NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Action / CEO / Tamat
Popularitas:26.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: PENGKHIANATAN YANG TAK TERMAAFKAN

#

Pagi itu, Minggu. Dyon bangun di gubuk lama dengan badan pegal. Kasur tipis yang lembab bikin punggungnya sakit. Tapi dia bangun juga, cuci muka di kamar mandi umum yang masih sama kotornya.

Rencananya hari ini dia mau balik ke kota sebelah. Naik bus jam sepuluh. Masih ada waktu beberapa jam.

Keluar gubuk, mau beli sarapan di warung Bu Siti. Tapi baru beberapa langkah, dia denger suara.

"Dyon!"

Suara familiar. Suara yang... yang dulu sering ngobrol bareng dia. Ketawa bareng. Main bareng.

Suara Sulaiman.

Dyon berhenti. Nggak nengok. Berdiri di tempat aja.

Sulaiman lari, mendekat. Napas ngos-ngosan. "Dyon... beneran lo? Lo... lo balik?"

Dyon nengok pelan. Liat Sulaiman yang berdiri di depannya. Masih rapi. Masih pake baju branded. Masih... kaya.

"Iya," jawab Dyon singkat. "Tapi bentar doang. Gue bakal balik lagi nanti."

Sulaiman diam. Mata menatap Dyon lama. Ada sesuatu di matanya. Penyesalan? Rasa bersalah?

"Dyon, gue... gue denger lo udah di kota sebelah. Kerja sambil sekolah," kata Sulaiman pelan. "Gue... gue mau ngomong sama lo. Udah lama. Tapi... tapi gue nggak tau lo dimana."

"Emang lo mau ngomong apa?" tanya Dyon datar. Nggak ada emosi di suaranya.

Sulaiman ngeliatin sekeliling. Jalanan mulai rame, orang-orang pada lewat. "Bisa... bisa kita ngomong di tempat yang lebih sepi?"

Dyon diam sebentar. Terus angguk. "Oke."

Mereka jalan ke taman kecil deket situ. Taman yang dulu sering jadi tempat mereka main waktu SD. Ayunan kayu yang udah lapuk. Perosotan berkarat.

Duduk di bangku kayu yang catnya udah ngelupas. Jarak lumayan jauh, nggak bersebelahan.

Hening.

Sulaiman yang buka suara duluan. "Dyon... gue... gue mau minta maaf."

Dyon nggak jawab. Cuma ngeliatin ayunan yang bergoyang pelan kena angin.

"Gue... gue tau gue salah," lanjut Sulaiman. Suaranya gemetar. "Gue... gue khianat sama lo. Gue yang harusnya jadi sahabat lo, malah... malah jadi orang yang nyiksa lo. Gue... gue meludahi lo. Gue... gue nendang lo. Gue bilang lo sampah."

Air mata mulai keluar dari mata Sulaiman. "Gue... gue nggak punya alasan. Gue cuma... gue takut jadi miskin lagi. Takut jadi kayak dulu. Dan waktu keluarga gue kaya, gue... gue jadi sombong. Gue lupa sama orang-orang yang dulu ada buat gue."

Dyon masih diam. Tangan ngepal di atas paha.

"Maafin gue, Dyon," Sulaiman berdiri, jalan ke depan Dyon. Terus... berlutut.

Berlutut di tanah.

Di depan Dyon.

"Kumohon... maafin gue," tangisnya pecah. "Gue... gue nyesel. Nyesel banget. Gue... gue kehilangan sahabat terbaik gue gara-gara gue bodoh. Gara-gara gue egois."

Dyon ngeliatin Sulaiman yang berlutut di depannya. Nangis keras. Jidat sampe nyentuh tanah.

*Dulu... dulu gue yang disuruh sujud sama dia. Sekarang... dia yang sujud ke gue.*

Tapi... kenapa nggak ada kepuasan?

Kenapa... cuma ada rasa kosong?

"Bangun," kata Dyon pelan.

Sulaiman nengadah. Mata merah, basah. "Lo... lo maafin gue?"

"Bangun dulu."

Sulaiman berdiri, pelan. Badan gemetar.

Dyon juga berdiri. Tatap mata Sulaiman, dalam, tajam.

"Lo inget nggak," kata Dyon pelan, tapi setiap kata kayak pisau, "waktu orang tua gue meninggal, lo yang peluk gue sampe pagi? Lo yang bilang 'gue akan selalu ada buat lo, Yon. Apapun yang terjadi'?"

Sulaiman ngangguk, nangis makin keras. "Gue... gue inget."

"Lo inget nggak," lanjut Dyon, suaranya mulai naik, "waktu gue kelaparan, lo yang bagi nasi bungkus lo? Waktu gue di-bully anak-anak lain, lo yang bela gue?"

"Gue inget semuanya!" Sulaiman teriak. "Gue inget! Dan makanya gue... gue nyesel! Gue mau balik jadi sahabat lo lagi! Gue..."

"Terlambat," potong Dyon. Dingin.

Sulaiman terdiam.

"Lo... lo udah mati di mata gue, Sulaiman," kata Dyon. Matanya berkaca-kaca tapi nggak nangis. "Sahabat gue yang dulu... yang gue sayang... udah mati waktu lo ludahin gue di depan orang banyak. Waktu lo nendang gue di gudang. Waktu lo ketawa bareng Arman dan Edward."

"Tapi... tapi gue nyesal sekarang!" Sulaiman mohon. "Gue... gue bisa berubah! Gue bisa jadi kayak dulu lagi! Kumohon, Dyon... kumohon jangan pergi lagi! Sekolah lagi di sini! Kita... kita bisa jadi sahabat lagi!"

Dyon geleng pelan. "Pengkhianatan nggak bisa dimaafkan semudah itu, Sulaiman. Kepercayaan... kepercayaan itu kayak kaca. Sekali pecah... nggak bisa utuh lagi."

"Tapi gue mau coba rapihin pecahannya!" Sulaiman nangis makin keras, pegang lengan Dyon. "Kumohon! Kasih gue kesempatan! Gue... gue akan buktiin! Gue akan jadi sahabat yang baik lagi! Gue..."

"Lepasin," kata Dyon, suara rendah tapi tegas.

Sulaiman lepasin tangannya, lemas.

"Gue... gue nggak bisa maafin lo," Dyon bisik. "Mungkin suatu hari... mungkin. Tapi nggak sekarang. Luka yang lo kasih... terlalu dalam."

Dyon jalan, mau pergi.

"DYON!" Sulaiman teriak. "Kumohon! Jangan pergi lagi! Balik sekolah di sini! Kita... kita bisa mulai dari awal lagi!"

Dyon berhenti. Nggak nengok.

"Gue... gue lagi mikir," kata Dyon pelan. "Mau balik ke kota sebelah atau... atau sekolah di sini lagi. Tapi kalau gue balik ke sini... bukan buat lo. Bukan buat siapa-siapa. Cuma... cuma buat diri gue sendiri."

"Aku nggak minta lo balik buat gue," Sulaiman bisik. "Aku cuma... aku cuma pengen lo tau... kalau gue nyesel. Dan... dan kalau suatu hari lo butuh temen... gue... gue akan di sini."

Dyon jalan lagi. Ninggalin Sulaiman yang jatuh berlutut lagi di taman. Nangis sendirian.

Jalan balik ke gubuk, Dyon ngerasa dadanya sesak. Pikirannya kacau.

*Balik ke kota sebelah... atau sekolah di sini?*

Di kota sebelah, dia aman. Nggak ada yang kenal. Nggak ada masa lalu yang nyakitin. Dia bisa fokus kerja, sekolah, nabung.

Tapi... di sini ada Ismi.

Meskipun dia nggak bisa ketemu dia. Meskipun dia belum layak.

Tapi... rasanya lebih deket.

*Gimana... gimana aku harus milih?*

Sampai gubuk, dia duduk di kasur. Pegang hape butut. Liat foto Ismi.

"Ismi... apa yang harus aku lakuin?"

Foto diam. Cuma senyum manis yang nggak bisa jawab.

Dyon tidur lagi, meskipun udah pagi. Capek. Bukan capek fisik. Tapi capek... mental.

Capek mikir.

Capek ngerasain sakit.

Capek... sendirian.

***

BERSAMBUNG

***

1
ceuceu
Entah kenapa liat cara ismi kabur trs ketemu dyon ga respect/Grin/
ceuceu
Dyon masa bahasanya gue ke ismi,harusnya yg sopan aku kamu.
ceuceu
kenapa ngomongnya pada gagap apa gugup thor...tiap bab bicara pengulangan kata gugup tp terkesan gagap.
biasa aj jgn keseringan thor
ceuceu: sama" thor,semoga kedepan nya makin baik makin sukses novelnya
total 4 replies
ceuceu
Arman hukum tabur tuai nikmati lah
ceuceu
Gila aj sih ada anak sekolah ampe nyiksa di diemin
ceuceu
ada jg manusia yg punya nurani di sekolah ini
ceuceu
Yang sampah itu murid guru kepala sekolah,ada murid di bully pada diem/Skull/
aa ge _ Andri Author Geje: biasa koneksi kekayaan kak..
total 1 replies
Edy Putra Sasak
ajiz gaggap😄😄😄
aa ge _ Andri Author Geje: 🤣hahaha
total 1 replies
LING
fix penulis GAGAP
LING
kalimat bnyak diulang setan penulis kaya orang gagap
Riki DuaTujuh
👍👍👍👍
Was pray
masalah dyon gak kelar2, kapan tentramnya?
aa ge _ Andri Author Geje: ya begitulah gambar kehidupan
total 2 replies
Was pray
apa gunanya sukses kalau hati nurani lenyap tergerus ambisi, buat apa punya prestasi kalau menggadaikan hati
Was pray
dyon masih harus banyak belajar dan perbanyak usaha, terutama soal keuangan
checangel_
10 M setahun hanya untuk iklan, di koran?🤧
checangel_: /Silent/
total 2 replies
checangel_
Janji ... /Hey/
checangel_
Iya begitu Dyon, tapi terkadang utang itu terlalu berat untuk disanggah
checangel_
Boleh jujur nggak ... ruang operasi yang sebenarnya tak sedramatis di drama atau cerita /Sob/
checangel_
Ke bagian BPJS coba, pasti di setiap rumah sakit ada kantor pelayanan BPJSnya 🤧
checangel_
Kebencian itu adalah kerusakan awal dari hati, siapa pun yang mendekapnya, tak akan pernah tenang perasaannya, so happy always ya, "jangan ada benci di antara kita" gitu maksudnya 🤝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!