NovelToon NovelToon
Perjodohan Yang Tak Terduga

Perjodohan Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Aliansi Pernikahan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Falco Kaiseradler

Bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja di sebuah kantor dan dijodohkan oleh bos pemilik perusahaan dengan putri dari bos tersebut. Tapi.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Falco Kaiseradler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat Lima Saudari

Fadli dan kelima istrinya sedang menikmati waktu libur dengan berjalan-jalan santai di dalam mall yang sejuk. Layaknya keluarga pada umumnya, mereka menghabiskan waktu dengan berbelanja dan sekadar melihat-lihat.

Tujuan pertama mereka adalah toko buku. Begitu masuk, mereka langsung berpencar mencari buku-buku yang menarik minat masing-masing. Fadli mengambil beberapa novel, sementara istri-istrinya memilih buku pelajaran dan komik. Saat mereka berkumpul di kasir dan Fadli baru saja merogoh dompet untuk membayar, istri-istrinya dengan sigap sudah terlebih dahulu menyodorkan kartu debit mereka. Fadli hanya bisa melongo karena lagi-lagi kalah cepat.

Setelah dari toko buku, mereka bergeser ke toko mainan. Lebih tepatnya, Fadli yang berbelok ke toko mainan sementara kelima istrinya hanya tersenyum mengikuti dari belakang. Visha, Tasha, Misha, Masha, dan Sasha tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Ada rasa gemas tersendiri melihat sisi kekanak-kanakan dari suami mereka yang biasanya selalu bersikap dewasa dan tenang.

Selesai memuaskan hasrat belanja mainan Fadli, para istri gantian menarik tangan Fadli menuju toko pakaian dalam wanita yang ada di seberang.

"Tunggu, tunggu, tunggu! Aku tidak bisa masuk ke tempat itu!" kata Fadli menahan langkah dengan wajah yang langsung memerah hingga ke telinga.

"Yaelah Mas, Mas kan udah pernah main sama kami semua, masa Mas masih malu buat milihin pakaian dalam buat kami sih?" goda Visha sambil menyenggol lengan suaminya.

"Bukan masalah malu soal itunya, Vi. Tapi di dalam toko itu pasti isinya semua perempuan. Aneh rasanya kalau aku cowok sendirian masuk ikutan milih-milih sama kalian. Nanti dikira mesum," jawab Fadli membela diri.

"Hmm, masuk akal juga sih," jawab Tasha mengangguk setuju.

"Yaudah kalau gitu Mas tunggu di sini aja, duduk yang manis ya. Biar kami cari lingerie-lingerie seksi buat melayani Mas malam-malam nanti," bisik Sasha sambil mengedipkan matanya dengan gaya sok seksi, tapi karena wajahnya yang masih imut, ia malah terlihat sangat lucu.

Sementara kelima saudari itu masuk dan asyik memilih lingerie, Fadli duduk di bangku panjang yang disediakan mall, tidak jauh dari toko tersebut. Ia mengamati orang-orang yang lalu lalang sambil menjaga kantong belanjaan.

"DASAR BOCAH KEPARAT! BERANINYA KAU!!!"

Belum lama Fadli duduk, ketenangannya terusik oleh teriakan kasar seorang pria. Fadli menoleh ke arah sumber suara dan melihat pemandangan yang mengganggu: dua sampai tiga pria dewasa berbadan besar sedang mengerubungi dan memarahi seorang gadis kecil yang menunduk ketakutan. Saat diamati lebih jelas, gadis itu ternyata adalah Lila, sahabat dekat dari kelima istrinya.

"WOI! KALO DIAJAK NGOMONG BALES BOCAH! JANGAN DIEM AJA LU! BISU YA?!" bentak salah satu pria itu dengan nada tinggi.

"LIHAT NIH CELANA GUE RUSAK GARA-GARA LU! GANTI RUGI SEKARANG! TANGGUNG JAWAB LU BOCAH!" Pria itu menunjuk celananya yang terkena noda es krim cokelat, sisa es krim yang kini meleleh di tangan Lila yang gemetar.

Lila hanya bisa terus menunduk, tubuhnya gemetar hebat menahan tangis karena dikepung dan dibentak di depan umum.

Fadli menghela napas panjang, merapikan bajunya, dan langsung bangkit mendekati kerumunan itu.

"Ada apa ini?" tanya Fadli dengan suara tenang namun berwibawa saat sampai di dekat mereka.

Mendengar suara yang dikenal, Lila langsung mendongak. Tanpa pikir panjang, ia berlari bersembunyi di belakang punggung Fadli, meremas baju belakang Fadli erat-erat mencari perlindungan.

"Pria macam apa kalian, beraninya main keroyok dan membentak gadis kecil sendirian di tempat umum seperti ini?" kata Fadli menatap tajam para pria itu.

"GAUSAH SOK-SOKAN IKUT CAMPUR LU! INI MASALAH GUA SAMA BOCAH ITU!" pria itu menunjuk kasar ke arah Lila yang semakin menyusut di balik punggung Fadli.

"Bisa tolong kecilkan suara Anda? Saya bukan tuna rungu, saya bisa mendengar kalian dengan jelas tanpa perlu berteriak," balas Fadli masih mencoba mempertahankan kesabarannya.

"YAUDAH MINGGIR! GAUSAH GANGGU! BOCAH ITU UDAH NGERUSAK CELANA GUA, DAN GUA PENGEN DIA TANGGUNG JAWAB BAYAR GANTI RUGI!" bentak pria itu lagi, urat lehernya menonjol.

"Merusak? Apakah celana itu terbuat dari tisu yang sangat murah sampai-sampai noda es krim saja bisa merusaknya?" tanya Fadli mulai melancarkan serangan verbal.

"MURAH? ENAK AJA LU NGOMONG! CELANA GUA INI MAHAL! MERK BRANDED EDISI TERBATAS! LU GAAKAN SANGGUP BELI!" pria itu semakin emosi.

"Kalau memang celana Anda mahal dan Anda orang kaya, seharusnya Anda punya cukup uang untuk membawanya ke laundry," jawab Fadli santai.

"Owh, atau jangan-jangan Anda menghabiskan semua tabungan hidup Anda hanya untuk membeli satu celana itu, sehingga sekarang Anda harus menjadi seorang pengemis?" lanjut Fadli dengan senyum sinis.

"Terlebih lagi Anda memeras gadis cilik seperti ini, rendah sekali harga diri Anda sebagai laki-laki," kata Fadli menutup kalimatnya dengan tatapan merendahkan.

"KEPARAT KAU! MATI LU!" Tepat seperti dugaan, emosi pria itu meledak dan ia langsung melayangkan pukulan ke arah Fadli.

Namun, Fadli yang sudah siap dengan mudah menghindari serangan lambat itu. Dengan gerakan tangkas, ia menjegal kaki pria itu hingga ia terjerembap ke depan. Kepalanya mendarat mulus masuk ke dalam pot tanaman hias besar di samping mereka. Fadli dengan cepat mengambil sisa es krim di tangan Lila dan 'tidak sengaja' menjatuhkannya tepat di atas pantat celana pria yang sedang terjerembab itu.

"Ups, jatuh. Anda selapar itukah sampai-sampai makan tanah di pot?" ejek Fadli.

Salah satu teman pria itu yang melihat bosnya jatuh mencoba menyerang Fadli dari samping. Namun, nasibnya tak jauh beda. Fadli mengelak dan mendorongnya hingga ia terjungkal masuk ke dalam tong sampah besar yang terbuka.

"Saya tahu Anda mungkin sadar diri kalau Anda itu adalah sampah masyarakat, tapi tidak perlu sampai membuang diri sendiri ke tempat sampah secara begitu dong," ujar Fadli sambil menggelengkan kepala pura-pura prihatin.

Pria ketiga, melihat dua temannya sudah dipermalukan, tetap nekat menyerang dengan membabi buta.

Fadli hanya mundur selangkah, menghindari serangan, lalu dengan santai menjegal kaki pria itu. Karena lantai mall yang licin dan sepatunya yang tidak mendukung, pria itu terpeleset jatuh dalam posisi mengangkang lebar. Suara robekan kain terdengar nyaring.

KREEK!

"Yah... sobek deh celananya," Fadli tertawa kecil. Tawa itu menular. Lila yang tadinya ketakutan kini ikut tertawa geli, begitu pula dengan para pengunjung mall yang sejak tadi menonton kejadian itu.

Ketiga pria itu bangkit dengan wajah merah padam karena malu dan marah. Mereka berniat menyerang Fadli bersamaan, namun melihat petugas keamanan mall yang berlari mendekat, nyali mereka ciut. Mereka pun terpaksa kabur terbirit-birit sambil memegangi celana mereka yang kotor dan robek.

Setelah mereka pergi, Lila langsung memeluk pinggang Fadli dengan erat, menumpahkan sisa rasa takutnya.

"Mas Fadli... makasih banyak ya," kata Lila terisak pelan.

"Gausah dipikirin, kamu sudah aman sekarang," Fadli menepuk pelan kepala Lila, menenangkannya.

Namun, momen haru itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, mereka berdua merasakan hawa dingin yang menusuk tulang dari arah belakang. Saat mereka menoleh pelan, mereka melihat kelima istri Fadli berdiri berjajar dengan tatapan mata yang sangat dingin dan tajam, menatap tangan Lila yang masih memeluk pinggang suami mereka.

"Eh, tunggu, tunggu! Aku bisa jelaskan! Ini bukan seperti yang kalian pikirkan!" Lila dengan panik langsung melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah, mengangkat tangan tanda menyerah.

"Iya, ada penjelasan untuk hal ini, jangan marah dulu ya," Fadli juga mencoba menjelaskan dengan keringat dingin mulai menetes.

Wajah kelima saudari itu tetap datar dan dingin selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Namun, tiba-tiba ketegangan itu pecah menjadi tawa renyah.

"Hahaha! Kalian tidak perlu sepanik itu, muka kalian lucu banget!" kata Visha sambil tertawa lepas. "Kami melihat semuanya dari dalam toko kok. Mas Fadli keren banget tadi."

Ternyata mereka hanya mengerjai suami dan sahabat mereka. Mereka berlima kemudian mendekat dan memeluk Lila secara bergantian.

"Kamu baik-baik saja kan, Lila? Enggak ada yang luka kan?" tanya Tasha khawatir.

"Iya, aku baik-baik saja. Untung ada suami kalian yang nolongin aku tadi," jawab Lila sambil tersenyum lega, melirik ke arah Fadli yang menghela napas panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!