Next Season 2
Judul : THE THIRD EYE (SEASON 2)
Yang ingin baca kelanjutannya silahkan cek profile Author.
Warning : Jangan baca di tengah malam!!
Genre: Horor, Romantis, Misteri, Supranatural, Action & Fantasi.
Sinopsis:
Bercerita mengenai anak-anak pemilik kekuatan Mata Ketiga (The Third Eye) yang bertarung dengan para Iblis, Jin, Siluman dan semua makhluk tak kasat mata yang menargetkan manusia sebagai makanan bagi mereka. Persaingan menjadi yang terkuat, persahabatan, rivalitas dan pengkhianatan mewarnai cerita ini. Apakah Hanes dan kawan-kawan bisa menciptakan kedamaian atas dunia yang telah dikuasai oleh para Iblis Penuntut Nyawa.
Penulis : Mayhard20
Sosmed : herdi_meidianto (instagram)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayhard20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 Sejarah Kelam Gerbong Berdarah
Part sebelumnya :
Hanes tiba-tiba terbangun di sebuah bangku stasiun. Hanes benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi. Kenapa bisa-bisanya ia berada di tempat ini? Lalu kemana gerbong kereta yang membawanya semalam pikir Hanes. Masih dalam kebinggunganya, tiba-tiba pundak Hanes ditepuk oleh seseorang. "Adik ini kenapa?" tanya sosok ramah dengan pakaian POLSUSKA itu kepada Hanes. Hanes terdiam sebentar sembari memandangi sosok ini. "Kenapa aku bisa-bisa ada di tempat ini, Pak?" tanya Hanes penasaran.
POLSUSKA ini bernama Robi, hal itu terlihat dari name tag yang berada di pakaiannya. Sosok ini kemudian menjawab pertanyaan Hanes barusan, "Kamu tertidur di dalam kereta dan ditemukan oleh petugas kebersihan, Dik," ujar Pak Robi ini. "Oh terima kasih banyak kalau seperti itu Pak Robi. Ngomong-ngomong tas ransel milikku ada di mana ya?" tanya Hanes. Ia baru menyadari kalau dari tadi tertidur, tapi tidak ada tas ransel yang ia bawa sebelum pergi. Pak Robi hanya tersenyum dan kemudian berkata, "Tas ransel milik adik, saya titipkan di bagian keamanan di sana!" sambil menunjuk ke arah di mana para POLSUSKA yang lain berkumpul. "Adik ini mau pergi ke arah mana? Adik pergi sendirian?" tanyanya lagi. Hanes terdiam sejenak dan membalas seadanya, "Saya sedang ingin pergi liburan Pak, tapi sayangnya saya tertidur dan setelah ini mungkin akan minta untuk dijemput dengan taksi," ujar Hanes pelan.
Hanes mulai menyadari, bahwa ia sudah tiba di kota yang dimaksud. Tapi kemana Lysa, pikir Hanes. Ia sama sekali tidak melihat makhluk itu. Hanes kemudian dibimbing oleh Pak Robi untuk mengambil tasnya yang berada di ruangan POLSUSKA tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Pak Robi dan anggota POLSUSKA yang lain. Hanes segera keluar dari stasiun ini dan mencari taksi. Ia sudah mendapatkan alamat hotel di mana ia harus menginap di kota ini. Om Bobi sudah menyiapkan semuanya untuk Hanes terutama hotel untuk menginap. Rencananya Hanes akan berlibur selama dua hari di tempat ini. Hanes segera naik ke dalam mobil taksi itu dan berangkat menuju Hotel yang dimaksud.
Satu jam kemudian akhirnya Hanes sampai di Hotel yang dimaksud. Hotel ini bernama Santika memiliki bangunan yang cukup tinggi sebanyak 10 lantai dengan gedung yang berwarna putih. Kolam renang terdapat di bagian belakang Hotel ini. Hanes mendapatkan kamar dengan nomor 305, di mana kamar ini ternyata pemandangannya begitu indah. Karena langsung mengarah ke matahari tenggelam dan suasana perkotaan yang indah. Karena merasa capai, Hanes memutuskan untuk segera menaruh barang-barangnya dan berniat untuk tidur.
Empat jam pun berlalu ketika Hanes memutuskan untuk tidur. Akhirnya Hanes terbangun karena perutnya yang mulai lapar. Ia menggunakan room service untuk memesan makanan. Setelah memasan beberapa makanan, Hanes memutuskan untuk segera mandi dan ganti pakaian. Rencananya malam ini Hanes akan berjalan-jalan sebentar ke sebuah Mall yang terdapat di kota ini. Seusai mandi ternyata makanan sudah terletak di atas meja. Hanes segera melahap makanan itu sampai habis, karena memang dirinya sudah kelaparan dari tadi.
Setelah merasa kenyang Hanes segera bergegas turun dari hotel dan memesan taksi. Tujuan Hanes adalah mencari salah satu buku di toko buku dan berjalan-jalan. Baru saja akan memasuki mobil, ternyata Lysa sudah ada di dalam taksi tersebut. Makhluk ini tanpa suara ataupun tegur sapa kepada Hanes, hanya duduk terdiam. Hanes yang tidak mau ambil pusing hanya bisa menghela nafas dalam-dalam, akhirnya malam itu terjadilah jalan-jalan Hanes bersama Lysa.
Hanes sudah mendapatkan yang ia mau dan Lysa tampaknya juga sudah puas melihat-lihat tempat ini. Hanes memutuskan untuk segera pulang ke Hotel karena memang sudah mengantuk. Tidak beberapa lama kemudian taksi yang dipesan Hanes segera datang dan melaju ke arah Hotel. Ketika akan masuk ke dalam Lift, Hanes mendengar perbincangan dari salah seorang lelaki dan perempuan. Kedua orang ini tampaknya berdebat tentang bagaimana mereka akan pulang ke kota asal mereka. "Yank, kita pulangnya naik kereta saja ya?" tanya si cowok. "Ah aku ga mau naik kereta, kita naik pesawat saja ya!" ajaknya. "Loh kenapa dengan naik kereta?" timpal si cowok. "Apa kamu tidak takut naik kereta malam-malam seperti ini? Stasiun Lodajaya itu sangat angker loh! Bahkan ada kereta hantu di sana. Kamu mau tersesat di alam jin?" terang si cewek.
Hanes tercekat dengan perkataan barusan, Stasiun Lodajaya adalah stasiun di mana Hanes tersesat di alam gaib semalam bersama Lysa. Untunglah ia dan Lysa bisa keluar dari tempat itu sebelum hal buruk terjadi. Hal ini makin menguatkan Hanes tentang pernah terjadi hal yang buruk di tempat itu. Hanes hanya diam, ia tidak menanyakan kelanjutan obrolan dari sepasang kekasih di depannya ini. Hanes segera masuk ke dalam kamar dan mengeluarkan handphonenya. Ia langsung mencari artikel ataupun berita yang berkaitan dengan Stasiun Lodajaya.
Sekitar 10 menit mencari berita, akhirnya Hanes menemukan fakta mengerikan tentang Stasiun Lodajaya. Konon pada tahun 1930 kereta api yang membawa sayur mayur untuk didistribusikan ke beberapa daerah ini di isi oleh banyak petani dan warga. Kereta ini penuh sesak dengan sayur mayur dan juga para warga yang akan menjual dagangan mereka itu, tapi sungguh sayang, nasib baik tidak sepenuhnya berpihak dengan para petani ini. Terjadi kecelakaan yang sangat parah saat itu antara kereta yang membawa sayur mayur ini dengan kereta yang membawa batu bara. Salah satu kereta ini tidak melihat adanya tanda berhenti atau peralihan jalur dan tetap melesat maju. Tabrakan antara dua kereta ini tidak bisa terelakkan lagi. "Boom!! Duar!! Blar!!" terdengar bunyi ledakan yang sangat besar saat itu. Hal ini mengakibatkan seisi kereta itu tidak ada yang selamat satu orang pun.
Jasad-jasad mereka tidak beraturan karena tabrakan tersebut. Serpihan-serpihan kaca banyak melukai dan mengiris tubuh-tubuh para petani ini. Bodi kereta api juga sudah tidak berbentuk lagi karena kecepatan kereta yang sangat cepat pada saat itu.
Selain berita barusan, Hanes juga menemukan sebuah berita yang baru terjadi beberapa tahun yang lewat. Berita ini membahas tentang banyaknya muda-mudi yang putus asa dan bunuh diri di rel kereta Stasiun Lodajaya. Beberapa penyebab lainnya adalah kecelakaan ataupun depresi. Hal ini juga menambah kemungkinan kenapa Stasiun Lodajaya menjadi sangat angker seperti sekarang ini. Hanes masih berpikir dalam diamnya, hingga akhirnya ia dikejutkan oleh sosok Lysa yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Apa yang kau pikirkan, bocah?" tanya Lysa. Hanes yang merasa terkejut langsung mengumpat ketika menyadari itu adalah Lysa. "Sial ... aku pikir siapa, ternyata kau Lysa! Aku memikirkan kejadian aneh di Stasiun Lodajaya," ujar Hanes. "Apa lagi yang harus kau pikirkan? Bukankah sudah jelas tempat itu memang angker?" tanya Lysa. "Tidak adakah cara agar kita mengatasi hal tersebut?" Hanes bertanya sekali lagi. "Ya itu terserah denganmu. Tapi aku rasa akan sulit, aura jahat benar-benar terasa di tempat itu. Aku rasa juga tempat itu memiliki penjaga yang berbahaya," balas Lysa. "Hal yang paling penting bagiku adalah kau mau membantu atau tidak Lysa?" ungkap Hanes. Lysa hanya tersenyum penuh arti ke arah Hanes. "Tidak mungkin aku tidak membantumu bodoh!"
Hanes memutuskan untuk tidak jadi berlibur dan segera memesan tiket kereta sekali lagi. Tapi bukan tiket pulang ke rumah Om Bobi yang Hanes beli. Ia membeli tiket kereta api menuju Stasiun Lodajaya. Ia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu. Setelah tiket di dapat keesokan paginya Hanes segera check out dari Hotel Santika itu. Kini Hanes sudah berada di dalam kereta api dan kereta mulai berjalan menuju Stasiun Lodajaya. Jarak antara kota ini ke Stasiun Lodajaya memakan waktu sekitar 4 jam. Tepat pukul 13.00 WIB Hanes akhirnya tiba di Stasiun Lodajaya sekali lagi.
Hal pertama yang Hanes lihat dari stasiun ini adalah tempat yang kumuh dan kotor, sampah bertebaran di mana-mana dan kondisi stasiun yang tidak terawat. Stasiun ini juga terlihat sepi saat siang hari, hal ini makin menguatkan dugaan Hanes bahwa ada hal yang tidak beres dengan stasiun ini. Lysa berdiri di belakang Hanes, ia masih mengecek tempat ini satu persatu dan tidak lama kemudian berbicara, "Aura negatif begitu terasa di tempat ini, tampaknya benar banyak kejadian berdarah yang sudah terjadi di masa lalu," ujar Lysa. Hanes hanya mengangguk karena situasi saat itu cukup ramai.
Tidak lama kemudian Hanes memutuskan untuk mengelilingi tempat ini. Hal pertama yang Hanes lihat adalah terdapat 1 buah jembatan yang sudah sangat rusak berdiri melintang di atas rel kereta ini. Jembatan ini terlihat sudah sangat tua dan beberapa bagiannya sudah berkarat dan nyaris lepas. Tapi tampaknya tidak ada perhatian sama sekali dari PT. KIA tentang menghadapi hal-hal seperti ini. Di sekeliling stasiun sudah dibuat tembok-tembok tinggi berwarna putih. Hal ini dibuat untuk membatasi perumahan warga yang berdiri di sebelah tembok ini. PT. KIA benar-benar mengetatkan soal pembangunan lahan dari para warga yang mulai sedikit demi sedikit mengambil lahan dari PT. KIA.
Sedang asik-asiknya mengamati setiap sudut tempat ini. Tiba-tiba pundak Hanes ditepuk oleh seseorang. "Apa yang kau cari, Nak?" tanya lelaki tua dengan pakaian petugas PT. KIA. "Hmm ... ah tidak pak aku hanya berkeliling," balas Hanes. "Jangan berkeliling di tempat seperti ini, Nak! Apa lagi jika kau suka melamun seperti itu, tempat ini angker!" timpal pak tua ini. Hanes merasa bahwa pak tua ini mengetahui sesuatu tentang tempat ini. "Hmm ... bapak bisa memberi tahuku sesuatu?" tanya Hanes pelan. "Apa itu?" terlihat pak tua ini cukup terkejut dengan ucapan Hanes barusan. "Apa yang bapak ketahui tentang keangkeran tempat ini?" tanya Hanes antusias. Bapak tua ini terdiam sebentar dan kemudian berkata, "Baiklah, aku akan bercerita sedikit tentang tempat ini. Tapi sebelum itu mari kita duduk di warung makan itu," Pak tua ini menunjuk salah satu warung makan yang berada di dalam stasiun.
Bersambung