Sebuah pernikahan karena harus saling saling menyelamatkan nama baik keluarga bukanlah hal yang mudah. Apalagi kedua insan tersebut masih memiliki hati untuk sang kekasih.
Disaat ada hati tercipta, sang kekasih kembali dalam keadaan yang sama sekali tidak bisa di persalahkan. Mungkinkah perceraian akan menjadi pemecahan masalah bagi mereka berdua?
( Akan banyak konflik di dalamnya, skip jika tidak sanggup membacanya..!! )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Membujuk istri.
Bang Pongge mengusap dadanya. "Alhamdulillah bisa lepas." Gumamnya berhenti berlari, nafasnya masih terengah menghindari Bang Jerry.
Tak berbeda jauh dari Bang Pongge, Bang Braga pun juga berhenti dengan nafas terengah. "Dia mah bebas, masih bujangan. Lah kita???"
"Duuh.. ampun dah si Jembar."
...
Bang Braga dan Bang Pongge panik melihat Dinara dan Syafa tidak ada di rumah. Mereka berdua segera berlari keluar dari rumah.
"Arra nggak ada." Kata Bang Pongge.
"Syafa juga nggak ada." Bang Braga pucat mengingat sang istri. Ia mengusap wajahnya yang terlihat gusar.
Suara klakson mobil membuat kedua Danton terbengong tanpa sadar. Kemudian terlihat Dinara dan Syafa turun membawa kantong plastik.
"Sampai jumpa lagi gadis-gadis nya Abang Jerry yang cantik. Kapan-kapan kita yoga lagi ya..!!" Ucap Bang Jerry tanpa menyapa kedua sahabatnya.
Menyusul di belakangnya motor tua berwarna biru berjalan amat sangat lambat milik Letnan Jerry yang sedang di kemudikan seorang anggotanya.
Barulah setelah Syafa dan Dinara berdiri di hadapan suami masing-masing, kedua Danton pun tersadar.
"Untuk kesekian kalinya ya Neng, keluar rumah tanpa ijin dari suami itu dosa. Kamu mau di kutuk malaikat???? Kamu di larang keluar rumah tanpa ijin dari saya." Tegur keras Bang Braga.
"Kamu juga..!!!!!! Kenapa kamu dengan mudahnya nyangkut sama si Jerry Yan. Itu apa???" Bang Pongge menyambar kantong plastik di tangan Dinara. Ia melihat isinya. "Nasi goreng, sate kambing, batagor, es jelly." Gumam Bang Pongge.
Bang Braga ikut melihat isinya dan di dalam kantong plastik nya juga berisi hal yang sama.
Hati kesal, tapi juga sekaligus tidak bisa kesal dengan kelakuan Bang Jerry hanya caranya memang membuatnya kepala dua Danton jadi terbakar. Mengajak istri orang sama saja artinya sebagai peculikan.
"Aku nggak bisa di sogok makanan seperti ini." Kata Bang Pongge lantang.
"Aku juga." Bang Braga pun tak kalah lantang.
"Abang nggak mau nasi goreng nya?" Tanya Dinara membawa wajah polosnya.
"Kalau Om nggak mau ya sudah, Syafa saja yang habiskan." Jawab Syafa sambil menatap mata Bang Braga.
"Om lagi, sejak kapan saya jadi om kamu.........."
"Abang mau makan sate atau main tusuk sate?" Tanya Syafa dengan nada paling rendah kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Bang Braga menunduk, wajahnya memerah, ia menggaruk kepalanya. "Ya makan sate, tapi Abang main tusuk sate dulu Neng." Jawabnya juga merendahkan suaranya bahkan lebih rendah dari Syafa.
Bang Pongge yang sempat mendengarnya menjadi bertambah geram. Dimana kini dirinya sedang berjuang mati-matian untuk mendapatkan hati Dinara tapi malah seakan Bang Braga menyentil usaha kerasnya yang tidak membawa hasil barang sedikit pun.
"Om Oge mau nyocol batagor nggak? Apa mau di biarkan sampai dingin?" Tanya Dinara mulai memberanikan diri mendekati Bang Pongge.
"Oom??? Kenapa sekarang Abang yang jadi om-om???" Protes Bang Pongge.
Dinara yang sudah berusaha mendekat menjadi setengah hati, wajah sangar Bang Pongge benar-benar membuatnya gelisah. Dinara pun memilih masuk.
"Yo wes sak karepmu dek. Arep di cocol opo di udek yo Monggo, Om Oge siap ngeladeni." Gerutu Bang Pongge sambil berjalan dan mengunci pintu rumahnya tapi saat berbalik, hatinya sungguh kaget karena Dinara memeluknya, membuatnya diam seribu bahasa.
"Arra juga pengen di sayang Abang, tapi Arra takut." Ucapnya jujur.
Denyut jantung Bang Pongge berdesir naik turun. Pelukan sang istri juga membuat pikirannya cukup kocar kacir.
"Dek, makan sate kambing dulu yuk..!!" Ajak Bang Pongge.
Dinara melepaskan pelukannya, istri Letnan Pongge agaknya kembali insecure.
"Makan dulu satenya, nanti baru ngaduk bumbu batagor..!!" Bang Pongge menarik tangan Dinara.
:
Bang Braga sholat isya, tak lupa ia mengajari sang istri mengaji. Isi perutnya sudah lumayan turun. Ia pun mengakhirinya.
"Lanjut ibadah yang lain yuk sayang..!!"
"Lagi Bang?" Tanya Syafa, memang kemarin dirinya juga merasa nyaman tapi dirinya yang masih awam rasanya masih canggung jika harus mengulang kembali.
"Iya donk, Abang sudah pengen punya anak Neng. Makanya kita harus terus berusaha, sampai Tuhan benar-benar percaya kita bisa jadi orang tua." Jawab Bang Braga.
"Seandainya Syafa nggak punya anak, gimana Bang? Apa Abang mau menceraikan Syafa? Hmm... kemarin nggak ada tanda....."
Bang Braga tersenyum kecil mendengar rasa takut sang istri. "Kalau semua laki-laki di dunia ini hanya memikirkan selaput d*ra, maka akan banyak rumah tangga yang hancur karena rasa tidak percaya. Itu bukan patokan keperawanan. Laki-laki juga punya feeling, walaupun tidak bertanda.. tentu saja ada poin-poin yang tidak bisa di ungkapkan, yang jelas.. it's oke. Istri Abang ter the best. Tidak ada complain dari Abang."
Seketika Syafa terharu, ia memeluk erat suaminya. "Terima kasih ya Abang."
//
Bang Pongge meletakan sarungnya. Tapi Dinara belum juga melepas mukenanya. Tau sang istri masih ragu, Bang Pongge berjongkok dan menggenggam kedua tangan Dinara.
"Kurang apa Abang bicara sama kamu? Jangan pikirkan masa lalu, kita masih punya masa depan."
Dinara melepaskan genggaman tangan Bang Pongge. Seperti biasa, ia kembali menangis. "Abang keluarlah..!!" Pintanya.
"Sampai kapan kita terus begini dek. Abang tau hatimu sakit, tapi Abang ini suamimu. Kalau kamu tidak mau membuang segala hal yang menyakitkan, kapan lukamu bisa sembuh? Kamu pun menolak Abang untuk mengobati lukamu." Kata Bang Pongge.
"Arra nggak bisa Bang. Tolong jangan paksa Arra..!!" Tolak Dinara sudah ingin menjauh.
"Beri Abang kesempatan sekali saja dek..!!"
"Nggak mau Bang, Arra nggak mauuu..!!!!!" Arra berjalan menjauh.
Bang Pongge segera memeluknya dari belakang. "Kasihani aku sedikit saja dek..!! Apakah aku sebegitu hinanya harus terus memohon." Bujuk Bang Pongge. "Abang tidak akan menyakitimu, sedikitpun tidak akan." Janji Bang Pongge.
.
.
.
.
ayooo semangat Dinara minta sepedah listrik roda tiga kayak becak/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/