Perjodohan yang dilakukan orang tua ku dan teman mereka membuatku terjebak dengan seorang Dosen killer. Dia meninggalkan aku di sebuah rumah besar miliknya, namun dia terus menafkahiku. Pria itu berjanji akan menceraikan aku setelah ia kembali.
Setelah 5 tahun, dia kembali dan meminta diriku untuk tetap bersamanya. Setelah aku menyanggupinya, tiba-tiba saja ada wanita yang datang dalam kehidupan kami dan mengaku sebagai istrinya.
Siapa wanita itu sebenarnya? Dapatkah kami mempertahankan rumah tangga ini hingga akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secarik rindu di senja hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Bertemu denganmu
Seorang pria berjongkok di hadapan Nathaline dan membantu putrinya yang sedang terluka. Pria itu kemudian menggendong gadis kecil itu lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya. Nathaline masih tampak terkejut saat melihat pria itu, ia bahkan tidak bisa berkata-kata sedikit pun.
"Bu, ayo ikut aku ke rumah sakit! Putrimu perlu segera di tangani," ucap pria itu menyadarkan Nathaline dari lamunanya.
Nathaline segera bergegas menyusul putrinya dan pria tadi ke dalam mobil, kemudian masuk begitu saja tanpa berani melihat wajah pria itu.
"Apa kabar? Lama tidak berjumpa, Abi," ucap Nathaline setelah sekian lama terdiam. Pria itu mengerem mobilnya mendadak dan langsung menoleh ke arah belakang. Nathaline hanya tersenyum simpul menatap pria itu.
"Dasar wanita ini, benar-benar harus di beri pelajaran! Lihat saja nanti," ucap Abidzar dengan raut wajah geram, kemudian kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Nathaline tampak kaget melihat ekspresi geram pria itu, tetapi ia sudah tidak heran lagi. Ia pasti tahu jika Abidzar sangat jengkel karena ia menghilang tanpa kabar selama ini.
Setelah sampai di rumah sakit, Abidzar langsung menggendong putri Nathaline menuju ke ruangan dokter. Sementara itu, Nathaline hanya bisa mengikuti dengan gelisah langkah pria itu.
"Ayo ikut dengan ku! Banyak hal yang harus kau jelaskan kepadaku!" bentak Abidzar sembari menarik tangan Nathaline tiba-tiba dan membawanya ke tempat sepi setelah mengantar putri wanita itu ke ruang dokter.
Brukh!
Abidzar memukul dinding tepat di samping wajah Nathaline dan hampir saja mengenai wajah cantik wanita itu. Nathaline bahkan sangat kaget melihat tingkah Abidzar yang berubah drastis.
"Inikah alasanmu tidak memberi kabar kepadaku Nathaline! Aku menunggumu selama enam tahun! Tapi ini balasanmu! Kau memintaku untuk menunggumu, tetapi mengapa kau yang menghianati aku!" bentak Abidzar yang memasang wajah penuh kekecewaan.
Nathaline hanya menatap bingung ke arah pria itu. Wanita itu benar-benar tidak mengerti apa maksud dari perkataan sahabatnya itu.
"Apa maksudmu? Mengapa kau membentak ku seperti ini?" Nathaline membuka suara setelah sekian lama terdiam, ia hanya bisa menatap heran ke arah Abidzar.
"Kau masih pura-pura bodoh? Kau menghianati janjimu sendiri! Kau bilang akan menikah denganku setelah kembali dari Amerika, aku menungguku dan membujang selama bertahun-tahun lamanya. Tapi apa balasanmu? Kau malah pulang membawa gadis kecil bersama mu? Kau benar-benar seorang pembohong!" ucap Abidzar panjang-lebar.
Nathaline kembali menatap pria itu sembari menahan tawa. Ia baru mengerti maksud perkataan sahabatnya itu. Rupanya Abidzar mengira Nathaline telah menikah lagi dan menghianati janjinya untuk menikah dengan Abidzar.
"Kau masih menunggu selama enam tahun? Mengapa tidak mencari wanita lain saja?" tanya Nathaline sembari menatap heran pria itu.
"Semenjak mengenal dirimu, aku tidak pernah jatuh cinta kepada wanita manapun Nathaline. Aku benar-benar mencintai dirimu, tapi sudahlah! Aku benar-benar tidak memiliki harapan sama sekali, mulai saat ini aku akan melupakan dirimu, selamat tinggal," jawab Abidzar masih dengan raut wajah sedihnya. Pria itu berbalik dan perlahan menjauh dari Nathaline.
Nathaline masih menahan tawa karena melihat ekspresi dan mendengar kata-kata yang diucapkan dan keluar dari mulut Abidzar. Wanita itu kini bisa merasakan, bahwa pria itu benar-benar sungguh-sungguh akan perkataannya selama bertahun-tahun lalu.
"Dia anak dari Pak Rey, Abi. Aku kembali karena ia sangat ingin bertemu dengan ayahnya, aku juga ingin kembali karena merindukan dirimu." Perkataan Nathaline sanggup menghentikan langkah kaki Abidzar.
"Jadi, gadis kecil itu anak Reyhans? Benarkah? Jadi, aku masih memiliki kesempatan untuk memiliki cintamu?" tanya Abidzar dengan raut wajah penuh harap. Nathaline hanya mengangguk sebagai jawaban atas semua pertanyaan pria itu.
Abidzar langsung berlari dan memeluk erat tubuh Nathaline. Hatinya benar-benar sangat lega karena masih di berikan kesempatan untuk bisa bersama dengan wanita yang selama ini ia cintai
"Lepaskan dulu, ada satu hal yang masih aku bingungkan. Apa yang kau lakukan di penginapan tadi? Jangan bilang, jika kau menyewa wanita bayaran?" tanya Nathaline dengan tatapan penuh curiga.
Abidzar hanya mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah Nathaline. Pria itu kemudian mencubit pelan hidung mancung wanita itu.
"Apa yang ada dipikiranmu itu? memangnya aku pria seperti itu?" jawab Abidzar sembari terkekeh, sementara Nathaline masih menunggu jawaban yang serius dari pria itu.
"Baiklah, akan aku katakan. Ayahku menjodohkan aku dengan seseorang karena aku sudah lama menjomblo selama ini, aku juga tidak pernah dekat dengan seorang wanita pun, jadi ayahku meminta diriku untuk datang ke penginapan itu untuk bertemu orang tersebut. Kau tahu apa yang lucu?" Abidzar bertanya sambil terkekeh setelah bercerita panjang lebar. Nathaline hanya menjawab dengan gelengan kepalanya saja.
"Ternyata ia menjodohkan aku dengan seorang pria! Benar-benar gila! Dia pasti mengira aku memiliki kelainan karena tidak pernah bersama dengan wanita selama ini," ucap Abidzar mengakhiri ceritanya. Tawa mereka pecah ketika Abidzar mengatakan hal itu.
Mereka asik mengobrol hingga melupakan Nazwa yang masih berada di ruangan dokter sedari tadi.
Sementara itu, di tempat Nazwa berada tampak seorang bocah laki-laki yang tengah menangis sesegukan tepat di samping gadis kecil itu
"Mengapa kau menangis? Kau itu seorang pria, kata bunda seorang pria tidak pernah menangis," ucap Nazwa polos, ketika bocah laki-laki tersebut menangis semakin kecang di sampingnya.
"Aku takut di suntik," rengek bocah laki-laki berusia 6 tahun itu.
"Dengar Leon? Gadis ini lebih kecil darimu, tapi dia tidak menangis saat di suntik, ia 'kan sayang?" tanya seorang pria kepada Nazwa dan gadis kecil itu kemudian mengangguk dengan semangat.
"Oh iya, di mana orang tuamu? mengapa kau sendiri di sini?" tanya pria itu lagi, tetapi Nazwa terlihat sedih.
"Mungkin bunda sedang ke toilet. Om tau? Bunda bilang jika ayah dan bunda tidak boleh tinggal bersama lagi. Padahal Nazwa sangat ingin memiliki ayah, Nazwa selalu di ejek dan dikatan sebagai moster karena tidak memiliki ayah," ucap gadis itu dengan polosnya sembari menyeka air matanya.
'Ada apa dengan orang tua gadis kecil ini? mungkinkah mereka sudah bercerai? Kasihan sekali, mengapa jika orang tua berpisah anak-anak merekalah yang akan menjadi korban? Itu sangat tidak adil, mereka bahkan tidak mengetauhi apa-apa,' batin pria itu, sembari mengelus rambut gadis kecil itu, ia seakan bisa merasakan apa yang tengah di rasakan oleh gadis kecil itu.
"Oh, itu bunda! Om, Nazwa pergi menyusul bunda ya. Eh, pria cengeng! jangan menangis lagi ya! kau beruntung masih memiliki ayah yang sayang kepada dirimu," ucap gadis itu sembari berlari menghampiri Nathaline yang tidak jauh dari sana.
Pria itu masih mematung di tempatnya berdiri tadi, sembari memperhatikan langkah kecil gadis itu, yang semakin jauh darinya.
'Matanya, mengingatkan aku kepada seseorang yang pernah mengisi hatiku dengan kebahagiaan,' batin pria itu saat memperhatikan langkah Nazwa yang perlahan menghilang darinya.
...Next......
...Jangan lupa tinggalkan jejak❤...
Terima kasih atas kritik dan sarannya.
benci aku sama Reyhans
ko jdi gini si, uda ngga seruh lgi