NovelToon NovelToon
Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Yaps, suara Maya.

Clara menatap ke arah sumber suara.

Selain Maya, Edward juga ada di sana.

Langkah kaki Clara pun terhenti.

Edward tampak sibuk merokok tanpa menjawabnya.

Pria itu berdiri membelakangi cahaya lampu, membuat Clara tidak bisa melihat ekspresi di wajahnya. Jarak tempat Clara dan Edward berdiri juga cukup jauh.

Maya lanjut berkata, "Sebenarnya, aku bisa mengerti. Aku sempat bertemu Vanessa beberapa kali. Kudengar, dia baru berusia 25 tahun, tapi sudah meraih gelar doktor dari universitas ternama di dunia. Aku yakin dia bisa mengelola bisnis keluarga dengan baik. Dia juga cantik, tapi agak liar dan sulit diatur. Tapi, justru itu yang membuatmu tertarik. Sayangnya, dia berasal dari keluarga biasa-biasa saja Apa kamu sudah memikirkannya dengan matang, Edward? Kamu..."

Edward langsung memotongnya dengan berkata, "Hanya aku yang tahu wanita seperti apa yang kuinginkan."

"Tapi..." ucap Maya mengerutkan kening, ingin melanjutkan kata-katanya. Dia memang meremehkan Clara dan Vanessa. Namun, melihat amarah di mata Edward, dia pun menjadi malas mengutarakannya.

"Dasar budak cinta. Protektif banget sin sama pasanganmu itu. Mending aku diam aja, puas?" imbuh Maya.

Clara mengepalkan tangannya saat mendengarnya. Pipinya serasa tertusuk dinginnya angin malam.

Dia hanya tersenyum pahit, tak ingin lagi mendengarnya lebih lanjut. Dia lantas berbalik hendak pergi.

Namun, baru saja ingin pergi, Maya tiba-tiba teringat sesuatu lalu berkata, "Oh iya, dengar-dengar, Clara ngajuin pengunduran diri, memang benar?"

"Kemarin lusa, dia buat kesalahan sampai Rio marah. Aku minta Rio untuk memecatnya sesuai aturan perusahaan," jawab Edward.

Maya pun tertawa mendengarnya, lalu mencibir, "Begitu rupanya. Waktu dia ngomongin masalah ini, dia terlihat seakan dirinya sendiri yang ajukan pengunduran diri. Sudah kuduga, cewek sepertinya yang selalu ingin dekat denganmu, mana mungkin rela pengunduran diri atas permintaan sendiri. Ternyata dia dipecat toh. Hahaha."

Edward hanya terdiam, seolah masalah itu tidak ada hubungan dengan dirinya.

Saat hendak ke atas kembali ke kamarnya, Clara hampir menabrak Dustin yang akan turun ke bawah.

Mereka berdua pun terkejut.

Setelah menyadari apa yang terjadi, Dustin langsung meminta maaf dan bertanya dengan khawatir, "Apa Kakak baik-baik saja?"

Selain nenek, Dustin satu-satunya di Keluarga Anggasta yang memperlakukannya dengan baik.

Clara menggelengkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum, "Nggak apa -apa."

Saat Clara dan Edward menikah, Dustin terbilang masih muda. Ada banyak hal yang tidak diketahuinya dengan jelas.

Setelah mengenal selama bertahun-tahun, dia selalu menganggap Clara sosok yang cantik dan lembut. Clara tidak pernah memulai pertengkaran dengan kakaknya. Wanita itu justru sangat pengertian.

Jika calon istrinya nanti seperti Clara, dia pasti akan memperlakukannya dengan baik.

Karena alasan itulah, meski setelah dewasa ini mengetahui keseluruhan cerita, dia tetap menyukai Clara.

Dustin melihat kesedihan di wajah Clara. Besar kemungkinan pasti ada hubungannya dengan Edward. Dia tampak menggaruk kepalanya dengan canggung, lalu dengan tulus berkata, " Kak. Kakak itu baik banget. Kak Edward pasti akan menyadarinya nanti. Jangan terlalu sedih, ya."

Clara terdiam sejenak. Dia tidak ingin menjelaskan tentang perceraian mereka pada Dustin.

"Ya, makasih Dustin," jawab Clara sambil tersenyum.

"Aku mau ke bawah ambil minum. Lebih baik Kakak istirahat, udah malam banget ini," imbuh Dustin.

Clara kembali tersenyum lalu berkata, "Baiklah, kalau gitu selamat malam."

Sesampainya di kamar, Clara mematikan lampu utama dan menyalakan lampu dinding yang sedikit redup bersiap untuk tidur.

Baru saja merebahkan badannya di atas kasur, terdengar suara Edward memasuki kamar utama.

Clara pun kembali membuka matanya.

Edward lantas menatapnya. Keduanya saling menatap satu sama lain.

Clara hanya menatapnya

Dulu, Clara tentu akan langsung bangun dan membantu melepaskan jas Edward. Persoalan jas sudah selesai, dia lanjut mencarikan piyama untuk pria itu dan pergi ke kamar mandi menyiapkan air hangat.

Namun kini, dia tak ada niatan untuk turun dari ranjang. Dia justru kembali menutup matanya secara perlahan.

Edward memang tidak peduli pada Clara dan segala bentuk perhatian Clara padanya.

Tetapi, sikap Clara kali ini sangat jauh berbeda dari biasanya. Edward merasakan sikap dingin Clara padanya dengan jelas.

Hal itu membuatnya sedikit terkejut.

Hanya saja, dia mengira Clara hanya melampiaskan amarah sesaat. Jadi dia tidak menganggap serius hal ini.

Edward tak ingin tahu alasan kenapa suasana hati Clara memburuk. Dia hanya berkata dengan nada dingin, " Semua urusan sekolah Elsa sudah beres. Besok pagi kamu antar Elsa ke sekolah."

"Ya," jawab Clara singkat.

Edward tak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan pergi ke ruang ganti mencari pakaian lalu bersiap mandi.

Begitulah sikap Edward pada Clara.

Saat melihat punggung Edward, Clara teringat akan perceraian mereka. Dia pun ingin bertanya kapan bisa mendapatkan akta cerai.

Namun, ada banyak hal yang harus Edward kerjakan. Dengan wataknya itu, dia akan langsung menghubungi Clara jika semua sudah beres tanpa didesak sekalipun.

Bagaimanapun, Edward yang lebih menginginkan perceraian itu daripada dirinya.

Dan karena itulah, selama setengah bulan ini, Clara hanya menunggu kabar dari dari pria itu dalam diam, tanpa mendesaknya.

Tepat pada saat ini, ponsel Edward berdering.

"Halo," jawab Edward lembut.

Clara mengamati cara Edward menjawab telepon itu. Kata "halo" yang keluar dari mulut pria itu jauh berbeda saat berbicara dengannya.

Nada bicara Edward penuh dengan kelembutan.

Di pikiran Clara, hanya ada satu orang yang bisa membuat edward seperti itu.

Pagi harinya, sekitar pukul setengah tujuh lebih, Clara sudah terbangun. Yah, hari ini dia harus mengantar Elsa ke sekolah.

Di dalam kamar hanya ada dia seorang diri. Tampaknya Edward memang tidak kembali semalam.

Clara tak lagi memedulikannya.

Raut wajah Clara tampak normal seperti biasa. Dia melihat jam dan menyadari Elsa masih belum terbangun dari mimpi indahnya. Dia pun pergi untuk membangunkannya.

Kamar Elsa masih dalam keadaan terkunci. Dia terpaksa mengetuk pintu.

Setelah beberapa saat, barulah Elsa terbangun dan membuka pintu.

"Mama. Keras banget ketuk pintunya. Pusing dengarnya." omel Elsa mengerutkan bibirnya tampak kesal saat melihat Clara.

Semalam, Elsa menceritakan

semuanya pada Tante Vanessa. Tante Vanessa lantas menghiburnya dan bilang memang itu adalah kewajiban ibunya mengantar ke sekolah.

Namun, suara Tante Vanessa di telepon terdengar sangat kecewa saat mendengarnya.

Hal itu membuat Elsa merasa bersalah dan bermimpi buruk beberapa kali.

Dan sekarang, ibunya justru inembangunkannya pagi sekali. Suasana hatinya pun semakin memburuk.

"Jarak dari sini ke sekolah jauh, kalau kamu nggak bangun, bisa terlambat nanti ke sekolah," ucap Clara lembut meski tahu Elsa sedang marah padanya.

Elsa sebenarnya tidak ingin pergi ke sekolah karena bukan Vanessa yang mengantar.

Dia hanya mengeluh tanpa mengatakan apa pun.

Meski memiliki watak yang keras, dia tahu akan tanggung jawabnya pergi ke sekolah.

Dia berbaring di atas ranjang dan berkata dengan cemberut, "Ya, aku tahu."

Setelah berbaring tanpa melakukan apa -apa, dia lantas menatap Clara, berkata, "Ma, bantu aku tekan odolnya."

"Ya," jawab Clara.

Clara pergi ke kamar mandi.

Elsa mengambil ponselnya baru kemudian masuk ke kamar mandi setelah mengirim pesan [Selamat pagi I pada Vanessa. Dia mulai menggosok giginya.

Setelah hampir selesai menggosok gigi, Clara menghangatkan handuk dengan air panas dan memerasnya, baru kemudian dia beri pada Elsa untuk menyeka wajah.

"Mau pakai baju yang mana?" tanya Clara saat membuka lemari pakaian Elsa.

"Biar aku saja, Ma. Mama keluar aja dulu," jawab Elsa.

"Baiklah," sahut Clara sambil menutup pintu lemari.

Begitu Clara keluar, Elsa mengeluarkan pakaian yang dibawanya kemarin dari rumah dan langsung memakainya.

Seragam kamuflase motif layaknya tentara yang super keren. Tante Vanessa yang memilihnya kemarin.

Elsa ingin memakai seragam itu hari ini untuk menyemangati Tante Vanessa!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!