Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Toko Musik 2.
...~•Happy Reading•~...
Kandara sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh pelayan toko, sehingga ia segera menutup telinga Efraim agar tidak mendengar apa yang dikatakan pelayan tersebut.
^^^Sontak Efraim menengada melihat Mommy nya dengan wajah heran dan tidak mengerti, mengapa Mommy nya tiba-tiba menutup telinganya. Padahal dia hanya minta melihat organ atau keyboard di ruangan tersebut.^^^
"Sebentar, ya, Nak. Tolong ke sana dan lihat-lihat dulu, mungkin ada yang Efra suka. Mommy mau bicara sebentar dengan bapak ini." Kandara berkata pelan, seakan berbisik. Tapi didengar oleh pelayan yang heran mendengar ucapan Kandara. Efraim mengangguk mengiyakan, lalu berjalan ke arah yang dimaksudkan Mommy nya.
"Maaf, Bu... Yang di bagian sana tidak bisa dicoba. Hanya yang ada di sini saja." Kata pelayan toko saat melihat Efraim ke arah tempat berbagai alat musik, termasuk keyboard.
"Mas... Tadi dengar yang saya katakan kepada anak saya? Saya hanya memintanya melihat-lihat yang dia suka. Bukan minta dia mencoba yang dia suka. Anak saya mengerti ucapan saya." Kandara berkata tegas sambil melihat pelayan dengan serius, membuat pelayan tersebut terkejut.
"Sebenarnya, saya sengaja meminta anak saya menjauh, karena saya mau bicara berdua saja dengan anda. Dan saya tidak ingin anak saya mendengar percakapan kita." Kandara terus berkata walau melihat pelayan tersebut sudah salah tingkah.
"Begini, ini saran saya. Tidak baik anda katakan seperti tadi di depan konsumen tentang harga barang di ruangan itu, jika tidak ditanya." Kandara berkata sambil menunjuk ke arah ruangan, tempat yang dimaksudkan Efraim.
"Sebagai orang tua, saya tau diri dan tau isi kantong untuk mengabulkan permintaan anak. Jadi lain kali jangan lakukan itu, jika tidak mau kehilangan pembeli. Profesi seperti anda harus berhati-hati terhadap konsumen. Jangan menilai seseorang dari penampilan luar saja. Kadang cover buku tidak sesuai dengan isinya." Kandara berkata pelan, tapi tegas dan serius.
^^^'Jika kau tau siapa suamiku dan jika kau bicara seperti itu pada anaknya di depan Daddynya, entah apa yang akan dia lakukan padamu.' Kandara hanya meneruskan ucapannya dalam hati.^^^
"Ada apa, Bu?" Tiba-tiba seorang bapak mendekati mereka dan bertanya dengan suara lantang sambil melihatnya dan pelayan di depannya bergantian.
^^^Melihat perubahan raut wajah pelayan tadi, Kandara bisa menebak, mungkin manager toko atau pemilik toko tersebut yang datang menemui mereka.^^^
^^^Kandara baru menyadari, mengapa mereka bisa terlihat dari jauh, karena kondisi toko tidak terlalu ramai dengan pengunjung. Hanya satu dua orang yang datang dan melihat-lihat di tempat gitar.^^^
"Ooh, saya sedang berbicara dengan Mas ini. Kami mau melihat organ atau keyboard yang ada di dalam ruangan sana." Kandara berkata sambil menunjuk kembali ruangan yang dimaksudkan Efraim.
^^^Ia tidak mau membahas pembicaraannya dengan pelayan tadi, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak enak dengan pelayannya. Itu yang ada dalam pikiran Kandara, melihat sikap orang yang mendekati mereka tidak bersahabat.^^^
"Ooh... Piano dan organ atau Keyboard yang ada di ruangan itu, khusus, Bu. Makanya dipajang terpisah, secara khusus." Ucap pelayan yang baru datang, dengan wajah serius. Membuat Kandara melihatnya dengan rasa hati yang tawar.
"Ini manager toko kami, Bu." Pelayan yang pertama memperkenalkan managernya kepada Kandara. Tapi sikap manager yang kurang simpatik membuat Kandara makin tawar hati.
"Ooh... Itu hanya untuk dipajang? Mengapa tadi anda tidak katakan saja kepada saya, kalau tidak untuk dijual? Jadi kita tidak perlu buang waktu untuk bicarakan hal itu." Kandara menembak langsung managernya, karena dari ucapan pelayan toko, menyebut harganya mahal, pasti untuk dijual.
^^^Tapi Kandara sengaja mengatakan itu, agar manager toko tidak perlu menjelaskan lagi. Dia sudah tidak berminat untuk berlama-lama di tempat itu, apa lagi mau membeli keperluan Efraim.^^^
^^^'Managernya lebih parah, sudah langsung tutup pintu untuk orang yang mau beli dari sekilas pandang.' Kandara berkata dalam hati.^^^
^^^Sedangkan pelayan toko yang melayani sebelumnya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menutupi rasa tidak enak hati atau bisa dibilang rasa malunya, seakan ketahuan berbohong.^^^
"Eeeh, bukan begitu Bu. It u u..." Manager berkata terbata-bata, karena tidak menyangka respon Kandara seperti itu dan tidak bisa menjelaskan yang dia maksudkan tentang ucapannya tadi.
Kandara mengabaikan manager yang tergagap mendengar ucapannya. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang dibawanya, lalu menghubungi Bu Selvine.
📱"Ma, tolong jemput kami di depan toko, ya." Ucap Kandara saat Bu Selvine merespon panggilannya.
📱"Sudah selesai belinya?" Tanya Bu Selvine heran, karena belum lama mereka masuk ke toko.
📱"Yang dimaui ngga dijual, Ma. Kita ke tempat satunya lagi saja." Kandara berkata dengan suara yang lebih keras, agar didengar oleh manager dan juga pelayan toko tersebut. Kemudian Kandara mengakhiri pembicaraan dengan Bu Selvine.
"Mari kita ke tempat yang lain, Nak." Ucap Kandara pada Efraim yang sudah mendekatinya, saat melihat Kandara memanggilnya dengan tangan.
"Yang itu mengapa, Mom?" Tanya Efraim penasaran dengan organ atau keyboard yang ada dalam ruangan itu, karena dia ingin melihat dari dekat.
"Organ atau keyboard itu tidak untuk dijual. Jadi percuma kau melihat itu. Mari, kita pindah ke tempat lain. Oma sudah tunggu di depan." Kandara berkata santai. Walau pun ia bicara pelan, ucapannya bisa terdengar oleh yang lain, karena ruangan mereka berdiri sedang sepi.
Efraim mengangguk lalu memegang tangan Kandara. Mereka berjalan keluar sambil diperhatikan oleh manager dan pelayan toko yang melayani Kandara.
"Pak, apakah kita sudah salah menilai? Jangan-jangan mereka memang mau beli organ atau keyboard yang di dalam ruangan itu." Kata pelayan toko yang masih tidak enak hati terhadap Kandara.
"Aaahh, kau. Lihat itu, mereka naik mobil sejuta umat." Manager berkata sambil menunjuk Kandara yang sedang naik ke mobil.
Di dalam mobil, Kandara meletakan jari di bibir, agar Bu Selvime tidak bertanya tentang apa yang terjadi di toko musik tersebut. Kemudian Kandara memberikan ponselnya kepada Bu Selvine untuk memberitahukan tempat tujuan mereka selanjutnya.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di toko musik yang lain. Tidak terlalu besar, tapi cukup ramai.
"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?" Tanya seorang bapak saat mereka masuk ke dalam toko. Kandara menyampaikan tujuannya lalu diantar ke tempat yang dimaksudkan Kandara.
"Aji, bantu Ibu ini. Mereka mau lihat organ atau keyboard." Panggil bapak tersebut kepada seorang pemuda yang berpenampilan menarik dengan rambut panjang dikuncir, seperti seorang musisi.
"Baik, Ko..." Jawab orang yang dipanggil Aji, sambil berjalan cepat mendekati Kandara dan Efraim.
"Trima kasih, Ko..." Kandara jadi ikut panggil seperti Aji yang sudah berdiri di dekat mereka. Karena Kandara mengerti arti panggilan itu.
"Ok... Bicara dengan dia saja. Dia lebih mengerti alat musik dari saya." Jawab Ko, lalu pergi meninggalkan mereka untuk melayani yang lain.
"Beliau manager di sini?" Tanya Kandara penasaran, karena orang nya tidak bisa dibilang ramah, tapi sangat cekatan. Tau karyawan mana, yang bisa layani konsumen sesuai kebutuhan.
"Ko Wawan tadi? Beliau yang punya toko ini, Bu." Jawab Aji sambil menunjuk Ko Wawan dengan jempolnya.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..