Kecelakaan mengerikan membuat Pelangi Jingga Cakrawala lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup dan harapan akan mimpinya menjadi seorang balerina terkenal. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Lentera Bentang Nirbatas yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi bocah itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Pelangi yang penuh amarah, perlahan-lahan Lentera mampu membuat Pelangi mau membuka diri.
Hal itu membuat Rimba Fajar Cakrawala jatuh hati pada Lentera. Akankah Rimba mampu meyakinkan jika cinta yang ia tawarkan bukanlah atas balas budi karena telah membuat anaknya bisa berjalan lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Pesta barbeque menjadi penanda di setiap pencapaian besar Pelangi dalam proses terapi yang di jalankannya. Semua penghuni yang hadir merasa haru atas pencapaian Pelangi, Rembulan tanpa sadar menangis pelan, sementara Lintang melemparkan senyum puas kepada Lentera karena sedari awal ia yakin Lentera mampu membuat cucunya berjalan.
Mereka menikmati makan malam dengan hangat. Senja tak hentinya menangis haru atas pencapaian Pelangi kali ini, tangisan kebahagiaan mengguncang sekujur tubuhnya. Butuh waktu agak lama bagi Lintang dan Rimba menenangkan Senja, wanita itu hampir tampak sinting karena terlalu gembira.
Jagat pun terlihat menyeka air mata harunya yang menggenang di sudut matanya. "Karena Pelangi sudah berencana kembali ke sekolah, berarti aku boleh mengajukan cuti?" tanyanya menatap Rimba.
Sejak Pelangi kecelakaan, Jagat membackup sebagian besar pekerjaan Rimba karena Rimba tak bisa 100% mencurahkan pikirannya pada pekerjaannya, ia harus bolak balik memantau putrinya.
"Tentu saja. Kau kubebaskan dari kewajibanmu, paling sedikit sebulan.”
“Aku tak akan menolak tawaranmu itu,” Jagat tersenyum lega.
Rembulan menatap suaminya dengan kegembiraan yang dipaksakan. “Bagaimana kalau Hawai?” tanyanya. “Kita bisa menghabiskan sebulan penuh dengan berbaring di pantai surga dunia.”
Bibir Jagat menipis. “Mungkin kapan-kapan. Kurasa aku perlu sendiri dulu selama beberapa waktu, sebelum mengajukan surat ke Pengadilan Agama.”
Rembulan menarik diri seolah Jagat menamparnya, pipinya pucat pasi. Senja menatap Rembulan, membaca ekspresi patah hati di sana, dan kemarahan membuat matanya berpijar.
Lintang menyentuh lengan istrinya dengan lembut untuk mencegahnya ikut campur, karena apa pun masalah Jagat dan Rembulan saat ini, mereka sendiri yang harus menyelesaikannya baik Senja maupun Rimba tidak bisa ikut campur.
Pelangi menatap semua orang dengan bingung. "Apa Uncle dan Aunty akan berpisah?" tanyanya dengan nada sedih, di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia untuk dirinya ternyata Pelangi harus mendengar dua hal yang menyedihkan. Pertama Lentera yang menyinggung soal perpisahan dan Jagat yang menyinggung soal perceraian. "Aku tidak ingin kehilangan Uncle dan Aunty..." isaknya.
"Sayang..." Senja langsung menangkan cucunya.
Rembulan mengangkat kepala, ia tersenyum seolah komentar Jagat tidak menyinggung dirinya sedikit pun, selain itu ia pun tak ingin merusak malam yang berbahagia untuk keponakannya. "Sayang, kami orang dewasa memiliki banyak masalah yang tidak bisa kami selesaiakan hanya dengan berbicara. Tapi apa pun itu, kami akan tetap jadi Aunty dan Uncele terbaik untuk untukmu, kami sangat menyayangimu." Rembulan mencoba menenangkan Pelangi meski dirinya dirinya sendiri pun butuh di tenangkan.
"Yang di katakan Aunty itu benar," sahut Jagat, "Uncle berencana mengunjungi orang tua Uncle di New York, kamu mau oleh-oleh apa?" Jagat berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar suasana kembali riang.
Pelangi menggelengkan kepalanya. "Apa saja Uncle," masih terlihat jelas raut kesedihan di wajah Pelangi.
Acara malam itu berlangsung singkat, setelah makan Pelangi mengajak Lentera istirahat lebih awal, tentu saja Lentera tak bisa menolak sebab seharian penuh Pelangi telah bekerja keras sehingga membutuhkan istirahat yang cukup.
...****************...
Keesokan paginya Lentera tak ikut shalat berjamaah bersama sebab ia tengah datang bulan, setelah mengantar Pelangi ke mushola untuk berjamaah bersama Rimba, Lentera turun ke dapur membuat sarapan special untuk mereka berdua.
Akhir-akhir ini Lentera sering membuatkan sarapan atau makan malam untuk Rimba dan Pelangi, ia begitu senang setiap kali mereka terlihat lahap menyantap makanan yang di buatnya.
Setelah ia pergi dari kediaman Rimba, mungkin moment inilah yang nantinya akan ia rindukan. Lentera berharap setelah ia pergi, Rimba dan Pelangi masih akan selalu ingat dengan rasa masakan yang pernah ia buat.
Sementara itu di mushola, terdengar isak tangis dari bibir Pelangi ketika bocah itu selesai shalat. Rimba langsung menolah untuk mengetahui apa yang membuat putrinya bersedih. "Ada apa sayang?" Rimba bergeser, lebih mendekat ke arah Pelangi.
"Aku tidak ingin Amma pergi.. Hiks..."ia berhambur ke pelukan Papanya dan memeluknya dengan erat.
Rimba bingung dengan apa yang terjadi dengan putrinya. "Maksudmu?" ia mengelus punggung Pelangi dengan dengan lembut.
Pelangi mendongak hingga Rimba melihat deraian air mata yang membanjiri wajah cantiknya. "T-tadi siang saat latihan Amma bilang kalau aku sudah bisa jalan, Amma akan pergi dari rumah ini huhu..." ucapnya sesegukan.
"Tapi pekerjaan Amma adalah terapis," ucap Rimba dengan lembut. "Dia harus menolong banyak anak yang membutuhkan pertolongannya..."
"Tapi aku tidak mau Amma pergi. Kalau dengan bisa berjalan membuatnya pergi, aku tidak mau terapi lagi, aku mau tetap duduk di kursi roda asalkan Amma tidak pergi dari rumah ini huhu..." Pelangi kembali memeluk Papanya dan menangis dalam dekapannya.
Rimba tahu Pelangi begitu dekat dengan Lentera, tapi ia tak menyangka jika Lentera begitu berarti bagi Pelangi. "Jangan bicara seperti itu sayang."
Pelangi mengatur napasnya, ia menyeka air matanya dengan kedua telapak tangannya."Selama ini tidak ada yang pernah memberiku perhatian sebesar Amma memberiku perhatian. Eyang begitu perhatian, tapi tak seperti Amma yang mengajakku bermain, menemaniku mengerjakan tugas, mengatur pola makanku dan... Dan memberikan cintanya seperti seorang ibu." Pelangi menatap Rimba lekat-lekat. "Apa Papa tak bisa membuatnya tetap di sini?"
Rimba terdiam untuk beberapa saat. "Amma bisa tetap di sini jika Papa menikah dengannya," ucap Rimba hati-hati. "Apa kamu mengizinkan jika Papa menikah dengannya?"
Tanpa pikir panjang Pelangi mengangguk riang, senyum manisnya seketika mengembang di wajah cantiknya. "Amma akan betul-betul jadi ibuku? Horeeee..." ia bersorak riang.
Rimba langsung membekap mulut putrinya dengan satu tangannya. "Sssst... Jangan kenceng-kenceng, nanti Amma dengar," ucapnya sembari menoleh ke arah pintu. "Papa tidak bisa langsung memintanya untuk menikah dengan Papa."
"Loh kenapa, Pah?" wajah polosnya terlihat bingung.
"Kita perlu mengenal satu sama lain, terutama Amma. Papa perlu meyakinkan Amma bahwa Papa adalah pria terbaik untuk menjadi pendampingnya." selama ini Rimba mengamati Lentera adalah satu-satunya wanita yang sulit untuk di dekati, ia melihat seperti ada tembok tinggi yang sengaja di buat oleh wanita itu agar tak ada yang mendekatinya.
"Maksud Papa? Papa mau pacaran dulu seperti orang-orang dalam sinetron?"
Rimba mengerutkan keningnya. "Kamu nonton sinetron??"
"Dulu, waktu Amma belum datang," Pelangi mengakui bahwa dirinya pernah menonton sinetron remaja. "Bik Sore kalau nungguin aku, selalu nonton sinetron. Mana nontonnya sambil nangis-nangis lagi, tapi setelah ada Amma aku tidak pernah menonton sinetron, Amma bahkan memantauku saat buka internet."
Rimba menghela napas lega, ia mengakui bahwa Lentera memang membawa dampak yang luar biasa untuk putrinya, bukan hanya menyembuhkan kakinya tapi juga sikap dan sifat putrinya yang kini mulai berkembang sesuai dengan usianya. "Papa tidak akan mengajak Amma berpacaran, hanya pendekatan untuk menyakinkannya agar Amma bersedia menjadi pendamping Papa dan Ibu untukmu." Rimba mendekap putrinya dengan hangat, ia begitu lega mendapatkan restu dari Pelangi. Selama ini ia menahan diri tak mencoba mendekati Lentera lantaran khawatir Pelangi tak merestuinya, sekarang dia hanya tinggal meluluhkan hati ibundanya, dan tentunya meruntuhkan dinding yang berada di hati Lentera.
berakhir bahagia utk semuaa..lentera juga sudah berhasil mngatasi trauma atas sentuhan laki2...
terimakasih Kak Irmaa utk karyanya..
mohon maaf baru bs menyelesaikan bab ini hingga akhir..🙏
Kau harusnya bs bangkit melawan traumamu dan jangan berpikiran buruk terus. Jika Pelangi saja bs smbuh dan bangkit..kaupun harusnya jg bisa.
Apalagi jika pelaku adalah org terdekat..alhasil mereka tdk mau mengungkapkan dan melaporkan ke Polisi.
Peraayaan ulang tahun Pelangi
Hamilnya Rembulan
dan akhirnya Lentera mau menerima lamaran Rimba dengan restu Senja..🥰🥰🥰
semoga tak ada lagi halangan utk mererka smua
Tak mungkin kan Eyang merusak kebahagiaan Pelangi...😉