Likha Charina
Gadis desa yang merantau ke Ibu Kota Jakarta bersama temanya untuk bekerja. Bagaimana dia bisa hidup di tempat perantaun dan bagaimana dia bisa terjebak dengan pergaulan bebas.
21 +
di tunggu kritik dan saranya
jangan lupa vote like dan komen ya guys.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti solikhah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Bagas 2
Bagas yang berada di ruanganya baru saja menatap Egar dengan selidik.
"tadi Enik dari sini ?" tanya Bagas pada Egar dengan nada kesal.
"ya" jawab Egar singkat, dan Egar tak mengindahkan padanganya dari layar komputer. Bagas melihat itu pun teramat kesal dengan Egar.
"loe bawa bekel gar ?" tanya Bagas kembali saat melihat kotak plastik untuk makanan.
"tadi gue di kasih temen loe" ucap Egar dengan santai.
"loe tau Enik kemari ?" Bagas sudah mulai tersulut emosi dan berbicara penuh dengan penekaan.
"tau" ucap Egar kembali.
"kok loe nggak bilang gue"
"dia liat loe sama nina, pas gue panggil loe tadi di bawah"
"kan loe bisa telepon gue"
"lah loe ajah di panggil gue nggak nengok" dengan kesal Egar berbicara saat mengingat dirinya di abaikan saat jam makan siang oleh Bagas.
"terus tadi Enik kemari lagi Gar"
"hemm" Egar sudah mulai kesal dengan segala pertanyaan Bagas.
"loe tau Enik nungguin gue" dengan segala rasa gelisah di dadanya.
"iyaaaaaaa, dia tau kalo loe sama nina melakukan itu di kamar mandi, dia tau. Dia kemari kesini nangis setalah dari toilet, dan mengambil tasnya yang tertinggal" dengan nada kesal dan penakaan Egar namun berakhir dengan suara halus, memberi tahu Bagas.
Egar yang melihat Bagas seperti menyesal pun hanya geleng kepala.
"gue loe ikutin" batin Egar
"aaaahhhhh" Bagas menarik rambutnya penuh dengan penyesalan.
"gue harus pulang sekarang" Bagas berusaha mengambil tasnya namun di tahan oleh Egar.
"loe mau di pecat" Egar memberitahu Bagas.
Bagas pun memdaratkan tubuhnya kembali di kursi.
Bagas yang sudah mulai tak fokus dengan pekerjaanya, sering kali melihat jam yang ada di ding-ding ruanganya bergantian dengan jam yang dia kenakan di tanganya, berharapa jam kantor cepet usai. Ingin rasanya Bagas memutar jam dingding di ding-ding agar pekerjaanya cepet selesai.
Nina si wanita Bagas yang berada di kantor, kini menghampiri Bagas dengan.
"kamu kok ninggalin aku si" ucap Nina manja lalu duduk di pangkuan Bagas.
"nggak apa-apa Nin" ucap Bagas dan menggiring anak rambut yang menutupi mata Nina dan menyelipkanya di daun telinga.
Egar yang melihat itu merasa, Bagas tak mencintai Enik dengan sungguh-sungguh, penyesalan yang Bagas tunjukan sebelumnya adalah penyesalan kebohongan.
"dasar buaya gila" gerutu Egar dalam hati.
Nina yang sedang memainkan dasi Bagas mencondongkan dadanya pada Bagas di depan Egar.
"Nanti pulang kita lanjutin ya" ucap Nina dengan manja dengan memainakan dasi Bagas dan dengan tangan yang satunya memegang kepala Bagas, lalu dia mendekatkan bibir sexynya ke arah bibir Bagas.
cup
Nina mencium Bagas sekilas, lalu bangun dari duduknya dan menuju arah pintu keluar Bagas, dan melambaikan tangan sebagai pengganti selamat tinggal seperti itu sekiranya.
Egar yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Gas" Egar memulai percakapan dengan sahabat yang sedang fokus kekomputer di depanya.
"em"
"loe tadi kayanya nyesel Gas"
"kan tadi, sebelum Nina kemari"
"loe cinta gak sih sama Enik?"
"nggak tau"
"kok nggak tau?"
"kan loe yang ngajarin, katanya kalo sama cewek jangan pake perasaan, yang penting bisa di pakai hehehehe". jelas Bagas panjang.
"sialan loe" ucap Egar kesal.
Egar menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dia mengajari Bagas sesuatu yang nggak baik padahal dia sahabatnya.
Bagas dulu lelaki polos, tapi Bagas sering bercerita tentang ranjang dengan Enik pada Egar membuat Egar memberitahu jurus-jurus ranjang pada Bagas dan memberi tahunya jika mencari sensasi dengan wanita lain itu perlu. sekiranya begitulah yang Egar ajarkan dan berikan pada sahabatnya. sesuatu yang salah, dan dia pun menyesalinya. seharusnya sahabat yang baik memberikan sesuatu yang baik bukan menjerumuskan. begitu lah sekiranya pemikiran Egar saat menatap kosong Bagas dan fokus dengan komputernya.
"woy ngapa loe liatin gue?" ucapan Bagas membuyarkan pikiran Egar yang entah kemana.
"nggak gue heran ajah, cewek secantik Enik mau sama loe hahaha"
"sialan loe" jawab Bagas dengan melemparkan kertas pada Egar.
***
Jam menunjukan sudah jam setengah lima sore, Bagas dan Egar pun mulai membereskan meja kerja mereka, dan menyimpan berkas-berkas yang di perlukan esok.
"gue ikut kerumah loe ya" Egar ingin kerumah sahabatnya untuk melihat kondisi Enik setelah kejadian siang tadi.
"nggak lah, gue mau ngadem-ademin si Enik dulu" jawab Bagas.
Namun tiba-tiba seorang wanita memasuki ruangan Bagas dan Egar, wanita itu tak lain adalah Nina.
"Gas jadi kan?" ucap Nina penuh harap.
"heh" Bagas menatap Egar dan meminta saran dari sorot mata Bagas.
Egar menngangkat kedua bahunya menandakan sebuah jawaban untuk Bagas.
Bagas pun menarik nafas panjang, dan berusaha menerima jawaban Egar.
"ehhhhh, gimana ya Nin?" dengan menggaruk tengkuk lehernya Bagas berbicara pada Nina.
Nina yang tak puas dengan jawaban Bagas pun mendekati Bagas dan menempelkan dadanya pada Bagas.
Hal itu membuat Bagas menolak ajakan Nina, apa lagi saat Nina memainkan dasinya dan terus semakin menempelkan dadanya pada dada Bagas.
"kosan kamu ya?" ucap Bagas
"oke" Nina dengan girang menerima ajakan Bagas untuk bermain di kosanya.
"gue duluan" Bagas meninggalkan Egar sendirian di ruangan dan pergi bersama Nina, dengan tangan Nina yang terus menempel di lengan Bagas.
"Sialan" ucap Egar kembali.
"Gar" seorang wanita memanggil Egar saat Egar keluar dari ruanganya.
"mangsa gue ni" batin Egar.
"napa loe" kata rekan kerja Egar yang tertulis namanya di name tag dengan nama Cindy.
"nggak" ucap Egar, saat melihat tubuh Cindy pikiranya sudah tak tahu kemana.
"jangan piktor loe"
"tapi mau kan" ledek Egar.
"sialan loe hahahah" dengan cepet Egar mengandeng tangan Cindy.
"maen ketempat gue ya?" ajak Egar pada rekan kerjanya sekaligus mantan kekasihnya itu.
"eeeemmmmmm, gimana ya ?" dengan meledek Egar dan memainkan jarinya di mulutnya.
"sebentar deh" pinta Egar dengan memohon.
"wani piro" di iringi gelak tawa .
"maunya kamu berapa ?" timpal Egar serius.
"oke tapi transfer dulu ya" ucap Cindy.
dengan cepat Egar mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi perbankan dan mengentik nomer rekening Cindy, dan Cindy menulis nominal yang dirinya mau.
"oke yuk" mereka pun meninggalkan kantor menuju ke rumah Egar.
Dan si Bagas pun memasuki gerbang kosan yang cukup luas untuk ukuran kosan, yang berjejer rapih.
"di mana kamar kamu ?" tanya Bagas pada Nina.
"di nomer 13" jelas Nina.
"yuk" ajak Nina agar Bagas mengikuti dirinya.
Nina dan Bagas sudah sampai di depan pintu kamar yang Nina tempati.
"ini" Bagas dengan menunjuk pintu kamar Nina
"he em, yuk masuk" Nina memasuki kamarnya dengan manarik tangan dan Bagas.
Dan dengan cepet Nina mendorong tubuh Bagas ke kasur yang biasa dia gunakan. Lalu Nina mengunci kamarnya.
Dan Bagas pun senang dengan ke agresifan yang Nina lakukan, Bagas begitu senang dengan kenakal-nakalan yang Nina lakukan.
Setelah Nina mengunci kamarnya Nina melepaskan heelsnya dan menindih tubuh Bagas dan membenamkan ciuman yang penuh nafsu yang tertahan.
Dan selanjutnya kalian tau apa yang terjadi 😁😁😁😂😂😂.
okey guys aku tepati janji aku untuk up setelah 200 like.
maaf ya guys, aku terlalu memaksa. bayar aku dengan like vote dan komen okey guys.
kalian suka karya aku, aku lebih suka kalo kalian memberiku like vote dan komen 😂😂😂.
Dan aku akan up setelah 250 like guys dan 20 komentar.
salam sayang dari aku 😍😍😍.