Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Kembali
Harui yang menunduk sambil memegang keningnya langsung menghadap ke arah suara.
Bulan tidak akan pernah bersama matahari, namun bulan sangat setia menggantikan matahari saat terbenam dan sebaliknya.
Hiragi menghampiri Harui yang terbangun dari tidur nyenyaknya karena sebuah mimpi yang datang. Dan semua itu terasa ringan disaat Hiragi datang.
Hiragi heran melihat Harui Keadaan yang dingin seperti ini tapi dia berkeringat. Dia langsung menghampiri Harui dan menempelkan dahinya pada dahi Harui.
"Tidak panas~" Ucapnya polos. Kini wajah mereka sangat dekat sehingga Harui dapat merasakan hembusan nafas Hiragi. Tetapi bagi Hiragi itu adalah biasa, karena kondisi anehnya saat ini.
Harui langsung memalingkan wajahnya ke kanan. Merasa diacuhkan. Hiragi menaruh beberapa makanannya di samping ranjang Harui yang terdapat meja. Dan langsung mengangkat kedua tangannya dan langsung memegang tengkuk wajah Harui dengan cermat.
"Jangan mengacuhkanku disaat aku mengkhawatirkanmu."
Deg!
Jantung Harui berdetak cepat, ucapan dari Hiragi membuatnya mematung sejenak dan menatap kedua mata gadis itu yang seperti bintang malam yang sedikit tertutup oleh poni-poninya, Serta rambut panjang biru gelapnya yang terurai panjang.
"Kau-Menghawatirkan diriku?"
Bruk!
Hiragi menghempaskan dirinya di pinggir ranjang Harui sambil menghembuskan nafas panjang.
"Tentu saja aku khawatir, apalagi saat aku berada di rumah Biara, aku begitu ingin tau apa yang sedang kau lakukan saat tidak bersamaku."
Harui tak menyangka bahwa dengan jujur dan polosnya gadis ini. Tanpa keraguan dia mengungkapkan semuanya. Mungkin disaat ini dia harus menanyakan pendapat Hiragi mengenai dirinya.
"Hiragi-" Perkataan Harui terputus.
Pria itu merasa akan lebih bersalah jika mengambil kesempatan dalam hal ini, dengan menggunakan alasan tentang pikiran Hiragi yang masih tidak teratur.
"Apa?! Apa?! apa?!" Tanya Hiragi dengan nada penasaran.
"Kembalilah ke kamarmu." Singkat Harui dengan langsung merebahkan dirinya membelakangi Hiragi.
"Aku tidak mau! Aku sudah berapa kali mendengar seperti ini setiap malam, jadi biarkan aku di sini." Balas Hiragi tidak menyetujui.
Harui sedikit tertekan dan sedikit terkejut bahwa selama ini Hiragi mengetahui hal ini, tapi sekarang semuanya terbalik, Hiragi dengan polosnya membongkar semuanya, tapi Harui menyuruh Hiragi kembali dan terus memaksa perempuan itu namun tidak ada pergerakan sama sekali. Gadis ini sangat keras kepala, sama sepertinya. Harui juga sangat lelah dan ingin beristirahat, jadi dia membiarkan Hiragi tetap berdiam di kamarnya dan memakan makananya yang tadi dia bawa.
"Tidurlah~ aku di sini." Ucap Hiragi sambil mengunyah makanan.
"Di saat aku mulai tertarik, maka bertanggung jawablah." Batin Harui, dengan senyuman tulusnya, dan mencoba untuk tidur.
...☄☄☄☄...
Musim salju masih berlanjut terus-menerus dengan menciptakan dingin di segala sisi. Ribuan salju yang tertumpuk menjadi lebih tebal, dan mungkin akan sulit untuk di lewati.
Pagi tanpa matahari memang sangat
mengesalkan bagi seseorang yang membencinya.
"ACHUUUU!"
BRAK!
"Eh-Eh~!"
Gadis berambut biru gelap itu menoleh kanan kirinya dengan tatapan bingung, dan suara jatuh itu adalah piring makanan yang dia bawa semalam dari dapur dan dia makan di dalam kamar Harui.
Hiragi mendengar suara dengkuran yang pelan namun jelas di sampingnya, dia pun menoleh.
"Jadi Harui....."
"Ha-HARUI!"
BRUK!
Hiragi menendang keras punggung Harui yang membelakanginya, tentu saja membuat Harui terkejut bukan main karena ulah gadis itu.
Harui mencoba bangun dari tendangan maut Hiragi. Sedangkan gadis itu langsung turun dari tempat tidur Harui langung melarikan diri keluar, tapi entah mengapa pintu itu terkunci.
Hiragi menoleh ke belakang. Disaat ini yang ada di pikirannya adalah 'mengapa dia di sini, dan tidur di sini, serta apa yang telah dilakukan pria itu'.
"Harui sialan! Mengapa aku ada di kamarmu!" Teriakkan Hiragi berhasil membuat Harui terbangun.
"Hah?! Itu karena dirimu sendiri!" Ucap Harui dengan rambut berantakan dan sedikit dalam proses pengumpulan nyawa.
"Terus kau ingin katakan bahwa aku berjalan sendiri menuju kamarmu, iya!"
"Apa kau-"
"Lihat sekarang siapa yang salah?!"
《Di Sisi Lain.》
Di depan pintu kamar Harui. Ada Erthan Gorsa dan Biara. Mereka adalah para tersangka pertama dari kasus penguncian kamar Harui. Dan saat ini mereka bertiga sedang menikmati acara perdebatan dari luar yang sedang terjadi di dalam ruangan Harui.
Sebenarnya ini adalah rencana licik dari Erthan, Gorsa pun ikut serta dalam hal ini karena setuju dengan alasan Erthan melalukannya. Biara hanyalah tambahan, karena pada saat pagi hari Hiragi hilang dari sampingnya.
Sebelum perdebatan maut terjadi.
Biara dapat merasakan bahwa hawa-hawa dingin menyentuh kulit-kulitnya, dan membuatnya langsung terbangun dari tidurnya.
"Hiragi selamat pa-"
Kosong~
"HIRAGIII!"
Dengan secepat kilat Biara berlari ke arah luar dan turun ke bawah, untuk mencari Hiragi, namun yang ditemuinya adalah Erthan dan Gorsa di ruang tengah.
Biara pun mengatakan sesuatu yang ingin dia sampaikan dengan panik, setelah usai menceritkan yang terjadi. Erthan menghela nafas panjang.
"Kalau Hiragi tidak ada di kamarnya dan di manapun, hanya satu kepastian." Batin Erthan.
《Saat Kejadian.》
"Pangeran, apa lebih baik ki-"
"Biarkan mereka terkurung, ayo Gorsa Biara." Ajak Erthan pada kedua manusia itu.
Sedangkan yang terjadi di dalam.
Mereka berdua saling diam membeku. Apalagi dengan Hiragi, dia seperti kehilangan nyawanya saat mendengar cerita Harui yang begitu panjang.
Hiragi tidak habis pikir dengan apa yang terjadi selama seharian kemarin. Setelah usai acara latih tanding dengan Krista di kediamannya, malah terjadi seperti ini. Hiragi begitu khawatir dengan harga dirinya yang baik.
Harui juga menyangka bahwa pasti Hiragi seperti gadis depresi yang sehabis kehilangan harga dirinya, sebenarnya itu memang.
"Huft... Lupakanlah, aku akan mencari jalan keluar."
"Lupakan?! Lupakan apa, setelah aku kehilangan segala harga diriku!~"
"Kau ini berisik sekali." Tukas Harui.
"Biara berusaha menjagamu sebaik mungkin jadi tidak terlalu banyak hal-hal bodoh yang kau lakukan." Ucap Harui sambil mengambil jubahnya dan dilempar kearah Hiragi.
Dia tahu bahwa saat ini pasti Hiragi merasakan kedinginan dengan pakaian tipisnya. Yang Hiragi lihat seperti biasa. Pria yang selalu membuatnya kesal dan selalu memamerkan bentuk tubuhnya.
"Humph! Aku tidak akan mudah tergoda!"
Batinnya kesal.
"GORSA BUKA PINTUNYA JIKA TIDAK AKU AKAN MENGIRIMMU PULANG!" Harui berteriak sekeras mungkin, Hiragi pun sampai harus menutup rapat kedua telinganya karena teriakkan yang dilontarkan Harui seperti sebuah sinyal.
《Di Sisi Lain.》
"Paman tolong aku!~ Mahiru pasti akan membunuhku."
Gorsa mengunjungi kamar Erthan dengan segala permohonan. Sebenarnya Erthan juga mendengar pesan dari Harui. Erthan berdiri dari kursinya dan pergi menuju lantai tiga. Biara pun ikut serta karena ada Hiragi disana.
BRAK!
Pintu pun berhasil dihancurkan. Erthan pun terkejut sama halnya dengan Gorsa dan Biara. Yang membuat pintu itu rusak karena ulah Hiragi, menggunakan pedangnya sekuat mungkin membuat pintu ruangan Harui terbuka lebar, sangat lebar.
"Aku tidak akan membayarnya!" Ucap Hiragi lalu pergi dari tempat menuju kamarnya.
Erthan dan Gorsa merasa ditatapi oleh binatang buas.
"Paman, Gorsa perbaiki pintu ini tanpa menggunakan dana rumah."
"Uangku~~" Batin Pamannya.
"Harga diriku di mana~" Batin Gorsa.
...☄☄☄☄...
Hiragi langsung bersiap menuju toko Biara. Saat ini keadaan telah stabil, semua kembali seperti semula, layaknya air yang mengalir tenang namun diiringi bahaya.
Setelah latih tanding usai Hiragi tetap melanjutkan pekerjaannya membantu Biara di toko buku. Dan buku yang dia inginkan sekarang ada padanya, menunggu waktu senggang untuk membacanya.
Hiragi juga telah dijelaskan perihal masalah kemarin yang dia buat.
"Sialan Nenek Sihir itu!"
Hiragi masih kesal karena racun kemarin, yang membuat orang-orang disekitarnya kerepotan. Sebagai peminta maaf Hiragi memohon maaf pada semua orang dan meminta izin Harui agar Biara mulai saat ini akan tinggal di Mansion besar milik Harui.
Dengan berat hatipun Harui menyetujuinya. Mungkin dengan beberapa orang tambahan membuat Mansion ini lebih ramai.
Kehangatan mulai merambai di Mansion. Dan sekali lagi itu berasal dari Hiragi. Gadis itu mampu melakukan semua sendiri demi tujuannya.
Katsura Hiragi mulai kedepan akan menghadapi hal-hal yang lebih berat dari ini. Dengan dukungan orang-orang di sekitarnya membuat dia berdiri dengan pedang Naganya.
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????