NovelToon NovelToon
Pesan Terakhir

Pesan Terakhir

Status: tamat
Genre:Spiritual / Iblis / Dunia Lain / Mata Batin / Horor / Tamat
Popularitas:420.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: dtyas

Yura Bestari, jatuh sakit bahkan berhari-hari tidak sadarkan diri. Setelah sadar dia bisa melihat makhluk tak kasat mata.

Bahkan ada arwah yang sengaja mendekati Yura, meminta tolong menyampaikan pesan terakhir untuk orang yang ditinggalkan. Parahnya lagi ada sosok yang mulai mengganggu kehidupan Yura.

Mendapatkan kelebihan yang cukup menakutkan membuatnya dekat dengan salah seorang senior di kampusnya yang dikenal sangat cuek dan ternyata seorang indigo.

Bagaimana kisah Yura menghadapi arwah yang mengganggunya juga arwah yang ingin Yura menjadi jembatan untuk pesan terakhir mereka?

Apakah Yura bisa menghilangkan kelebihannya ini atau menjalani sampai akhir waktu?

==== mampir ke ig : dtyas_dtyas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bantu Aku

“Om, jangan bercanda dong,” ujar Aldo sambil mensejajari langkah Edwin dan saat ini mereka menuruni anak tangga.

“Apa kamu pikir aku sedang bercanda?”

Aldo belum menjawab, masih dengan keadaan bingung dan tidak mengerti dengan ide Ayahnya. Aldo memang sempat menceritakan tentang Yura pada sang Ayah dan mengeluh karena bukan muhrim tidak baik kalau terus menerus bersentuhan fisik ketika menyadarkan gadis itu. Aldo melihat ada makhluk tak kasat mata yang mengikuti Yura dan sosok itu terlihat menyeramkan dengan tujuan jahat. Namun, menikahkan dirinya dengan Yura sungguh tidak Aldo kira sama sekali.

Saat ini Aldo dan Edwin sudah berada di ruang tamu. Aldo mengeluarkan ponselnya untuk kembali menghubungi ayahnya.

“Maaf Om, saya harus hubungi Ayah lagi!”

“Oh, silahkan.”

Tidak lama panggilan tersambung, Edwin pun fokus pada gadgetnya ketika Aldo bicara dengan Ayahnya lewat telepon.

“Masih ragu atau jangan-jangan kamu sudah ada calon istri?” tanya Edwin. Karena dia tidak akan mendukung pernikahan Yura dan Aldo kalau ternyata pria tersebut sudah memiliki calon sendiri.

“Enggak Om, bukan itu masalahnya.”

“Lalu?”

“Yura. Bagaimana kalau Yura tidak terima dengan pernikahan ini, lalu ….”

“Kita akan tanyakan itu ke Yura, besok. Saat ini kita hanya perlu tunggu Ayah Yura dan Aldo ….” Ucapan Edwin sempat terhenti sedangkan Aldo masih menyimak dengan baik.  “ Ada hal yang aku tidak bisa lihat dan aku tahu kamu bisa melihat itu, Yura dalam bahaya bukan?” tanya Edwin.

Aldo tidak menjawab hanya menghela nafasnya pelan. “Keadaan Yura tidak baik-baik saja dan aku tahu itu,” ujar Edwin. “Tolong selamatkan Yura,” pinta Edwin sambil menepuk bahu Aldo.

Terdengar deru mesin mobil milik Hasan, pria itu akhirnya tiba setelah Edwin mengirimkannya pesan untuk segera pulang karena ada hal yang harus mereka bicarakan tentang Yura.

Hasan terkejut karena ada Edwin dan seorang laki-laki yang menunggunya.

“Ada apa ini? Yura kenapa?”

“Kita duduk dulu,” ujar Edwin. “Aku tidak peduli kamu memandang Yura terkena penyakit apa yang jelas aku ingin dia sembuh. Kakakku sudah tidak terselamatkan tapi untuk Yura tidak boleh terjadi lagi.”

“Apa maksudmu, Kakakmu meninggal karena takdir.”

“Apa hatimu juga meyakini seperti itu?” tanya Edwin. Ayah Yura hanya diam, lalu dia menoleh ke arah Aldo.

“Kamu bukannya teman Yura?”

“Iya, Om. Saya Aldo.”

Edwin menyampaikan kondisi Yura dan rencananya menikahkan Yura dengan Aldo

“Apa maksudmu, kenapa mereka harus menikah. Kalau memang menurut pendapatnya Yura bisa disembuhkan dengan cara mereka, kenapa harus menikah?”

“Aldo, kasih dia paham,” titah Edwin.

Aldo ragu untuk menjelaskan, dia pun menyampaikan perintah Ayahnya kalau memang Aldo siap membantu Yura.

Hasan memijat kepalanya, dia benar-benar bingung dengan situasi yang ada. Istrinya tiada, sedangkan putrinya sakit dan harus rela melepas Yura pada Aldo, pria yang dia belum begitu kenal. Bahkan Aldo ini terlihat hanya berbeda beberapa tahun dengan Yura. Apa bisa dia menitipkan dan menyerahkan Yura kepada pria itu.

Terdengar dering ponsel Hasan dan diabaikan dengan merejectnya.

“Kenapa diabaikan? Apa simpananmu itu mulai menyusahkan?” tanya Edwin sambil mengejek.

Ayah Yura berdecak.

“Aku akan setuju kalau Yura menyetujuinya, jika dia menolak maka aku pun menolak pernikahan ini karena aku yakin kamu bisa menolong Yura tanpa harus menikahinya.”

“Dasar bod0h, ya bisa saja tapi keyakinan mereka menolak itu. Tidak seperti kamu yang mungkin biasa berinteraksi dengan yang bukan muhrim.”

...***...

Pagi itu Aldo sudah tiba di kediaman Yura, sesuai dengan arahan Edwin. Dia menolak menginap walaupun sudah disiapkan kamar tamu. Aldo kembali ke kostnya dan tidur di sana. Bekerja di Jakarta tidak memungkinkan dia pulang pergi ke rumah Ayahnya setiap hari.

Edwin mengajak Aldo menemui Yura dan sudah ada Hasan bersama Yura. Yura yang duduk bersandar pada headboard hanya diam dan menundukkan wajah saat ayahnya bicara.

“Yura,” panggil Edwin.

Yura hanya diam. Edwin kembali memanggil Yura dan mengatakan kalau ada Aldo menjenguknya. Yura memberanikan diri mengangkat wajahnya. Helaan pelan terdengar dengar bibir Aldo mendapati  wajah Yura 1ll1ang terlihat lelah dengan tatapan sayu dan kantung mata.

“Bang Al, kenapa kamarku ramai dengan ….”

“Iya, aku tahu.”

“Tolong usir mereka, aku … takut,” keluh Yura.

“Kamu kuat Yura dan kita akan usir bersama,” sahut Aldo.

“Apa jangan-jangan Ibu ….”

“Tidak, Ibumu sudah tenang. Saat ini kamu hanya harus memikirkan kesehatanmu,” ujar Aldo.

“Tapi … mereka bilang akan bawa aku seperti bawa Ibu,” sahut Yura sambil menangis.

Brak.

Semua atensi mengarah pada buku-buku Yura yang berjatuhan dari rak. Yura memejamkan matanya dengan kedua tangannya merem4s selimut yang ada di pangkuannya. Aldo hanya menatap ke arah buku-buku yang berjatuhan dengan bibir melantunkan sesuatu.

Brak.

Prang.

Pintu balkon terbanting sendiri lalu kaca pada pintu tersebut pecah. Hasan sampai beranjak dari duduknya dan terkejut dengan apa yang mereka saksikan.

“Yura, kamu bersedia ‘kan menikah dengan Aldo?” tanya Edwin.

“Tapi aku sudah gila, mana mungkin Bang Al mau menikah dengan perempuan tidak waras seperti aku,” jawab Yura.

“Tidak kamu kamu hanya bingung dengan apa yang kamu lihat tapi tidak bisa dilihat oleh orang lain,” jawab Aldo.

Hasan membawa Yura keluar dari kamarnya, karena semakin banyak gangguan di sana. Edwin meninggalkan Aldo yang masih tinggal. Edwin segera mengatur pernikahan Yura dan Aldo, menghubungi penghulu agar datang ke kediaman Hasan.

 

Yura Pov

Aku berbaring di ranjang kamar tamu yang sebelumnya ditempati oleh Ibu. Menatap langit-langit kamar, rasa takut dan khawatir belum hilang. Bagaimana tidak takut ketika di kamar aku melihat banyak makhluk yang menyeramkan bahkan mereka mengganggu dan berusaha menyakitiku. Anehnya lagi hanya aku yang bisa melihat itu semua, wajar kalau aku dibilang tidak waras karena ekspresi yang aku keluarkan.

Kata Bik Ela, di luar kamar sudah ada  beberapa orang berkumpul. Tentu saja karena akan menikahkan Aldo denganku. Sebenarnya aku ragu, kenapa kami harus menikah tapi aku yakin memang Aldo yang dapat membantuku. Rasanya aku bisa gila kalau terus-terusan begini.

“SAH!”

Deg.

“Alhamdulillah,” ucap Bik Ela. “Non Yura sudah sah menjadi istrinya Abang ganteng. Mudah-mudahan Non Yura cepat sembuh ya, Bibi sedih lihat Non Yura begini,” tutur Bik Ela.

“Makasih ya Bik, udah urusin aku. Setelah Ibu nggak ada, Cuma kalian aja yang peduli denganku.”

Pintu kamar dibuka, Ayah berjalan menghampiri ranjang dan duduk di tepinya sedangkan Bik Ela meninggalkan kami. Ayah meraih tanganku dan mengusapnya, “Yura, semoga ini langkah yang tepat. Maafkan Ayah, suatu saat kamu akan tahu kalau semua ini bukan karena Ayah bermaksud jahat apalagi menyakiti Ibumu.”

Aku tidak mengerti apa yang Ayah maksud, tapi aku masih penasaran dengan istri kedua Ayah dan identitasnya.

Ayah sudah meninggalkan kamar aku pun beranjak duduk saat pintu kembali dibuka dan masuklah Aldo. walaupun kondisiku sedang tidak baik tapi mataku masih jeli dan bisa membuktikan kalau Aldo memang tampan. Hanya mengenakan kemeja putih dan bawahan jeans hitam bahkan rambut gondrongnya dia ikat, tidak mengurangi kadar kegantengannya.

Jantungku berdetak lebih kencang dan tidak karuan, karena pria itu sekarang sudah menjadi suamiku.

“Yura,” panggil Aldo yang sudah duduk di ranjang menghadap ke arahku. Dia mengeluarkan kotak beludru dari sakunya lalu mengeluarkan isi dari kotak itu yang ternyata sebuah cincin.

“Bukan berlian, hanya emas biasa. Ini mas kawin aku termasuk alat sholat yang sudah disimpan Bik Ela ke kamarmu.” Aldo meraih jemariku lalu menyematkan cincin pada jari manisku. Menatapnya kemudian menatapku.

Perasaanku semakin tidak karuan saat Bang Aldo semakin mendekatkan wajahnya dan mencium keningku. Aku bingung harus merespon bagaimana tapi yang pernah aku saksikan waktu Om Edwin menikah dengan Tante Ayu, wanita itu mencium tangan tanda seorang istri yang akan patuh pada suaminya.

Walaupun ragu-ragu, aku meraih tangan Aldo dan menciumnya dengan takzim.

“Aku sudah berjanji bertanggung terhadap hidupmu, kita sama-sama melewati ini semua,” ujar Aldo.

Aku mengangguk, “Bantu aku Bang, aku tidak mau semakin tidak waras karena gangguan mereka.”

1
Tutuk Isnawati
Luar biasa
Sri Wiludjeng
Cerita nya seru Bikin nagih .. pengen baca terus ...
Ajeng Sripungga
Luar biasa
Sri Widjiastuti
lhah kok enak???
Sri Widjiastuti
boro2... istrinya meregang nyawa g ditungguin
Sri Widjiastuti
kematian ibunya dibiarkan gitu aja ya??
Sri Widjiastuti
kok bisa adem wae ya, hub ayah, Yura & ibu anik??
Sri Widjiastuti
minta dibangunin. tp g bangun2
Sri Widjiastuti
diih ibu anik kok g paham punya bapak kaya begitu
Sri Widjiastuti
kaivan aja G berdaya dg si kakek gila
Sri Widjiastuti
tambeng e si Yura
Sri Widjiastuti
betul ni... ibunya meninggal jg karena guna2 pocong dr artasena
Sri Widjiastuti
ayah Yura selingkuh dg ibu kaivan ni. ketahuan. bertengkar deh. kaivan tahu & G nyaman dg si yura
Sri Widjiastuti
Yura G peka nihh... bener kaivan, G bisa dibilangi..
Sri Widjiastuti
ditunda lagiii
Sri Widjiastuti
Yura itu yg nyebelin
Sri Widjiastuti
emangbodo kan??
Sri Widjiastuti
trus G mikir ibunya kenapa yg merenung di taman gitu si Yura??
Sri Widjiastuti
ngapain jg G jujur dg ortu sendiri??? dituduh halusinasi, G suka.. trus gimana maunya??
Rinisa
best 👍🏻👍🏻👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!