NovelToon NovelToon
CAMELIA

CAMELIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:665.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kimmy reana

Kara,gadis cantik dan baik hati, tapi suatu kejadian mengerikan mengubah hidupnya menjadi gadis liar dan sulit di kendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy reana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 26

CAMELIA

Rintihan yang awalnya terdengar samar, lama-lama semakin kencang dan semakin jelas terdengar, berubah menjadi jeritan.

"Tidaaaaaaaaaak!"

Camelia terbangun dari tidurnya, dengan tubuh bergetar hebat dan peluh membanjiri tubuhnya. Seorang lelaki terburu-buru membuka pintu, datang memeluknya.

"Mimpi itu lagi?" Tanyanya, begitu Camelia sudah berada dalam pelukannya.

Camelia mengangguk dan mulai terisak,menangis.

"Ssst, udah gak apa-apa. Itu cuman mimpi, sekarang Lo aman sama gue." Lelaki itu menepuk-nepuk punggung Camelia dengan lembut, membuat Camelia tenang dan tertidur kembali.

Mimpi buruk yang terasa begitu nyata, terus menghantui Camelia semenjak tiga tahun lalu. Semenjak saat itu juga dia akhirnya memutuskan tinggal dengan seorang lelaki bernama Febian yang dikenalnya setelah keluar dari penjara. Banyak yang terjadi di kehidupan Camelia, sehingga dia berubah menjadi seperti sekarang. Termasuk namanya.

"Bisa gak sih Feb, mondar mandirnya pake celana? Lo seneng banget sih sempakan doang?" Decak Camelia, melihat temannya itu hanya mondar-mandir mengenakan kemeja kantor tapi tidak memakai celana, hanaya sempak yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

"Kayak baru pertama lihat gue sempakan aja. Lo udah sering kan liat gue telanjang bareng Raja?" Febian mendekat ke meja makan tempat Camelia berada, menyambar satu lembar roti berisi selai stroberi.

"Nanti malam jadi kan, kita ketemuan sama calon investor baru?" Tanya Febian, tangannya kembali menyambar roti di piring yang hanya tinggal satu lembar lagi. Lelaki itu memang rakus, bahkan dia bisa menghabiskan empat lembar roti, satu gelas susu dalam sekali sarapan. Berbeda dengan Camelia, yang hanya mampu menghabiskan separuh roti dan setengah gelas susu.

"Jadi, tapi Lo ikut kan?"

Fabian mengguama,mengiyakan.

"Gak ada blowjob, kayak waktu itu lagi, kan?"

"Kalau itu gue gak tau, tergantung bos investornya."

Camelia mendesah, jauh di lubuk hati kecilnya dia enggan melakukan hal-hal kotor seperti itu. Bagian dari dirinya terus berontak jika harus dipaksa melakukan perbuatan tidak senonoh seperti itu, namun dunia ini sungguh kejam. Tidak memperdulikan bagaimana tersiksa batinnya harus melayani para penjahat kelamin berkedok investor.

"Gue tau ini berat banget buat Lo, gue pun berusaha keras supaya semuanya kembali seperti semula, tapi gak segampang itu. Kita harus lebih keras lagi berusaha, supaya perusahaan Ibu lo kembali ke tangan Lo." Febian mengusap lembut rambut Camelia, dia paham bagaimana penderitaan temannya itu, terlebih semenjak perusahaannya bangkrut dan meninggalkan banyak hutang.

"Gue tau, lagipula ini semua salah gue. Jika saja waktu itu gue gak berlagak sok suci, mungkin ini semua gak akan terjadi." Camelia menunduk,menyesali semua yang terjadi di hidupnya.

Febian menggeser duduknya,merangkul bahu kecil Camelia,"Ini bukan salah Lo. Gue malah bangga Lo bisa jaga diri Lo sendiri, meski sampai harus melukai orang lain."

"Terimakasih. Cuman Lo yang gue punya sekarang, kalau gak ada Lo, gue gak tau lagi harus gimana. Mungkin gue bakalan loncat dari gedung apartemen." Camelia tersenyum getir menatap Febian.

"Gue punya Raja, bukan punya Lo. Lo cuman punya Jupiaja. Noh, dia udah nyakar-nyakar kursi lagi." Decak Febian, langsung mendapat tatapan protes dari Camelia.

Camelia berjalan mendekati seekor kucing yang tengah mencakar-cakar sofa di ujung ruangan.

"Jupi, gak boleh rusakin kursinya." Camelia mengangkat kucing bertubuh gempal, berwarna putih bercorak abu-abu kedalam pangkuannya. Di elusnya kepala Jupi,seakan mengerti jupi merespon setiap elusan Camelia.

"Jupi, aku kangen dia. Kamu kangen juga nggak?" Camelia tau, berbicara dengan seekor kucing tidak akan menjawab setiap pertanyaan. Tapi seakan mengerti, Jupi selalu merespon setiap keluh kesahnya dengan mengendus-endus kebagian tubuh Camelia.

"Hatiku sakit, setiap kali aku merindukan lelaki menyebalkan itu." Mata Camelia mulai berkaca-kaca setiap kali dia ingat sosok lelaki yang masih memenuhi hatinya hingga kini. Meski sudah enam tahun berlalu, tapi tidak sedikitpun dia melupakan sosok lelaki yang selalu ia bayangkan setiap kali dia harus melayani lelaki hidung belang di luar sana.

Enam tahun terakhir yang menjadi tahun-tahun terberat dalam hidupnya. Berawal dari perceraian kedua orang tuanya, hingga dia di paksa pindah, pelecehan yang dilakukan Ayu dulu hingga kebangkrutan perusahaan Ibunya, semua terjadi dalam rentang waktu enam tahun. Enam tahun yang terasa bagaikan neraka, terus menyiksanya hingga dia harus terjebak dan terperangkap dalam kelamnya dunia bisnis.

Sudah banyak yang mengenal sosok Camelia di dunia bisnis, terutama kaum lelaki hidung belang yang menginginkan service lebih ketika mereka menerima tawaran kerjasama dengan perusahaan milik Camelia. Perusahan yang dulunya merupakan salah satu perusahaan besar, harus mengalami kebangkrutan akibat kesalahan Camelia dan kini ia harus bertanggung jawab mengembalikan perusahaan itu ke semula, meskipun harus menempuh cara kotor.

Tidak semua investor meminta service lebih darinya, ada beberapa yang berbaik hati langsung menyetujui tanpa harus meminta imbalan. Seperti hari ini, Camelia dan Febian mendatangi salah satu calon investor mereka di salah satu Bar terkenal di Jakarta. Seperti biasa Camelia berdandan layaknya perempuan penggoda,memakai dres hitam yang memperlihatkan setiap lekuk indah tubuhnya dan tidak lupa dia juga merias wajahnya secantik mungkin.

Kesepakatan kali ini tidak berlangsung lama, bahkan sang investor tidak mempersulit kontrak, mereka langsung menerima kerjasama dengan mudah.

"Mau langsung balik? Sayang banget masih sore, di sini bentar dulu ya? Lagipula kali ini gak ada service tambahan, jadi Lo gak bakalan muntah-muntah kaya biasanya."

"Mmm."

"Gak usah cemberut gitu dong, makasih kek sama gue. Gue udah cariin investor tanpa minta service," Febian menggumam melihat Camelia hanya diam sambil menyesap minumannya.

"Iya, terimakasih Febian! Udah puas?"

Febian terkekeh, "Jangan Bete dong, mending Lo turun sana. Cari cogan, kali aja nemu laki kaya, anak sultan, terus ngajak Lo kawin."

"Yang ngajak gue kawin banyak, yang ngajak gue nikah yang susah!"

Febian semakin tergelak, tertawa.

"Gue ke kamar mandi dulu ya, bentar. Nanti gue balik."

"Gak pake mampir kan? Inget, gue laporin Raja kalau Lo sampe hilang kayak waktu itu." Ancam Camelia.

"Iya!"

Suasana Bar semakin malam, semakin ramai. Camelia tidak merasa canggung sama sekali, dia langsung turun ke tengah, menari dan meliukan tubuhnya mengikuti alunan musik. Tubuhnya berkeringat, untuk kali ini dia bisa melupakan sedikit beban hidupnya. Tangan-tangan liar mulai menggerayangi tubuhnya, tapi Camelia masih tetap diam, membiarkannya. Hal seperti itu sering terjadi bahkan Camelia pernah mendapatkan perlakuan lebih dari itu, dia hanya akan bereaksi ketika tangan-tangan nakal itu mulai menggerayangi bagian sensitif tubuhnya.

Ketika Camelia tengah asyik menggoyang-goyangkan tubuhnya, tiba-tiba seseorang menabraknya dengan keras hingga tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh. Namun tangan besar orang tersebut tersebut terlebih dahulu menarik pinggangnya, sehingga kini dia seperti dipeluknya. Camelia tahu, banyak lelaki modus berpura-pura menabraknya hanya untuk bisa menyentuh tubuhnya. Camelia segera berontak, melepas pelukan. Namun begitu matanya bertemu dengan sorot mata coklat lelaki itu, jantung Camelia serasa berhenti mendadak.

Mata coklat,bibir tipis,alis tebal dan hidung, mancung tidak ada yang berubah. Bahkan kini jauh lebih tampan memakai jas coklat, menampilkan sisi dewasa yang begitu mempesona. Sepersekian detik Camelia begitu terhipnotis dengan wajah yang amat di rindukannya itu, namun dia buru-buru melepas pelukan lelaki itu.

"Kara?" Satu kata keluar dari mulutnya, suara yang ingin Camelia dengar selama enam tahun ini.

"Maaf, anda salah orang." Mencoba bersikap biasa, meski debaran jantungnya kian menggila.

"Kamu kara?" Seolah yakin, lelaki itu menegaskan kembali kalimatnya, namun Camelia tetap tidak goyah. Dia justru mendekat mengelus dada bidang lelaki itu,menggodanya.

"Anda salah orang Tuan, saya bukan Kara." Camelia segera berbalik, menuju kerumunan orang-orang,meninggalkan lelaki yang masih berdiri mematung menatapnya. Camelia bisa merasakan tatapan tajamnya, meski ia membelakanginya namun tatapan itu seolah mampu menembus hingga ke dalam hatinya.

Baru beberapa langkah, tangan Camelia ditarik hingga tubuhnya berbalik, kembali menghadap lelaki itu.

"Kamu Kara. Iya kan?" Cengkramannya kian kuat, namun Camelia hanya tersenyum tipis menanggapinya.

"Hei,Bung! Ada masalah?" Febian datang diwaktu yang tepat, membuat Camellia menghela nafas lega.

"Sayang, dia salah orang. Dia kira aku orang yang dikenalnya." Camelia segera mendekati Febian, bergelayut manja di lengan Febian. Seakan mengerti, Febian langsung menarik pinggang Camelia sehingga tubuhnya menempel sempurna, seolah menegaskan jika memang mereka berdua memang sepasang kekasih.

"Mungkin anda salah orang, Tuan. Dia Camelia, kekasih saya." Febian kembali menegaskan.

Tidak ada jawaban dari lelaki itu, membuat Camelia dan Febian kembali bergabung di tengah-tengah kerumunan dan kembali menari seolah tidak terjadi apapun.

"Apa dia sudah pergi?" Tanya Camelia, berbisik di telinga Febian. Sekilas mereka tampak seperti hendak saling berciuman. Membuat lelaki jangkung itu memalingkan muka dan memilih pergi.

"Dia pergi." Balas Febian, setelah yakin lelaki itu benar-benar pergi.

Tubuh Camelia lemas, hingga ia tak mampu lagi menahan berat tubuhnya dan jatuh terkulai lemas di lantai dansa.

"Mel, Lo gak apa-apa?" Febian langsung bersimpuh, memapah tubuh Camelia yang bergetar. Febian membawa Camelia keluar Bar, memapahnya hingga ke tempat yang lebih sepi.

Camelia memukul-mukul dadanya yang kian terasa sesak dan sakit hingga air matanya tak mampu lagi ia tahan.

"Mel, stop! Lo bisa nyakitin diri Lo." Febian menahan tangan Camelia yang terus menerus memukul dadanya sendiri.

"Jadi dia yang bernama Jupiter?"

Camelia semakin terisak,

"Hati gue sakit, Feb. Sakit,,, sakit banget. Tolong gue."

1
Wida
sukaaa
lika16
titip sendal
X'tine
bingung baca cerita ini, di ulang ulang
Doubley
KERENN! Aku udah baca, komen, dan like. Semangat, Kak. Feedback ke novel saya dong, judulnya The Vengeance. Terima kasih.❤
Anisa Shofy
ceritanya bagus kak. aku baca di lapak sbelah, krna ga selesai jadi donlot noveltoon buat baca karyamu. semangat yaa..smoga ga typo lagi dan ga ketuker2 namanya hihi
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Just Rara
akhirnya happy ending juga
Just Rara
😄😄😄lucu ayahnya si jupiter
Just Rara
knp tiba2 aksa bisa benci gt sm camelia ya?
Just Rara
wah si kara hamil,semoga bu mala bisa luluh hatinya setelah dpt cucu baru dr kara dan jupiterr☺️☺️
Just Rara
knp si febian gak dijodohin sm si nadira aja
Just Rara
akhirnya mereka nikah juga☺️
Just Rara
lah itu febiannya blm meninggal🤔🤔
Just Rara
yak knp si febiannya dibikin meninggal thor😭😭
Just Rara
mantap febian,ungkap semua penjahat nya👍
Just Rara
pasti tu si jupiter sm nadia deh yg ada diruangan itu
Just Rara
say good bye to jupiter ya kara😁
Just Rara
dasar si jupiter,dia gak tulus cinta sm kara😒😒😒
Just Rara
sama aja jahatnya jupiter dgn para lelaki hidung belang itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!