Sekelompok preman datang setelah acara pernikahan sederhana digelar oleh Aditya dan Syahnaz. Mereka mengancam akan menyita rumah itu jika Aditya tidak mampu melunasi hutang dalam waktu tiga hari.
Mendengar masalah yang menimpa menantunya, ibu Syahnaz jatuh pingsan. Ternyata dia terkena serangan jantung. Dokter menyarankan agar segera melakukan tindakan operasi agar penyakit ibu Syahnaz tidak semakin parah.
Aditya teringat perbincangan atasannya di kantor yang sedang mencari seorang wanita untuk dijadikan simpanan dan melahirkan seorang anak. Aditya dengan gilanya memaksa Syahnaz menjadi PSK demi melunasi hutangnya dan biaya perawatan ibu di rumah sakit.
Akibat tidak punya jalan keluar lain, Syahnaz terpaksa menyetujui. Ia dijual kepada Jendra, pengusaha kaya yang menginginkan seorang wanita untuk menjadi penghangat ranjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Meriyang
"Perusahaan baru kita butuh suntikan dana lebih besar, Aditya. Apa kira-kira kamu punya cara?" tanya Jarwis.
Aditya tampak berpikir. Seandainya hubungannya dengan Syahnaz masih baik-baik saja, mungkin ia akan mudah mendapatkan uang. Sayangnya, Jendra sudah pernah memergokinya hampir meniduri Syahnaz. Lelaki itu pasti tidak akan tinggal diam.
Jatah 50 juta sebulan yang seharusnya Aditya terima saja kini sudah hilang. Satu-satunya cara yaitu menemukan ibu mertuanya agar bisa digunakan untuk memperalat Syahnaz.
"Apa hasil penjualan produk baru kita kurang untuk menutup biaya operasional? Bukankah perusahaan kita yang pertama merilis produk itu dan belum ada saingan? Kita juga sudah melakukan promosi besar-besaran," ujar Aditya.
"Kamu benar, Aditya. Sayangnya, penjualan belum mencapai target yang kita tetapkan. Selama menunggu ketercapaian itu, perusahaan masih butuh suntikan dana. Kalau memang kamu bisa mendatangkan investor, itu akan jadi lebih baik."
Tidak ada satupun orang dalam pikiran Aditya yang terbayang bisa menjadi investor di perusahaan. Meskipun jabatannya mentereng sebagai CEO, ia sama sekali tak memiliki kenalan pengusaha ternama. Ia hanyalah seorang karyawan biasa, budak corporate yang tiba-tiba menduduki posisi tinggi dengan jalan curang, mencuri ide perusahaan sebelumnya.
"Baiklah, nanti aku pikirkan lagi," kata Aditya.
Jarwis tersenyum. Ia mendekati Aditya dan menepuk pundak lelaki itu. "Kamu memang pantas aku jadikan CEO perusahaan. Rasa tanggung jawabmu sangat besar," pujinya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ada urusan," pamit Aditya seraya meneguk habis sisa minuman dari dalam gelasnya.
Aditya lantas pergi meninggalkan Jarwis dari meja bar. Ia menuju ke bagian lantai atas yang berupa lorong dengan banyak kamar. Tanpa ragu, ia membuka salah satu pintu kamar tersebut.
Terlihat di sana ada Sonya dengan pakaian yang menggoda tengah duduk di atas pangkuan seorang lelaki. Melihat kedatangan Aditya, Sonya langsung bangkit dan berjalan mendekati lelaki yang masih berdiri di depan pintu.
"Aku kira kamu tidak akan datang malam ini, Saya ng. Akhir-akhir ini kamu sibuk kerja terus," kata Sonya dengan nada menggoda.
"Kamu juga sepertinya sibuk bekerja selama aku bekerja," sindir Aditya.
Sonya tersenyum kikuk. Ia lantas menarik tangan Aditya dan membawanya ke kamar sebelah yang masih kosong.
"Harap maklumi aku, Sayang. Kamu terlalu sibuk bekerja jadi aku kesepian. Tapi, kamu tetap nomor satu untukku," rayu Sonya. Ia memeluk tubuh Aditya dengan erat. Ia senang melihat lelaki itu di sana.
"Aku datang bersama temanku, Jarwis. Dia juga masih ada di bawah," kata Aditya.
Sonya mangguk-mangguk. "Kenapa tidak kamu ajak saja dia ke sini?" tanyanya.
Aditya memberi lirikan maut. "Maksudmu mau main bertiga?" ia bertanya dengan nada sinis.
Sonya segera menyadari perkataannya yang salah. Ia kembali memeluk lelaki itu. "Maksudku bukan seperti itu, Sayang. Kita kan bisa bicara bertiga. Aku juga ingin mendengar urusan bisnismu," kilahnya.
Aditya mengambil sebotol minuman lalu menuangkannya ke gelas dan meneguknya. "Dia bilang perusahaan masih butuh suntikan dana. Aku sedang bingung bagaimana cara mendapatkannya. Apa kamu kira-kira ada ide?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu Sonya langsung terdiam. Ia juga mendekati lelaki itu karena uangnya. Kalau ditanya tentang nominal uang yang banyak, tentu saja dia tidak ada.
"Apa perlu aku menjual mobilku, ya?" tanya Aditya.
"Jangan! Jangan buru-buru kamu lakukan itu. Aku sepertinya ada kenalan pelanggan yang mungkin bisa dirayu untuk membantumu."
***
"Hoek! Hoek! Hoek!"
Jendra memuntahkan isi perutnya di dalam toilet. Regi membantu memijit tengkuknya sampai lelaki itu merasa lebih baik.
"Hah ... Jendra ... Ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa jadi seperti ini," guman Regi.
Sudah lebih dari seminggu kondisi Jendra tidak karuan. Lelaki itu benar-benar tidak bisa fokus terhadap pekerjaan. Padahal biasanya, ia orang yang sangat antusias bekerja.
Puncaknya malam ini, Jendra muntah-muntah saat diajak minum oleh rekan bisnisnya. Regi sampai geleng-geleng kepala.
Jendra membasuh wajahnya dengan air kran. Kepalanya terasa pusing dan badannya sedikit lemas.
"Aku rasa kamu itu sedang meriyang, Jendra. Lebih baik kamu pulang ke rumahmu," usul Regi.
ribet aja 🥺 bener mm Rania 😲
😡