#ENEMYTOLOVERS
Xander Thompsom menderita mysophobia, ketakutan berlebih dan tidak masuk akal terhadap sesuatu yang tampak kotor, kontaminasi kuman, atau virus. Tapi, apa jadinya jika dia di jodohkan dengan seorang wanita bar-bar, dan jorok?
"Menjauh dariku, Kuman!" usir Xander seraya mengibaskan tangannya, lalu menyemprot sekelilingnya dengan cairan desinfektan yang selalu dia bawa di kantong jasnya.
"Cih!! Sok bersih! Makan nih upil!" balas Jeje sangat kesal seraya mengorek hidungnya dengan ujung jari telunjuk dan mengusapkan jarinya itu ke jas pria tersebut.
Bagaikan air dan minyak seperti itulah rumah tangga mereka, tidak pernah akur dan tidak pernah bisa menyatu.
Seperti apa keseruan mereka? Simak terus kelanjutannya!
FOLLOW IG @thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Xander segera memejamkan mata ketika Jeje sudah selesai mengambil pakaian ganti. Jangan sampai wanita itu mengetahui kalau dirinya tanpa sengaja mengintip.
Jeje menatap Xander sekilas, dia bernafas lega karena pria itu menundukkan kepala sambil memejamkan mata. Aman, pikirnya karena pria itu tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kemudian kembali berjalan menuju kamar mandi untuk memakai bajunya.
Mendengar suara pintu kamar mandi di tutup, Xander membuka sebelah mata, mengintip ke arah pintu kamar mandi. Bernafas lega karena istrinya sudah masuk ke kamar mandi.
"Huh. Hampir aja." Xander bergumam sembari mengelus dada. Tidak berselang lama dia terdiam memikirkan sesuatu, "tunggu dulu, untuk apa aku ketakutan seperti seorang pencuri? Bukankah dia sudah sah menjadi milikku seutuhnya? Hanya saja aku malas menyentuhnya, karena tubuhnya pasti di penuhi kuman," gumam Xander.
Jeje sudah keluar dari kamar mandi. Dia memakai setelan piyama satin lengan panjang yang harganya sangat murah di beli dari keranjang kuning.
"Giliranmu, mandi," ucap Jeje pada Xander yang masih setia duduk di tepian tempat tidur.
Xander beranjak berdiri, meletakkan ponselnya di atas nakas lalu menyambar cairan desinfektan membawanya ke kamar mandi.
Jeje membuang nafas kasar melihat tingkah Xander. "Mau sampai kapan dia bersikap seperti itu? Dasar pria aneh!" runtuk Jeje seraya mendudukkan diri di sofa. Badannya terasa pegal dan sangat lelah, maka dia memutuskan untuk tidur cepat. Lagi pula tidak akan terjadi ritual malam pertama.
*
*
Sementara itu. Di sebuah Bar yang terkenal di pusat kota. Devan sedang mengamati Daisy dari kejauhan. Ya, sejak tadi dia mencari keberadaan wanita itu. Dan akhirnya ketemu di sebuah Bar.
"Apa dia sudah gila meminum alkohol sebanyak itu?!" Devan berjalan mendekati Cihuahua itu, lalu mendudukkan diri di samping Daisy tepatnya di depan meja bartender.
"Hei, Cihuahua, kenapa kamu minum sebanyak ini? Apa kamu nggak takut mabuk?" tanya Devan pada Daisy yang sudah mabuk sambil meletakkan kepala di atas meja.
Daisy memiringkan kepala, menatap pria yang mengajaknya bicara. Dia menyipitkan mata, pandangannya kabur, karena dia sudah mabuk berat. "Apa urusanmu, pergi sana!" usir Daisy dengan suara parau dan lemah.
Devan berdecak kesal melihat respons Daisy.
"Berapa banyak yang dia minum?" tanya Devan kepada Bartender yang sedang meracik minuman.
"10 gelas bir berukuran besar," jawab Bartender tersebut seraya menunjuk gelas besar yang masih ada di depan Daisy.
"Kenapa kamu nggak larang dia!" geram Devan pada Bartender.
Bartender tersebut hanya menaikkan kedua pundaknya secara bersamaan. "Tugasku hanya melayani, Boss. Udah SOP-nya kayak gitu, jadi bukan salahku!" jawabnya cuek, lalu melanjutkan meracik minuman untuk pelanggan lain.
"Shiit!" Devan mengumpat kesal, lalu mengeluarkan dompetnya, meletakkan 12 lembar uang berwarna merah di atas meja. Lalu berdiri dan mengajak Daisy pulang.
"Apasih! Lepasin nggak!" teriak Daisy kesal sambil menepis tangan Devan.
"Kamu sudah mabuk parah! Dan harus segera pulang!" tegas Devan sambil menarik tangan Daisy dengan paksa.
"Nggak mau! Kamu pulang aja sendiri!" Daisy berusaha melepaskan tangannya yang masih di pegang erat oleh Devan.
"Ck, percuma ngomong sama orang mabuk!" Devan mengumpat kesal, dengan terpaksa menggendong Daisy seperti menggendong karung beras di pundaknya.
"Turunkan aku!" teriak Daisy sambil memukul punggung Devan. Kepalanya menjuntai ke bawah tepat di belakang punggung pria tersebut, dan bagian kakinya berada di depan.
Beruntung kondisi Bar itu tidak terlalu ramai, jadi mereka tidak jadi tontonan banyak orang.
mumpung lagi priode gak puasa. 🤭✌🙏