NovelToon NovelToon
Dipinang Dokter Duda

Dipinang Dokter Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Istri ideal / Anak Genius / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Aliansi Pernikahan / Dokter
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kirana Pramudya

"Aku duda beranak satu," katanya dengan menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya.

Adakalanya seseorang mengidamkan pernikahan dengan sesama lajang. Namun, apa yang terjadi ketika Irene Putri Hadinata justru hendak dilamar oleh seorang Dokter Duda. Bukan karena cinta, tapi karena seorang anak yang lebih dekat kepada Irene dan memilih Irene yang sebaiknya menjadi Mama sambungnya.

Bisakah pinangan ini berakhir bahagia? Apakah mungkin masa lalu dan berbagai problem menikahi duda bisa membuat Irene tetap setia kepada suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lebih Mengenal

Usai lamaran yang mengharukan dan penuh air mata dari kedua belah pihak keluarga. Sekarang kedua keluarga duduk bersama. Jika sebelumnya keduanya adalah orang asing, tapi dalam hitungan bulan lagi mereka akan menjadi keluarga. Oleh karena itu, sembari menikmati makanan ala rumahan sederhana, banyak obrolan terjadi.

"Maaf, kami tanpa persiapan apa pun. Bahkan yang tersaji hanya menu rumahan," kata Bunda Ervita.

Untuk keluarga Pradana, Bunda Ervita memang hanya menyajikan Gudeg, Sambal Goreng Krecek, Ayam dan Tahu. Gudeg sendiri sudah seperti menu rumahan untuk warga Jogja. Andai Bunda Ervita tahu bahwa akan ada keluarga yang datang dari jauh untuk melamar Irene, tentu mereka akan lebih bersiap.

"Tidak apa-apa Bu Ervi, maaf justru kami yang datang tiba-tiba dan tanpa memberitahu terlebih dahulu," balas Bunda Kanaya.

"Jadi, Bapak dan Ibu Pradana ini dari Jakarta yah? Saya tak mengira, putri saya dilamar pria jauh-jauh dari Jakarta," kata Ayah Pandu.

"Benar, kami dari Jakarta. Sebenarnya Ayah dan Ibu saya dari Jogja, Pak Pandu. Cuma, saya sendiri dulu lahir di Jakarta. Jadi, serasa orang Jakarta. Bapak dan Ibu ini pengusaha batik yah?" tanya Ayah Bisma.

Ayah Pandu kemudian tersenyum. "Batik ini adalah usaha keluarga kami dari turun-temurun. Dulu, Eyang kami terbilang nenek moyang yang membatik untuk para raja, sultan di Keraton. Pada perkembangan zamannya, batik akhirnya boleh dikenakan oleh masyarakat, walau sampai sekarang ada motif khusus yang hanya boleh dikenakan oleh para raja. Lalu, kami mulai membuka peluang bisnis batik. Dari hingga ke Eyangnya Irene, dan sekarang dilanjutkan oleh Bundanya Irene," cerita Ayah Pandu.

Ayah Bisma dan Bunda Kanaya kemudian menganggukkan kepalanya. Sekaligus bisa lebih mengenal calon besannya itu. "Kalau Pak Pandu juga meneruskan batik ini?" tanya Ayah Bisma lagi.

"Tidak, saya konsultan desain interior. Bundanya anak-anak yang meneruskan batik Hadinata," balas Ayah Pandu.

Setelah itu, Ayah Pandu kemudian bertanya kepada Ayah Bisma. "Kalau Pak Bisma dan Ibu sendiri pekerjaannya apa?"

"Saya dokter spesialis anak, Pak Pandu. Kalau Bundanya Rangga ini pemimpin perusahaan, pernah tidak mendengar perusahaan Jaya Corp?" tanya Ayah Bisma.

Ayah Pandu menggelengkan kepalanya. Merasa tidak pernah mendengar nama perusahaan itu. Akan tetapi, di satu sisi ada Satria yang familiar dengan nama perusahaan itu.

"Kalau tidak salah, saya mengenal seseorang dari Jaya Corp. Kami bertemu saat ada aliansi pengusaha muda di Jogjakarta dulu. Dia adalah seorang arsitek di Jaya Corp, namanya Pak Aksara," kata Satria.

Ayah Bisma dan Bunda Kanaya terkekeh perlahan dan menganggukkan kepalanya."Aksara itu putra sulung kami. Masnya Rangga. Benar, dia adalah arsitek di Jaya Corp.

"Masnya Rangga yah? Wah, tidak menyangka," balas Satria.

"Dunia sempit ya Mas. Memang waktu itu Aksara yang ke Jogjakarta bersama istrinya. Mewakili saya, soalnya saya mengasuh Thania, waktu itu Rangga masih di Melbourne," balas Bunda Kanaya kepada Satria.

"Iya, nama istrinya Bu Arsyilla kalau tidak salah," balas Indi.

"Benar, Arsyilla adalah menantu kami. Kami juga sudah memiliki tiga cucu Bapak, Ibu, Mas, dan Mbak. Putrinya Aksara dua, dan Thania ini putrinya Rangga. Kenalan dulu, ke depannya kita kan menjadi keluarga. Bukan lagi orang asing," kata Ayah Bisma.

Sementara Rangga dan Irene sendiri justru diam, hanya mendengarkan obrolan kedua keluarga mereka. Sesekali mereka saling pandang, walau memang Irene kembali menundukkan wajahnya.

"Yah, mungkin calon pengantinnya perlu diberi waktu mengobrol berdua, Yah," kata Indi kepada Ayah Pandu.

"Wah, benar. Kita membahas semuanya, mengobrol ini dan itu, tapi Irene dan Mas Rangga malahan cuma diam-diam," balas Ayah Pandu.

Indi kemudian mengajak Thania, supaya Papanya memiliki waktu berbicara dengan Irene. "Thania ikut yuk, main sama Nakula dan Sadewa."

"Main apa, Ma?" tanya Sadewa.

"Main ular tangga bisa kan Mas?" tanya Indi. "Tuh, Thania diajakin main. Biar Ante Irene bisa bicara dulu sama Om Rangga," kata Indi kepada putranya itu.

Sadewa kemudian mendekati Thania kecil. "Yuk, main yuk ...."

Thania menganggukkan kepalanya. Akhirnya dia mau bermain dulu dengan Nakula dan Sadewa. Sementara orang tua berpindah untuk mengobrol di dalam rumah. Di pendopo itu hanya ada Irene dan Rangga. Saat diberi waktu berdua terlihat Irene dan Rangga masih canggung. Namun, Rangga sebagai pria, dia memilih berinisiatif terlebih dahulu.

"Makasih yah, mulai sekarang boleh kan aku memanggilmu Irene?" tanya Rangga.

"Hm, iya ... boleh," balas Irene.

"Kamu pun tak harus memanggilku Pak. Kita hanya selisih satu tahun. Bisa dikatakan seumuran," balas Rangga.

"Lalu, dipanggil apa?" tanya Irene.

"Panggil nama saja juga boleh kok. Rangga saja tidak apa-apa," balasnya.

Irene mengernyitkan keningnya. Masih belum terbiasa memanggil Rangga dengan panggilan yang lain. Selain itu jika menurut tradisi Jawa, memanggil calon suami secara langsung dengan namanya terbilang tidak sopan. Di Jawa, biasanya akan lebih lazim memakai panggilan Mas.

"Kalau di Jawa, di Jogjakarta ini memanggil pria yang lebih tua atau calon pasangan dengan namanya langsung, akan dinilai tidak sopan," balas Irene.

"Sebaiknya memanggilnya apa?" tanya Rangga.

"Mbakku itu memanggil suaminya Mas, ya biasanya Mas."

Rangga menganggukkan kepalanya. "Boleh juga, kalau aku dipanggil Mas. Tidak apa-apa," balasnya.

Setelah membicarakan itu, kemudian keduanya sama-sama diam lagi. Seakan membuat topik pembicaraan rasanya susah. Hal itu sangat maklum karena memang sebelumnya hubungan kedua murid sebagai guru dan wali murid saja.

"Jadi kapan kamu akan kembali ke Jakarta?" tanya Rangga setelah beberapa menit diam.

"Akhir pekan nanti," balas Irene.

"Besok aku dan Thania akan kembali ke Jakarta terlebih dahulu. Akhir pekan nanti biar aku jemput yah," balas Rangga.

"Gak usah, nanti aku malahan merepotkan."

"Gak repot sama sekali. Kayaknya waktu jelang pernikahan nanti harus kita manfaatkan untuk mengenal satu sama lain. Melakukan pendekatan," balas Rangga.

Irene menganggukkan kepalanya secara samar. Dia juga berpikir demikian. Kalau melihat relasi Ayah dan Bundanya atau Mbak Indi dan Mas Satria, tentu Irene juga menginginkan kehidupan rumah tangga yang harmonis di mana hubungan dengan pasangan begitu erat dan penuh cinta.

"Kamu suka apa saja, Irene?"

"Hm, maksudnya apa?"

"Hobi, makanan, minuman, atau apa pun itu," balas Rangga.

"Aku termasuk orang yang biasa saja. Dulu, sebelum ke Jakarta, aku lebih suka berorganisasi di kampus dan menghabiskan waktu dengan keluargaku. Main dengan keponakan. Makanan semuanya suka, apalagi masakan Jawa, ya itu saja," balas Irene.

"Mungkin kita kebalikan, Irene. Sebelumnya aku justru tak pernah menghabiskan waktu dengan keluargaku terutama tiga tahun ini. Namun, nanti aku pasti akan spent time waktu dengan kamu dan Thania. Sabtu terkadang aku visitasi ke rumah sakit sebentar, Irene. Kalau Minggu, aku libur," balas Rangga.

Irene menganggukkan kepalanya. Setidaknya dia tahu waktu bekerja Rangga. Sebagai seorang dokter memang kadang hari Sabtu tetap harus melakukan visitasi ke Rumah Sakit. Walau mengakui keduanya berbalikan, bukan berarti nantinya tak bisa membina rumah tangga dan mewujudkan keharmonisan di antara keduanya.

1
Ave Thohir
lanjut mbak crt nyo kok blm kelar jg ending nya gmb
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
ione
/Smile/
Reni Novitasary
mewek/Sob/
LANY SUSANA
kok ceritanya gantung gini ya, udah lama sekali pdhal bgs ya
suharlina
udah hbs ya
Desmeri epy Epy
lanjut thor
LANY SUSANA
kok ceritanya gantung gini ya... kapan di lanjut thor
Asisah Fitriani
up
Yuni Martopo
Luar biasa
Nina Nurnaningsih
lanjut mbak
Nina Nurnaningsih
kapan selesainya kak lanjut
Lili Susanti
ga ada kelanjutan nya kah ini....tanggung banget ya...
Tria Hartanto
thor ditunggu upnya kapan nih leburu lupa alur ceritNya
Lili Susanti
tanggung banget ini thor cerita nya ....di selesain dlu ...biar org ga penasaran...dan org2 besok2 ssneng baca novelmu krn sampe ending..ga di pending gini..
LANY SUSANA: ni cerita kok di gantung ky jemuran ya
total 1 replies
santi Leh
Kaka nya sbuk di dunia nyata..keburu PD lupa alur crita nya
freya septa
Luar biasa
yati sumiati
Kecewa
yati sumiati
Biasa
Nur Hidayati
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!