NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.

Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.

"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Saat Mata Bertemu Badai

Tangan Elleta refleks menyentuh dahinya, menyisakan rasa hangat yang aneh di menjalar ke dadanya.

Ciuman itu, terasa masih menempel di dahinya. Meninggalkan deru nafas Steve yang beraroma mint di indra penciumannya.

Sesaat ia terhanyut, merasakan sensasi asing yang memicu detak jantungnya, sebelum akhirnya tersentak sadar dan menepuk pipinya sendiri dengan kasar.

​"Gila! Enggak mungkin, itu pasti mimpi," gumamnya, berusaha menyangkal perasaan itu.

​Matanya menelusuri kamar luas yang kini menjadi penjaranya, hingga pandangannya jatuh pada lukisan miliknya yang sudah mengering di sudut ruangan, sebuah sketsa dirinya yang sedang menatap bunga Dandelion.

Ia berdiri, kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin. Elleta berjalan mendekati lukisan itu, jemarinya menyusuri goresan kuas yang membentuk kelopak bunga.

​Kapan badai ini selesai, Tuhan? Apa aku sanggup menjalaninya? Aku rindu kebebasanku, batin Elleta pilu.

Ia teringat masa-masa saat ia bisa berlari di Santa Barbara, saat tidak ada kamera pengawas di setiap sudut, dan setiap saat. Hidupnya tidak ditentukan oleh point-point di atas kertas kontrak itu.

​Tok! Tok! Tok!

​Seorang pelayan masuk dengan langkah pelan, membawa nampan berisi kue tart matcha dan susu almond hangat bercampur bubuk matcha. Ia meletakkannya di nakas dengan canggung, takut-takut menatap Elleta.

​"Nona, ini makanan Anda. Silakan dinikmati."

​Elleta menatap hidangan itu dengan rasa hambar. Dulu, matcha adalah pelipur lara di saat ia suntuk.

Namun aroma itu justru membuatnya mual, teringat wajah dingin Steve yang menekannya. Alzio, anak pertama Steve dan Katrina, entah dibawa ke mana oleh pria gila itu.

Kehilangan Alzio terasa seperti kehilangan satu-satunya koneksi yang tersisa dengan rumahnya megah itu.

​"Aku engggak minta! Kenapa malah di bawah kesini?" ketus Elleta dengan tatapan sengit pada Bi Ina.

​Pelayan itu menunduk dalam, menyembunyikan rasa iba di matanya. "Maaf, Nona. Ini semua perintah Tuan Steve. Beliau berpesan agar Anda tidak melewatkan sarapan."

​Elleta tersenyum miring, senyum yang penuh dengan kepahitan. "Bilang padanya, aku enggak minta. Dan satu lagi, makanan itu tidak akan pernah aku sentuh. Bawa pergi, atau aku akan membuangnya sendiri ke lantai."

​Bi Ina hanya bisa menghela napas pasrah, lalu berbalik keluar. Begitu pintu tertutup, Elleta merosot di tepi ranjang. Dadanya sesak. Ia merasa seperti burung di dalam sangkar emas.

*

*

*

​Di sisi lain, Steve sengaja datang ke kantor lebih pagi. Ia hanya ingin menghindari pertemuan dengan Elleta. Ia tahu apa yang dilakukannya, membawa gadis itu ke dalam dunianya yang kelam hanyalah menambah siksaan batin baginya.

Kilasan masa lalu tentang kesepakatan dengan Yuda Crassia dan keputusan Sang Daddy, Jeff Danendra, seakan selalu menghantui pikirannya setiap kali ia memejamkan mata.

6 tahun yang lalu

​Usia Steve baru menginjak 27 tahun saat ia resmi menjabat sebagai Presiden Direktur Danendra Group. Setahun setelah kematian Katrina, istrinya, ia hidup dalam kekosongan yang menyesakkan. Ia merasa dunia hanyalah tempat yang abu-abu, dan satu-satunya hal yang ia miliki adalah tanggung jawab pada nama besar keluarganya.

​Tak.

​Sebuah map tebal berisi 10 lembar kontrak diletakkan di atas meja rapat yang dingin. Steve menatap ayahnya dengan kening berkerut.

​"Ini kontrak kerja sama dengan Crassia Group, Steve. Aku butuh topangan Danendra Group untuk menutupi kerugian proyek yang aku sebabkan. Baca isinya," perintah Jeff dingin.

​Mata Steve menyisir pasal demi pasal, hingga ia berhenti di Pasal 4: Jaminan Kerja Sama.

​Pihak Kedua (Crassia Group) menyerahkan sepenuhnya hak asuh dan perlindungan Elleta Clarissa Crassia kepada Pihak Pertama (Danendra Group) sebagai kompensasi finansial.

​Rahang Steve mengeras. "Dy, ini bukan bisnis. Ini perdagangan manusia."

​Jeff tersenyum tipis, menyesap kopinya dengan santai. "Ini dunia bisnis, Steve. Crassia tidak punya sisa aset lain selain anak itu. Tanda tangani saja. Dengan Elleta di bawah kendali kita, semua akan terkendali."

​Steve menatap ayahnya, melihat sisi monster yang selama ini ia hindari. Namun, ia tidak punya pilihan. Dengan tangan bergetar, Steve membubuhkan tanda tangan.

Ia tidak mengenal gadis itu, namun ia sudah menduga, Elleta pasti sosok yang jauh berbeda dari Katrina yang lembut.

Yuda yang melihat Steve menandatangani kontrak itu tersenyum kemenangan, membuatnya lega. Perusahaannya tidak jadi bangkrut.

​"Pergi ke California, Steve. Lusa itu, adalah hari kelulusannya. Pastikan kamu melihat sendiri siapa 'aset' yang kau beli itu," perintah Jeff mutlak tanpa bantahan.

​Saat tiba di California, mobil hitam itu langsung menuju ke di San Diego, saat mobil sampai di halaman banyak pohon ek Wisteria High school. Di dalam mobil hingga akhirnya memilih turun dari mobilnya. Aroma sandalwood dan citrus dari parfumnya menguar ke udara. Ia memakai kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya. Mengamati kerumunan orang tua di gerbang itu.

Tak!

​Lalu, ia melihatnya.

​Elleta Clarissa Crassia. Gadis itu bersinar di bawah terik matahari, mengenakan toga dengan senyuman lebar yang seakan menghipnotis siapa pun yang melihatnya.

Steve melepas kacamata hitamnya, tak sanggup berpaling. Matanya bertemu dengan mata gadis itu hangat, namun menyimpan bara api.

​Saat itu, Steve sadar bahwa dia tidak hanya membeli kontrak. Dia sedang mengundang badai ke dalam hidupnya yang sudah mati.

​"Kamu lebih cantik dari di foto, bukan begitu, Theo?" gumam Steve tanpa menoleh pada asistennya.

​"Anda benar, Pak Steve. Dia jauh lebih memesona jika dilihat secara langsung."

​Namun, senyum Steve memudar saat seorang pria bernama Daniel Alvarez menghampiri Elleta. Mereka tampak begitu serasi.

Daniel memberikan buket bunga, dan Elleta tertawa, tawa yang belum pernah Steve lihat selama setahun terakhir.

Theo di sampingnya berbisik, "Itu kekasihnya, Daniel Alvarez. Mereka berencana kuliah di tempat yang sama."

​Steve mencengkeram stir mobilnya hingga buku jarinya memutih. Saat itu, sebuah benih kebencian dan obsesi mulai tumbuh.

Dia milikku secara hukum, pikirnya dingin. Dan aku tidak membiarkan siapa pun menyentuh apa yang sudah menjadi milikku.

​Lamunan Steve pecah saat pintu ruangannya terbuka. Theo masuk dengan tablet di tangannya, jangan lupa wajahnya datar.

​"Ada jadwal lagi, Theo?" tanya Steve, kembali ke mode Presiden Direktur yang dingin dan tidak tersentuh.

​Theo menunjukkan layar tabletnya. Ada foto seorang pria Daniel dalam kondisi mengenaskan di sebuah gudang bawah tanah.

Steve menatap foto itu tajam, lalu memperbesar gambar korek api yang tergeletak di samping tubuh pria itu. Ia sangat mengenali korek api itu. Ingatannya mencoba menggali korek itu.

​"Langsung kirim Daniel ke Jerman," perintah Steve dingin, suaranya sedatar es. "Pastikan dia aman di bawah pengawasan kita, dan jangan sampai ada yang tahu. Termasuk Elleta. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku sedang melindunginya."

​Theo mengangguk. "Ada lagi, Pak. Nanti jam 3 sore, pihak Camelia Boutique akan datang untuk fitting final baju pernikahan. Nona Elleta sudah harus siap."

​Steve menatap jendela kantornya, memandang cakrawala kota yang sibuk. "Oke. Siapkan mobil. Aku akan pulang sore nanti. Aku harus melihat sendiri bagaimana reaksinya nanti."

​Steve memutar kursi kerjanya, menatap kosong pada ruangan yang luas itu. Ia tahu Elleta membencinya. Ia tahu setiap tatapan Elleta adalah kutukan.

Tapi di dalam hatinya, Steve merasa bahwa Elleta adalah satu-satunya cahaya sekaligus api yang bisa menghangatkan kembali hidupnya yang beku.

​"Kamu harusnya berterima kasih kepadaku nanti, Elleta," bisiknya pada ruangan yang sepi. "Saat kamu akhirnya sadar bahwa tidak ada tempat yang lebih aman bagimu, selain di dalam perlindunganku."

1
Roseanne_0606
wah seru nih mode detektif 🤭
Roseanne_0606
waduh apa nih 😭😭
Roseanne_0606
aneh nih si steve, ditampar bukannya marah malah suka 😭😭😭
Lovelyiaca: Steve aslinya bucin ya gengsi aja itu hehe 😌
total 1 replies
Roseanne_0606
Tim Elleta sih kak 💪
Lovelyiaca: Kalau aku timnya Theo aja 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Akhirnya update lagi kak 🤭
Lovelyiaca: Iya kak, aku bakal update terus, tunggu kelanjutannya ya 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Gapapa kak, semangat ya 💪
Lovelyiaca: Makasih yaa kak 😆🔥
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan asal nuduh woyy 😭😭😭
Lovelyiaca: Maaf ya kak, sesuai script soalnya 🙏🙏🙏 - Steve A.D
total 1 replies
Roseanne_0606
di tabok aja, El. Stevenya itu 😭😭
Lovelyiaca: tabok aja kak 🤣
total 1 replies
Roseanne_0606
Bagus kak ceritanya 😆
Lovelyiaca: makasih kak, tunggu kelanjutannya ya
total 1 replies
Roseanne_0606
Semangat updatenya thor 💪
Lovelyiaca: makasih supportnya kak 😄
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan mau pulang El
Lovelyiaca: makasih udah mampir ya kak
total 1 replies
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!