Kirana Larasati, menghadapi problema hidup yang sangat berat ketika usianya beranjak 23 tahun. Dia harus menerima kenyataan ketika kekasihnya Darren menikah dengan Tiara kakaknya sendiri, dan di saat yang hampir bersamaan dia juga harus mengetahui bahwa ibu yang sangat dia sayangi ternyata bukanlah ibu kandungnya.
Dengan duka Lara yang datang bertubi-tubi, dia harus mampu melanjutkan hidupnya. Hingga pada akhirnya dia bisa menemukan cinta seorang Joshua, yang ternyata justru lebih menghancurkannya karena kesalahpahaman yang terjadi.
Mampukah Lara menghadapi kisah hidupnya yang seperti roller coaster? Bagaimana akhir kisah cintanya dengan Joshua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanny Tanuwidjaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati rasa
From author :
Hai good readers, ud bab 26 aja nih, tambah seru kan ya ceritanya. Menurut kalian bagusnya Lara and Joshua kita jadiin ga nih? Wkwkwk...
Comment dunk guys, biar bisa tambah2 ide cerita dari readers semua nih. Selain itu aku juga butuh vote nya guys, like. Bantu share juga ya, tq so much.
Luv,
Lanny Tan
***
Lara POV
Aku melihat ketulusan di mata Joshua, aku juga melihat cinta yang cukup menawarkan kesejukan. Dadaku berdesir saat mendengarnya mengungkapkan rasa cintanya padaku, aku tergugah. Kau ingin aku membuka hatiku untukmu, ya aku ingin. Akan tetapi ketakutanku lebih besar daripada keinginanku, aku takut terluka untuk kesekian kalinya.
Hatiku rapuh seperti yang kau tahu, kalau sampai harus terluka lagi karena aku membuka hatiku padamu, aku sungguh takut. Luka yang lama saja belum kering, entah kapan aku mampu menyembuhkannya.
Aku tak mau membuatmu berharap padaku, akan sangat melelahkan bagimu. Lebih baik aku tidak membalas rasamu, aku tak mau menyeretmu dalam pusaran trauma dari masa laluku. Maafkan aku, mungkin aku yang terlalu egois, tapi percayalah aku juga tak ingin menyakitimu.
Rasa yang kautawarkan sungguh indah, aku pernah mabuk dengan rasa yang kurang lebih sama, yang menyebabkan aku terbang ke langit ke tujuh hingga aku lupa diri. Dan kau tahu, Josh? Pada saat aku terhempaskan oleh rasa yang tidak bisa menyatu, itu sangat sakit. Meremukkan asaku, membuatku tak percaya akan masa depan.
Sungguh aku percaya dengan ketulusan yang kauberikan, hanya aku tak percaya pada diriku sendiri, sanggupkah aku membalas ketulusanmu?
"Ko, aku berterima kasih karena selama ini kau selalu menemaniku pada saat terpurukku. Mungkin tak kau sadari kalau saat ini aku bisa lebih kuat, semua karena dirimu. Tentang rasa cinta yang kau miliki untukku, aku juga berterima kasih. Tapi aku merasa tidak pantas menerimanya," pungkasku saat kau bersikeras untuk bersamaku. "Aku menjaga hatiku untuk tidak kembali terluka, dan juga karena aku tidak ingin kau tersakiti."
Aku berusaha memberimu pengertian, bahwa mencintaiku atau menantiku membalas cintamu, akan sama saja hasilnya. Pada akhirnya kau akan kecewa, aku merasa tidak mampu memberimu kenyamanan seperti kau menyamankanku.
Jangan sia-siakan waktumu yang cukup berharga hanya untuk menungguku mencintaimu, kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.
"Aku tak bisa, Ki. Aku terlanjur mencintaimu, kumohon berikan kesempatan padaku untuk membuktikannya. Percayalah, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku akan bersabar menunggu saat itu," kalimatmu sungguh membuatku terlena.
Haruskah aku goyah dengan semua bujuk rayumu? Kau sungguh menjanjikan surga yang indah dengan kata-katamu yang puitis, hatiku bergetar syahdu. Tapi bagaimana dengan gadis yang akan dijodohkan denganmu, bukankah dengan cara seperti ini kau akan melukainya? Sanggupkah aku merampas kebahagiaan gadis itu dengan merebutmu dari sisinya? Sementara aku sendiri belum bisa membalas cintamu, tak ada rasa sedikitpun dalam hatiku untukmu, sungguh aku mati rasa karena traumaku.
"Gadis itu pilihan mamaku, aku tidak mencintainya. Hanya ada namamu di hatiku, aku hanya mencintaimu seorang," kau menarik tangan kananku dan meletakkannya di dadamu. "Apakah bisa kau rasakan?" tanyamu lirih.
"Aku tak memiliki rasa sedikitpun padamu, sudah kukatakan padamu bahwa aku mati rasa, kebas. Tak bisa merasakan cinta, apalagi membalasnya," aku berkeras.
Tiba-tiba Joshua menarik pinggangku, membuat tubuh kami merapat menyisakan sedikit jarak. Dadaku terasa sesak ketika mata coklatnya yang jernih menatapku dalam. Aku masih terpukau dengan tatapannya sehingga tak kusadari ketika dia menempelkan bibirnya pada bibirku. Dengan lembut dia memagut bibirku, memberikan rasa nyaman hingga mataku terpejam. Ciuman itu begitu lembut tanpa nafsu sama sekali, aku merasa begitu dicintai dengan perlakuannya padaku. Tanpa sadar aku merespon ciumannya, kubuka bibirku membiarkannya menjelajahi isinya. Kami terbuai bersama dengan ciuman lembut itu, taman tempat kami biasa bertemu menjadi saksi bisu malam itu. Entah sejak kapan tanganku bergelayut melingkar di lehernya, semua terjadi begitu saja, mungkin kalau kami tidak merasa kehabisan oksigen, ciuman itu akan terus berlanjut. Kami terengah-engah menghirup oksigen sebanyak-banyaknya ketika ciuman itu berakhir. Kedua tanganku terkulai bergulir melepaskan pelukan di lehhernya. Joshua memelukku erat, dia menaruh dagunya pada puncak kepalaku, sesekali mengecupnya pelan.
"Kamu tidak perlu membalas cintaku sekarang, Ki. Waktu yang akan membuktikannya, asal kau mau mencoba membuka hatimu. Percayalah padaku, kau masih punya rasa, tidak sepenuhnya mati. Aku akan membantumu supaya kau bisa mencintaiku, aku tak akan pernah meninggalkanmu apalagi melepaskanmu."
Astaga, kakiku lemas, rasanya tak bertulang. Seandainya aku tak bersandar pada pelukanmu, mungkin aku sudah luruh jatuh ke tanah. Ciuman ini begitu memabukkan, aku sendiri tidak mengerti dengan respon tubuhku. Kenapa aku bisa membalas pagutannya? Semudah itukah aku berpaling dari Darren? Ya, pada saat Joshua menciumku, aku tak mengingat Darren sedikitpun. Apakah mungkin aku sudah mulai bisa melupakannya?
Joshua memberiku rasa yang berbeda, ciumannya juga terasa begitu nyaman dan menyejukkan bagiku, seperti inikah rasanya ketika dahaga terpuaskan. Aku mengerjapkan mataku, berharap ini semua cuma mimpi dan ketika aku bangun masih dalam keadaan hatiku yang tertutup rapat untuk siapapun.
"Ki, aku nyata di hadapanmu. Jangan berharap semua ini cuma mimpi belaka," Joshua mengusap pipiku dengan lembut.
Dia seperti bisa membaca pikiranku, dan aku tersadar bahwa ternyata ini memang nyata terjadi.
"Aku mencintaimu, dan akan selalu seperti itu," bisiknya di telingaku membuatku merona. "Tak masalah kau belum bisa membalasnya, tapi respon tubuhmu tadi sudah cukup bagiku," bisiknya lagi.
Aku menelan ludahku karena tenggorokanku terasa kering usai ciuman tadi, tak ada satupun kata terucap dari bibirku. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, masih belum menyadari sepenuhnya yang baru saja terjadi.
"Mulai malam ini kau adalah milikku sepenuhnya, jiwa dan ragamu hanya untukku, jangan pernah berpikir aku akan membaginya dengan laki-laki lain. Demikian juga sebaliknya, jangan memaksaku untuk menjadi milik perempuan lain," ucap Joshua tegas dan sangat posesif.
Dia kembali memelukku dengan penuh kelembutan, mengecupi puncak kepalaku berulang kali, seperti tidak pernah puas dan takut tak ada hari esok saja pikirku. Aku masih asyik dengan kediamanku, bergumul dengan pemikiranku tentang benar atau tidaknya yang kulakukan ini. Ya Tuhan, sebenarnya aku takut. Bolehkah aku meminta supaya malam ini tak ada akhirnya, supaya aku tak perlu menghadapi hari esok.
"Aku haus, ko," akhirnya aku memecahkan kesunyian karena memang sebenarnya aku haus dari tadi.
"Sedari tadi aku mengucapkan kata-kata puitis penuh pemujaan dan cinta, dan kau membalasnya cukup dengan kata haus?" tanyamu sambil terkekeh.
Seperti biasa kau mengacaukan rambutku dengan gemas, membuat risih karena merasa diperlakukan seperti anak kecil.Tak lama kau sodorkan botol air mineral yang tutupnya sudah kau bukakan terlebih dahulu, perlakuan yang cukup manis menurutku. Aku segera meminumnya tandas, dahagaku hilang seketika. Aku tersenyum sebagai ucapan terima kasihku padamu.
Aku berbisik kecil di dalam hati, semoga aku tidak mengecewakanmu, dan yang terpenting aku akan belajar membuka hatiku untukmu dan menerimamu pada saat aku sudah siap. Sementara itu tak apa kita jalani saja dulu, semoga rasa ini bisa berkembang seperti bunga-bunga yang bermekaran di musim semi.
"Let's go home, sudah larut malam," ajakmu menggandeng tanganku dengan senyum merekah.
Aku mengangguk patuh, aku begitu terkejut ketika tiba-tiba kau kecup bibirku sekilas. Lagi-lagi aku merasa pipiku panas merona, seperti gadis kecil yang malu-malu.
"Bibirmu manis, Ki. Sudah terlalu lama aku menahan diri untuk tidak mengecupnya," ujarmu ringan tapi membuatku kian salah tingkah.
Seindah inikah rasanya? Merasakan cinta yang lain?
Guys, please bantu vote authornya. Biar dia semangat nulis kisah yang manis-manis buatku. Jangan lupa juga like dan comment untuk meninggalkan jejak, aku lelah dibuat sedih terus. Authornya kejam padaku karena levelnya tak kunjung bertambah.
Mohon dibagikan juga ya, supaya semakin banyak pembaca setia yang mengikuti kisahku ini.
***
g usah munak..giliran dituduh mencak²... aneh lu
meskipun tiara atau keluarganya sklipun.melihat itu yg sangat gak pantas dipikir klian berdua berselingkuh
itu kan karna kebodohanmu sendiri. kenapa tidak bisa berterus-terang dan menjadi laki² pengecut.
ingat ya.. mgkin menurut orang tua pilihan meraka itu tepat tapi belum tentu terbaik bagi anaknya
ntar jdi bingung bacanya . ribet
Dia memperkosa istri,, melecehkan dg kata2x, berbohong pd istrinya bhw ada kerjaan sampai mbiarkan anak istrinya pdhal berduaan dg mantan,,, apapun alasannya Joshua bkn suami yg baik n penuh cinta,,,, Cinta tdk akan menyakiti fisik maupun mental,,,