NovelToon NovelToon
Bukan Darah Biru

Bukan Darah Biru

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Ambu

Aiza Bahira adalah gadis cerdas, cantik dan selalu ceria. Sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan keluarga darah biru menyeretnya ke dalam sebuah konflik kehidupan dan terpisah dengan keluarganya serta kehilangan ingatan akan masa lalunya.

Sedangkan Deanka Kavindra Byantara adalah anak cerdas yang dijadikan korban perjanjian politik. Masa lalu Deanka dipenuhi dengan tekanan dan kekerasan hingga ia trauma dan takut jatuh cinta.

Aiza dan Deanka terjebak dalam kisah cinta yang sangat rumit. Aiza dan Deanka sama-sama menjadi korban keserakahan keluarganya yang gila harta, popularitas dan jabatan.

Apakah Aiza dan Deanka bisa menemukan cinta dan kebahagiaan?

Apakah Aiza bisa mengingat lagi masa lalunya dan berkumpul lagi dengan keluarganya?

Apakah Deanka bisa sembuh dari traumanya?

Mari kita ikuti kisahnya!!

NB: Siapkan tissue!

***

Terima kasih sudah berkenan mampir dinovel pertamaku ❤

Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan.

Aamiin...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandal yang Tertinggal

Mall itu berada hampir dekat dengan pusat kota, terdiri dari 10 lantai sangat megah dan luas.

Dindingnya terbuat dari kaca tebal dengan perpaduan antara warna navy, dusty dan putih.

Saat memasukinya, mata pengunjung akan di sambut oleh taman yang sangat luas, di lengkapi dengan taman bermain khusus anak-anak.

Taman tersebut di hiasi lampu-lampu kecil yang di susun membentuk berbagai jenis hewan dan bangun ruang.

Pemandangannya mungkin akan lebih indah jika di lihat pada malam hari.

Area parkirnya terdapat di lantai dua.

Di lantai 3 terdapat kolam renang dan di khususkan untuk arena bermain air.

Lantai paling atas di gunakan sebagai kantor.

Intinya mall itu sangat megah dengan fasilitas super lengkap, menyediakan berbagai macam kebutuhan manusia seperti sandang, pangan, papan dan rekreasi.

***

Niana dan Susi telah sampai di depan mall tersebut.

Mata Susi terbelalak, lehernya yang jenjang nampak semakin indah saat gadis itu mendongakan kepalanya melihat ujung dari bangunan tersebut.

"Kak tolong pegang tanganku Kak," tangannya meraba ke sembarang arah mencari tangan Niana.

"Kak cubit aku kak! Apa ini mimpi?"

Susi masih berceloteh, bahkan saat tangannya di tarik paksa oleh Niana ia tidak menyadari karena terlalu fokus memperhatikan dan takjub dengan mall tersebut.

"Kak, apa gak apa-apa kita ke sini? Pasti mahal kan?" kata Susi.

Dasar gadis bodoh, cuma liat-liat doangkan gratis.

"Tentu saja mahal, tapi tenang aja, aku udah bayar semuanya tadi pas di pintu masuk."

Bodohnya, padahal aku berbohong.

"Kita di sini mau ngapain aja Kak? Aku pusing, aku memang suka melihat barang-barang yang bagus tapi jika melihat banyak seperti ini aku pusing, Kak?"

Anak ini, aku kan tadinya mau ajak dia muter-muter mall sampai sampai malam, sampai dia kecapean, terus aku tinggalin dia deh.

Kalau dia gak mau jalan, dan megangin tangan aku terus, gimana aku mau ninggalin dia?

"Gimana kalau kita ke lantai 9 aja, kita lihat- lihat pemadangan, tapi temenin aku belanja aksesoris dulu ya!" kata Niana

"Baiklah" Susi mengangguk.

Ternyata Niana membelanjakan uang pemberian temannya untuk belanja aksesoris, bukan untuk nonton bersama Susi.

Mereka menaiki eskalator menuju lantai 9.

Susi memegang erat tangan Niana, dengan suara lantang dia berkata "Kak aku takut, aku baru pertama kali naik tangga jalan kaya gini" Perkataan itu membuat beberapa orang yang sedang menaiki eskalator tersebut menatap Susi, lalu sesekali mereka juga menatap Niana.

Mereka melihat penampilan Susi dari atas sampai bawah.

Beberapa dari mereka terlihat tersenyum tulus, dan ada juga yang tersenyum sinis.

Duhh ... aku nyesel bawa dia kesini, harusnya tadi aku turunin aja dia di jalan, sekarang aku sendiri yang malu kaan?? Sial..siaaaal semoga aku gak ketemu sama siapapun yang aku kenal. Umpat Niana.

.

.

"Nah ini lantai 9, ayo kita duduk di pojok sana!" Niana berjalan menuju salah satu pojok mall di lantai 9 dengan dinding pembatas yang terbuat dari kaca transparan.

Dari sudut itu mereka bisa melihat pemandangan kota disiang hari.

Ada banyak gedung yang lebih tinggi dari mall tersebut, namun bagi Susi pemandangan tersebut sudah lebih dari cukup, mulutnya tidak berhenti berdecak kagum, matanya melirik ke sana ke mari, sesekali ia menarik tangan Niana untuk menunjukkan sesuatu.

"Kak lihat itu! Kira-kira orang itu lagi apa yak Kak? Dari sini mereka terlihat kecil"

"Mana ku tau, mataku bukan teleskop" jawab Liana.

"Kak lihat itu ...!"

"Udah kamu lihat sendiri aja sih! Gak usah manggil-manggil aku!"

"Kak yang itu loh yang deket gedung warna merah, itu bangunan apa?!"

"Kak gedung yang tertinggi di kota ini dari sini terlihat lebih jelas."

Niana tidak menjawab, dia memilih diam dan menutup telinga dengan apa yang dikatakan Susi.

Dia merasa sangat malu dengan tingkah Susi, beberapa orang yang berada tidak jauh darinya meliriknya berkali-kali, mungkin mereka berpikir dia kakak yang jahat dan tidak peduli dengan adiknya.

Segera Niana bangkit dari duduknya, dia lantas menarik paksa tangan Susi dan membawanya ke area yang sepi, sepertinya sebuah lorong.

"Brukk" Niana mendorong Susi ke tembok, matanya menatap Susi dengan tatapan penuh amarah.

Tinggi mereka hampir sama, jadi Niana benar-benar bisa menatap Susi dari dekat.

"Kakak kenapa? Maafin kalau aku membuat Kakak marah."

"Ya aku marah, aku gak suka kamu tinggal di rumahku, aku gak mau jika Kak Lia, Bapak atau Ibu malah lebih menyukaimu daripada menyukaiku, kamu harus tahu posisimu, kamu itu lahir dari seorang wanita penggoda, ibumu yang menggoda bapakku, bapakku pernah meninggalkan kita demi ibumu."

Niana mengarang cerita, tujuannya tentu saja untuk membuat Susi bersedih dan menyesali keberadaannya.

Rencana Niana berhasil, mata Susi mulai berkaca-kaca, namun sebenarnya bukan perkataan Niana yang membuat Susi bersedih.

Susi bersedih karena ia tidak terima ibunya di hina dan dikatakan sebagai wanita penggoda.

Susi memang kehilangan ingatannya, tapi di dalam hatinya ia sangat yakin jika ibunya adalah seorang wanita baik dan terhormat.

Melihat Susi bersedih Niana sangat puas, ia membalikkan badan meninggalkan Susi.

Biar aku gak malu, aku memang harus jaga jarak dari dia, toh dia juga nanti ngekorin aku.

Niana tersenyum sinis melanjutkan langkahnya meninggalkan Susi yang sedang berusaha mengejarnya.

"Kak tunggu aku, Kak! Kakiku sakit, Kak beneran Kak, kakiku sangat sakit, tunggu aku! Jangan tinggalin aku Kak!" Susi menatap sejenak kakinya yang terasa panas dan sakit.

Apaa...?? Kenapa aku tidak pakai sandal sih? Kemana sandalku? Aku ingat tadi pakai sandalnya Kak Niana, Ya Tuhan, Kak Niana pasti marah kalau tahu sandalnya hilang.

Susi mencoba mengingat-ingat terakhir kali dia memakai sandal itu.

Oh iya aku ingat, tadi saat melihat-lihat pemandangan aku melepaskan sandalku. Lagian karpetnya bersih banget, aku jadi gak tega mau menginjaknya.

Susi membalikkan badan untuk kembali ke tempat terahkir kalinya ia melepas sandal.

Susi lupa akan tujuannya untuk mengejar Niana.

Pikirannya sekarang adalah segera menemukan sandal Niana

Ia merasa dirinya telah diajarkan untuk m bertanggung jawab menjaga barang orang lain yang dipinjamnya.

Susi mencoba mengingat-ingat tempat tersebut, dia melangkah sambil memutarkan pandangannya.

Aneh aku seperti dejavu melihat bentuk ruangan ini, kenapa bentuk ruangannya pada mirip sih? Lorong yang di sana juga sepertinya mirip dengan lorong yang ini, aduuuh gimana ini? Semoga sandalnya baik-baik aja.

Susi mulai kelelahan.

"Kreceek, kreceek," bising ususnya menjerit.

Aduh perutku, kenapa kamu gak bisa di ajak damai sih? Sabar ya? Mengelus-elus perutnya.

Ya Tuhan, di mana Kak Niana? Kak Niana tidak ninggalin aku kan? Lebih baik aku nunggu aja di sini. Kalau aku tetap duduk, pasti Kak Niana akan lebih mudah menemukanku.

Susi memilih untuk duduk di salah salah kursi yang ada di sudut mall.

Dinginnya AC mengajak Susi untuk menutup matanya.

Rasa laparnya menghilang seiring rasa kantuknya.

Gadis itu tertidur dengan posisi duduk, kepalanya bersandar pada tembok, mulutnya sedikit terbuka, namum Susi tetap terlihat cantik dan menggemaskan.

.

.

Di lantai 10

Seorang pria muda dengan postur tinggi, raut wajah hampir sempurna alias ganteng banget, berusia sekitar 23 tahunan sedang duduk serius menatap layar laptopnya.

Di hadapannya berdiri seorang pria berbadan tegap dan gagah, berkacamata, berusia sekitar 28 tahun memperhatikan pria muda tersebut.

"Maaf Tuan Muda, apa Anda yakin mau menginap di kantor yang sempit ini? Kenapa kita tidak kembali ke kantor pusat saja?" tanya pria berkacamata.

Pemuda itu tidak menjawab.

"Maaf Tuan Muda, apa Anda tidak menginap di hotel saja? Atau pulang ke apartemen Anda, atau mungkin pulang ke rumah utama? Saya khawatir jika Anda menginap di sini, tidur Anda akan tidak nyaman, lalu Anda sakit dan kita semua akan ha ...."

"Diaaammmmm," pemuda itu berteriak.

"Sudah ku bilang aku akan menginap di sini, aku mau tahu sipa saja yang datang terlambat dan gak becus kerja di kantor ini. Laporan penjualan tahun 2019 benar-benar kacau, laba yang kita dapatkan juga jauh lebih kecil daripada tahun 2018. Pasti ada yang tidak beres." Tangannya meremas dengan kasar map yang di pegangnya.

"Oiya satu hal lagi, jangan panggil aku Tuan Muda! Panggil saja namaku. Aku bukan Tuan Muda yang seperti kalian bayangkan."

"Baiklah Tuan Muda, jika memang tekad anda sudah bulat untuk menginap, saya pamit. Saya akan merahasiakan keberadaan Anda di tempat ini." Membungkukan badan lalu pergi meninggalkan pria tersebut.

"Sudah ku bilang, jangan panggil aku Tuan Muda!" teriaknya sambil melemparkan beberapa map ke arah pria yang sepertinya adalah sekretarisnya."

♡♡ Bersambung ....

1
Atun Nasa
siapa ya kira2 kaki2 ini🤔
Moertini
terimakasih thor ceritanya sudah tamat menarik mantap asyik dan seru berakhir semua bahagia yang jahat menerima hukumannya dilanjutin seasen ke 2 anak Deanka dan Aiza ditunggu semangat
nyai ambu: terima kasih kak, dan salam kenal🥰🥰🥰. oiya ditunggu kunjungannya ke karya nyai yg lain
total 1 replies
Dewi Eka
bagus
Dewi Saskia
visual Aiza jelek thor...beda banget dgn imajinasi sy karena gambaran2 yg ditulis...lihat gambar visualnya gak sesuai banget dgn gambar visual deanka...
kl visual deanka aku rasa sdh pas...sesuai banget...
tp aizanya jelek banget thor...
biar kau visual sendiri aja kayak nya ya...hehehee...
zainiyah hamid
baru nyambung baca LG nyai ....🤭
sambil nunggu TBR
Ganuwa Gunawan
tambah terasi betong dikit ja thor.. biar sedap jus nya
Ganuwa Gunawan
aduh nih s susi.. mau. bobo aja kok ya repot amat
Ganuwa Gunawan
kaya nya klu d jdiin satu jdi TIK TOK
Ganuwa Gunawan
kemanusiaan yg adil dan beradab
persatuan indonesia.. dan lain lain sbgy nya..
Ganuwa Gunawan
hahahaha..
yg jdi bawang putih bukan s susi
tp si niana sm s liana
Ganuwa Gunawan
aku juga ga tau bu
tanya aja tuh sama s thor
Ganuwa Gunawan
entah lah dokter...
aku juga bingung
Ganuwa Gunawan
jadi ayam geprek
Ganuwa Gunawan
bukan cuman beli hp nya doang thor
tapi sma pabrik juga karyawan bahkan sma yg punya pabrik nya pun dia beli..
Ganuwa Gunawan
dasar kalian serigala berbulu ketek
Ganuwa Gunawan
waduh
ngapa kerja nya nyangsrang d rumah warga thor.. heum bahaya ini mh
Ganuwa Gunawan
ya betul
yang kaya yg banyak harta banda nya pda dapat BANSOS..
yg miskin melarat mh cuma pda mangap doang makan angin
Ganuwa Gunawan
kenapa mesti d lap sih thor..
d jilat ge ngapa aaah
Ganuwa Gunawan
oh tak kira megangin kartu KIS thor..
Ganuwa Gunawan
ya karena mertua nya galak.. sadis.. seperti acan bing maung.. klu kga nurut bangsa nya d caplok ku mertua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!