"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Rahasia di Balik Cahaya Taman Sari
Sebelum benar-benar meninggalkan Yogyakarta, Baskara memenuhi janji membawa Arini ke Taman Sari. Situs bekas pemandian raja-raja itu tampak megah dengan tembok keputihan yang kontras dengan langit biru. Arini berjalan perlahan, tangannya terus digenggam oleh Baskara yang hari itu tampak santai dengan kacamata hitamnya.
"Aku cari oleh-oleh sebentar untuk Doni dan tim di Jakarta ya, Rin. Kamu tunggu di sini sebentar, jangan jauh-jauh," ucap Baskara sambil menunjuk sebuah kios kerajinan di dekat pintu keluar.
Arini mengangguk. Ia memilih duduk di sebuah bangku batu di bawah pohon rindang. Mika, yang biasanya sibuk mengomentari turis asing, kali ini tampak diam. Ia duduk di samping Arini, memandangi kolam pemandian dengan tatapan kosong yang sulit diartikan.
"Kenapa diam saja, Mika? Biasanya kamu hobi protes soal panas," goda Arini.
"Entahlah, Rin. Tempat ini... rasanya familiar. Tapi aku nggak ingat apa-apa," gumam Mika pelan.
Tiba-tiba, seorang kakek tua berpakaian lurik dengan caping yang sudah kusam mendekati Arini. Di tangannya, ia membawa nampan kayu berisi berbagai macam batu giok dan perhiasan antik. Matanya yang sayu namun tajam tiba-tiba tertuju tepat ke arah di mana Mika berada.
"Nduk, mreneo (Kesini, Nak)," panggil kakek itu dengan suara serak namun dalam.
Arini tersentak. Ia menoleh ke arah Baskara yang masih sibuk memilih barang, lalu kembali menatap kakek itu. Tanpa sadar, Arini mendekat. Kakek itu tiba-tiba meraih tangan Arini, jari-jarinya yang kasar memegang pergelangan tangan Arini dengan kuat.
Kakek itu tidak melihat barang dagangannya, melainkan menatap ruang kosong di samping Arini—tempat Mika berada.
"Diterke karo leluhurmu ya, Nduk? (Diikuti oleh leluhurmu ya, Nak?)" tanya kakek itu dalam bahasa Jawa yang kental.
Arini terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. Ia melirik Mika yang juga tampak terkejut hingga berdiri dari duduknya. "Leluhur? Maksud kakek... kakek bisa melihat dia?"
Kakek itu tersenyum tipis, memperlihatkan deretan gigi yang sudah tidak lengkap. Ia mengambil sebuah batu giok hijau pucat dan meletakkannya di telapak tangan Arini.
"Simbah ora mung weruh, Nduk. Simbah ngerti... (Kakek tidak hanya melihat, Nak. Kakek tahu...)" Kakek itu mengelus batu giok di tangan Arini. "Dheweke dudu sembarang hantu. Dheweke sing njogo getihmu. (Dia bukan sembarang hantu. Dia yang menjaga darahmu.)"
"Mika... leluhurku?" Arini bertanya dengan suara berbisik, seolah takut terdengar oleh wisatawan lain.
"Rin! Apa dia bilang?" Mika mendekat, wajahnya tampak bingung. "Aku? Leluhurmu? Tapi aku kan pakai cheongsam, Rin! Emang kamu ada keturunan China-Jawa?"
Kakek itu terkekeh pelan melihat reaksi Mika yang panik, meskipun ia tetap bersikap seolah tidak mendengar suara Mika. Ia kemudian melepaskan tangan Arini tepat saat Baskara berjalan mendekat membawa beberapa kantong belanjaan.
"Arini? Kamu bicara dengan siapa?" tanya Baskara.
"Eh, ini Bas... kakek ini menjual giok," Arini mencoba menutupi kegugupannya.
Baskara menatap kakek itu sebentar, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar batu giok yang ada di tangan Arini. "Sudah? Ayo, kita harus ke bandara sekarang."
Saat mereka mulai melangkah menjauh, Arini menoleh ke belakang sekali lagi. Kakek itu masih berdiri di tempat yang sama, ia memberikan gestur hormat yang sangat kuno ke arah Mika, lalu menghilang di balik kerumunan turis seolah-olah ditelan bumi.
"Bas, kakek tadi... dia bilang Mika itu leluhurku," bisik Arini setelah mereka berada di dalam mobil menuju Bandara YIA.
Baskara yang sedang fokus menyetir, terdiam sejenak. Ia melirik Arini, lalu menggenggam tangan istrinya. "Leluhur? Mika yang centil itu?"
"Iya. Tapi Mika juga bingung," sahut Arini.
Baskara menghela napas, ia membawa tangan Arini ke bibirnya. "Apapun dia, mau leluhur atau hanya hantu nyasar, selama dia menjagamu, aku akan mentoleransinya. Tapi jika benar dia leluhurmu, artinya tanggung jawabku untuk menjagamu jadi dua kali lipat lebih berat karena dia pasti akan selalu mengawasiku."
Mika yang duduk di kursi belakang mendadak diam, ia menatap bayangannya di kaca mobil. "Leluhur ya? Pantesan aku nempel banget sama kamu, Rin. Tapi kenapa aku nggak ingat masa laluku sendiri?"
Perjalanan pulang ke Jakarta sore itu diselimuti oleh pertanyaan besar. Jika Mika benar-benar leluhur Arini, rahasia apa yang sebenarnya tersimpan dalam garis keturunan Arini? Dan kenapa Mika harus hadir kembali di kehidupan Arini melalui cara yang begitu tragis?
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣