnya.
"Makhluk aneh..." gumam Wu Qingfeng.
Ia menatap sekeliling. Tidak ada jejak kaki selain miliknya. Tidak ada aura tersisa. Tidak ada formasi. Bayi ini benar-benar ditinggalkan begitu saja—atau mungkin sengaja ditempatkan di sini.
Bayi itu membuka mata.
Sepasang mata hitam pekat menatap lurus ke arah Wu Qingfeng.
Tidak ada tangisan. Tidak ada rasa takut. Hanya ketenangan yang terlalu dalam untuk seorang bayi, seolah ia sedang mengamati, sedang belajar, sedang menunggu.
Wu Qingfeng merasa bulu kuduknya meremang.
Ia telah hidup lebih dari 100 tahun. Ia telah melihat banyak keajaiban dan kengerian. Tapi tatapan ini... tidak biasa.
"Apa kau anak Iblis, atau anak dewa?" bisiknya.
Bayi itu tidak menjawab. Hanya terus menatap.
Wu Qingfeng mengulurkan jarinya, menyentuh dahi bayi itu, dan mengirimkan seberkas kecil energi spiritualnya untuk menyelidiki.
Begitu energi itu masuk, ia merasakan kehampaan—bukan kekosongan, melainkan kehampaan yang aktif, yang menelan. Energinya menghilang tanpa bekas seperti setetes air yang jatuh ke samudra tanpa dasar.
Wu Qingfeng menarik tangannya cepat-cepat.
"Tidak mungkin..."
Tubuh seperti ini tidak tercatat dalam kitab mana pun yang pernah ia baca. Bukan tubuh suci, bukan tubuh ilahi, bukan tubuh elemen. Ini adalah sesuatu yang lebih liar, lebih kacau—seolah-olah tubuh ini menolak untuk mengikuti aturan dunia.
Wu Qingfeng berdiri diam di tengah badai salju, memegang bayi yang terus menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ragu.
Seharusnya ia meninggalkan bayi ini. Membawanya ke gerbang sekte di tengah malam seperti ini sudah aneh. Tapi ia tidak bisa. Ada sesuatu yang menahannya di tempat itu, menahannya untuk tidak pergi.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanyanya pada bayi itu.
Bayi itu tidak menjawab. Namun sudut bibir kecil itu sedikit terangkat—bukan senyum, lebih seperti isyarat bahwa ia mengerti sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang dewasa di hadapannya.
Wu Qingfeng menghela napas. Keputusannya bulat.
"Ikutlah denganku."
Ia berbalik, melangkah masuk melewati gerbang Lingxu Dongtian. Salju masih turun, menutupi jejak kakinya sesaat kemudian.
Di dalam gubuk kecilnya, Wu Qingfeng menghangatkan bayi itu di dekat tungku. Perlahan, warna biru di kulitnya memudar, digantikan oleh rona merah muda yang sehat. Bayi itu tetap tenang, tidak menangis, tidak meronta.
"Kau luar biasa," kata Wu Qingfeng sambil mengusap jenggot putihnya. "Bayi biasa sudah mati kedinginan berjam-jam yang lalu. Kau masih hidup."
Ia terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku akan memberimu nama. Li Yao. Batu giok yang belum diasah... semoga suatu hari kau menjadi permata."
Di luar, badai salju perlahan mereda. Langit mulai memutih di ufuk timur.
Dan di dalam kesadaran bayi itu, jauh di bawah tatapan tenangnya, sebuah suara samar bergema:
Jadi ini yang dimaksud, lima tubuh... telah lengkap.