Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Keesokan paginya...
Sejak Ibunya sakit pada beberapa hari yang lalu, Kevin selalu pulang ke rumah Ibunya. Ia ingin memastikan sendiri jika Ibunya baik-baik saja.
Selepas bangun tidur, Kevin beranjak menuju balkon rumahnya. Menikmati udara segar pada pagi hari itu. Setelah puas, Kevin kembali ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandinya.
"Pagi Bu," sapa Kevin yang sudah rapi dengan setelan jasnya. Ia mencium pipi Ibunya yang saat itu berada di ruang makan menyiapkan sarapan.
"Pagi Vin. Sini, duduklah," balas Ayudia. Kevin mengangguk pelan. Ia duduk di kursi yang telah Ibunya siapkan. Ayudia duduk di samping putranya.
"Vin, Ibu dengar kamu dan gadis itu pacaran. Apakah itu benar?" tanya Ayudia sambil mengambilkan makanan dipiring Kevin. Ia menyodorkan pada putranya.
"Ibu dengar dari mana?" tanya Kevin balik. Ayudia menyendokkan makanan ke mulutnya. Lalu mulai mengunyahnya.
"Apa yang tidak bisa Ibu ketahui darimu? Vin, Ibu harap kamu serius kali ini. Jangan seperti kamu waktu remaja dulu."
"Dulu kamu bilang akan menikah dengan Shella, nyatanya kamu juga meninggalkannya," tutur Ayudia. Kevin menghela napasnya sejenak. Ia menikmati makanannya terlebih dahulu.
"Sampai kapan kamu akan membuat Ibu menunggu? Ibu juga ingin punya menantu seperti teman Ibu yang lainnya."
"Atau biarkan Ibu saja yang mengurus semuanya. Ibu sangat setuju jika kamu bisa menikah dengan gadis itu." Ayudia terus saja berbicara. Membuat Kevin tertekan. Ia hanya ingin menikmati sarapan pagi ini dengan tenang. Namun Ibunya justru menceramahinya panjang lebar.
Ia masih tidak menanggapi apa yang Ayudia ucapkan. Baginya, jika sudah waktunya menikah, ia akan menikah juga. Masih banyak waktu baginya untuk menemukan seseorang yang benar-benar mampu menggetarkan hatinya selain Kanaya. Diandra mungkin? Entahlah. Bayangan gadis itu perlahan menghantui pikiran Kevin akhir-akhir ini. Namun Kevin menepis pikirannya tersebut jauh-jauh.
"Bu, Kevin berangkat ke kantor dulu ya." Kevin menyudahi sarapannya. Ia meneguk air putih lalu pamit pada Ibunya.
"Haih, sudahlah. Biar Ibu saja yang mengurus semua untukmu," gumam Ayudia. Mengingat usia Kevin yang tak muda lagi. Ia khawatir pada putranya tersebut.
"Masalah ini biar Kevin sendiri yang menyelesaikan. Ibu tidak perlu ikut campur," ucap Kevin sambil melangkah keluar dari kediaman tersebut. Ia memasuki mobilnya dan menjalankannya menuju ke kantor.
*
Di perusahaan milik Rizal, tepatnya di ruang pribadinya, Rizal melamun memikirkan masalah tadi malam. Bayangan akan kemesraan Diandra dan Kevin tak bisa lepas dari benaknya. Rizal sangat terpengaruh akan hal itu. Hingga ia mengabaikan pekerjaannya hari ini. Membatalkan semua janjinya dengan kliennya dan tak ingin melakukan apapun.
Rizal hanya ingin berdiam diri. Semakin ia memikirkan masalah itu semakin ia dibuat kesal olehnya. Ia tak bersemangat seperti biasanya. Meski ia tahu kemungkinan kecil Diandra akan melirik dirinya, tetap saja Rizal merasa kesal.
"Tidak boleh. Aku sudah berjanji untuk merelakan Diandra. Aku tidak boleh egois, tidak," kata Rizal dalam hatinya. Ia ingin ikhlas, namun sungguh berat baginya.
Rizal mengeluarkan ponselnya yang ada disakunya. Ia langsung menghubungi Diandra dan meminta untuk bertemu dengannya pada jam makan siang nanti. Rizal tak bisa berdiam diri saja. Ia harus menanyakan langsung hal ini pada gadis yang ia cintai itu. Jika tidak, itu akan membuat Rizal semakin menggila hanya dengan memikirkannya saja.
Mendapat sambutan yang baik dari Diandra, Rizal menyunggingkan bibirnya. Ia tak sabar untuk bertemu langsung dengan gadis mungil tersebut. Sedangkan Ronald hanya berekspresi datar. Orang yang sedang dibutakan oleh cinta seperti Rizal tersebut memang tidak mudah ia tangani. Ronald selaku asisten Rizal hanya bisa berdiam diri di posisinya.
"Ron, siapkan mobil sekarang. Aku ingin menemui Diandra sekarang!" ucap Rizal dengan bersemangat. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya sambil melangkah keluar ruangannya. Meski hanya pertemuan biasa, itu sangat istimewa bagi Rizal. Ia tidak ingin menyiakan kesempatan tersebut.
*
Waktu istirahat siang pun telah tiba. Diandra segera bersiap menuju kafe yang tak jauh dari kantornya. Ia menepati janjinya dengan Rizal untuk makan siang bersama. Diandra hanya menganggapnya hal biasa, berhubung kini hubungan mereka sudah kembali normal seperti biasanya. Tak ada paksaan dari Raka yang akan membuat Diandra tidak nyaman.
"Jean, aku pergi sebentar menemui Rizal ya. Jika Papa bertanya jawablah seperti itu," kata Diandra sebelum meninggalkan ruangannya.
"Baiklah nona. Apakah Anda tidak ingin saya antar?" tanya Jean memastikan.
"Tidak, tidak! Aku pergi sendiri saja." Diandra menolaknya. Ia pikir tidak harus merepotkan Jean terus menerus. Ia juga butuh privasi dan menikmati pergi tanpa didampingi oleh Jean.
"Baiklah nona," ucap Jean sambil mengangguk. Diandra menepuk bahu Jean secara pelan. Lalu ia bergegas menuju kafe yang tak jauh dari kantor mereka.
*
Pas sekali, saat Diandra tiba di kafe tersebut, ternyata Rizal juga baru sampai. Mereka langsung menuju bangku yang kosong dan memesan makanan.
"Ada apa tiba-tiba mengajakku makan siang?" tanya Diandra.
"Memangnya tidak boleh ya aku mengajakmu makan siang?" tanya Rizal lalu tersenyum.
"Bukan seperti itu Zal."
"Berarti boleh kan?" Rizal menyela pembicaraan Diandra. Membuat Diandra menghela napasnya dengan kasar di sana.
"Terserah kau saja!" Diandra menyerah. Ia tidak ingin berdebat dengan hal kecil seperti itu.
Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan tiba. Rizal dan Diandra segera menikmati makanan tersebut. Terutama Diandra yang sudah menahan laparnya begitu lama.
Rizal diam-diam memperhatikan Diandra saat makan. Ia tersenyum manis melihat Diandra dengan lahapnya menikmati hidangan tersebut. Namun Diandra tak menyadarinya karena sedang menikmati makanannya.
Tangan Rizal bergerak mengusap sudut bibir Diandra yang terdapat sisa makanan itu. Membuat Diandra terkejut dan langsung menatap Rizal. Diandra segera menarik diri dan mengusap sendiri sudut bibirnya itu.
"Kamu ada hubungan apa dengan Kevin?" tanya Rizal yang akhirnya terlontarkan. Karena sedari tadi ia sudah ingin menanyakannya.
"Kevin? Memangnya ada hubungan apa lagi? Dia hanya mantan bosku saja," jawab Diandra. Ia melanjutkan lagi makannya.
"Kemarin malam kalian terlihat begitu serasi. Apa kamu menyukai pria itu?" tanya Rizal dengan hati-hati. Meski ia tak siap mendengar jawaban jika seandainya Diandra menyukai pria itu, namun rasa penasarannya tinggi. Ia ingin mengetahuinya dengan jelas.
Uhukk... uhuukk.... uhuukkk...
Diandra tersedak karena mendengar pertanyaan yang dilontarkan Rizal. Ia begitu terkejut dengan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama yang ia tanyakan pada dirinya sendiri. Bahkan Diandra tidak tahu akan perasaannya sendiri.
"Aku tidak tahu Zal," ucap Diandra sambil memalingkan wajahnya.
Bagaikan tersambar petir hati Rizal. Perih yang ia rasakan saat ini. Tangannya terkepal erat. Jawaban itu membuat Rizal gusar. Itu artinya Kevin memiliki kesempatan untuk mengisi hati Diandra. Kenapa Kevin bisa dan dirinya tidak? Apa yang kurang darinya? Pikiran tersebut semakin membuat Rizal kesal.
"Sudahlah. Kenapa kamu menanyakan hal ini?" ucap Diandra mengalihkan berusaha pembicaraan mereka. Rizal berusaha untuk tersenyum. Meski ia sangat terusik oleh jawaban Diandra tadi.
"Aku juga harus memastikan bahwa pria itu layak untukmu atau tidak, bukan?" tanya Rizal.
"Ya, ya, ya... Terserah kau saja." Diandra tertawa kecil di sana. Begitu juga dengan Rizal.