NovelToon NovelToon
System Api Tertinggi

System Api Tertinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:36.3k
Nilai: 5
Nama Author: Paisal A

Merah, Ungu, kuning, biru dan putih, adalah urutan lima jenis api dari urutan terendah hingga tertinggi. Setiap anak yang terlahir akan dikaruniai bakat api yang menjadi impian setiap orang.

Jika beruntung, seseorang bisa saja memiliki kekuatan api sejak lahir. Namun jika gagal, bahkan seseorang tidak akan memiliki sedikitpun kemampuan tersebut.

Seperti yang dialami oleh Zafier. Usia 13 tahun adalah batas terakhir dimana seseorang akan ditentukan apakah dia memiliki bakat pengguna api atau tidak.

Namun di ulang tahunnya yang ketiga belas, bakat itu tak kunjung muncul. Hingga dia sering dihina sebagai orang gagal dan perusak keturunan.

Hingga suatu hari, takdir berkata lain. Zafier mendapatkan sesuatu keberuntungan yang tak ternilai meski ditukar dengan dunia ini, yaitu system api tertinggi. Api paling legendaris, atau yang dikenal dengan sang malapetaka...

Seperti apa cerita dibalik keberuntungan Zafier...?

Kekuatan api Apa kira-kira yang Zafier dapatkan...?

Ikuti terus cerita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paisal A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangga tak berujung...

Sehari setelahnya, ujian murid akademi Xolfrods akhirnya usai. Ini terbilang cepat, karena waktunya hanya seminggu.

Seluruh murid berkumpul dan berbaris di lapangan tempat mereka melakukan acara pembuka. Setelah melakukan identifikasi terhadap para murid yang mengalami luka, mereka melakukan acara penutup dengan dengan beberapa nasehat dari wakil dekan.

Wakil dekan panjang lebar memberikan nasehat dan arahan. Intinya ini semua hanya untuk melatih mental dalam menjalani hidup.

Meski banyak diantara mereka yang terluka akibat serangan binatang buas, tapi para binatang bukanlah musuh. Hanya sumberdaya bagi manusia dan bertahan dengan naluri. Karena pada dasarnya, musuh terbesar manusia bukanlah para binatang yang bahkan tak punya pikiran, melainkan manusia itu sendiri.

Murid-murid mendengarkan dengan khidmad. Lalu acara diakhiri dengan beberapa pemberitahuan dari guru pengawas.

"Baiklah.... Sesuai dengan fungsi diadakan ujian ini, maka sumberdaya yang akan kalian terima disesuaikan dengan hasil yang kalian dapat."

"Yang mendapat poin banyak, artinya kalian sudah berusaha maksimal dan membuktikan diri. Teruslah berlatih untuk meningkatkan kekuatan kalian."

"Sedangkan yang hasilnya kecil, Jagan murung.... Jadikan hari ini sebagai motifasi untuk meningkatkan semangat kalian kedepannya."

"Dan terakhir, didepan kalian adalah para senior yang menjadi pengawas kalian selama ujian. Mereka yang bertugas menjaga keamanan kalian dari hal-hal tak terduga. Mereka merupakan jenius diantara jenius di akademi ini. Sumberdaya yang kalian terima, bergantung penilaian mereka selama mengawasi kalian." Ucap guru pembimbing tersebut, sembari mengakhiri acara.

Prok, prok, prok...!

Semua murid serentak bertepuk tangan. Selain sebagai tanda berakhirnya ujian, juga sebagai ungkapan terimakasih terhadap senior pembimbing dan guru-guru.

Wooo... Wooo...! Sesekali mereka berteriak.

Tapi yang menjadi pusat perhatian kali ini, tentu bukan hanya ujian itu. Ya, tentunya beberapa orang dari senior pembimbing menjadi buah bibir dan pembicaraan hangat.

"Wah...! Itukah senior Livy. Selam ini aku hanya mendengar rumor tentangnya. Selain fakta bahwa dia dinobatkan sebagai salah satu siswa terbaik, ternyata kecantikannya tak kalah tenar."

"Hah, kau ini...! Masalah wanita, memang tidak pernah ketinggalan."

"Benar... Setidaknya, jadikan dirinya sumber motifasi. Keberhasilannya setahun setelah memasuki akademi, patut dijadikan contoh."

Selain dikalangan murid junior, ternyata dibarisan senior pembina terjadi percakapan yang nyaris sama.

"Ehem.... Junior Livy! Apa kau tidak apa-apa?" Beberapa senior Livy yang mungkin dua tiga tahun lebih dulu masuk akademi, terlihat melakukan pendekatan. Namun hal itu tertunda, melihat orang yang berbicara bukanlah sesuatu yang dapat mereka singgung.

"Oh, senior Megion... Aku baik-baik saja." Jawab Livy.

"Huh! Dia lagi, dia lagi.... Entah sudah berapa wanita yang sudah digandengnya, masak belum cukup juga." Keluh seseorang yang juga ingin berkenalan dengan Livy.

"Sudahlah.... Kau tau sendiri, selain cantik dan berbakat, junior Livy juga sangat baik. Bagaimana orang sepertinya tidak tertarik dengan wanita seperti itu." Jawab teman sebelahnya.

"Mentang-mentang punya ayah sebagai salah satu wakil dekan, dia terlalu berlagak. Jika dibandingkan, aku juga tidak seburuk itu."

"Sebaiknya, tak usah mencari masalah. Semuanya tak akan berjalan mulus seperti keinginannya. Aku yakin, junior Livy bukan orang bodoh yang tak bisa menilai kebusukan laki-laki."

"Aku juga berharap demikian."

Sesuai keinginan semua laki-laki, Livy memang tidak sembarang dalam berinteraksi dengan orang lain. Hal itu dapat dilihat, bagaiman dia menanggapi Megion.

"Junior Livy... Entah hanya perasaanku saja, tapi kau selalu terlihat cuek saat ku sapa." Lanjut Megion. Sudah sejak lama dia mengincar Livy sebagai salah satu kekasihnya, namun tanggapan Livy selalu membuatnya mengurungkan perasaan tersebut.

"Eh! Benarkah...? Mungkin itu memang perasaan senior Megion saja." Livy membalikan kata-kata Megion.

"Tapi, sangat jelas kau terlihat tidak tertarik padaku."

"Maaf, senior Megion... Tujuanku kesini dari awal memang hanya satu. Berlatih dan menjadi kuat."

"Kalau itu yang junior... Ah, tidak! Kalau memang itu memang keinginan Adik Livy, aku bisa meminta ayah untuk memberikanmu sumberdaya dan pelatihan lebih." Megion semakin berani melakukan pendekatan lebih jauh.

"Maaf, senior Megion... Junior ini merasa tidak pantas. Dan lagi, aku tidak ingin melakukan kecurangan dengan memanfaatkan orang lain." Tolak Livy.

Mendengar itu, Megion terlihat kecewa. Bukan karena penolakan terhadap tawarannya, tapi karena Livy tak cara memanggilnya.

"Adik Livy...! Mengapa kau masih memanggilku senior?"

"Memang itu hubungan yang kita miliki. Aku rasa tidak ada hubungan lain kecuali Senior menjadi salah satu guru pengajar."

"Apa maksudmu, jika aku menjadi pengajar...."

"Ya...!" Livy memotong kalimat Megion."Jika senior menjadi guru pengajar di akademi ini, tentu hubungan kita menjadi guru dan murid." Lanjutnya.

Awalnya, Megion hampir tersenyum bahagia. Namun setelah mendengar jawaban lengkap Livy, dia merasa dicampakkan sekuat-kuatnya. Dia mengira, jika dia menjadi salah satu guru pengajar, maka Livy akan menerimanya. Ternyata...

...

Beberapa hari kemudian...

Belasan perahu terbang, terlihat berjejer rapi di sebuah bandara penerbangan. Lapangan khusus yang sudah dilengkapi dengan formasi sehingga membuat perahu terbang tetap seimbang saat melakukan pendaratan.

Wilayah yang berada di pegunungan yang menjulang tinggi, terkadang ditutupi awan diwaktu tertentu. Pemandangan itu membuat tempat tersebut terlihat seperti daratan melayang.

Luasnya lapangan terbang, gambaran bahwa daerah itu mengalami kemajuan dan peningkatan serta lalu-lalang perekonomian yang padat.

Tidak salah, mengingat daerah itu adalah wilayah akademi Xolfrods.

Akademi Xolfrods pada awalnya didirikan murni untuk melatih para siswa yang bersekolah disana. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit para penduduk mulai berdatangan dan menetap.

Para penduduk dulunya hanya mengantarkan anak mereka kesana. Hal itu mereka memanfaatkan sekaligus membeli beberapa pil dan tanaman herbal, titipan para kerabat mereka.

Lama-kelamaan, tindakan tersebut berubah menjadi ladang penghasilan karena hasilnya cukup menguntungkan.

Berkat itu pula, akademi Xolfrods memanfaatkan hal ini sebagai sebuah kesempatan untuk mendirikan bisnis besar. Selain mengizinkan para penduduk mendirikan pemukiman dengan membayar pajak, mereka juga menjajakan pil buatan sendiri.

Itulah mengapa akademi Xolfrods sekarang lebih tepatnya terlihat seperti simpang perdagangan.

Ditempat lain....

Tiga orang pemuda terlihat berjalan, menapaki anak tangga yang menjulang seakan tidak ada habis habisnya.

Entah sudah berapa lama mereka meniti tangga yang sebagian besar berada ditepi jurang. Sesekali angin kencang membuat mereka hampir jatuh karena hilang keseimbangan.

"Dan Dzik...! Apa kau yakin ini tempatnya...?" Tanya pemuda yang tak lain adalah Zefier. Dia berkali-kali melihat peta yang sama sekali tak ia pahami.

"Tentu saja...! Walau dulu tidak melewati ribuan anak tangga ini, tapi aku sudah pernah datang, sekali." Jawab Dan Dzik, yakin.

Tiga hari tiga malam Zefier terbang membawa Dan Dzik dan Leo Tampa henti, namun bukan berarti saat ini dia sudah kehabisan energi. Dia memutuskan turun di pemukiman tepatnya berada di kaki bukit, agar tidak menarik perhatian orang-orang.

Sembilan jam yang lalu mereka mulai mendaki, sampai membuat seseorang diantara mereka harus berhenti dipertengahan.

"Kemana Leo...? Kenapa tak kunjung menyusul?" Dan Dzik balik bertanya.

"Biarkan saja dia... Jika tantangan seperti ini saja tak bisa dilalui, sebaiknya dia memanjangkan rambut, mencukur bulu dan memotong kaki ketiganya."

Dan Dzik masih paham dengan dua kalimat pertama. Tapi, "Kaki ketiga?" raut wajahnya penasaran.

"Ya... Benda mungil yang ada di bawah pusar, yang mirip lele atau belut."

"Hahaha...! Aku paham, aku paham." Dan Dzik sontak tertawa saat mengerti maksud perkataan Zefier.

Bersambung....

1
MOCH ABDURRACHMAN
terus aja dulu
Made Sukawera
bagus ceritanya
Made Sukawera
bagus ceritanya
Made Sukawera
bagus ceritanys
MOCH ABDURRACHMAN
lewat terus
MOCH ABDURRACHMAN
lanjut aja dulu
Bhayuu
Lanjukan,ko brhenti tengah jalan
Bhayuu
Lanjuttt
Sang Pemburu Kultivator🗿
tidak menarik, sitem berbicara layaknya manusia, bukan seperti AI, biasanya setiap novel sistem, sistem tersebut menggunakan bahasa formal berupa 'Saya' dan 'Anda' untuk sebuah dialog Sistem kepada Tuannya, bukan bahasa Nonformal (aku dan kamu) terkesan intim.. dialog sistemnya juga salah harusnya beri tanda [..] untuk dialog sistem dan dialog untuk sebuah sistem juga terlalu lugas, layaknya manusia dan bukan sistem itu sendiri. karena sstem bukan insensitas biasa (AI) bukan manusia.. mau dia dari masa depan atau masa lalu, yg namanya sistem pasti identik bahasa baku dan formal.
Afandi Paisal
Maaf teman2. Hari ini author ga bisa update. Jujur saja, capek karena kerjaan. Jadi lanjut besok ya... Terimakasih sudah setia
Pinovela
Kapan ke dunia kedua.
Afandi Paisal: nunggu terkumpul pasukan, kak. Wkwkwk
total 1 replies
Adrian Adi
Tamatin tor...
Adrian Adi
ketua Mangge atau Mongge?
Afandi Paisal: Ketua Mongge. Terimakasih sudah mengingatkan. Nanti Author benerin
total 1 replies
Adrian Adi
saam, kirain autornya lupa..
Adrian Adi
wkwkwk...
Solusi Kehidupan
up Thor. semangat.
Solusi Kehidupan
Ternyata Falmes pulang kampung. Kirain kemana kok hilang tiba2 pas masih di akademi Xolfrods.

Lanjut Thor..
Solusi Kehidupan
Nah, benar... Pasti ulah jiwa api.
Solusi Kehidupan
itu namanya bumbu2 cinta. wkwkk
Solusi Kehidupan
pasti bakal ketemu rombongan Zefier.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!