NovelToon NovelToon
Transmigrasi Petarung Ke Istri Yang Tidak Dianggap

Transmigrasi Petarung Ke Istri Yang Tidak Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Xaviena Avanzi seorang petarung bebas di Mexico tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Hidup seorang diri membuat Xaviena hanya peduli dengan dirinya saja. Tidak pernah berusaha mengetahui dunia luar, dan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai petarung. Xaviena tertidur panjang karena diracuni oleh seorang pria yang tidak terima dikalahkan oleh gadis itu.

Saat membuka mata, dia terkejut karna terbangun di tubuh seorang wanita asal Spanyol yang sudah menikah. Bukan pernikahan yang bahagia tapi pernikahan yang hanya membawa kesakitan dan penolakan untuk sang wanita. Xaviera bertekat untuk membalas semua kesakitan dan perbuatan suaminya.
Bagaimana jika jiwa Xaviena, si petarung bebas yang bodoh amat, masuk ke dalam tubuh Xaviera, si istri yang sangat mencintai suaminya?
Dan apa yang terjadi pada tubuh Xaviena? ikuti kisah mereka.

Ayo mampir, dijamin ga bikin bosen!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter twenty six

Suasana temaram di sudut paviliun yang semula sunyi mendadak memanas karena ketegangan yang berbeda. Axel menyentak pergelangan tangannya dengan kasar, berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Xander. Ia berdiri, berbalik menatap pria itu dengan dada yang naik-turun menahan emosi yang sudah memuncak sejak siang tadi.

"Cukup ya, Kak! Aku benar-benar muak!" bentak Axel, suaranya bergetar karena amarah. "Dari kemarin kamu selalu begini. Atur ini, atur itu, tidak boleh ini, tidak boleh itu! Kamu pikir kamu siapa, hah? Mengontrol seluruh hidupku seolah aku ini barang pajangan milik Keluarga Vargas!"

Xander tetap duduk tenang di sofanya. Ia melepas kacamata bacanya perlahan, meletakkannya di atas meja tanpa menimbulkan suara.

Namun, sepasang matanya yang menatap Axel kini menggelap sempurna, memancarkan aura dingin yang teramat pekat.

"Aku cuma mau pergi ke depan sebentar, dan kamu langsung mengintimidasi seperti aku melakukan kejahatan besar!" lanjut Axel, air mata frustrasi hampir menggenang di sudut mata indahnya.

"Kalau kamu cuma mau punya orang yang bisa kamu perintah seumur hidup, cari orang lain, Kak Xander! Jangan aku!"

Begitu kata "orang lain" lolos dari bibir Axel, ketenangan Xander runtuh seketika.

Pria itu berdiri. Dengan kecepatan dan kekuatan yang tak bisa dihalau, Xander melangkah maju, mencengkeram pinggang Axel, dan mendorong tubuh ramping itu hingga tersudut rapat pada pilar paviliun yang dingin.

"Lepas—" Cup.

Xander tidak membiarkan Axel menyelesaikan kalimatnya. Ia langsung membungkam bibir Axel dengan ciuman yang luar biasa menuntut, kasar karena didorong rasa cemburu dan posesif yang meledak, namun juga sarat akan keputusasaan yang mendalam.

Lidah Xander menerobos masuk dengan dominasi mutlak, mengunci dan meredam semua makian serta amarah Axel di dalam rongga mulutnya. Axel memukul dada bidang Xander dengan sisa tenaganya, mencoba memberontak, namun Xander justru mempererat kurungan tubuhnya, menyatukan raga mereka tanpa celah sedikit pun hingga napas mereka berbaur menjadi satu di bawah langit malam.

Ciuman itu berlangsung lama dan memabukkan, hingga pukulan di dada Xander perlahan melemah, berubah menjadi cengkeraman erat pada kemeja pria itu saat lutut Axel mulai lemas akibat kehabisan pasokan udara.

Ketika Xander akhirnya mengurai tautan bibir mereka, ia tidak menjauhkan wajahnya. Kening mereka saling bertumpu, dan napas berat Xander berembus panas di permukaan kulit Axel yang memerah sempurna. Tangan besar Xander beralih mencengkeram kedua sisi rahang Axel dengan lembut namun tegas, memaksa mata mereka untuk saling mengunci.

"Jangan pernah berani menyuruhku mencari orang lain, Axelian," bisik Xander, suaranya terdengar sangat rendah, parau, dan bergetar hebat—sebuah nada yang belum pernah Axel dengar sebelumnya dari si pria kaku ini.

"Kamu mau tahu aku ini siapa untukmu?" Xander menatap lurus ke dalam netra Axel, ego dan dinding esnya runtuh total malam ini. "Aku adalah pria yang gila setiap kali melihatmu tersenyum. Aku mengaturmu, menjagamu, karena aku tidak sanggup kehilanganmu bahkan untuk satu detik pun. Aku mencintaimu, Axel. Kamu milikku, dan tidak akan pernah ada orang lain selain kamu di hidupku."

Mendengar pengakuan yang begitu jujur, pekat, dan tanpa filter dari mulut seorang Xander, amarah Axel menguap begitu saja.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Wajahnya memerah padam bawah tatapan penuh damba dari pria di hadapannya.

Xander merunduk lagi, mengecup lembut bibir bawah Axel yang sedikit membengkak, lalu membisikkan penegasan akhir tepat di depan bilah bibir kekasihnya. "Jadi berhenti berteriak dan cobalah mengerti, kamu sudah terikat denganku seutuhnya, Sayang."

Axel terdiam, napasnya masih memburu di bawah kungkungan tubuh tegap Xander. Kemarahan yang tadi meluap-luap mendadak terkunci di tenggorokan, tergantikan oleh rasa hangat yang menjalar cepat ke seluruh dadanya setelah mendengar pengakuan tak terduga itu.

Xander tidak melepaskan tatapannya. Jemari besarnya perlahan turun dari rahang Axel, beralih mengusap pipi sang kekasih yang terasa panas karena rona merah yang pekat.

"Aku tahu kita baru bertemu, Axel. Aku tahu semua ini terasa terlalu cepat dan mendadak bagimu," bisik Xander lagi, suaranya melunak, menyisakan nada rendah yang teramat dalam dan jujur. "Tapi sejak pertama kali mataku melihatmu, aku tahu duniaku tidak akan pernah sama lagi.

Walaupun baru bertemu, hatiku sudah menjatuhkan pilihan. Aku sudah memilihmu, dan aku tidak punya niat sedikit pun untuk berbalik arah."

Axel menelan ludah, matanya yang jernih menatap lurus ke dalam netra gelap Xander, mencari kebohongan di sana namun yang ia temukan hanyalah kesungguhan yang mengunci jiwanya.

"Tapi kamu... kamu selalu mengaturku seperti ini... Aku tidak terbiasa, Kak..." lirih Axel, suaranya mencicit pelan, sifat tomboinya benar-benar runtuh.

Xander menghela napas pendek, keningnya kembali ditempelkan pada kening Axel, membiarkan napas mereka menyatu.

"Maafkan aku kalau caraku salah. Selama tiga puluh tahun hidupku, aku tidak pernah tahu cara menghadapi seorang wanita. Aku tidak pernah membiarkan perempuan mana pun masuk ke dalam hidupku atau berada sedekat ini denganku," ungkap

Xander jujur, membuka lembaran rahasia dirinya yang paling personal.

Ia menjeda sejenak, ibu jarinya bergerak lembut mengusap bibir Axel yang sedikit basah. "Kecuali dengan ibu yang melahirkanku, serta Xaviera dan Xaviena yang merupakan bagian dari keluarga kita, tidak ada perempuan lain, Axel. Hanya kamu. Kamu adalah pengecualian pertama dan terakhir dalam hidupku."

Mendengar penegasan itu, jantung Axel rasanya seperti melompat keluar dari tempatnya. Rasa cemburu atau ketakutan yang sempat mengganjal di hatinya menguap tak berbekas. Mengetahui bahwa dirinya adalah satu-satunya wanita yang berhasil meruntuhkan dinding es seorang sulung Vargas membuat pertahanan Axel lumpuh total.

"Jadi tolong, jangan pernah berpikir untuk pergi," gumam Xander posesif, sebelum kembali merunduk dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih lembut, lambat, namun sarat akan klaim cinta yang begitu pekat dan mengikat di bawah keheningan malam Peru.

Ciuman lembut namun sarat akan penegasan itu perlahan terurai. Xander tidak langsung menjauhkan tubuhnya; kedua lengan kekarnya justru melingkar semakin posesif di pinggang ramping Axel, mengunci tubuh gadis itu agar tetap menempel sempurna pada dada bidangnya.

Axel menyandarkan keningnya di bahu tegap Xander, menyembunyikan wajahnya yang sudah sewarna kepiting rebus. Napasnya masih pendek-pendek, dan tangannya kini meremas pelan kerah kemeja Xander, tidak lagi berniat untuk menjauh.

"Masih mau marah?" bisik Xander rendah, getaran suaranya terasa langsung di dada Axel. Ada sedikit nada lega yang terselip di balik suara beratnya yang biasanya datar.

"Pikir saja sendiri," gumam Axel ketus, namun suaranya terlalu lirih dan manja untuk disebut galak. Ia mendongak sedikit, menatap Xander dengan mata bulatnya yang masih agak berkaca-kaca. "Lagipula siapa yang tidak kesal kalau terus-menerus dikontrol? Aku hanya belum terbiasa dengan caramu, Kak."

Xander menatap dalam-dalam netra jernih di hadapannya. Ia merapikan beberapa helai rambut Axel yang berantakan ke belakang telinga dengan gerakan yang teramat lembut, kontras dengan auranya yang biasanya mengintimidasi.

"Aku tahu. Aku yang terlalu takut," aku Xander jujur, tanpa ada yang ditutupi lagi.

"Melihatmu begitu bebas, begitu mudah membuat orang lain tertawa... ada bagian dari diriku yang egois, yang ingin menyembunyikanmu hanya untuk mataku sendiri. Aku tidak terbiasa berbagi fokus, Axel. Apalagi jika itu menyangkut dirimu."

Axel tertegun. Mengetahui bahwa seorang Xander Vargas—pria yang paling disegani setelah ayahnya—bisa merasa tidak aman dan takut kehilangannya, membuat ego tomboi Axel meleleh sepenuhnya. Rasa hangat yang teramat manis menjalar di hatinya.

"Kulkas bodoh," lirih Axel, akhirnya sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang sedikit membengkak. Ia memberanikan diri melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Xander, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka. "Aku tidak akan ke mana-mana. Kan sudah kubilang... aku juga... sudah memilihmu."

Kata-kata terakhir Axel diucapkan dengan volume yang sangat kecil, hampir tenggelam oleh angin malam, namun pendengaran tajam Xander menangkapnya dengan sempurna. Kilat gairah yang pekat dan kepuasan maskulin seketika berkobar di sepasang netra gelap sang sulung Vargas.

Xander menyunggingkan senyuman miring yang teramat tampan, senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan pada dunia. Sebelum Axel sempat memprotes lagi, Xander kembali merunduk, memagut bibir manis kekasihnya dalam sebuah ciuman malam yang panjang, panas, dan penuh dengan janji keterikatan yang tak akan pernah bisa dilepaskan lagi.

1
Muft Smoker
kak terimakasih buat update an cerita ny ,,
duuuh kalo liat cara kerja mafia ,,
ngeri2 sedaaap🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
si kulkas raksasa udh ketemu pawang ny jugaa ,,
ayooooo qta lihaat masa2 Xander bucin ke axel 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
si dingin Jovan udh punya pawang ny yg luar biasa poloos 🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski gx detail kak ,, tp bikin readers senyum malu2 kak🤭🤭🤭🤭
Kadek Muliarti
foto kurang jelas kak
Muft Smoker
😁😁😁😁 semua org udh menemukan kebahagiaan ny masing2 ,, cuma ad yg sadar ,, Dan ad beberapa yg gx sadar🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
awwwww ,, axel ,, jgn bilang km melon makan melon 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
waaaah kakak skrang rajin up ,,
sayang byk2 ,, 🫰🫰🫰🫰🫰
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
aaaa sweet km mereka ,,
mafia juga manusia kn ,, bisa sakit ,, bisa manja ,, bisa Nangis juga ,, 🤭🤭🤭🤭 ,,

semoga kalian selalu bahagia ,, 😁😁
lanjuuuut kak ,,
Muft Smoker
hhuuuaaaaaa 😭😭😭😭😭 ,,
udh lama gx up eeh pas up si kk bawa bawaang banyaaak bangeet ,,

ayooo Xavi km harus kuat ,,
jgn pergi tinggalin Xaviera ,,



dtggu kelanjutan ny yx kak ,,
Muft Smoker: ooow panteees atuh ,, si kk gx up2 ,,
total 2 replies
Muft Smoker
aq suka cerita ny kak ,,
baguuus 😊😊😊😊
Muft Smoker
next kak ,,
cerita ny baguuus ,,
Muft Smoker
nma mereka hampir mirip ,, jd kdg suka bingung🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
astgaaa 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
ternyata keluarga Vargas kocak semua yx ,,
ide ny brilliant semua👍👍👍👍👍😁😁😁😁😁😁
Muft Smoker
hai kak aq mampir d cerita kk ,,
Muft Smoker
visualny cantik kak ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!