Karena ingin mendapatkan uang yang banyak, Brian nekat menculik bayi kembar crazy rich seorang janda bernama Diva. Brian sendiri tak tahu kalau bayi kembar yang diculiknya adalah anaknya sendiri atas hasil kesalahan semalam.
Awalnya Brian mengira semuanya bisa dilakukan dengan mudah, tetapi pada kenyataannya tidak. Bayi kembar Aron dan Alan bukanlah bayi biasa. Meski baru berusia 9 bulan, mereka sudah sangat pintar dan membuat Brian kewalahan.
Siapa yang menduga? Penculikan yang dilakukan Brian justru membawanya lebih dekat dengan si kembar sekaligus ibu mereka. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Penyamaran Brian
...༻⎚༺...
Seorang ahli seperti Brian tak perlu waktu lama untuk mencari rumah Bram. Saudara kembarnya itu kebetulan memiliki rumah sendiri dan tinggal bersama istri barunya bernama Agnes.
Sebelum beraksi, Brian amati Bram terlebih dahulu. Dia mengamatinya melalui rumah terbengkalai yang letaknya berdekatan dengan rumah Bram.
Brian memastikan Bram sendirian di rumah. Saat waktunya tiba, dia langsung menyelinap masuk dengan menutupi wajahnya dengan masker dan topi. Sebagai penjahat berpengalaman, menyelinap tentu adalah hal mudah bagi Brian.
Kala itu Bram sedang duduk di balkon sambil menikmati kopi. Atensinya fokus ke layar ponselnya sendiri.
"Hai, Bro. Apa benar kita bersaudara?" ujar Brian seraya berjalan mendekat dari arah belakang.
Mendengar itu, Bram langsung berdiri dan menoleh. Matanya membulat sempurna.
"Ka-kau..." Bram tak tahu harus berkata apa. Apalagi tatkala menyaksikan Brian melepas topi dan maskernya. Untuk pertama kalinya, saudara kembar itu saling berhadapan.
Brian tersenyum miring sambil berjalan mendekati Bram. "Kita ternyata benar-benar saudara kembar!" imbuhnya penuh keyakinan.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" timpal Bram.
Sekarang Brian sudah berdiri di hadapan Bram. "Bagaimana bisa kau dapat hidup enak sementara aku hidup susah di jalanan?" tukasnya.
"Aku sama sekali tidak tahu dengan apa yang terjadi pada kita di masa lalu. Lagi pula semuanya sudah berlalu! Aku mohon pergilah! Atau aku akan melaporkanmu ke polisi!" ancam Bram. Dia sebenarnya agak ketakutan. Mengingat dirinya tahu kalau Brian adalah penjahat.
Bram melangkah mundur karena berusaha menjauh dari posisi Brian. Dia mencoba berpikir untuk meminta pertolongan secepat mungkin.
"Cih! Polisi? Aku sudah kebal dengan yang namanya polisi dan penjara. Jadi ancamanmu itu bukanlah apa-apa!" sahut Brian.
Bram tak menanggapi. Dia hanya bergegas berlari dan menggunakan ponsel untuk menghubungi bantuan. Akan tetapi usahanya gagal karena Brian sigap menghentikan.
Lari Brian lebih laju dari Bram. Sehingga dia dapat mengejar saudara kembarnya itu dan menghentikan kepergiannya. Brian memelintir tangan Bram dan menjatuhkannya ke lantai dengan ilmu bela diri yang dirinya kuasai.
Bruk!
Suara tubuh Bram yang terbanting, terdengar cukup keras. Meskipun begitu, Brian tak peduli dan buru-buru mengikat tangan Bram dengan tali. Ia menggunakan tali yang telah dibawa bersamanya sejak awal.
"Apa-apaan ini! Kenapa kau menjeratku?!" timpal Bram. "Tolong! Kumohon seseorang--"
Brian bergegas menutupi mulut Bram. Dia kemudian membawa Bram ke tempat yang lebih aman dan tertutup.
Untuk sementara Brian membawa Bram ke sebuah kamar. Kamar itu tidak lain adalah kamar Bram bersama istrinya.
Kini Bram terduduk di lantai dalam keadaan terikat dengan tali. Brian juga tak lupa menjerat kedua kaki Bram untuk berjaga-jaga. Sementara Brian tampak berkeliling kamar mewah Bram. Ia bahkan mengamati foto pernikahan Bram bersama Agnes.
"Kau kenapa mau menikahi wanita sombong ini dibanding mempertahankan mantan istrimu. Bodoh sekali," komentar Brian.
Bram hanya bisa mempelototi Brian. Dia tak bisa berbuat apa-apa sekarang.
Brian masuk ke walk in closet milik Bram. Dia kemudian berganti pakaian. Brian berusaha mengubah penampilannya sama persis dengan Bram. Setelah itu, dia segera mendatangi Bram.
"Kau tadi bertanya aku mau apa kan? Sekarang aku akan memberitahumu," ujar Brian. Dia berjongkok ke hadapan Bram. "Aku akan menjadi dirimu," sambungnya.
Mata Bram membelalak hebat. Dia memancarkan tatapan getir. Bram tentu cemas jika Brian melakukan hal gila semacam itu. Terlebih Brian bukanlah orang biasa yang bersih dari dunia kriminal.
"Mmmph! Mmphhh!!" Bram berusaha bicara. Namun karena mulutnya disumpal lakban, dia hanya bisa bergumam tidak jelas.
Brian tertawa melihat tingkah laku Bram yang sepertinya mencoba memohon kepadanya. Dia yakin saudara kembarnya itu ingin mencegah rencananya.
"Oke. Aku akan membiarkanmu memberikan pendapat." Brian memutuskan membuka lakban yang menutupi mulut Bram.
"Kumohon! Jangan lakukan itu! Aku akan memberikan apapun yang kau mau! Kau mau uang? Aku akan berikan sebanyak apapun itu!" ujar Bram yang terkesan putus asa.
Brian menarik sudut bibirnya. Dia berkata, "Kau bilang akan melakukan apapun yang kumau kan? Inilah yang kumau. Jadi aku harap, kau bisa bekerjasama denganku. Mengerti? Kalau kau menolak bekerjasama, maka aku akan hancurkan reputasimu!"
"Tidak! Aku mohon!" Bram berusaha membujuk Brian. Tetapi usahanya tentu diabaikan oleh lelaki itu.
"Untuk sementara kau lebih baik diam. Aku ingin berkeliling rumah ini dulu," ucap Brian yang kembali menutup mulut Bram dengan lakban. Kemudian dia sembunyikan Bram ke lemari di walk in closet. Selanjutnya Brian pergi tanpa lupa mengunci pintu kamar.
Brian sekarang berjalan melihat-lihat rumah Bram. Selain mencoba terbiasa, dia juga ingin menemukan tempat aman untuk menyembunyikan Bram. Bersamaan dengan itu, Agnes istri sah Bram sekarang datang.
"Sayang?" panggil Agnes. Dia merupakan wanita yang bekerja sebagai aktris. Tidak heran Brian juga mengenalnya. Agnes bisa dibilang sebagai aktris yang terkenal dengan kehidupan mewah dan glamornya.