“Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum membawa laki-laki itu, untuk bertanggung jawab.”
Diana Rosemery Falika merasa hidupnya runtuh: diusir dari rumah karena kehamilan, dikhianati oleh laki-laki yang mengambil kehormatannya lalu menghilang tanpa jejak.
Di tengah kesedihannya, Aksatama Dikara hadir sebagai penopang—membantunya bangkit, dan perlahan membuat hatinya kembali percaya pada cinta.
Namun saat ia mulai berdamai dengan masa lalu, sosok yang menghilang itu kembali… Tibra Janari Sajana muncul membawa sebuah fakta mengenai transaksi rahasia yang berpotensi mengubah segalanya—fakta yang bisa menyeret Diana kembali pada luka yang sama.
Kini Diana harus memilih: menyambut masa lalu yang kembali menuntut tempat, atau menjauh demi melindungi hatinya sendiri.
Spin-off Rush Wedding. Lanjutan kisah Diana dan Tibra—dua hati dari dua kasta berbeda. Sebagian kisah awal mereka bisa ditemukan di novel pertama, namun buku ini dapat dinikmati secara terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muffin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu?
.......
.......
...🍓🍓🍓...
Awalnya, Tibra berniat meminta Raka untuk mendampinginya dalam sosialisasi pertama di Desa Sukojati. Namun, interaksi dua manusia di depannya justru menarik perhatiannya.
“Jadi, carikan yang watt-nya rendah saja agar tidak memberatkan. Dan kalau bisa, Man ...” Raka menjeda ucapannya sejenak, “jangan terlalu kentara kalau itu dari saya.”
Orang yang diberi perintah hanya mengangguk patuh. Tak lama setelahnya, mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman Kecamatan Sumberwangi.
Sementara itu, Tibra masih berdiri mematung. Ia menatap mobil dinas Raka yang perlahan menghilang, menyisakan debu yang beterbangan diembus angin sore.
Rangga, salah satu anggota timnya, mencoba menarik perhatian Tibra dengan melambaikan tangan. “Pak ...?” panggilnya.
“Pak Tibra?”
Pria itu tersentak. “Ya, kenapa, Ngga?”
“Mobil jemputan kita sudah datang. Pak Rajata sudah memesan penginapan untuk kita selama satu minggu,” lapor Rangga.
Tibra mengangguk perlahan. “Baik. Lebih baik kita istirahat dulu dan persiapkan segalanya untuk sosialisasi besok.”
Rangga dan Adit mengangguk, lalu mengikuti atasan mereka masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu.
Di dalam mobil, suasana terasa hening. Baik Rangga maupun Adit tidak ada yang berani membuka suara. Mereka merasa sungkan karena raut wajah Tibra terlihat sangat tidak kondusif. Mereka mengira sang atasan masih kesal atas ucapan Raka tadi—yang secara tersirat meragukan program mereka. Namun, nyatanya bukan itu yang membebani pikiran Tibra.
Beberapa menit mereka terjebak dalam kesunyian, hanya ditemani suara radio yang sesekali memutar lagu-lawas. Hingga akhirnya, suara rendah Tibra memecah keheningan.
“Menurut kalian ... berapa persen kemungkinan orang memiliki nama yang sama persis?”
Bohong jika nama yang baru saja ia dengar tidak mengganggu pikirannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tibra merasa begitu dekat dengan sesuatu yang ia cari. Harapan yang dulu sempat pupus seolah menjadi nyata kembali.
Rangga dan Adit yang mendadak ditanya hanya bisa saling pandang. Rangga berdeham kecil, mencoba merumuskan jawaban yang paling logis.
“Kalau secara statistik, kemungkinannya cukup besar, Pak,” jawab Rangga hati-hati. “Apalagi kalau namanya umum. Tapi kalau nama yang spesifik atau unik ... ya, mungkin di bawah satu persen.”
"Memangnya kenapa, Pak?" Tanya Adit penasaran.
"Nggak apa-apa. Saya hanya penasaran saja."
Tibra tidak ingin ditanya lebih jauh. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap deretan pepohonan yang berlalu cepat hingga mobil hitam itu perlahan memasuki area parkir hotel.
Setelah menyelesaikan urusan di meja resepsionis, Tibra menggenggam dua kunci kamar di tangannya.
“Ini kunci kamar kalian. Silakan istirahat karena besok kita harus berangkat pagi,” ucap Tibra memberi instruksi.
“Siap, Pak!” jawab Rangga dan Adit bersamaan.
Mereka pun berpisah di koridor karena nomor kamar mereka yang berjauhan. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Tibra langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Bruk.
Rasa lelah merayap ke seluruh tubuhnya. Perjalanan jauh yang langsung disambung dengan rapat panjang benar-benar menguras energi. Mengapa tidak ada yang memberitahunya dulu bahwa menjadi dewasa ternyata semelelahkan ini?
Namun, bukan hanya fisik yang lelah. Pikirannya terusik. Nama "Falika" itu—sangat mirip dengan nama belakang Diana. Wanitanya.
“Nggak mungkin itu kamu kan, Di? Nggak mungkin kamu melangkah sejauh ini?” gumamnya lirih pada langit-langit kamar yang bisu.
Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut pening. Perlahan, kelopak matanya terasa berat, hingga akhirnya kesadarannya luruh dan ia tertidur dalam keresahan.
Di saat yang hampir bersamaan, di rumah Mbok Sarmi, Diana terjaga. Tenggorokannya terasa kering dan mencekat. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air. Namun, saat jemarinya baru saja melingkar di badan gelas, pegangannya melicin.
PYAARRRR!!
Pecahan kaca itu berhamburan di atas lantai semen yang dingin. Air bening menggenang, meresap ke pori-pori lantai yang retak.
“Kok perasaanku nggak enak begini, ya?” gumamnya lirih.
Diana meremas dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang, seolah ada alarm yang berbunyi di dalam sana. Entah mengapa malam itu udara terasa begitu berat dan gelisah. Belum sempat ia membersihkan pecahan kaca, tangisan Galeo memecah kesunyian malam.
“Cup, cup, sayang ... Maafin Mama, ya, sudah ninggalin kamu,” bisiknya lembut sambil menggendong dan memberikan ASI.
Dalam sekejap, tangis bayi tampan itu mereda. Galeo kembali tenang dalam pelukannya, namun tidak dengan Diana. Perasaan gundah itu tetap di sana, menetap seperti kabut yang enggan pergi.
...----------------...
“Nduk, nanti siang kamu ikut Mbok, ya? Ke balai desa. Katanya mau ada penyuluhan untuk para petani,” ujar Mbok Sarmi sambil merapikan kainnya.
Diana menoleh. “Penyuluhan apa, Mbok?”
“Nggak tahu pasti, katanya sih mau ada pembangunan untuk logistik hasil panen desa. Jadi nggak perlu lewat tengkulak lagi kalau mau jual.”
Mata Diana berbinar. “Wah, itu bagus sekali, Mbok! Berarti hasil yang kita dapat bisa lebih banyak nantinya. Petani nggak bakal rugi lagi.”
“Iya, makanya nanti kamu ikut, ya. Mbok takut gagal paham. Kamu tahu sendiri, pendengaran Mbok sudah nggak sebaik dulu. Takutnya ada yang salah tangkap,” Mbok Sarmi terkekeh pelan, menyadari keterbatasannya.
Diana tersenyum tulus menatap wanita tua yang sudah ia anggap seperti neneknya sendiri itu. Ia mendekat dan mengelus bahu Mbok Sarmi lembut.
“Iya, Mbok. Nanti Falika temenin, ya. Biar Diana catat semua poin pentingnya.”
Sementara itu, Tibra dan timnya sudah tiba di Balai Desa Sukojati.
Berdasarkan hasil rapat internal sebelumnya, Desa Sukojati memang menjadi kandidat terkuat. Lahan yang tersedia sangat luas, tepat seperti yang dibutuhkan proyek mereka. Ditambah lagi, akses jalannya sudah cukup mumpuni untuk dilalui truk pengangkut besar. Itulah alasan utama mengapa Tibra memilih desa ini sebagai lokasi penyuluhan pertamanya.
“Selamat datang, Pak Tibra. Perkenalkan, saya Lukman, asisten Pak Raka. Kebetulan beliau hari ini ada urusan mendadak, kemungkinan baru bisa bergabung siang nanti,” sambut seorang pria berambut klimis dengan nada segan.
Tibra mengangguk singkat, matanya yang tajam mulai mengamati sekeliling. Aula itu tidak terlalu luas, namun cukup bersih. Sebuah layar proyektor sudah terpasang rapi di bagian depan.
“Kalian, siapkan filenya sekarang ya,” perintah Tibra pada Rangga dan Adit. Suaranya rendah namun tegas, membuat kedua bawahannya itu langsung bergerak cepat tanpa membantah.
“Semua yang Pak Tibra butuhkan sudah saya siapkan di sini. Kalau butuh apa-apa lagi, Bapak bisa panggil saya atau Pak Bambang, ya,” ujar Lukman sopan sembari meletakkan beberapa berkas tambahan di atas meja.
Tibra hanya mengangguk singkat, matanya masih terpaku pada layar proyektor yang menampilkan peta koordinat lahan. Namun, sesaat sebelum Lukman melangkah menjauh, sebuah dorongan kuat—seperti firasat yang mendesak dari dasar dadanya—membuat Tibra kembali memanggil pria itu.
“Pak Lukman?”
Pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh. “Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu lagi?”
Tibra diam sejenak. Ada keraguan yang melintas di wajahnya. Ia merasa konyol menanyakan hal pribadi di tengah urusan pekerjaan, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar.
“Saya mau tanya,” suara Tibra merendah. “Apa di desa ini ada warga baru yang datang sekitar sebulan terakhir? Namanya Diana.”
Lukman tampak mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat sembari menatap langit-langit aula.
“Kalau nama Diana ... sepertinya tidak ada, Pak. Tapi,” ia menjeda, membuat jantung Tibra seolah berhenti berdetak sesaat. “Ada satu perempuan yang baru datang dari kota membawa bayi laki-laki. Namanya Falika. Orangnya cantik, rambutnya hitam panjang. Badannya agak kurus, tapi kulitnya putih bersih.”
Deg!
Dunia seolah melambat di mata Tibra. Nama itunama dan ciri-ciri fisik yang disebutkan Lukman terlalu identik untuk dianggap sebagai kebetulan belaka.
“Fa-lika?” ulang Tibra terbata, memastikan pendenbarannya.
“Betul, Pak. Dia tinggal menumpang di rumah Mbok Sarmi.”
“Boleh saya tahu rumahnya di mana?” tanya Tibra dengan nada yang tak lagi bisa menyembunyikan keterdesakannya.
“Rumahnya di gang sebelah setelah balai desa ini, Pak. Lurus saja, rumah paling ujung yang mepet dengan sawah.”
Tibra melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pas. Masih ada waktu, sampai penyuluhan itu dimulai.
“Terima kasih, Pak Lukman!”
Tanpa menunggu lama, Tibra melesat pergi meninggalkan Lukman yang masih berdiri mematung.
“Waduh, Pak Kades punya saingan berat ini mah,” gumam Lukman sambil menggelengkan kepala, lalu melipir ke dalam untuk menyiapkan konsumsi.
Ia menyambar kunci mobilnya. Lalu, menghampiri Rangga dan Adit yang sedang sibuk melakukan pengecekan terakhir pada sistem suara.
“Kalian handle dulu pembukaannya. Jelaskan profil perusahaan secara garis besar. Saya ada urusan mendadak sebentar!”
“Tapi Pak—” Kalimat Adit terputus begitu saja karena Tibra sudah melesat keluar, memacu mobil hitamnya menuju ujung gang yang baru saja disebutkan.
Di sudut lain, diwaktu yang sama Diana baru saja selesai memandikan Galeo. Aroma minyak telon menyeruak hangat di dalam kamar. Bayi itu meronta kecil, kaki-kaki mungilnya menendang udara dengan riang.
“Sabar, Sayang ... pakai baju dulu ya,” gumam Diana lembut.
Ia memandangi wajah putranya itu. Mata Galeo, garis rahangnya ... setiap hari bayi itu tumbuh semakin mirip dengan pria yang mati-matian ia hindari. Ada rasa nyeri yang menusuk ulu hatinya setiap kali ia teringat bagaimana mereka berpisah.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang sangat keras dan tidak sabar terdengar dari depan.
Tok! Tok! Tok!
Diana tersentak kaget. Secara naluriah, ia segera membebat tubuh Galeo dengan handuk putih, lalu mendekap bayi itu erat-erat ke dadanya.
“Siapa, sih, pagi-pagi sudah bertamu ...” keluhnya pelan. Namun, langkah kakinya tetap bergerak menuju pintu depan.
Begitu pintu terbuka, mata Diana membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum kembali berdegup kencang tak beraturan saat menatap siapa yang berdiri di balik pintu. Tubuhnya kaku, napasnya tertahan di kerongkongan.
Seorang pria berdiri tegak di hadapannya.
“Diana …. “
...Halo sahabat pembaca! Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. 🤍...
...Buat nemenin sahur kalian nih, hehe.Maaf ya kemarin sempat libur update, lagi banyak kegiatan di real life....
...Siapa kemarin yang minta mereka ketemu cepat? Hihi …...
...Nah, habis ini enaknya diapain ya?Disatuin aja kali ya…. 👀...
...Oh iyaaa, aku juga habis ganti cover yaa. Semoga nggak bikin kalian bingung....
...Stay tuned ya!...
...Jangan lupa kencengin like dan komentarnya ya.See you di bab selanjutnya! ✨...