NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skakmat

Di dalam kamarnya yang gelap, Kayla sama sekali tidak bisa memejamkan mata meski malam sudah bergeser jauh melewati dini hari. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang menjalar di sekujur kulit akibat rasa cemas yang teramat sangat. Pikirannya terus-menerus tertuju pada Papihnya di lantai bawah. Setiap detak jarum jam dinding terasa seperti siksaan tersendiri yang menguliti ketenangannya.

Tepat saat jarum jam mendekati pukul tiga subuh, sayup-sayup telinga Kayla menangkap suara gaduh dari arah kamar utama, disusul oleh deru mesin mobil yang dinyalakan terburu-buru di garasi. Kayla refleks melompat dari kasur dan mengintip lewat celah gorden jendelanya.

Ia melihat lampu belakang mobil suaminya menyala merah, bergerak mundur membelah gerbang rumah yang terbuka lebar. Di dalam keremangan, Kayla tahu betul bahwa di dalam mobil itu ada Hesti yang sedang membawa Papihnya yang kritis ke rumah sakit.

"Aduh... gue harus gimana sekarang?" batin Kayla menjerit frustrasi. Kedua tangannya meremas gorden kamarnya dengan erat, sementara air mata penyesalan mulai menggenang di pelupuk matanya.

Pergolakan batin kembali berkecamuk hebat di dalam dada gadis remaja itu. Ego keras kepalanya perlahan mulai runtuh digilas rasa takut kehilangan sang ayah.

Kalau gue ngaku itu semua ulah gue, Papih pasti bakal marah besar sama gue... Tapi, ah! Gak penting sekarang diparahin atau dibenci sekalipun! Yang paling penting sekarang gimana keadaan Papih? Gimana kalau Papih kenapa-napa gara-gara obat sialan itu? rutuk Kayla dalam hati, menyalahkan dirinya sendiri yang terlampau bodoh karena menuruti hasutan Gavin dan emosi sesaatnya.

Sementara itu, suasana di lorong Rumah Sakit Harapan Bunda terasa begitu sunyi dan mencekam. Setelah melewati beberapa jam yang menegangkan di ruang instalasi gawat darurat (IGD) dan mendapatkan penanganan medis yang intensif berupa suntikan serta beberapa botol cairan infus, kondisi Pak Hendra akhirnya mulai stabil. Pria paruh baya itu kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan tertidur pulas dengan wajah yang perlahan tidak sepucat tadi.

Hesti berdiri di samping brankar, memandangi wajah suaminya dengan raut kelelahan yang luar biasa. Tak berselang lama, dokter jaga yang menangani Pak Hendra berjalan mendekat setelah memeriksa papan rekam medis.

"Ibu Hesti, kondisi Pak Hendra sudah melewati masa kritisnya. Gejala mulas akut dan lemas yang dialami beliau murni karena dehidrasi parah," jelas dokter tersebut dengan nada tenang. Namun, kalimat selanjutnya sukses membuat Hesti membeku. "Berdasarkan hasil uji sampel klinis singkat, suami Ibu mengalami indikasi kuat keracunan obat pencahar dosis tinggi yang masuk melalui makanan atau minuman terakhir yang dikonsumsinya."

Mendengar penjelasan dokter, insting Hesti yang tajam langsung bekerja dengan cepat. Otaknya memutar kembali memori beberapa jam yang lalu saat berada di pantry dapur. Bayangan wajah Kayla yang mendadak seputih kertas, gestur tubuhnya yang gelagapan saat mengambil air minum, hingga kepanikan yang tidak masuk akal itu langsung berputar jelas di kepala Hesti.

Semua potongan teka-teki itu mendadak terpasang sempurna. Teh malam itu. Kayla sengaja menaruh sesuatu di sana.

"Astaga... anak itu benar-benar berulah lagi," ucap Hesti lirih setelah dokter pamit keluar. Wanita itu memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat. Rasa kecewa dan amarah bercampur menjadi satu. Ia tidak menyangka kebencian Kayla padanya bisa senekat dan sebodoh ini hingga mencelakai ayah kandungnya sendiri.

Begitu matahari pagi mulai beringsut naik menerangi kota, Hesti langsung meraba tasnya dan mengeluarkan ponsel. Dengan rahang yang mengencang, ia mencoba menelepon nomor Kayla.

Tut... Tut... Tut...

Panggilan pertama diabaikan. Hesti mengembuskan napas kasar, lalu kembali menekan tombol panggil hingga beberapa kali. Namun, hasilnya tetap sama; ujung telepon di sana sama sekali tidak memberikan jawaban.

"Anak ini... kenapa coba? Malah kabur dari tanggung jawab," ucap Hesti berdecik kesal, menatap layar ponselnya yang menampilkan panggilan tidak terjawab.

Sementara itu di tempat tidur kamarnya, Kayla sedang duduk menekuk kedua lututnya dengan tubuh yang gemetar. Ponselnya yang tergeletak di atas kasur terus bergetar dan menyala menampilkan nama 'Hesti' di layarnya. Namun, Kayla sama sekali tidak memiliki keberanian untuk sekadar menyentuh benda pipih tersebut, apalagi mengangkatnya.

"Gimana ini... gue harus gimana..." ucap Kayla lirih dengan suara serak, berulang kali menggigit ujung kuku jarinya untuk meredakan rasa takut yang luar biasa. "Tapi... tapi gue juga takut banget kalau Papih kenapa-napa..."

TING!

Sebuah bunyi notifikasi pesan masuk memecah keheningan kamar Kayla. Dengan tangan yang luar biasa gemetar, Kayla meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan, dan membaca sebaris teks dari Hesti yang langsung membuat jantungnya bagai dihantam batu besar.

Hesti:

"Saya rasa saya gak perlu penjelasan apa pun lagi dari kamu. Wajah pucat kamu kemarin malam sudah menjelaskan semuanya dengan sangat jelas. Hari ini datang ke RS Harapan Bunda, tolong bawakan baju ganti Papih kamu dan baju ganti saya. Cepat."

Membaca pesan dingin namun penuh penekanan mutlak itu, Kayla langsung melempar ponselnya ke atas kasur. Rasa frustrasi yang teramat sangat menghantam dadanya. Ia berteriak tertahan, lalu mengacak rambutnya secara kasar hingga berantakan. Hesti sudah tahu semuanya. Kedoknya sudah terbongkar total bahkan sebelum ia sempat menyusun alibi.

Namun, rasa khawatir pada kondisi Pak Hendra mengalahkan segala ketakutannya pada amarah Hesti. Sambil menghapus air matanya yang menetes, Kayla langsung bangkit berdiri dengan terburu-buru. Ia berjalan menuju lemari pakaian Papihnya dan lemari Hesti, mengambil beberapa potong baju ganti dengan asal, lalu memasukkannya ke dalam tas jinjing besar.

Tanpa memedulikan penampilannya yang masih kusut, Kayla langsung menyambar kunci motornya dan melesat pergi membelah jalanan pagi menuju Rumah Sakit Harapan Bunda dengan perasaan yang sepenuhnya diselimuti ketakutan akan apa yang akan terjadi setelah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!