NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Cowok yang katanya pacar Anela itu mengangkat tangan tinggi-tinggi, seperti menyerah, berharap dua cewek di depannya tetap tenang.

"Tolong jangan teriak. Gw bukan orang jahat."

"Jadi kamu emang pacar Anela? kamu yang sering masuk lewat pagar?" tuduh Kimi, matanya membulat curiga.

"Gw baru dua kali ke sini. Tolong jangan panggil siapa-siapa."

"Bohong! Kamu pasti udah sering ke sini!" Kimi ngotot.

Juli menepuk bahunya pelan. "Kim, mungkin yang selebihnya itu gue, bukan dia."

Kimi berkedip bingung, baru sadar kalau Juli memang sering keluar tengah malam. Tapi sebelum sempat protes, suara langkah kaki terdengar makin dekat. Ruby muncul bersama beberapa staf keamanan.

Juli dan Kimi langsung menarik napas lega, sampai detik berikutnya cowok itu meloncat lewat jendela dan entah bagaimana berhasil menarik kimi jadi tameng hidup.

"EH?!" Kimi kaget setengah mati, apalagi saat merasakan sesuatu menempel di lehernya.

"Ini pisau?! Bukan kan?! katanya kamu bukan orang jahat! Cowok sekarang kenapa sih suka bohong? Abang aja sering bohongin aku!" cerocos Kimi panik, keringat dinginnya langsung mengucur.

"Kim! Tenang! Jangan panik!" seru Juli cemas. Ia menatap si cowok dengan gaya sok gagah. "Lo! Gw gak tau nama lo, tapi sini lo maju! Gini-gini gw mantan paskibra, ngerti?! Paskibra!"

Ruby yang sempat bersiap menyerang, cuma bisa mengusap wajah frustasi.

Pak Deden maju dengan langkah heroik. "Lepaskan anak itu! Dia tidak bersalah. Kalau mau, sandera saya saja!"

Ruby langsung mendesah panjang. Dia tahu sesuatu yang orang lain mungkin tidak sadar: yang ditempelkan ke leher Kimi itu bukan pisau, tapi penanda buku. Iya. Penanda buku.

Cowok itu bicara cepat dengan suara gemetar. "Gw cuma mau keluar dari sini! Gak niat macem-macem! Tolong balikin aja tangga gw!"

"Tangga itu aman bersama kami," kata Pak Deden penuh wibawa.

Ruby akhirnya maju, nada suaranya tenang tapi mengancam.

"Denger ya. Lo udah masuk area terlarang. Artinya nama lo udah di tangan Charley. Walau keluar, lo gak bakal tenang. Jadi lepasin Kimi, sebelum bapak-bapak di belakang ini mulai beringas."

Cowok itu menelan ludah. Tatapan Ruby bikin lututnya lemas. Perlahan tangannya menjauh dari leher Kimi, lalu terkulai.

"Kim, sini," panggil Ruby sambil mengulurkan tangan.

Begitu melihat tangan itu, Kimi langsung berlari dan-seperti tadi-nyungsep ke pelukan Ruby.

Cowok itu pasrah saat tim keamanan membekuk dan menyeretnya. Sebelum pergi, Pak Deden menatap ketiganya dengan aura kebapakan tapi nyaris putus asa.

" Sudah, kalian bertiga balik ke asrama. Sebelum saya beneran pensiun dini."

~

Sampai di kamar, Juli langsung menutup pintu dan menatap Ruby tajam, Nada suaranya pelan tapi menekan, takut Anela di kamar sebelah dengar.

"Gw yakin banget tuh cowok nyari Anela. Mustahil lo gak tau, "

Ruby menggeleng santai. "Gw beneran gak tau. Nela gak pernah cerita apa-apa."

"Tapi kamu tau kalau Anela punya pacar?" tanya Kimi yang jelas-jelas sudah tak sabar mau ikut nimbrung.

Ruby cuma mengangguk pendek.

Juli melongo. "Lah terus kalau Anela udah punya cowok, kenapa malah pacaran sama lo? Main dua?"

Ruby ngusap leher. "Cowok itu cuma tameng. Biar orang gak curiga aja."

"Tameng? Berarti Anela emang belok juga dong?"

Ruby cuma ngangkat alis, no comment. Tapi Kimi menatap Ruby lekat-lekat, wajahnya berubah serius.

"Kamu beneran pacaran gak sih sama Anela?" tanyanya akhirnya.

"Enggak," jawab Ruby enteng.

Kimi dan Juli langsung mendelik.

"Kalau nggak, kenapa selama ini kamu menghindar mulu tiap ditanya?" Kimi langsung berdiri, tangannya nyangkut di pinggang.

"Gw emang sengaja biarin orang salah paham. Daripada dikira nyari mangsa, mending dikira pacaran. Lo tau sendiri gimana mulut orang-orang di sini."

Juli manggut- manggut setuju. "Masuk akal juga sih,"

"Tapi soal ciuman di gudang?" tanya Kimi lagi.

"Itu bukan ciuman."

"Jelasin, "

Ruby menatapnya datar. "Kenapa gw harus-"

"Jelasin yang bener, Ubyyyy!" Kimi mulai gemes, badannya. Maju, nyaris nyosor.

Ruby refleks mundur. "Iya-iya, santai. Waktu itu gw lagi ngecek gudang, dia ngikut. Ternyata dia alergi debu, terus gosok-gosok idung sampe mimisan, Gw cuma liat aja kali ada luka."

"Ohhh." Juli langsung paham seketika. "Berarti kalau diliat dari belakang, posisinya kayak gini-" Ia langsung menarik Kimi dan menyuruhnya berdiri membelakangi Ruby. Dari sudut pandang itu memang kelihatan mencurigakan.

Ruby mendengus dan menarik kaos Juli. "Udah. Gw juga paham."

"Bener kan? Dari belakang kayak orang ciuman kan?" Juli ngakak sendiri.

"Bohong, By. Dia beneran cium aku tadi," adu Kimi tanpa dosa.

Juli langsung menoleh dengan ekspresi WHAT?! "Ngaco banget. Ya kali gw nyosor lo."

"Tapi tadi nempel kan?" Kimi menunjuk bibirnya.

"Kalau Uby gak tarik kamu, pasti udah lanjut deh itu."

"Terus lo diem aja? Doyan lo?" Ruby sebal sendiri. Ia langsung berdiri. "Udah ah, gw balik. Udah jam tiga."

Kimi dan Juli cuma bisa melongo melihat Ruby keluar.

Setelah pintu tertutup, Juli langsung menoleh ke Kimi.

"Itu tadi cemburu bukan sih? Apa perasaan gw aja?"

Kimi senyum-senyum sendiri. "Gak tau deh."

Juli menatapnya curiga, "Kim, lo suka ya sama Ruby?"

"Punya pacar cakep kayak Uby gak rugi juga kan?"

"Kim, sumpah. Pikirin dulu-"

"Sstt," Kimi mengibaskan tangan, lalu menguap. "Tidur yuk."

Juli mendengus, akhirnya ikut rebahan meski ia tak tahu kalau kimi masih senyum-senyum serem di balik selimut.

**

**

Keesokan harinya semua berjalan normal, sampai beranjak sore tiba-tiba ledakan gosip mengguncang asrama. Entah dari mana asalnya, tapi Septi dan Okta berhasil menyebarkan kabar soal kejadian semalam, Gosip makin panas begitu terdengar Anela dipanggil staf keamanan dan dibawa pergi.

Yang mereka tidak tahu, tiga orang yang sebenarnya terlibat malah duduk manis pura pura polos, Kimi, Juli, dan Ruby.

Waktu makan malam tiba, Suasana masih berdengung. Begitu Anela muncul di pintu ruang makan, semua kepala serentak menoleh.

Janu yang duduk menghadap pintu langsung refleks berdiri.

"Woy, Nela! Sini lo! Jangan sok polos deh," serunya lantang.

Yang lain mulai ikut ribut. Suara sendok dan gosip berganti jadi kerumunan murka. Ruby ikut berdiri, tapi belum sempat buka mulut, Clarissa muncul dari belakang Anela. Sebagai pembimbing psikologis, spiritual, dan keharmonisan, ia tahu keributan besar akan meledak.

"Semua makan dulu dengan tenang. Kita bicarakan nanti. Paham?" katanya tegas.

Ia menoleh ke Anela. "Kamu juga makan dulu. Jangan sampai masalah bikin kamu lupa isi perut."

Anela hanya mengangguk, mengambil makan malamnya tanpa bicara. Ia duduk tepat di depan Ruby, tapi tak sepatah kata pun keluar. Clarissa duduk di dekat mereka, memastikan tak ada drama dadakan.

Begitu makan selesai, seluruh peserta dikumpulkan di ruang santai. Clarissa berdiri di depan, menatap wajah-wajah kesal di depannya. Akhirnya Marey maju duluan, wajahnya merah padam.

"Nela, jelasin deh, Gimana pacar lo bisa nyasar ke sini?! Lo sadar gak, satu asrama hampir jantungan gara-gara itu?!"

"Bener!" timpal Apri, "Gw gak peduli siapa pacar lo, tapi lo harusnya bisa ngatur dong."

"Jangan cuma bilang 'maaf' doang ya, sumpah gw tampol lo," tambah Janu sambil menggebrak meja di depannya.

Clarissa menegakkan bahu, menatap mereka satu-satu. "Hei. Tenang. Kalian sudah dewasa, bukan begini caranya. Kita dengar penjelasannya dulu. Duduk semuanya."

Suasana langsung reda beberapa derajat. Semua kembali duduk, walau mata mereka masih tajam.

Anela menghela napas pelan, lalu mulai bicara dengan suara datar tapi tetap tenang.

"Dua minggu setelah pelatihan dimulai, aku udah putusin dia. Tapi dia gak terima, dan gak ada cara buat hubungi aku lagi. Makanya dia nekat datang ke sini."

"Terus masuk ke asrama ngapain? Mau ngintipin semua kamar biar tau yang mana punya lo?" potong Janu, yang entah kenapa paling emosional dari semua.

Anela menggeleng. "Dia sempat masuk waktu kita semua di kelas, cuma ninggalin pesan buat ketemuan di perpus malam senin. Dia tahu kamarku karena waktu itu dia yang bantu bawain barang di rumah,"

"Gila, berarti dia beneran sempat keliling kamar kita dong?" 0kta langsung ngeri sendiri.

Masuk akal. Barang-barang mereka memang masih di kamar atas. Pindah ke bawah cuma buat tidur, bukan pindah total.

"Aku minta maaf soal itu," lanjut Anela. "Kupikir dia gak bakal berani datang lagi setelah ada patroli. Aku gak yangka kalau semalam dia beneran nekat."

Ruangan hening beberapa detik. Semua mulai sadar, situasi ini lebih kompleks dari sekadar drama asmara.

"Menurut gw sih, dia gak terima alasan lo mutusin dia," celetuk Juni dengan nada nyinyir.

Agus menambahkan, "Ya iyalah, Siapa jga yang bisa terima kalo tiba-tiba diputusin gara-gara.. berubah haluan."

Beberapa orang langsung terkekeh geli, yang lain malah bereaksi jijik.

Clarissa menangkap semua reaksi itu. Selama ini ia bukan tidak tahu kalau Ruby dan Anela tidak berbaur, tapi saat dipanggil, mereka bilang ingin fokus dengan pelatihan saja. Selama tidak ada masalah, Clarissa pikir masih bisa dimaklumi.

"Sekarang sudah jelas ya," suara Clarissa. terdengar lembut tapi tegas. "Kalian semua pernah punya hubungan kan? Putus itu hal biasa. Yang tidak biasa adalah cara kalian menyikapinya."

.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!