Setiap tindakan kekerasan yang dilakukan, baik disengaja atau tidak, akan berakibat pada gangguan atau kerusakan psikis dan atau fisik seseorang.
Karya ini mengisahkan tentang seorang wanita yang dikaruniai wajah cantik, bertubuh indah dan molek. Namun berada pada tempat dan lingkungan yang salah, hingga mengalami pelecehan dan tindak kekerasan demi kekerasan. Semua itu meninggalkan jejak yang melukai dari waktu ke waktu.
'JEJAK LUKA' ini dikisahkan, agar kita bisa berhati-hati dan waspada pada orang yang ada di sekitar kita. Baik saudara atau yang kau anggap teman baik.
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan selalu bahagia. ❤️ U.
🙏🏻Selamat membaca 💟
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Jejak Luka 19.
...~•Happy Reading•~...
Enni hanya duduk diam mendengar, sambil mengatupkan kedua tangannya di atas pangkuan. Dia berusaha membayangkan situasi yang dialami oleh pria di depannya dengan situasi di rumahnya sendiri.
"Padahal sudah ada art yang membantu, tapi tetap saja. Jika ada letak bantal tidak seperti yang dia inginkan, pasti emosi. Omelannya panjang pendek dan ngga cepat berhenti, padahal saya ingin tidur." Pria tersebut melanjutkan curhatannya, lancar.
"Supaya bisa tidur, saya keluar tidur di kursi ruang tamu, tapi makin salah. Ributnya pindah ke ruang tamu." Enni menahan diri untuk tidak tersenyum mendengar apa yang diceritakan. Pria itu jadi sedikit tersenyum mengingat kejadian yang dialami bersama istrinya.
"Pak, maaf, ya. Apa ngga sopan, jika menutup telinga dengan masukan kapas ke telinga?" Enni jadi ingat yang dilakukan adiknya, Acel, jika Ibunya marah melihat kamarnya berantakan.
Enni sempat bertanya, bagaimana Acel bisa tidur nyenyak dan tenang. Padahal Ibunya lagi marah mereka, terutama pada Acel. Dia menunjukan dua bulatan kapas yang disimpan dalam kantong tas sekolahnya.
"Ooh, t'rima kasih. Mungkin saya akan coba. Apa kau bisa memijit?" Tanya pria itu, sambil melihat ke arah Enni. Sebab mereka harus menghabiskan waktu bersama, agar Enni tidak diinterogasi oleh Mami Sinna. Dia akan dianggap tidak becus melayani atau tidak bisa memuaskan pelanggan, hingga dia ditinggal begitu cepat.
"Bisa sedikit, Pak. Tapi ngga mahir." Enni menjawab sambil memikirkan apa yang diajarkan Ayahnya kepada Acel untuk memijitnya, saat kelelahan. Kadang dia juga diminta tolong oleh Ayahnya untuk memijit punggung.
"Ngga, pa'pa... Kalau begitu, aku mandi dulu. Saya dari kantor, langsung ke sini." Ucap pria itu lalu berdiri, sambil melihat sekeliling ruangan kamar Enni.
"Silahkan, Pak. Pakai saja semua yang ada di kamar mandi." Enni berkata sopan sambil menunjuk kamar mandi dengan jempolnya.
Setelah pria itu sudah di dalam kamar mandi, Enni melepaskan sepatunya, lalu bergerak cepat mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk memijit. Dia membuka laci meja kecil, laci meja rias dan lemari yang ada dalam kamar itu.
Suatu kondisi yang tidak disangka dan tidak diajarkan oleh Prita atau Mami Sinna. Enni jadi panik, sebab tidak ada minyak apa pun yang ditemukan. Minyak kayu putih sudah dibawa oleh Prita. Mau keluar untuk meminta dari Mami Sinna, akan jadi pembicaraan dan pertanyaan.
Dia mengurut dada untuk menenangkan detak jantungnya, sambil terus mencari. Saat melihat hand body di atas meja rias, terbersit ide untuk menggunakan itu, agar bisa memijit dengan baik.
Tidak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Ia terlihat lebih segar setelah mandi. Dengan mengenakan bathrobe yang ada di kamar mandi, ia mendekati tempat tidur.
Enni mendekat lalu menjulurkan tangan untuk mengambil pakaian yang ada di tangannya. Pria itu memberikan pakaiannya kepada Enni sambil melihatnya dengan tertegun. Tanpa Enni sadari, tindakan spontan itu sangat berkesan bagi pria tersebut.
Ia terus melihat Enni yang merapikan pakaiannya, lalu diletakan di atas kursi yang diduduki. Ia jadi membandingkan dengan istrinya yang akan mengomelinya, jika diminta tolong untuk meletakan baju kotor, saat keluar dari kamar mandi.
"Silahkan berbaring, Pak." Enni berkata sambil membuka selimut yang menutup tempat tidur.
Pria tersebut mengangguk, lalu perlahan membuka bathrobe. Hal itu membuat Enni jadi kikuk, lalu mengalihkan pandangannya ke hand body yang ada di tangan. Dia baru menyadari, pria tersebut naik ke tempat tidur hanya dengan mengenakan boxer.
Ketika melihatnya telah berbaring dengan membalikan punggung, Enni menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Kemudian dia naik ke tempat tidur dan berlutut di samping.
"Maaf, Pak. Saya mau memijit punggung bapak." Ucap Enni yang sudah menuangkan hand body di tanga.
"Hhhmm hhhmmm..." Pria itu mengiyakan dengan hanya mengeluarkan suara pelan dan kurang jelas.
Ketika Enni mulai memijit punggung, dia merasakan kebenaran dari apa yang diceritakan pria tersebut. Punggungnya sangat tegang dan kaku. Perlahan Enni mempraktekan cara Acel memijit Ayahnya.
Beberapa saat kemudian, Enni menyadari pria itu tertidur. Sebab tarikan nafasnya teratur dan tenang. Enni melanjutkan pijitannya ke semua punggung sampai ke pinggang, lalu turun ke betis dan kaki.
Walaupun pria itu sudah tidur, Enni tetap lakukan seperti yang dilakukan Acel pada Ayahnya. Tapi tidak meminta pria tersebut untuk membalikan badan, agar tidak membangunkan. Setelah memijit kedua lengannya, Enni merapikan selimut untuk menutupi punggung dengan baik.
Kemudian Enni turun dari tempat tidur, lalu memindahkan pakaian pria itu ke sandaran kursi, agar dia bisa duduk di kursi sambil menunggu pria itu bangun.
Enni hanya duduk diam sambil memperhatikan punggung pria itu. Ia benar-benar tidur lelap, hingga tidak menyadari bahwa Enni sudah tidak memijitnya lagi.
Hampir satu jam menunggu, Enni berpikir. 'Apa aku yang harus membangunkannya?' Enni tidak tahu, berapa lama waktu pria itu diijinkan berada di kamarnya. Dia lupa menanyakan itu pada Prita atau Mami Sinna.
Tidak lama kemudian, Enni menarik nafas lega, saat melihat pria itu menggerakan badannya lalu membalikan tubuh dan perlahan membuka matanya. "Ternyata saya bisa tertidur dengan mudah." Ucapnya, setelah menyadari ada di mana saat melihat Enni duduk di kursi.
Setelah pria itu berbalik dengan sempurna, ia terkejut begitu juga dengan Enni yang melihat selimut di bagian bawah perut pria itu seperti monas, menjulang,
Pria itu sontak duduk, sedangkan Enni berdiri ke meja rias untuk mengembalikan hand body. Sebab dia tahu arti apa yang dilihatnya di bagian bawah perut pria itu.
"Ternyata, saya masih bisa. Kau membuat saya tidak perlu konsul ke dr Boi." Ucap pria itu dengan wajah cerah dan senang.
"Saya tidak mengerti, Pak." Enni tidak mengerti yang dikatakan pria itu, dengan nada santai.
"Ooh, ituu... Saya kira sudah tidak bisa lagi, sebab di rumah itu tidak mau bangun." Pria itu berkata lepas, tanpa rasa malu atau ragu. Membuat Enni tidak bertanya lagi, sebab dia mulai mengerti arah pembicaraan pria itu, saat menunjuk bagian bawah perutnya.
"Sini..." pria itu memanggil Enni untuk mendekatinya sambil menepuk tempat di sampingnya.
Enni berdiri lalu berjalan mendekat seperti yang diminta. Tanpa ragu, pria itu memeluk Enni yang sudah duduk di sampingnya. "T'rima kasih." Bisiknya, lalu mencium Enni perlahan dan lembut. Enni berusaha tenang sambil memikirkan yang dikatakan Prita padanya.
Semua sentuhan yang dilakukan pria itu tidak seperti Bargani yang membuat Enni berontak. Pria itu menyadari, Enni tiba-tiba tegang dalam pelukannya. Jadi dia berusaha menenangkan Enni dengan menyentuh dan mengelus bagian sensitif, secara perlahan.
"Kalau terlalu kasar, bilang." Bisik pria itu, sebab Enni membuat ia merasa seperti bukan melakukan dengan wanita penghibur. Tidak seperti yang dikatakan temannya. 'Sat set seett, blaasss.'
Enni mengangguk, pelan, sambil mengendalikan diri, lalu mengikuti yang dilakukan pria itu. Penyatuan yang tidak terduga, membuat pria itu memeluk Enni dengan erat dan nafas memburu.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
derita anak pertama kalau orang tua tinggal 1 dan tidak perhatian lagi jadi banyak pikiran.
tinggalkan saja kekasihmu nes sekarang sudah selingkuh kedepan pasti selingkuh lagi.
selingkuh seperti penyakit tak ada obat
nyesek banget ada korban rudapaksa..