Jia harus menunggu Empat Belas Hari sebelum perceraiannya, ditengah ikhlas akan kandasnya pernikahan, Jia mendapati sebuah fakta yang bisa menyelamatkan pernikahannya.
Tapi takdir membuat Jia harus menelan sebuah pil pahit saat suaminya, Gao harus mengalami kecelakaan dan menghilang tanpa jejak.
Ditengah kesedihannya, Jia dinyatakan hamil, anak kedua mereka, Tujuh Tahun berlalu, Jia masih percaya kalau suaminya masih hidup.
Di hari Anniversary ke Tujuh Belas mereka, sosok Pria bernama Galih datang ke hadapannya dengan Wajah yang sama dengan Gao, suaminya.
"Kak Gao?"
"Gao? Saya Galih, salam kenal Mbak, tapi kayaknya sama Familiar dengan Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Menjalankan Rencana
"Kalau kamu mau minta cerai dari Mas, gapapa kok, Mungkin kamu malu punya suami berstatus narapidana sekarang, tentang harta, nanti kamu bisa jual aset-aset pribadi milik Mas, gapapa," Farhan nampak menatap lesu istrinya yang sedang duduk menghadap ke arahnya.
Kini mereka berdua sedang berada di satu meja khusus untuk mengobrol yang di sediakan di kantor polisi tersebut, Rein hanya diam tidak menjawab, dia tahu suaminya sedang berada di ambang keresahan dan kepasrahan terhadap takdir hidupnya.
Rein meraih tangan Farhan kemudian mengusap tangannya pelan. "Apapun yang terjadi dengan Mas Farhan, aku gak akan pernah ninggalin Mas Farhan."
Farhan menghela napas pendek kemudian menatap ke arah Rein. "Ini demi kebaikan kamu, hidup kamu gak akan bahagia, Mas akan lama disini, Mas gak mau kamu menunggu lebih lama lagi."
Rein menggeleng. "Gak Mas, apapun yang terjadi aku akan tetap jadi orang yang akan selalu hadir di samping Mas Farhan, gak peduli mau berapa lama Mas disini, aku tetap akan menunggu sampai Mas bisa keluar dan menjalani rumah tangga kita kembali."
Farhan hanya bisa diam, dia tidak tahu terbuat dari apa kesabaran istrinya itu menghadapi dirinya. "Maafkan Mas yah, sayang, Mas memang bodoh, semua ini adalah imbas kebodohan Mas."
Rein hanya mengulum senyum kemudian memeluk suaminya itu, dia membenamkan wajahnya di dada Farhan untuk melepaskan beban dan rasa sedih yang sedang mereka berdua rasakan sekarang ini.
"Aku akan tetap menunggu kamu, Mas."
-
"Gimana?" Jia melirik Garret sejenak yang membuat Garret mengambil kacamata kemudian memakainya.
"Ini," jawab Garret mengeluarkan dua buah kartu dengan yang biasanya di kalung kan di leher sebagai tanda pengenal. "Aku baru aja memalsukan ini."
Jia mengangguk kemudian memakai kalung tersebut dan berjalan beriringan dengan Garret masuk ke dalam kantor tersebut.
"Selamat siang, Pak, Bu, sedang cari siapa yah, kantor sekarang dalam pembatasan tamu," ujar salah satu Staff keamanan menghadang langkah Garret dan Jia.
Garret mengangkat kartu identitas miliknya kemudian memperlihatkannya kepada Staff keamanan itu. "Saya dari investor dari pihak pengembang saham investasi, ada urusan bisnis yang harus saya bicarakan dengan wakil dari Pak Gilbert."
Staff keamanan itu awalnya tampak ragu-ragu, tapi akhirnya dia mengizinkan agar Garret dan Jia untuk masuk kesana.
"Silakan Pak, Bu, ruangan Pak Rendra, wakil dari Pak Gilbert ada di lantai dua," jelas Staff Keamanan tersebut kepada Jia dan Garret.
Jia dan Garret mengangguk kemudian berjalan menuju lift yang ada tidak jauh dari sana, sesampainya di dalam lift, Garret segera menekan tombol menuju lantai dua.
"Pakai ini kak, nanti komunikasi secara terpisahnya menggunakan ini saja," jelas Garret memberikan sebuah Earphone yang berfungsi sebagai alat komunikasi diantara keduanya.
Pintu lift terbuka, Garret dan Jia saling melempar pandangan, mereka berjalan secara terpisah, Garret berjalan menuju ruangan Rendra, sedangkan Jia mencari koridor lain untuk stay.
Tok!
"Siapa?" ujar suara yang diiringi dengan suara pintu yang di dorong ke samping oleh sosok dari dalam. "Siapa yah, Mas, kok bisa ada disini?"
"Saya Garret, Partner bisnis ada, bukannya hari ini kita ada meeting dan obrolan yah?"
Rendra mengernyitkan dahi kemudian menatap Garret seksama. "Saya coba hubungi Pak Gautama dulu yah, dikarenakan Pak Gilbert yang biasa bertanggung jawab sedang berada dirumah sakit."
"Turut Prihatin, silakan," jawab Garret kepada Rendra.
Rendra menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan badan berjalan menuju meja kerjanya.
BUGH!
Tubuh Rendra seketika jatuh ke lantai dengan kondisi tidak sadarkan diri setelah Garret menyuntikkan sebuah obat bius tepat di leher Rendra, Garret kemudian berjalan menuju pintu ruangan itu dan mulai menutupnya.
Setelah Garret berjalan melewati tubuh Rendra yang tidak sadarkan diri menuju satu ruangan khusus didalam ruangan tersebut, ruangan khusus itu berisi banyak kamera yang terhubung dengan CCTV kantor khususnya ruangan dimana Gilbert dan Ibunya menyimpan dokumen dan arsip penting.
"Halo, Kak Jia? Kedengaran gak?"
"Denger Ret!"
"Ruangan itu ada di Koridor kedua dari posisi Kakak sekarang, tapi aku minta Kakak stay disana dulu, sembari aku menyambungkan komunikasi kita dengan Bang Galih."
Garret berusaha menghubungi Galih agar bisa bergabung dengan obrolan mereka sampai akhirnya obrolan itu tersambung.
"Bang Galih, gimana?"
"Aman, Kedua Orang Tua dari Gilbert itu ada disini, saya sudah mengalihkan perhatian mereka tadi dan tampaknya mereka akan lama disini," jawab Galih yang ada dirumah sakit.
"Bagus, Pertahankan Bang, dan Kak Jia, siap-siap, Permainan utamanya akan segera dimulai," Garret tersenyum sinis kemudian membuka laptop yang dia bawa. "Have Fun!"
Seketika lampu-lampu di koridor dan daya listrik yang mengaliri kantor tersebut mati total, Garret bisa melakukan itu dikarenakan semua alat-alat dikantor ini terhubungkan oleh mainframe dengan satu jaringan untuk semua jenis, baik Listrik, keamanan dan juga powerpoint jadi Garret tinggal meretas jaringan tersebut untuk mendapatkan akses.
[Kepada Tim Staff Keamanan dan Staff kantor lain, di minta untuk berkumpul di halaman kantor dikarenakan ada masalah dengan Listrik yang mengalami kongsleting dan dipicu kebakaran]
Begitulah pengumuman yang Garret buat dari ruang CCTV itu, semua Staff yang menjaga ruangan yang akan Jia datangi perlahan pergi begitu juga Staff lain.
"Sekarang, Kak!"
Mendengar ucapan Garret, Jia langsung berlari menuju ruangan itu, dimana sesampainya didepan pintu ruangan itu Jia harus menghadapi kesulitan.
"Pintunya pake Teknologi Biometri, sidik jari gimana ini?"
"Hah? Kok bisa?"
Mereka bertiga seketika kebingungan disana apalagi kantor tersebut sedang tidak kondusif akibat ulah Garret.
"Gimana kalau saya ambil sampel sidik jari Gilbert, mumpung dia koma kan, dan saya akan bawa sampel itu ke kantornya," jawab Galih yang membuat Jia dan Garret setuju.
•
•
•
Konflik Puncak akan dimulai dari sini
Terus & semangat berkarya..
tp gpp sdh end jg....mksh thor
semoga polisi cpt bs membantu