NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Genggaman Mafia

Cinta Dalam Genggaman Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Pengasuh / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: adelita

Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Markas Emerick – Meksiko

Di tengah tanah tandus Meksiko yang luas, berdiri sebuah bangunan besar berbentuk benteng tua yang telah dimodifikasi menjadi markas pribadi Emerick Vasquez. Markas ini bukan sekadar rumah persembunyian biasa. Ini adalah benteng pertahanan yang selama bertahun-tahun menjadi tempat bagi orang-orang bayaran, kriminal, dan pengkhianat yang bekerja untuknya.

Dari luar, bangunan ini tampak seperti reruntuhan tua yang tidak berpenghuni—struktur batu bata usang dengan retakan di mana-mana, seolah sudah berusia ratusan tahun. Namun, siapa pun yang cukup bodoh untuk mendekatinya akan segera menyadari bahwa tempat ini jauh dari kata terbengkalai.

Dinding luar dipasangi kawat berduri dan beberapa menara pengawas dengan sniper bersenjata lengkap. Setiap sudut bangunan diawasi oleh kamera keamanan yang tersembunyi. Pintu masuknya hanya bisa diakses melalui jalan berbatu yang sempit, yang membelah tanah lapang luas. Tidak ada kehidupan lain di sekitarnya kecuali suara serangga malam dan angin yang berhembus pelan, membawa debu dan pasir ke segala arah.

Di dalamnya, markas ini lebih dari sekadar benteng pertahanan. Lorong-lorong panjang yang gelap dihiasi dengan lampu redup, sementara berbagai ruangan tersebar di berbagai penjuru. Beberapa ruangan digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata dan uang hasil bisnis ilegal Emerick. Ada juga ruang eksekusi, tempat di mana banyak pengkhianat menemui ajal mereka tanpa sempat mengucapkan kata terakhir.

Namun, di balik semua itu, ada satu ruangan yang paling tersembunyi di dalam markas ini—ruangan tempat Cassandra ditahan. Sebuah kamar dengan dinding tebal yang kedap suara, tempat di mana Emerick menyimpan "tawanannya."

...➰➰➰➰...

Di Dalam Kamar Tawanan

Udara di dalam kamar itu terasa pengap, dengan bau alkohol yang masih tersisa di udara. Lampu temaram menciptakan bayangan aneh di dinding, sementara ranjang besar di tengah ruangan menjadi satu-satunya perabotan yang terlihat mencolok.

Emerick Van Houten berdiri di dekat ranjang dengan satu tangan memegang gelas minuman keras yang isinya hampir habis. Mata tajamnya menatap Cassandra, perempuan yang sekarang berada dalam kondisi mengenaskan di hadapannya. Bajunya berantakan, sebagian besar sudah terbuka, menyisakan hanya pakaian dalam yang masih melekat di tubuhnya. Rambutnya kusut, dan ada bekas lebam samar di lengan dan bahunya serta kemerahan di pipi akibat perlawanan yang ia lakukan sebelumnya.

Cassandra sendiri masih sadar, meskipun tubuhnya terasa lemas. Ia menatap Emerick dengan sorot mata penuh kebencian, tetapi tidak bisa berbuat banyak. Tali di pergelangan tangannya sudah dilepas, tetapi tenaganya sudah habis karena terlalu banyak melawan sejak tadi.

Emerick menyeringai tipis. Ia menikmati rasa putus asa di mata perempuan itu. Namun, sebelum ia sempat bergerak lebih jauh—

BRAK!

Tiba-tiba, pintu kayu tebal itu didobrak dengan kasar dari luar. Tiga pria bersenjata bergegas masuk dengan wajah panik, mengabaikan situasi di dalam kamar yang seharusnya menjadi wilayah pribadi Emerick.

"SIALAN! APA-APAAN INI?!" Emerick mengamuk, melempar gelas di tangannya ke dinding dengan keras hingga pecah berkeping-keping. Matanya membelalak penuh amarah saat melihat anak buahnya masuk tanpa izin. "BERANI-BERANINYA KALIAN MASUK TANPA PERINTAHKU?!"

Ketiga pria itu langsung menundukkan kepala dengan ketakutan, tahu bahwa kesalahan sekecil apa pun bisa berujung maut jika berhadapan dengan bos mereka.

"Maaf, Tuan!" salah satu dari mereka tergagap. "Tapi—"

Mereka terdiam sejenak, baru menyadari kondisi di dalam ruangan. Cassandra yang setengah telanjang di ranjang, bekas kekacauan yang terlihat jelas, dan ekspresi frustasi di wajah Emerick. Namun, meskipun mereka menyadari ada sesuatu yang tidak beres di sini, mereka tidak bisa berfokus pada itu.

Ada hal yang jauh lebih mendesak.

"APA?!" Emerick membentak mereka, tidak sabar dengan keterlambatan laporan mereka.

Pria di depan menelan ludah sebelum akhirnya bicara. "Markas kita diserang, Tuan! Ini... ini Rafael Montenegro! Orang-orangnya sudah mengepung tempat ini!"

Waktu seolah berhenti sejenak. Ekspresi Emerick berubah drastis. Matanya yang awalnya dipenuhi kesenangan kini dipenuhi kemarahan yang mengerikan.

"Apa?!" suaranya bergetar penuh amarah.

"Mereka datang dengan persenjataan lengkap! Banyak dari orang-orang kita sudah tumbang di luar! Mereka tidak akan berhenti sampai membunuh kita semua!"

Emerick mengepalkan tangannya. Amarahnya kini sudah tidak bisa dibendung. Ia mendengus keras, mengabaikan Cassandra yang masih tergeletak lemas di ranjang.

"SIALAN! KENAPA BARU SEKARANG KALIAN MELAPORKANNYA?!" ia meraung, melangkah cepat menuju pintu.

Ketiga anak buahnya hanya bisa diam, tidak berani menjawab.

Emerick menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain. Sekarang, hanya ada satu prioritas: mempertahankan markasnya dari serangan brutal Rafael Montenegro.

Tanpa melihat ke belakang, ia melangkah keluar dengan cepat.

BRAK!

Pintu besi kamar itu ditutup dengan keras, lalu langsung dikunci dari luar, meninggalkan Cassandra sendirian di dalam.

Sementara di luar sana—

Suara tembakan bergema di udara, mengguncang tanah lapang yang sunyi. Cahaya dari ledakan granat sesekali menerangi malam yang gelap.

Helikopter hitam melayang rendah di langit, berputar di sekitar area markas Emerick. Dari atas, anak buah Rafael turun dengan tali, mendarat di berbagai titik strategis.

Di gerbang utama, anak buah Emerick yang bertugas menjaga perbatasan sudah berjatuhan satu per satu. Tubuh mereka terkapar di tanah, sebagian tertembak tepat di kepala sebelum mereka sempat membalas tembakan.

Salah satu anak buah Rafael berbicara melalui radio, "Tuan, perimeter luar sudah dikuasai. Kami hanya tinggal menunggu perintah Anda untuk masuk ke dalam!"

Di kejauhan, sebuah SUV hitam berhenti di tengah jalan tanah yang berdebu. Pintu belakangnya terbuka, dan seorang pria turun dengan langkah santai namun penuh kewaspadaan.

Rafael Montenegro.

Dengan jas hitam yang masih rapi dan ekspresi yang tak tergoyahkan, ia mengangkat walkie-talkie dan berbicara dengan suara rendah namun penuh kepastian.

"Serang."

...➰➰➰➰...

Lorong markas itu gelap dan panjang, hanya diterangi oleh lampu gantung tua yang berkedip-kedip, seolah merasakan ketegangan yang merayapi udara. Langkah kaki Emerick bergema di sepanjang lantai beton, terdengar tegas dan penuh amarah.

Di belakangnya, anak buahnya bergegas mengikuti, sementara suara tembakan dari luar semakin mendekat. Suara raungan mesin helikopter yang berputar di atas mereka menambah ketegangan.

Salah satu anak buah setianya, seorang pria berambut cepak dengan luka menganga di lengan akibat terkena serpihan peluru, berjalan cepat di sampingnya, berusaha mengikuti langkah cepat sang pemimpin.

"Tuan! Mereka menyerang dari tiga titik utama!" pria itu melaporkan dengan suara terburu-buru. "Gerbang depan sudah hampir runtuh, mereka menggunakan granat dan sniper dari kejauhan! Kami sudah kehilangan separuh pasukan penjaga!"

Emerick tidak segera menjawab. Matanya yang tajam dan penuh kebencian menatap lurus ke depan, ekspresinya nyaris tak terbaca. Tapi setiap tarikan napasnya, setiap gerakan tubuhnya, memancarkan amarah yang semakin membara.

"Tuan! Ini bukan serangan biasa, mereka datang dengan persiapan penuh! Rafael mengerahkan orang-orang terbaiknya, ini bukan sekadar peringatan, ini eksekusi!"

Mendengar itu, sudut bibir Emerick perlahan melengkung membentuk seringai berbahaya. Matanya berkilat, bukan karena takut—tetapi karena rasa puas yang mendalam.

"Bagus," katanya, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Aku ingin melihat bagaimana ekspresi Rafael Montenegro saat menyadari bahwa aku telah menyentuh sesuatu yang paling berharga baginya. Aku ingin melihat matanya yang penuh kemarahan saat ia tahu bahwa aku sudah mengacak-acak miliknya."

Tatapan Emerick semakin gelap, penuh dengan kesenangan yang mengerikan. Baginya, ini bukan sekadar pertempuran—ini adalah permainan yang ia nikmati.

Saat mereka melangkah ke pintu keluar lorong, salah satu bodyguard pribadinya muncul dari balik bayangan, wajahnya serius dan tangan kanannya menggenggam sebuah pistol berlapis emas yang langsung ia serahkan kepada Emerick.

1
Elizabeth Zoe
sekolah minggu? tadi di bab 1 ada kalimat "jangan lupa solat di negara orang". kocak🤣
Fara Rasta
ceritanya bagus banget
Irabiya
kelamaan baru ad lanjutan x,,lelah nunggu x/Facepalm/
merry jen
jhtt bgtt rafe ngejerat Casandra bgtuu ,,ngmgyy Casandra bhongg pdhll diabyg culik paksa sekpp casandraa tgll drmhh dia ,,skrg jlkinn Casandra ddpn orgtua y lgg ,,
merry jen
kshh Casandra jdii twnnn ,,pdhll sstss bukn pekerjaan Isti atauu pun budakk ,,aneh mafia satu inn
merry jen
apa nntii Casandra gk truma ya atas kjdian yg menimpa yy🤔🤔
merry jen
si amorr itu sapa yaa pnsrann ygg sm ed
merry jen
kshnn sandraa jdii tahannn pdhll dia ajj di culikk dr fareal
Tara
kuberikan secangkir coffee hangat kak. Semangat!!!
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!