NovelToon NovelToon
My Arrogant Wife

My Arrogant Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Misteri
Popularitas:721k
Nilai: 4.9
Nama Author: Red Maple

Setelah menyelesaikan upacara pernikahannya, Tony Huo terbang ke luar negeri, di kabarkan bersama kekasihnya.

Setelah dua tahun, Tony Huo kembali dari Kanada, hanya untuk mendapati bahwa Zelene Liang, wanita yang di nikahinya 2 tahun yang lalu, tidak mengenali maupun mengingat namanya.

Dari sanalah kesombongan pria itu menghilang. Setelah bergulat begitu lama dengan harga dirinya, Tony Huo memutuskan untuk mengejar cinta Zelene Liang.

Wanita yang bahkan lebih angkuh darinya. Sedikit yang Tony Huo ketahui, mengenai identitas sebenarnya dari Zelene Liang. Dia bukan hanya seorang aktris atau pun putri pengusaha kaya, dibalik keberanian dan keangkuhannya tersimpan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Maple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu, dua, tiga, empat, ..., sebelas helai ...?"

"Zelene Liang! Kenapa aku tidak bisa membunuhmu?" Tony Huo berteriak kesal.

Pria itu mendorong Zelene Liang ke lantai, dan wanita itu tersungkur tak berdaya, kepalanya pun pusing dan ia bangkit lagi hanya untuk muntah. Sedangkan Tony Huo melihat dadanya dipenuhi muntahan, membuatnya sangat jijik.

Tony Huo bangkit dan meninggalkan Zelene Liang dengan keadaan yang—ugh! Lebih baik tidak perlu menjelaskan keadaan wanita itu karena akan membuatnya makin jijik. Ia mengambil sebuah handuk dari almari dan mengusap muntahan yang sudah mengalir hingga ke celananya. Tony Huo amat geram memperhatikan wanita yang tergeletak di atas lantai dingin tersebut, ia benar-benar akan membiarkannya begitu saja. Pria itu mengalihkan pandangannya dan mengambil jubah mandi, lantas mengenakannya.

Langkahnya cepat sampai ke pintu dan ia keluar dari kamar utama, "Butler Kim, Bibi Qin!" Tony Huo berseru, memanggil kedua pelayan kepercayaannya.

Saat mendengarkan suara Tony Huo, kedua pelayan tersebut bergegas mendatangi kamar utama dengan cepat dan tanggap. Sehingga dalam 40 detik mereka telah sampai di depan kamar tersebut.

"Butler Kim persiapkan baju ganti untukku, aku akan mandi di kamar tamu, dan Bibi Qin, tolong urus wanita itu." Ujar Tony Huo, bersicepat menuju kamar tamu.

"Baik, Tuan Muda." Sahut kedua pelayan secara bersamaan.

Keduanya masuk dan mendapati seorang wanita bertubuh jenjang tergolek di atas lantai dingin, mereka memandang satu sama lain, dan berkata dalam hati: tuan benar-benar begitu tega.

"Oh, Tuhan ..., Nyonya." Qin Zhuo An mendesah pelan dan menghampiri Zelene Liang. Wanita berusia 49 tahun itu mengangkat kepala Zelene dan merebahkannya dalam pangkuannya, lalu ia menoleh pada butler Kim dan berkata, "butler Kim, tolong bantu aku menggendong Nyonya ke kamar mandi."

"Tentu saja." Butler Kim segera membopong Zelene ke kamar mandi, diikuti oleh Qin Zhuo An di belakangnya. Pria berambut perak itu merebahkan Zelene di atas bak mandi, "saya akan mempersiapkan pakaian untuk Tuan Muda, dan menyuruh pelayan agar membersihkan kamar utama." Ia lantas melangkah keluar dari kamar mandi.

Qin Zhuo An mengangguk pada butler Kim, kemudian menutup pintu. Ia memperhatikan wanita berpenampilan urakan dan berlumuran dengan muntahannya sendiri. Qin Zhuo An menggeleng pelan, lantas merapikan rambut Zelene dan membuka gaunnya.

🍁🍁🍁

Dua pelayan yang diminta oleh butler Kim, tengah membersihkan kamar utama. Salah satu pelayan baru bernama Sarah Wu, agaknya sedikit jejap ketika membersihkan bekas muntahan Zelene yang berserakan di lantai. Sedangkan, Ji Meng tidak terlalu memikirkan dan melakukan pekerjaannya dengan rapi.

"Mengapa Tuan Muda, mau menikah dengan wanita yang memiliki gaya hidup tidak baik seperti itu? Apa Nyonya tidak punya moral?" pertanyaan Sarah Wu lebih mirip ejekan, dia menoleh pada Ji Meng.

"Hush! Pelankan suaramu, Bibi Qin sedang membantu memandikan Nyonya." Ji Meng menghentikan pekerjaannya dan menatap serius pada Sarah Wu, lantas dia kembali berkata, "kamu baru bekerja beberapa bulan di sini, jadi jangan berkata sembarangan terhadap Nyonya! Harap jaga perkataanmu di mansion ini, jangan sampai kamu menyinggung Nyonya, karena ia bukan orang yang mudah untuk dihadapi." Dia mengalihkan pandangan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sarah Wu melirik malas pada Ji Meng. "Apa kamu takut padanya?"

"Bukan takut, tetapi aku menghormati Nyonya. Semua orang di kediaman ini menghormatinya." Ujar Ji Meng tanpa menoleh.

Sarah Wu tetap memiliki pandangan malas di matanya hingga suara pintu terbuka, membuatnya mengabaikan pekerjaannya dan matanya tak berhenti menatap pria tegap dalam balutan kemeja putih yang baru saja masuk ke dalam kamar utama. Wanita berambut hitam itu menganga melihat ketampanan Tony Huo, sungguh dalam batinnya, ia tidak menyesal telah dikirim ke kediaman ini.

Tony Huo masih mengeringkan rambutnya yang basah, dan sesekali ia membaui badannya di balik kemeja putih tersebut. Ia menghempaskan dirinya di atas sofa sembari menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemari panjangnya, memperlihatkan dahi bersih juga wajah tampan dengan hidung mancung, dagu lancip serta bibir tipis yang memikat.

Pemandangan itu terekam di mata Sarah Wu yang sejak tadi terus-menerus memperhatikan Tony Huo. Pria itu pun mengelih ke arah dua pelayan; yang satunya sibuk mengelap lantai dan satunya lagi sibuk memperhatikan dirinya, hal itu membuat Tony Huo, risi.

"Selesaikan pekerjaan kalian dan cepetlah keluar!" perintahnya tegas.

"Baik, Tuan Muda." Sahut Ji Meng.

Sementara, Sarah Wu menurunkan pandangannya dan mempercepat gerakan tangannya, namun sesekali wanita itu dengan berani melirik Tony Huo. Hal itu, diketahui oleh Ji Meng, tetapi dia tidak menegurnya, biarlah nanti ketika mereka keluar dari kamar utama.

Sesaat kemudian, lantai kamar utama telah bersih seperti sediakala karena Tony Huo mengawasi pekerjaan mereka, jadi, mereka tidak berani untuk menunda-nunda dan bercakap seperti barusan.

"Tuan Muda, kami, telah selesai membersihkan lantainya." Ji Meng menundukkan kepala.

"Hm, keluarlah." Pintanya, dengan nada dingin.

"Baik, Tuan Muda." Sahut kedua pelayan tersebut. Mereka berjalan keluar dari kamar utama, akan tetapi Sarah Wu sekilas melirik Tony Huo sebelum pintu tertutup.

Tony Huo melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 23:41 PM, kemudian beralih menatap ke arah kamar mandi, sudah satu jam, tetapi Qin Zhuo An belum juga selesai memandikan Zelene. Apakah membutuhkan waktu yang begitu lama?

"Bibi Qin, mengapa belum selesai juga?" tanyanya malas.

"Sudah selesai, Tuan Muda, apakah Anda bisa membantu saya?" suara Qin Zhuo An terdengar kecil dari dalam kamar mandi.

"Iya," tubuh tegak itu bangkit dari duduknya meninggalkan handuk yang dipakainya barusan di atas sofa. Ia berjalan menuju kamar mandi, meletakkan tangannya pada gagang pintu besi dan membuka pintu tersebut hanya untuk mendapati tubuh jenjang Zelene Liang yang terbungkus handuk mandi. Pipi Tony Huo sedikit memerah, ia berdehem dan mengalihkan perhatiannya pada Qin Zhuo An.

"Tuan Muda, tolong bawa Nyonya keluar dari sini. Kita harus memakaikan pakaian untuknya." Ujar Qin Zhuo An. Wanita itu bangkit dan melewati Tony Huo.

Mau tak mau Tony Huo harus mengangkat Zelene Liang dari bak mandi. Tangan besarnya menyentuh kulit putih Zelene yang tak tertutupi oleh handuk, semburat merah merekah di wajahnya, namun ia hanya diam dan memandang lurus ke depan. Ia membaringkan tubuh Zelene yang sedikit basah ke atas ranjang.

Sementara itu, Qin Zhuo An telah mempersiapkan gaun tidur untuk Zelene.

"Tuan Muda, saya akan memakaikan gaun tidur untuk Nyonya, hm ...." Qin Zhuo An berujar sangsi.

"Aku akan keluar." Tony Huo menghela napas kecil. Ia tidak lupa dengan sakit kepalanya dan ingin sekali agar dapat merebahkan dirinya dengan segera.

🍁🍁🍁

Qin Zhuo An telah keluar dari kamar utama dan mencari Tony Huo yang sedang menyesap teh di ruang tamu.

"Saya sudah selesai, Tuan Muda, Nyonya juga sudah tertidur, tapi ... rambut Nyonya masih basah dan perlu dikeringkan." Ucap Qin Zhuo An sembari menunduk.

"Jadi, apa aku harus mengeringkan rambutnya?" tanya Tony Huo dengan nada enggan.

Qin Zhuo An mendengar keengganan dari pertanyaan Tony Huo, dan mengurungkan niatnya. Sebenarnya ia ingin mendekatkan mereka, dengan meminta tuannya untuk mengeringkan rambut Zelene, kemudian ia menegakkan kepala dan berkata, "Kalau begitu, saya akan kembali lagi dan mengeringkan rambut Nyonya."

"Istirahat saja, Bibi Qin," Tony Huo menaruh cangkirnya di atas meja kaca, kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju tangga.

"Tuan Muda, ingat untuk memakai handuk, jangan mengunakan hair dryer, agar tidak merusak rambut Nyonya."

Tony Huo menatap malas ke depan dan hanya mengangguk tanpa menoleh pada Qin Zhuo An. Ia melangkah seraya memijat pelipisnya, dan langkahnya berhenti sejenak di depan pintu kamar utama, ketika ia teringat saat Zelene Liang terbaring di bak mandi, hanya menggunakan sehelai handuk membungkus tubuhnya. Sekejap kemudian, ia menghilangkan pikiran itu dan membuka pintu, lantas melangkah masuk. Didapatinya Zelene Liang sudah terlelap dan rambut hitam sepunggungnya tergerai. Pria itu mengambil sebuah handuk kering yang sudah disiapkan oleh Qin Zhuo An.

Kepala Zelene Liang direbahkan ke atas pangkuan Tony Huo. Pria itu pun dengan lembut mengeringkan helaian rambut hitam Zelene.

"Kenapa aku harus melakukan ini, sih? Aku kan juga sedang sakit." Keluhnya pelan. Jika dipikirkan kembali, untuk apa Tony Huo repot-repot mengeringkan rambut Zelene, sementara wanita itu sendiri merupakan penyebab sakit kepalanya? Apa dia sedang berbaik hati pada Zelene Liang?

"Duh, rambut ini!" Tony Huo menghela napas kasar ketika menemukan rambut kusut karena tidak bisa dipisahkan dari ikatan rambut lainnya. Hatinya geram dan ia pun menarik rambut Zelene ...

"Ah—" Zelene merasa sakit di kepalanya, namun matanya tak bergerak, lalu suaranya lenyap lagi dan ia tertidur kembali.

Tony Huo sibuk menghitung helaian rambut Zelene yang ditarik oleh tangannya, "Satu, dua, tiga, empat, ..., sebelas helai ...?" Tony Huo melongo menatap helaian rambut di tangannya.

🍁 Bersambung🍁

1
Uti Enzo
Luar biasa
sukahati
Thor ini nggk ada niatan mw dilanjutkan pdhal cerita nya baguss
naraa
belum ya kak? dah lama banget loh
Triiyyaazz Ajuach
Tony keliatan sayang bgt dgn anak dan menantunya
Triiyyaazz Ajuach
nah jadi ingat bagaimana nasib para reporter itu ya
Triiyyaazz Ajuach
Yun kau blm tau siapa yg kau usik
Triiyyaazz Ajuach
Yun kau terlalu byk berhayal
Triiyyaazz Ajuach
lucu bgt interaksi mereka berdua
Triiyyaazz Ajuach
hati" saja Sarah dgn tanganmu klau ceroboh lagi bakalan patah
Triiyyaazz Ajuach
1 lagi pelayan kurang ajar yg perlu disingkirkan
Triiyyaazz Ajuach
ya ampun Zelene nggak merasa bersalah sdh mencakar Tony tapi nalah sibuk meratapi kukunya yg rusak
Triiyyaazz Ajuach
ya ampun Zelene 2 th lupa klau pnya suami
Triiyyaazz Ajuach
tak sabar nunggu besok reaksi Zelene stlh 2 th tdk melihat Tony
Triiyyaazz Ajuach
wach Zelene klau mabuk bahaya untung aja yg bawa suaminya klau cowok lain bsa jadi skandal
Triiyyaazz Ajuach
😄😄😄 Tony dr tadi dikerjain Zelene 😄😄
Triiyyaazz Ajuach
😄😄😄 2 th tdk pulang begitu pulang lgsg kena KDRT Tony 😄😄😄
Triiyyaazz Ajuach
akankah akhirnya terbongkar pernikahan rahasia Tony dan Zelene
Triiyyaazz Ajuach
duh ngeyel bgt Zelene dibilangi jgn mnum byk"
Triiyyaazz Ajuach
Sunny mau nyari perkara
Triiyyaazz Ajuach
tak ada Alice eh malah muncul Sunny yg kelakuannya srbelas dua belas dgn Alice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!